Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKAD DI TENGAH BADAI.
Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela ruang makan, namun suasana di sana tidak sehangat biasanya. Ariya perlahan memutar kursi rodanya mendekati meja makan, tempat Ferdiansyah dan Heny sudah duduk dalam diam. Wajah Ariya masih tampak pucat dengan lingkar hitam di bawah matanya, sisa dari malam yang ia lalui dengan isak tangis dan doa penyesalan yang tak putus.
"Pa, Ma, Arya ingin minta maaf atas semua sikap Arya selama ini," ujar Ariya dengan suara rendah dan tulus.
Ferdiansyah menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir kopi. Ia menatap putranya sejenak, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakan keramiknya. Heny hanya bisa memegang tangan Ariya, memberikan kekuatan tanpa kata-kata.
"Maafkan kekerasan hati Arya yang sudah membutakan segalanya," sambung Ariya lagi. Ia terdiam sejenak sebelum memberanikan diri bertanya hal yang paling mengusik jiwanya. "Pa, apakah Papa sudah bisa menghubungi Arumi? Sejak semalam ponselnya sama sekali tidak aktif."
Ferdiansyah menghela napas panjang, ekspresi wajahnya yang tadi keras mulai sedikit melunak saat melihat kesungguhan di mata anaknya. "Jaringan komunikasi di daerah bencana Sumatera memang terputus total, Arya. Longsor dan banjir bandang merobohkan tiang-tiang pemancar dan listrik di sana."
Ariya tampak semakin cemas, namun ayahnya segera melanjutkan penjelasannya. "Tapi Papa sudah mendapatkan informasi melalui radio petugas tim SAR di lapangan. Para medis, termasuk Arumi, sudah sampai dengan selamat di posko utama area bencana semalam. Mereka semua dalam perlindungan petugas di sana."
"Kirim Arya ke sana, Pa. Arya mohon," pinta Ariya tiba-tiba.
Ferdiansyah menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara rasa bangga karena kepedulian Ariya, namun juga rasa kesal yang masih tersisa. "Untuk apa kau ke sana, hah? Hanya untuk menyusahkan Arumi lagi?"
"Bukan begitu, Pa. Arya hanya ingin menemaninya," jawab Ariya dengan nada memohon.
"Ingatlah kondisi lapangan di sana, Arya. Arumi di sana sedang bertaruh nyawa menyelamatkan ratusan orang yang terluka," sahut Ferdiansyah tegas. "Kalau kau ke sana dengan keadaan duduk di kursi roda seperti ini, yang ada Arumi malah sibuk mendorong kursimu dan menjagamu di tengah lumpur. Kau hanya akan menjadi beban baginya saat dia seharusnya fokus bekerja."
Ariya terdiam, kepalanya menunduk lesu menyadari kebenaran ucapan ayahnya. Ia merasa sangat tidak berguna dengan kondisi fisiknya saat ini.
"Buang jauh-jauh pikiran itu. Kalau kau memang ingin membantunya, maka siapkan dirimu untuk melakukan operasi lusa nanti," kata Ferdiansyah dengan nada yang lebih serius. "Dokter spesialis saraf dari Jerman yang Papa undang sudah memberikan konfirmasi. Dia bersedia menanganimu secara langsung."
Ariya tampak bimbang. Ia menatap kakinya yang masih kaku. "Bagaimana kalau operasinya gagal, Pa? Bagaimana kalau Arya justru akan lama pulih dan tidak bisa mengejar Arumi?"
"Itu semua terserah kamu, Arya," jawab Ferdiansyah sambil bangkit dari duduknya. "Papa sudah memberikan jalan terbaik. Jika kau menolak operasi, maka kesembuhanmu akan semakin jauh dan tidak pasti. Pikirkan baik-baik, kapan kau bisa berdiri tegak sebagai suami yang melindungi Arumi jika kau tidak berani mengambil risiko untuk sembuh?"
Heny mengusap bahu Ariya dengan lembut. "Lakukan ini untuk Arumi, Nak. Agar saat dia pulang nanti, dia bisa melihat suaminya sudah berjuang untuk menjadi pria yang lebih baik."
Setelah terdiam cukup lama dalam pergulatan batinnya, Ariya akhirnya mendongak dan menatap ayahnya dengan mantap. "Baik, Pa. Arya setuju. Arya akan melakukan operasi itu."
🍃
Di belahan pulau lain, suasana sangat kontras dengan ketenangan rumah mewah keluarga Ferdiansyah. Sumatera sedang menangis. Di sebuah tenda darurat yang luas, Arumi tampak bergerak cepat di antara deretan tandu yang penuh dengan pasien. Bau tanah basah, antiseptik, dan keringat bercampur menjadi satu di bawah terpal plastik yang sesekali bergetar karena angin kencang.
Bencana longsor telah menghancurkan sebagian besar pemukiman penduduk. Banyak orang kehilangan rumah dan harta benda, namun yang lebih memilukan adalah tangisan mereka yang kehilangan anggota keluarga. Arumi hampir tidak memiliki waktu untuk duduk, apalagi untuk sekadar memikirkan ponselnya yang mati karena kehabisan daya dan ketiadaan sinyal.
"Dokter! Tolong anak saya dulu, Dokter! Dia tertimpa reruntuhan kayu, kakinya terus mengeluarkan darah!" teriak seorang ibu dengan pakaian compang-camping sambil menggendong anaknya yang pingsan.
"Dokter, suami saya sesak napas! Tolong, Dokter!" sahut suara lain dari sudut tenda.
Arumi mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya yang masih mengenakan sarung tangan medis. "Tenang, semuanya akan kami tangani. Suster, tolong bantu ibu ini ke meja dua! Berikan penanganan pertama pada pendarahannya!"
Tenaga medis di sana sangat terbatas, sementara jumlah pasien terus bertambah setiap jamnya seiring ditemukannya korban baru oleh tim SAR. Arumi merasa kakinya sangat pegal, namun semangat kemanusiaan mengalahkan rasa lelahnya. Saat ia sedang menjahit luka seorang pria paruh baya, ingatannya sejenak melayang pada Ariya.
"Apakah dia sudah melakukan cek up hari ini? Apakah dia makan dengan benar?" batin Arumi.
Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan wajah suaminya yang terakhir kali ia lihat penuh dengan amarah dan hinaan. Di sini, di tengah penderitaan orang banyak, luka hatinya terasa kecil dibandingkan kehilangan yang dialami para korban bencana. Ia justru merasa lebih tenang berada di tengah kekacauan ini daripada berada di kamar megah yang penuh dengan kebencian.
"Dokter Arumi, ada pasien baru dengan trauma kepala berat! Kita harus segera menstabilkannya sebelum dikirim ke rumah sakit kota!" lapor seorang perawat dengan napas terengah-engah.
Arumi segera berdiri tegak, merapikan jas putihnya yang sudah kotor terkena noda lumpur. "Siapkan alatnya! Saya segera ke sana."
Malam mulai turun menyelimuti posko pengungsian, namun perjuangan Arumi baru saja dimulai. Di tengah keterbatasan alat dan obat-obatan, ia terus berjuang menyelamatkan satu demi satu nyawa. Arumi tidak tahu bahwa di Jakarta, Ariya sedang menghitung jam menuju meja operasi demi sebuah harapan untuk bisa menyusulnya dan memohon ampunan.
Hujan kembali turun dengan deras di area bencana, membuat tanah semakin labil. Ancaman longsor susulan terus menghantui, namun Arumi tidak bergeming. Baginya, setiap detak jantung pasien adalah amanah yang harus ia jaga, meski hatinya sendiri masih remuk berkeping-keping.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra