NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKAD DI TENGAH BADAI.

Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela ruang makan, namun suasana di sana tidak sehangat biasanya. Ariya perlahan memutar kursi rodanya mendekati meja makan, tempat Ferdiansyah dan Heny sudah duduk dalam diam. Wajah Ariya masih tampak pucat dengan lingkar hitam di bawah matanya, sisa dari malam yang ia lalui dengan isak tangis dan doa penyesalan yang tak putus.

"Pa, Ma, Arya ingin minta maaf atas semua sikap Arya selama ini," ujar Ariya dengan suara rendah dan tulus.

Ferdiansyah menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir kopi. Ia menatap putranya sejenak, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakan keramiknya. Heny hanya bisa memegang tangan Ariya, memberikan kekuatan tanpa kata-kata.

"Maafkan kekerasan hati Arya yang sudah membutakan segalanya," sambung Ariya lagi. Ia terdiam sejenak sebelum memberanikan diri bertanya hal yang paling mengusik jiwanya. "Pa, apakah Papa sudah bisa menghubungi Arumi? Sejak semalam ponselnya sama sekali tidak aktif."

Ferdiansyah menghela napas panjang, ekspresi wajahnya yang tadi keras mulai sedikit melunak saat melihat kesungguhan di mata anaknya. "Jaringan komunikasi di daerah bencana Sumatera memang terputus total, Arya. Longsor dan banjir bandang merobohkan tiang-tiang pemancar dan listrik di sana."

Ariya tampak semakin cemas, namun ayahnya segera melanjutkan penjelasannya. "Tapi Papa sudah mendapatkan informasi melalui radio petugas tim SAR di lapangan. Para medis, termasuk Arumi, sudah sampai dengan selamat di posko utama area bencana semalam. Mereka semua dalam perlindungan petugas di sana."

"Kirim Arya ke sana, Pa. Arya mohon," pinta Ariya tiba-tiba.

Ferdiansyah menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara rasa bangga karena kepedulian Ariya, namun juga rasa kesal yang masih tersisa. "Untuk apa kau ke sana, hah? Hanya untuk menyusahkan Arumi lagi?"

"Bukan begitu, Pa. Arya hanya ingin menemaninya," jawab Ariya dengan nada memohon.

"Ingatlah kondisi lapangan di sana, Arya. Arumi di sana sedang bertaruh nyawa menyelamatkan ratusan orang yang terluka," sahut Ferdiansyah tegas. "Kalau kau ke sana dengan keadaan duduk di kursi roda seperti ini, yang ada Arumi malah sibuk mendorong kursimu dan menjagamu di tengah lumpur. Kau hanya akan menjadi beban baginya saat dia seharusnya fokus bekerja."

Ariya terdiam, kepalanya menunduk lesu menyadari kebenaran ucapan ayahnya. Ia merasa sangat tidak berguna dengan kondisi fisiknya saat ini.

"Buang jauh-jauh pikiran itu. Kalau kau memang ingin membantunya, maka siapkan dirimu untuk melakukan operasi lusa nanti," kata Ferdiansyah dengan nada yang lebih serius. "Dokter spesialis saraf dari Jerman yang Papa undang sudah memberikan konfirmasi. Dia bersedia menanganimu secara langsung."

Ariya tampak bimbang. Ia menatap kakinya yang masih kaku. "Bagaimana kalau operasinya gagal, Pa? Bagaimana kalau Arya justru akan lama pulih dan tidak bisa mengejar Arumi?"

"Itu semua terserah kamu, Arya," jawab Ferdiansyah sambil bangkit dari duduknya. "Papa sudah memberikan jalan terbaik. Jika kau menolak operasi, maka kesembuhanmu akan semakin jauh dan tidak pasti. Pikirkan baik-baik, kapan kau bisa berdiri tegak sebagai suami yang melindungi Arumi jika kau tidak berani mengambil risiko untuk sembuh?"

Heny mengusap bahu Ariya dengan lembut. "Lakukan ini untuk Arumi, Nak. Agar saat dia pulang nanti, dia bisa melihat suaminya sudah berjuang untuk menjadi pria yang lebih baik."

Setelah terdiam cukup lama dalam pergulatan batinnya, Ariya akhirnya mendongak dan menatap ayahnya dengan mantap. "Baik, Pa. Arya setuju. Arya akan melakukan operasi itu."

🍃

Di belahan pulau lain, suasana sangat kontras dengan ketenangan rumah mewah keluarga Ferdiansyah. Sumatera sedang menangis. Di sebuah tenda darurat yang luas, Arumi tampak bergerak cepat di antara deretan tandu yang penuh dengan pasien. Bau tanah basah, antiseptik, dan keringat bercampur menjadi satu di bawah terpal plastik yang sesekali bergetar karena angin kencang.

Bencana longsor telah menghancurkan sebagian besar pemukiman penduduk. Banyak orang kehilangan rumah dan harta benda, namun yang lebih memilukan adalah tangisan mereka yang kehilangan anggota keluarga. Arumi hampir tidak memiliki waktu untuk duduk, apalagi untuk sekadar memikirkan ponselnya yang mati karena kehabisan daya dan ketiadaan sinyal.

"Dokter! Tolong anak saya dulu, Dokter! Dia tertimpa reruntuhan kayu, kakinya terus mengeluarkan darah!" teriak seorang ibu dengan pakaian compang-camping sambil menggendong anaknya yang pingsan.

"Dokter, suami saya sesak napas! Tolong, Dokter!" sahut suara lain dari sudut tenda.

Arumi mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya yang masih mengenakan sarung tangan medis. "Tenang, semuanya akan kami tangani. Suster, tolong bantu ibu ini ke meja dua! Berikan penanganan pertama pada pendarahannya!"

Tenaga medis di sana sangat terbatas, sementara jumlah pasien terus bertambah setiap jamnya seiring ditemukannya korban baru oleh tim SAR. Arumi merasa kakinya sangat pegal, namun semangat kemanusiaan mengalahkan rasa lelahnya. Saat ia sedang menjahit luka seorang pria paruh baya, ingatannya sejenak melayang pada Ariya.

"Apakah dia sudah melakukan cek up hari ini? Apakah dia makan dengan benar?" batin Arumi.

Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan wajah suaminya yang terakhir kali ia lihat penuh dengan amarah dan hinaan. Di sini, di tengah penderitaan orang banyak, luka hatinya terasa kecil dibandingkan kehilangan yang dialami para korban bencana. Ia justru merasa lebih tenang berada di tengah kekacauan ini daripada berada di kamar megah yang penuh dengan kebencian.

"Dokter Arumi, ada pasien baru dengan trauma kepala berat! Kita harus segera menstabilkannya sebelum dikirim ke rumah sakit kota!" lapor seorang perawat dengan napas terengah-engah.

Arumi segera berdiri tegak, merapikan jas putihnya yang sudah kotor terkena noda lumpur. "Siapkan alatnya! Saya segera ke sana."

Malam mulai turun menyelimuti posko pengungsian, namun perjuangan Arumi baru saja dimulai. Di tengah keterbatasan alat dan obat-obatan, ia terus berjuang menyelamatkan satu demi satu nyawa. Arumi tidak tahu bahwa di Jakarta, Ariya sedang menghitung jam menuju meja operasi demi sebuah harapan untuk bisa menyusulnya dan memohon ampunan.

Hujan kembali turun dengan deras di area bencana, membuat tanah semakin labil. Ancaman longsor susulan terus menghantui, namun Arumi tidak bergeming. Baginya, setiap detak jantung pasien adalah amanah yang harus ia jaga, meski hatinya sendiri masih remuk berkeping-keping.

1
tiara
semoga Ariya dapat melindungi Arumi dari kejaran orang suruhan Lusi.
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!