NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 jarak yang kau sengaja

Pagi itu, Bara datang lebih awal dari biasanya. Ia sengaja ingin menghindari pertemuan di gerbang atau koridor dengan Aluna dan Brian. Baginya, setiap detik yang ia habiskan di dekat mereka adalah siksaan yang perlahan mengikis kewarasannya. Namun, ia lupa bahwa Aluna adalah orang yang paling mengenal kebiasaannya.

Saat Bara baru saja hendak membelok ke arah tangga menuju perpustakaan yang sepi, sebuah langkah kaki cepat terdengar di belakangnya.

"Berhenti, Bara!"

Suara itu. Bara membeku. Ia mengenali nada tegas namun bergetar itu. Tanpa menoleh pun, ia tahu siapa yang sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Bara menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya sebelum perlahan berbalik.

"Eh, Lun? Pagi banget. Brian mana?" tanya Bara, mencoba bersikap biasa saja, meski suaranya terdengar kaku.

"Nggak usah bawa-bawa nama Brian," sahut Aluna tajam. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Bara bisa melihat mata Aluna yang sedikit sembab. "Kenapa semalam teleponku nggak diangkat? Kamu sengaja, kan?"

Bara membuang muka, pura-pura menatap ke arah lapangan yang masih berkabut. "Aku ketiduran, Lun. Capek banget."

"Bohong!" seru Aluna. "Aku tahu kamu nggak tidur. Aku tahu kamu cuma lihat ponsel kamu bunyi terus tanpa niat buat angkat. Kenapa, Bar? Kenapa tiba-tiba kamu buat jarak sejauh ini? Kamu bahkan nggak berani tatap mata aku sekarang."

Bara terkekeh hambar, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi sesak. "Jarak apa sih, Lun? Kita kan emang kayak gini. Kamu udah punya Brian sekarang, wajar kan kalau aku nggak sesering dulu ganggu kamu? Aku cuma mau hargai posisi Brian sebagai pacar kamu."

"Hargai Brian atau kamu lagi lari dari aku?" Aluna menyela dengan suara yang mulai serak. "Bar, kalau kamu emang nggak suka aku sama Brian, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kenapa kamu yang malah nyuruh aku terima dia? Dan sekarang, setelah aku coba jalanin, kamu malah bersikap seolah aku ini orang asing yang menjijikkan buat kamu!"

Bara mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Kata-kata Aluna menusuk tepat di pusat lukanya. Lari? Iya, aku memang lari karena aku nggak sanggup liat kamu sama dia! teriaknya dalam hati. Namun, yang keluar dari mulutnya justru sebaliknya.

"Kamu salah paham, Lun. Aku justru seneng liat kalian. Aku cuma... lagi pengen sendiri aja. Tolong, jangan buat ini jadi rumit."

Bara hendak melangkah pergi, namun Aluna dengan cepat mencengkeram lengan jaketnya. Genggaman itu kecil, tapi terasa sangat kuat bagi Bara.

"Tatap mata aku, Bar. Tatap mata aku dan bilang kalau kamu bener-bener nggak punya perasaan apa-apa sama aku. Bilang kalau semua jarak yang kamu sengaja ini cuma perasaan aku aja," tantang Aluna dengan air mata yang mulai menggenang.

Bara terdiam. Ia menatap mata Aluna, dan untuk beberapa detik, pertahanannya hampir roboh. Ia ingin memeluk gadis itu, meminta maaf, dan mengakui segala kegilaannya.

Namun, bayangan wajah Brian yang begitu mempercayainya muncul di benaknya.

Bara menyentak pelan tangan Aluna. "Nggak ada yang perlu dijelasin, Lun. Kamu udah bahagia sama Brian, dan itu cukup buat aku. Tolong, jangan cari aku kalau nggak penting. Aku mau fokus belajar."

Bara berbalik dan berjalan cepat menjauh, meninggalkan Aluna yang berdiri mematung di tengah koridor yang sepi. Aluna menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang pecah. Ia tahu sekarang. Jarak yang sengaja diciptakan Bara bukan karena tidak peduli, melainkan karena Bara terlalu peduli sampai-sampai ia harus menyiksa dirinya sendiri.

Bara baru saja menghilang di balik tikungan koridor saat suara deru motor yang sangat Aluna kenali terdengar memasuki area parkir depan. Aluna dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, mencoba menenangkan napasnya yang masih memburu. Ia tidak boleh terlihat hancur di depan Brian.

Brian turun dari motornya dengan tergesa-gesa. Begitu melihat sosok Aluna berdiri sendirian di koridor dengan wajah yang tampak sembab, raut wajahnya langsung berubah cemas. Ia berlari kecil menghampiri Aluna.

"Luna! Kamu kenapa nangis?" tanya Brian panik. Ia memegang kedua bahu Aluna, menatap wajah gadis itu dengan teliti. "Kamu marah ya karena aku tadi nggak jemput kamu? Aku minta maaf banget, Lun, tadi aku bener-bener kesiangan karena begadang nonton bola."

Aluna memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya masih terasa panas. Ia harus mencari alasan, apa pun itu, asal bukan tentang Bara.

"Nggak apa-apa kok, Bri. Aku nggak marah soal itu," sahut Aluna pelan, suaranya sedikit serak.

"Terus kenapa kamu nangis? Ada yang gangguin kamu?" Brian mendesak, matanya menyapu sekeliling koridor yang sepi.

Aluna menunduk, lalu menunjukkan punggung tangannya yang sudah tertutup plester handiplast. "Ini... tadi pagi aku ceroboh. Tangan aku luka kena pisau di rumah pas lagi bantu Ibu. Rasanya perih banget, makanya aku sampai nangis tadi."

Brian menghela napas lega, meski guratan khawatir masih ada di wajahnya. "Ya ampun, kok bisa sih? Coba sini aku lihat."

Brian meraih tangan Aluna, memperhatikannya dengan sangat lembut seolah-olah luka kecil itu adalah cedera yang parah. Ia mengusap pinggiran plester itu dengan ibu jarinya. "Lain kali hati-hati, sayang. Aku nggak suka liat kamu luka begini. Kalau masih sakit, nanti kita ke UKS ya?"

Aluna merasakan desiran aneh di hatinya. Brian begitu baik, begitu perhatian, dan begitu tulus. Sementara itu, ia baru saja menangis karena laki-laki lain di tempat yang sama hanya beberapa menit yang lalu. Rasa bersalah mulai menyelinap di antara sesak yang belum hilang.

"Iya, Brian. Makasih ya," ucap Aluna lembut. Ia menarik tangannya pelan. "Em, ya udah yuk masuk kelas, nanti telat."

"Oke," jawab Brian semangat. Ia kembali merangkul bahu Aluna, menuntunnya berjalan menuju kelas.

Sepanjang jalan, Brian terus mengoceh tentang banyak hal untuk menghibur Aluna, tanpa menyadari bahwa tepat di lantai atas, di balik jendela perpustakaan, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan kehampaan yang luar biasa.

Tak lama kemudian, Brian masuk bersama Aluna. Brian tidak melepaskan genggaman tangannya, seolah ingin memastikan bahwa Aluna benar-benar merasa aman di sampingnya.

Brian menuntun Aluna duduk, lalu membungkuk sedikit untuk menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang sangat tulus.

"Luna, kalau sakit bilang ya jangan kamu tahan, aku gak mau kamu nangis lagi," ucap Brian lembut sambil terus mengelus punggung tangan Aluna.

Aluna mendongak, menatap mata Brian yang penuh kasih sayang. Ada rasa bersalah yang terselip di hatinya, namun ia mencoba tersenyum sekuat tenaga. "Iya bri, aku janji gak bakal nangis lagi."

Di baris sebelah, Bara merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Ia tahu ia tidak bisa diam terus jika tidak ingin dicurigai. Dengan gerakan lambat, Bara menoleh ke arah mereka, memasang wajah datar seolah ia baru saja terbangun dari lamunannya dan tidak tahu apa-apa.

"Emang Luna kenapa kok nangis Bri?" tanya Bara dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin.

Brian menoleh ke arah sahabatnya itu. "Oh, tadi katanya Aluna tangan nya kena pisau pas dirumah, jadi dia nangis."

Mendengar alasan itu, Bara sempat terdiam sejenak. Ia tahu itu bohong, tapi ia juga tahu itu adalah cara Aluna melindunginya agar Brian tidak curiga. Aluna kemudian menimpali dengan cepat sebelum Bara sempat bertanya lebih jauh.

"Iya, tapi gapapa kok bar," sahut Aluna singkat, menatap Bara dengan sorot mata yang seolah meminta cowok itu untuk tidak memperpanjang masalah.

Bara pun mengangguk kecil, lalu kembali membuang muka ke arah depan kelas. "Oh gitu."

Dua kata itu menutup percakapan mereka, namun meninggalkan gema yang menyakitkan di hati Bara. Ia tahu, di balik handiplast dan alasan luka pisau itu, ada luka lain yang jauh lebih dalam yang sedang mereka sembunyikan bersama dari Brian.

Bersambung..............

Jangan lupa like kakak 😌 🙏

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!