Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Dominasi
Suasana kamar Ozora yang biasanya tenang dengan aroma vanila, malam itu terasa mencekam. Setelah suara mobil Sky menghilang di kejauhan, Ozora tidak langsung mengganti pakaiannya. Ia berdiri mematung di balik pintu kayu ek yang berat, menyandarkan keningnya di sana sembari memejamkan mata.
Hening sejenak. Namun, keheningan itu pecah oleh getaran kecil di bahunya.
Tiba-tiba, Ozora menarik kepalanya, matanya terbuka lebar dengan kilatan yang sama sekali berbeda dari sosok gadis kutu buku yang dikenal kampus.
Bibirnya perlahan membentuk lengkungan senyum yang ganjil, sebuah senyum yang terlihat haus akan tantangan.
"Hah..."
Lalu, tawa itu pecah. Awalnya hanya tawa kecil yang tertahan, namun sedetik kemudian berubah menjadi tawa keras yang menggema di seluruh penjuru kamar. Ozora tertawa begitu lepas hingga tubuhnya membungkuk, tawa yang terdengar sarkastik seolah ia baru saja mendengar lelucon paling konyol sedunia tentang ancaman Cristine von Heist.
Brakk!
Pintu kamarnya terbuka lebar. Nyonya Bellvania masuk dengan wajah penuh kekhawatiran, masih mengenakan jubah tidurnya. "Ozora? Hey, sayang... Ada apa? Apa ada hal yang sangat menyenangkan hingga kau tertawa sekeras itu?" tanya ibunya sambil melangkah mendekat, mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada putri semata wayangnya.
Seketika, tawa Ozora berhenti. Seperti sebuah saklar yang ditekan, ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap mata. Ia memutar tubuhnya, menatap ibunya dengan tatapan yang mendadak redup, sayu, dan penuh kepasrahan yang dibuat-buat.
"Mommy..." bisik Ozora dengan suara yang bergetar hebat, seolah ia baru saja hancur berkeping-keping.
Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nyonya Bellvania. Ia memeluk ibunya begitu erat, memberikan kesan bahwa ia sedang sangat ketakutan.
"Ada apa, Nak? Ceritakan pada Ibu," ucap ibunya sambil mengusap punggung Ozora dengan penuh kasih sayang.
"Mommy... seseorang ingin mengambil Sky dariku," kata Ozora dengan nada yang sangat sendu, nyaris merintih. "Ada teman masa kecilnya dari Jerman, Cristine. Dia sangat cantik, sangat berkuasa... dan dia mengatakan hal-hal yang menyakitkan padaku tadi. Aku takut, Mom. Aku takut Sky akan berpaling dariku karena aku tidak punya apa-apa dibandingkan wanita itu."
Nyonya Bellvania terdiam, matanya menyipit tajam. Sebagai seorang wanita yang telah lama malang melintang di dunia sosialita, ia tahu persis permainan seperti apa yang sedang terjadi. Ia memegang bahu putrinya, menjauhkan sedikit tubuh Ozora agar bisa menatap matanya.
"Dengarkan Ibu, Ozora," ucap ibunya dengan suara yang kini terdengar dingin dan berwibawa. "Keluarga Bellvania tidak pernah membiarkan miliknya direbut oleh orang asing, apalagi hanya oleh seorang gadis Jerman yang datang tiba-tiba. Jika dia ingin bermain, maka kita akan memberinya panggung."
Ozora menunduk, menyembunyikan kilatan matanya yang sebenarnya sangat waspada di balik bulu matanya yang basah. "Tapi dia sangat dekat dengan ayah Sky, Mom..."
"Biarkan saja," sahut ibunya dengan senyum penuh rahasia. "Ibu akan memastikan di acara yayasan lusa, semua orang tahu siapa sebenarnya yang pantas berdiri di samping seorang Remington. Kau hanya perlu tetap menjadi Ozora yang malang di depan semua orang juga depan Sky, biarkan Ibu yang mengurus sisanya."
"Terima kasih, Mommy..." gumam Ozora pelan.
Saat ibunya mengecup keningnya dan berbalik untuk keluar dari kamar, Ozora tetap dalam posisi menunduk. Namun, begitu pintu tertutup rapat, Ozora perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menyeka air mata palsu di pipinya dengan ujung jari, lalu berjalan menuju cermin besar di sudut kamar.
Ia menatap pantulan dirinya, seorang gadis yang terlihat rapuh, namun memiliki tato bunga lili yang melambangkan kemurnian sekaligus kematian di pinggangnya.
"Kau salah memilih lawan, Cristine," ucap Ozora dalam hati dengan suara yang sangat dingin.
"Jika kau pikir aku adalah mainan baru yang mudah dibuang, maka kau akan terkejut melihat siapa yang akan hancur lebih dulu di tangan gadis murni ini."
Ozora kembali tersenyum tipis, lalu meraih ponselnya untuk mengirim pesan balasan pada Sky dengan nada yang sangat manis dan penuh kepolosan, seolah badai besar tidak sedang ia siapkan di balik punggungnya.
.
.
Kantin kampus Universitas Moskow mendadak riuh oleh kehadiran sosok yang seolah membawa atmosfer Berlin ke tengah-tengah mereka. Cristine von Heist berdiri di sana, dikelilingi oleh Phoenix dan beberapa anggota sirkel elit Sky yang lain.
Hebatnya, meskipun mereka baru bertemu beberapa menit, Cristine sudah bisa tertawa lepas sembari menepuk bahu Phoenix seolah mereka telah tumbuh besar bersama di lingkungan yang sama. Ia membagikan cerita-cerita pendek yang menarik, pesona khas sosialita kelas atas yang tahu cara mengendalikan ruangan.
Sky dan Ozora berjalan masuk ke kantin, dan pemandangan itu langsung menyapa mereka. Phoenix, yang biasanya skeptis, tampak sedang mendengarkan Cristine dengan penuh minat.
"Oh, lihat siapa yang datang!" seru Cristine dengan suara yang cukup nyaring agar semua mata tertuju pada mereka. Ia melambai dengan anggun, memamerkan senyumnya yang sempurna.
Sky menghampiri meja itu dengan kening berkerut. "Kalian terlihat sangat akrab dalam waktu singkat," gumam Sky sembari menarik kursi untuk Ozora.
Phoenix tertawa, ia menyandarkan punggungnya dan menatap Ozora dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya dingin, namun ada nada kekaguman yang tersembunyi pada Cristine.
"Lihat Cristine, Ozora," ucap Phoenix dengan nada bangga yang sengaja ia tujukan pada gadis di samping Sky itu. "Dia memang seperti itu. Orang baru bagi kita, tapi dia bisa membuat suasana seakan-akan kita sudah berteman selama sepuluh tahun. Vibe-nya sangat berbeda, sangat... berkelas."
Ozora bisa merasakan tatapan mata Phoenix yang seolah membandingkan dirinya yang pendiam dengan Cristine yang meledak-ledak penuh pesona. Bagi Phoenix dan yang lain, Cristine adalah kepingan puzzle yang hilang dari lingkaran mereka, sementara Ozora hanyalah tamu asing yang kebetulan dibawa masuk oleh Sky.
Cristine menatap Ozora, matanya berkilat penuh kemenangan saat mendengar pujian dari Phoenix. Ia ingin melihat Ozora merasa kecil, merasa minder, dan merasa tidak pantas duduk di sana.
"Ah, Phoenix, jangan berlebihan. Aku hanya mencoba ramah," kata Cristine dengan kerendahan hati yang palsu. Ia kemudian mencondongkan tubuh ke arah Ozora. "Maaf ya, Ozora, jika aku terlalu berisik. Aku hanya merasa sangat merindukan sirkel Sky yang penuh energi seperti ini."
Ozora tidak menunduk. Ia tidak gemetar seperti yang diharapkan Cristine. Sebaliknya, Ozora justru menunjukkan senyuman manis yang paling tulus, senyum yang bahkan membuat Sky tertegun sejenak.
"Tidak apa-apa, Cristine," ucap Ozora sambil mengangguk pelan dengan keanggunan yang sangat tenang. "Aku justru kagum melihatmu. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk... berakting akrab dengan orang yang baru dikenal dalam hitungan menit. Itu bakat yang sangat langka."
Kalimat itu meluncur dengan lembut, namun di telinga Cristine, itu terdengar seperti tamparan halus. Ozora secara tidak langsung menyebut keramahannya sebagai sebuah akting.
Sky, yang tidak menyadari perang dingin itu, menggenggam tangan Ozora di bawah meja. "Ozora memang pendiam, tapi dia sangat memperhatikan detail," ucap Sky membela kekasihnya tanpa sadar.
Cristine tertawa kecil, meski matanya menajam. "Tentu saja. Perhatian pada detail adalah kunci, bukan? Terutama detail tentang posisi seseorang."
Suasana di meja itu mendadak mendingin. Phoenix berdeham, merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara kedua wanita ini. Sementara itu, Ozora tetap mempertahankan senyum manisnya. Di dalam kepalanya, ia mengingat tawa kerasnya semalam di kamar.
Tertawalah sesukamu, Cristine, ucap Ozora dalam hati sambil menyesap tehnya dengan tenang. Buatlah semua pria di meja ini mengagumimu. Semakin tinggi mereka memujimu, semakin sakit saat aku menjatuhkanmu di acara yayasan lusa nanti.
Ozora melirik ke arah Sky, memberikan tatapan sendu yang dibuat-buat, membuat Sky langsung merangkul bahunya dengan posesif di depan Cristine.
"Kenapa? Kamu lelah?" tanya Sky lembut.
"Sedikit pusing, Sky. Mungkin karena suasana di sini terlalu... ramai," bisik Ozora dengan nada manja yang terselubung.
Melihat perhatian Sky yang langsung terpusat penuh pada Ozora, senyum Cristine sedikit retak. Ia menyadari bahwa memenangkan teman-teman Sky adalah hal mudah, tapi menyingkirkan gadis murni yang sudah mengunci hati Sky adalah tantangan yang sesungguhnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰