NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Ranting Emas Giok

Tatkala dua sosok Lin Hong dan saudaranya kian menjauh, langkah mereka menelan jarak dan lenyap di antara pepohonan halaman keluarga, barulah Lin Xia berjalan mendekat dengan ayunan ringan namun penuh wibawa. Sinar senja menimpa wajahnya yang bening, menghadirkan kesan tegas sekaligus lembut.

Ia tersenyum kepada pemuda di hadapannya. “Lin Zhantian, kau tidak apa-apa?”

Lin Zhantian mengangguk perlahan. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan dari pertarungan barusan, namun sorot matanya tetap jernih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih, Kak Lin Xia.”

Sejak kecil, Lin Xia dan ayahnya memang memperlakukan Lin Zhantian dengan cukup baik. Hubungan mereka terjalin akrab, meski dalam beberapa tahun terakhir jarang bercakap panjang. Lin Xia tenggelam dalam latihan tanpa henti, meniti jalur kultivasi dengan tekad baja. Waktu dan jarak membuat interaksi mereka berkurang, tetapi rasa saling peduli tak pernah benar-benar memudar.

Tatapan Lin Xia menyapu tubuh Lin Zhantian dengan cermat, seolah menimbang kekuatan yang berdenyut di balik kulitnya. “Tadi saat kau bertukar pukulan dengan Lin Shan, sepertinya kau sudah mencapai tingkat keempat Tempering Tubuh, bukan?”

Nada suaranya menyiratkan keterkejutan yang tak disembunyikan. Ia mengetahui benar bahwa Lin Zhantian baru berlatih kurang dari setahun. Dalam waktu sesingkat itu, mampu menembus tingkat keempat sudah termasuk pencapaian yang mengundang decak kagum.

Lin Zhantian tidak mencoba menutupi. Tingkat keempat Tempering Tubuh memanifestasikan perubahan fisik yang sulit disembunyikan—otot yang lebih padat, tulang yang lebih kokoh, serta aura kekuatan yang samar terpancar dari tubuh. Ia mengangguk. “Hanya keberuntungan.”

Lin Xia terkekeh pelan. “Sepertinya bakat ayahmu benar-benar mengalir dalam darahmu.”

Namun segera wajahnya menjadi serius. “Tetapi jangan lengah. Dibandingkan Lin Hong, jarakmu masih jauh. Dari yang kudengar, tiga bulan lalu ia telah menembus tingkat keenam Tempering Tubuh dan melahirkan Benih Yuan di dalam tubuhnya. Jika kau berhadapan langsung dengannya sekarang, kau pasti akan dirugikan. Hindari benturan keras dengannya.”

Lin Zhantian tidak membantah. Ia sadar akan kenyataan pahit itu. Tingkat keenam berarti tubuh telah menyentuh ambang kekuatan yang berbeda; Benih Yuan adalah fondasi bagi lahirnya energi sejati. Namun jauh di dalam dadanya, bara keyakinan menyala diam-diam. Ia akan menyusul. Bahkan melampaui.

“Aku mengerti,” jawabnya tenang.

Lin Xia tersenyum kembali, lalu dengan santai menepuk kepalanya. “Berlatihlah dengan giat. Enam bulan lagi akan ada Pertandingan Klan. Ayahmu sangat menaruh harapan pada ajang itu.”

Setelah berpamitan dengan Qing Tan dan yang lain, ia berbalik, kuncir kudanya berayun ringan. Siluetnya yang ramping perlahan menghilang, meninggalkan jejak kekaguman.

Lin Changqiang memandang kepergiannya dengan iri. “Kak Lin Xia benar-benar hebat. Bahkan Lin Hong tak berani sombong di hadapannya. Kakek sangat menyayanginya, sampai-sampai sering mengajarinya ilmu bela diri secara langsung.”

Lin Zhantian meliriknya sekilas. “Itu karena kau terlalu malas.”

Tanpa berkata lagi, ia mengajak Qing Tan pergi. Langit mulai gelap, warna jingga memudar menjadi ungu pekat. Lin Changqiang mengikuti beberapa langkah sebelum akhirnya berpisah, enggan namun tak punya pilihan.

Di jalan setapak menuju rumah, Qing Tan menarik ujung pakaian Lin Zhantian. Wajahnya yang mungil dipenuhi rasa bersalah. “Kak Zhantian… maafkan aku. Aku tidak akan lagi diam-diam pergi memetik obat.”

Lin Zhantian yang tadinya hendak menegurnya pun luluh melihat rautnya. Ia menghela napas, amarah yang sempat tersisa memudar seperti kabut tersapu angin. “Tidak apa-apa. Kelak jika aku sudah cukup kuat, tak seorang pun akan berani menindasmu.”

Qing Tan mengangkat wajahnya. “Aku juga ingin berlatih.”

Lin Zhantian tersenyum menggoda. “Bukankah kau bilang takut menjadi jelek karena latihan?”

Gadis itu menjulurkan lidahnya yang merah muda. “Mana ada. Kak Lin Xia tetap cantik, bukan? Kalau aku bisa sekuat dia, Lin Hong tak akan berani mengganggumu.”

Tawa kecil lolos dari bibir Lin Zhantian. Ia mengetuk ringan dahi Qing Tan yang halus. “Sesampainya di rumah, jangan ceritakan kejadian tadi. Mengerti?”

“Baik…” jawab Qing Tan, suaranya memanjang di udara malam.

Namun rahasia, betapapun dirahasiakan, sering kali memiliki caranya sendiri untuk terungkap.

Saat makan malam, Lin Xiao meletakkan mangkuknya dengan tenang. “Kudengar kau bertarung lagi dengan Lin Shan sore tadi?”

Tubuh Lin Zhantian dan Qing Tan menegang seketika. Liu Yan hanya bisa menggeleng tak berdaya.

“Ayah, ini bukan salah Kak Zhantian, aku yang—”

Lin Xiao melirik mereka sekilas, lalu menatap lurus ke arah putranya. “Kudengar kau mengalahkan Lin Shan?”

Lin Zhantian menggaruk kepala, lalu mengangguk canggung.

“Berikan tanganmu.”

Begitu tangan mereka bersentuhan, Lin Xiao memeriksa aliran kekuatan dalam tubuh anaknya. Seketika, ekspresi wajahnya berubah. Ada kilatan tak tertahankan di matanya.

“Tingkat keempat Tempering Tubuh?”

“Ya.”

Tawa keras meledak dari dada Lin Xiao, penuh kelegaan dan kebanggaan. Suara itu jarang terdengar dalam beberapa tahun terakhir—sejak ia terluka dan jatuh dari puncak kejayaannya.

Lin Zhantian merasakan beban di dadanya terangkat. Ia tak akan dimarahi.

Liu Yan memandang suaminya dengan senyum hangat. Ia tahu betapa besar harapan Lin Xiao pada putra mereka. Dalam hati pria itu selalu terpatri rasa bersalah—ia merasa telah mengubur masa depan klan karena kegagalannya dahulu. Kini, ia ingin menebusnya melalui darah dagingnya sendiri.

Namun setelah tawa reda, Lin Xiao mengernyit. “Bukankah kau baru menembus tingkat ketiga sepuluh hari lalu? Bagaimana bisa secepat ini?”

Jantung Lin Zhantian bergetar sesaat. Ia teringat cairan misterius dari jimat batu. Setelah berpikir sekejap, ia menjawab tenang, “Sejak memakan ginseng merah itu, latihan terasa lebih efektif.”

Lin Xiao merenung. Ginseng merah hanyalah obat spiritual tingkat satu—tak mungkin memberikan efek sebesar itu.

Liu Yan berkata lembut, “Mungkin tubuh Zhantian menyerap obat lebih baik dari orang biasa. Ada orang-orang dengan bakat bawaan seperti itu.”

Lin Xiao mengangguk perlahan. “Mungkin benar.”

Ia tersenyum puas. “Jika demikian, bukan mustahil kau meraih hasil baik dalam Pertandingan Klan.”

Lalu ia mengeluarkan gulungan kain dari balik pakaiannya. Begitu dibuka, aroma harum memenuhi ruangan. Di atas meja terbaring sepotong ranting kering berwarna emas pucat. Namun di balik warna emasnya, tampak cairan hijau samar mengalir perlahan seperti giok cair.

Liu Yan terkejut. “Itu… Ranting Emas Giok? Obat spiritual tingkat dua?”

Lin Zhantian memandangnya penuh rasa ingin tahu. Namun dibanding cairan misterius dari jimat batu, energi di dalam ranting itu terasa lebih lemah.

Lin Xiao tersenyum tipis. “Aku menemukannya kemarin di gunung. Besok rebuslah untuk Zhantian.”

Belum lama tersenyum, wajahnya mendadak pucat. Ia terbatuk keras.

“Ayah, gunakan untuk menyembuhkan lukamu saja!” seru Lin Zhantian cemas.

Lin Xiao mengibaskan tangan. “Tidak apa. Hanya sedikit terguncang saat bertarung dengan binatang buas. Lukaku sudah bertahun-tahun—obat seperti ini tak banyak berguna lagi. Fokuslah berlatih. Urusan obat biar Ayah yang mengurus.”

Mata Lin Zhantian memanas. Ia menunduk dalam diam. Dalam lubuk hatinya, sumpah terpatri.

Ayah, aku tak akan mengecewakanmu.

“Sudah malam. Istirahatlah,” ujar Lin Xiao.

Lin Zhantian mengangguk, lalu berjalan keluar bersama Qing Tan. Dari dalam rumah masih terdengar tawa bahagia Lin Xiao—tawa yang telah lama hilang.

Namun langkah Lin Zhantian terhenti mendadak.

Wajah Qing Tan tiba-tiba memucat seperti salju. Uap dingin perlahan keluar dari tubuhnya. Embun beku membentuk serpihan kecil di tanah.

Wajah Lin Zhantian berubah drastis. “Celaka… hawa dinginnya kambuh lagi!”

Angin malam berdesir, membawa hawa beku yang menusuk hingga ke tulang. Di bawah langit yang gelap dan tanpa bulan, sebuah takdir perlahan bergerak—dingin, misterius, dan sarat rahasia yang belum terkuak.

1
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!