Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Empat orang berkumpul di ruang OSIS.
Ada Tina (Ketua OSIS, tahun ketiga), Laras dan Yara (tahun pertama), dan tentu saja aku sendiri. Sekadar informasi, aku sangat suka puding. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyentuh pudingku, bahkan jika itu Kak Rina sekalipun.
Ini pertama kalinya aku bertemu Laras di ruangan ini. Tina dan Yara sudah biasa kulihat karena mereka pengurus inti.
“Ah... hehe.” Saat mata kami bertemu, Laras melambaikan tangan dengan riang. Aneh, meski hampir tidak mengenalnya, aku tidak merasa canggung. Sebenarnya ada apa dengan cewek ini?
“.........Kabar baik, Laras?”
“Aku baik! Sudah lama ya, Rian! Kamu kelihatan anggun seperti biasa hari ini!”
“Syukurlah kamu baik... tapi berhenti menyebutku anggun. Yah, meski itu memang kenyataan, sih.”
“Benar, kan!” seru Laras semangat.
Aku membatin, Setidaknya dia tidak menyela bicaraku. Kami pun duduk di posisi masing-masing: Laras di sebelahku, Tina di seberangku, dan Yara di posisi diagonal. Aku satu-satunya cowok di sini. Suasananya terasa... intimidatif.
Tina memang tidak berniat jahat, tapi ruangan ini mendadak terasa sangat tidak nyaman. Apalagi ada Yara. Dia siswi berbakat; kalau dia serius, dia bisa dengan mudah memojokkanku. Aku memutuskan menjaga jarak aman.
Yara biasanya hanya bicara singkat denganku. Bukan karena dia benci, tapi dia tipe yang sangat pengertian dan tidak mau mengganggu obrolanku dengan Tina. Namun, justru kecerdasannya dalam membaca situasi itu yang membuatku semakin waspada.
“...Rian? Ada apa?” tanya Yara menyadari kegelisahanku.
“...Tidak ada apa-apa,” jawabku singkat.
Tina kemudian meletakkan teh di depanku. Teh yang biasanya selalu kupuji enak.
“Rian, maaf ya harus memanggilmu lagi hari ini,” buka Tina.
“Tidak apa-apa, Kak.”
Tina tersenyum kecil lalu mulai menjelaskan maksudnya. “Sebenarnya, OSIS sedang merencanakan acara pertukaran sosial dengan siswa SD setempat. Aku ingin minta bantuanmu dan Kak Rina. Kalau cuma aku dan Yara, rasanya agak berat.”
“Acara pertukaran SD? Ke mana anggota OSIS yang lain?” tanyaku curiga. Masa pengurus OSIS cuma mereka berdua?
“Anggota dibagi tiga kelompok: TK, SD, dan SMP. Guru meminta kami mencari sukarelawan tambahan untuk setiap kelompok.”
“Begitu ya... Gurunya malas sekali,” gumamku kurang sopan.
“Hei, jaga bicaramu! Tapi serius, Rian, apa kamu mau membantu kami?”
Aku terdiam. Otakku langsung memproses skenario terburuk: Apakah dia hanya bersikap baik supaya bisa menimpakan tugas ini padaku? Aku tahu Tina bukan orang seperti itu, tapi alarm di kepalaku tetap berbunyi.
“Tentu saja ini tidak wajib! Kamu bisa menolak kalau tidak mau,” tambah Tina cepat saat melihatku ragu. “Aku mengajakmu karena menurutku kamu yang paling bisa dipercaya. Cowok lain biasanya suka pamer atau kasar pada adik kelas, tapi kamu tidak begitu, kan?”
Tenang, Rian, pikirku. Itu jelas ungkapan tulus Tina, bukan sekadar sanjungan kosong. Tina memang pemalu, tapi dia jujur. Aku harus mencoba mempercayainya.
“Jadi, bagaimana?” tanya Tina penuh harap.
“Aku tidak mau.”
“Apaaa?!?!”
“Berisik, Kak.”
Mau aku percaya padanya atau tidak, intinya aku malas. Menjadi sukarelawan sekolah rasanya hanya membuang waktu. Apalagi berurusan dengan anak SD? Kalau ada anak perempuan di sana, aku hanya akan merasa terancam dan ingin kabur.
Tina merosot di kursinya, tampak tak berdaya. Dia tidak menyangka aku akan menolak mentah-mentah.
“Tina, jangan dipaksa kalau Rian memang tidak mau,” sela Laras yang sejak tadi diam mengamati. Dia sepertinya menikmati melihatku dari jarak dekat, sebuah hobi yang agak menyimpang menurutku. “Aku senang Tina mengundang Rian, tapi perasaan Rian yang paling penting.”
“I-iya, kamu benar,” sahut Tina lesu.
Aku menoleh ke Laras. “Berarti Laras juga jadi sukarelawan?”
“Iya! Aku ingin membantu anak-anak kecil itu,” jawabnya dengan senyum yang... entah kenapa terasa sedikit menyeramkan.
Melihat Tina yang masih tertunduk sedih, aku merasa sedikit bersalah. “Aku cuma bercanda soal menolak tadi. Memangnya selain Laras, siapa lagi yang ikut?”
“Untuk saat ini, baru Laras,” jawab Yara. Tubuhku refleks menegang mendengar jawaban itu.
Aku memutar otak. Jika aku menolak, OSIS akan kekurangan orang dan itu bisa jadi masalah besar. “Ada siswa kelas dua namanya Andi. Bagaimana kalau dia? Dia orangnya baik dan bisa diandalkan.”
“Aku sudah menghubungi Andi,” sahut Tina. “Tapi dia bilang: 'Kalau Rian ikut, aku baru mau ikut'.”
Kenapa jadi begitu? Apa untungnya bagi Andi kalau aku ikut? “Lalu bagaimana dengan Kak Rina? Dia memang terlihat galak dan bermuka datar, tapi sebenarnya dia sangat jago mengasuh anak kecil,” usulku lagi.
Tina mengangguk semangat. “Aku sudah mengundangnya lebih dulu, tapi jawabannya sama dengan Andi: 'Aku cuma mau ikut kalau adikku ikut'.”
Ternyata aku sangat "dicintai" oleh mereka, ya? Tapi rasanya merepotkan sekali.
Melihat antusiasme Tina, Laras, dan Yara, hatiku mulai luluh. Lagi pula, kalau ada Andi dan Kak Rina, aku tidak akan merasa terasing di tengah kerumunan cewek. Mungkin ini juga bisa jadi terapi agar aku terbiasa berada di dekat lawan jenis lagi.
“...Ya sudah. Karena kalian memaksa, aku akan ikut kali ini.”
“Yesss!!” seru mereka bertiga kompak.
Setelah diskusi selesai dan kami bubar, aku berjalan menyusuri koridor sendirian.
“Ternyata aku masih bisa bicara normal dengan mereka. Sepertinya kondisiku semakin membaik,” pikirku optimis. Kalau terus begini, mungkin sebentar lagi aku bisa bicara langsung dengan Naya dan meminta maaf.
Tapi jujur, baru membayangkan wajah Naya saja sudah membuatku merinding ketakutan.
“Apa yang kamu takutkan, Rian?” sebuah suara muncul di sampingku.
“Tidak ada—eh, Laras? Sejak kapan kamu di situ?”
“Ayo pulang bareng!”
“...Baiklah.”
Aku berjalan pulang bersama Laras, tetap menjaga jarak aman sekitar satu meter. Tidak ada percakapan, hanya suara senandung kecil Laras yang entah kenapa terus terngiang di telingaku, sulit untuk dihilangkan.
Sudut Pandang Yara
Setelah Rian dan Laras pergi, aku mulai membereskan keempat cangkir teh di meja. Namun, saat memegang cangkir milik Rian, aku tertegun.
“Teh Rian sama sekali tidak berkurang seteguk pun. Ada apa ya?”
Tina ikut berdiri dan memeriksa cangkir itu. “Benar... masih penuh.”
Tidak ada bekas bibir atau tanda bahwa teh itu pernah disentuh. Rian biasanya selalu menghabiskan minuman yang disuguhkan Tina tanpa sisa.
“Mungkin dia sedang benar-benar tidak enak badan,” gumamku.
“Iya, kurasa begitu,” sahut Tina, mencoba menepis rasa khawatir. “Lebih penting lagi, Yara! Tolong segera hubungi Andi. Bilang padanya kalau Rian sudah setuju untuk ikut!”
“Siap, Ketua!”
Kami berdua kembali sibuk, berpura-pura seolah tidak ada yang aneh dengan cangkir teh yang masih utuh itu.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰