"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - LENNA KEHILANGAN SEGALANYA
Seminggu setelah kejadian di apartemen Rio, kehidupan Lenna benar-benar hancur. Rio kehilangan pekerjaan, dia dipecat oleh ayah Nadya yang ternyata sangat protektif pada anak gadisnya. Nadya juga memastikan nama Rio masuk daftar hitam di semua perusahaan properti besar di Jakarta.
Lenna sendiri tanpa koneksi ke keluarga Adisaputra, tanpa uang (karena semua transferan dari keluarga Adisaputra sudah dihentikan), dan tanpa Rio yang sekarang malah menyalahkannya atas kehancuran karirnya terpaksa keluar dari apartemen mewah dan pindah ke kosan murah di pinggiran Jakarta.
Dara tahu semua ini dari laporan Regan yang terus mengawasi Lenna.
"Dia kerja sekarang di restoran cepat saji. Jadi pelayan dengan gaji harian," lapor Regan sambil menunjukkan foto Lenna dengan seragam biru, wajah lelah, membersihkan meja.
"Jauh sekali perubahannya," komentar Dara tanpa simpati.
"Kakak tidak merasa sudah cukup? Maksudku, dia sudah kehilangan segalanya."
"Belum." Dara menatap foto itu dengan tatapan dingin. "Dia belum merasakan apa yang aku rasakan, dia belum hampir mati, dia belum merasakan kehilangan anak dalam kandungan."
"Tapi dia bukan ibu..."
"Justru itu." Dara memotong. "Dia tidak punya apa-apa untuk hilang lagi kecuali satu hal... harapan. Dia masih punya harapan bahwa suatu hari nanti kehidupannya akan membaik, dan aku akan hancurkan harapan itu."
Regan menatapnya dengan was-was. "Kakak mau lakukan apa?"
"Aku akan pastikan dia tidak bisa bangkit, tidak di Jakarta, tidak di mana pun."
***
Hari Kamis sore, Dara dengan perut yang sudah membesar lima bulan... pergi ke restoran cepat saji tempat Lenna bekerja. Regan menemaninya, waspada.
"Kakak yakin mau datang langsung?"
"Aku harus lihat matanya, aku harus lihat penderitaannya secara langsung."
Mereka masuk, restoran cukup ramai dengan pelanggan sore hari. Dara memilih meja di sudut, tempat yang memberinya pandangan jelas ke seluruh ruangan.
Lenna sedang melayani meja sebelah, mencatat pesanan dengan wajah lelah. Rambutnya diikat asal, tidak ada riasan, lingkar hitam tebal di bawah matanya.
Saat dia berbalik untuk ke dapur... Matanya bertemu dengan mata Dara.
Lenna membeku.
Wajahnya berubah pucat, tangannya gemetar sampai catatan pesanan jatuh ke lantai.
"Kak... Kiara..."
Dara tersenyum... senyum tipis tanpa kehangatan. "Hai, Lenna lama tidak bertemu."
Lenna menatapnya dengan campuran shock, malu, dan kebencian. "Kenapa... kenapa kamu ada di sini..."
"Aku cuma mau makan siang, boleh kan?"
Pelanggan di meja sebelah menatap mereka mulai menyadari ada drama yang akan terjadi.
Lenna mengambil catatan pesanannya yang jatuh dengan tangan gemetar. "Aku... aku harus bekerja..."
"Tentu, lanjutkan pekerjaanmu karena aku akan pesan sesuatu." Dara membuka menu. "Regan, kamu mau apa?"
"Ayam goreng saja, Kak."
Lenna terpaksa mendekat, setiap langkahnya terlihat berat. Dia berdiri di samping meja mereka, tidak berani menatap langsung.
"Mau... mau pesan apa..."
"Aku pesan ayam goreng dua, kentang goreng, dan jus jeruk yang segar untuk kandunganku." Dara menyentuh perutnya yang membesar, sengaja membuat Lenna melihat.
Lenna menatap perut itu... matanya berkaca-kaca.
"Anaknya... sehat?"
"Sangat sehat, meski kamu sudah coba bunuh dia berkali-kali."
Lenna tersentak... Beberapa pelanggan menoleh, mulai berbisik-bisik.
"Aku... aku tidak..."
"Jangan bohong lagi, Lenna. Kamu sudah tidak punya hak untuk bohong." Dara menatapnya tajam. "Kamu tahu kenapa aku datang ke sini?"
"Kenapa..."
"Karena aku mau kamu lihat, ini hasil dari pilihanmu. Kamu memilih jadi monster, kamu memilih menyakiti orang tidak bersalah dan sekarang kamu bayar harganya."
"Aku sudah kehilangan segalanya..." suara Lenna bergetar. "Apa lagi yang kamu mau dari aku..."
"Aku mau kamu tahu, bahwa setiap penderitaanmu sekarang adalah hasil perbuatanmu sendiri. Bukan salahku, bukan salah keluarga Adisaputra. Tapi salahmu sendiri."
Lenna menangis, air matanya jatuh ke catatan pesanan di tangannya.
Manajer restoran mendekat. "Ada masalah, Mbak Lenna?"
"Tidak ada masalah," kata Dara cepat. "Temanku ini cuma kaget bertemu denganku, kami lama tidak bertemu."
Manajer menatap curiga tapi akhirnya pergi.
Lenna mengusap air matanya dengan kasar. "Kamu puas sekarang? Lihat aku jatuh seperti ini?"
"Belum." Dara bersandar di kursi. "Karena kamu belum benar-benar menyesal, kamu cuma menyesal tertangkap. Kamu cuma sedih kehilangan kehidupan mewahmu, tapi kamu tidak menyesal menyakitiku."
"Aku menyesal..."
"Bohong." Dara menatapnya dengan tatapan yang membuat Lenna terdiam. "Kalau kamu benar-benar menyesal, kamu akan datang padaku, mohon maaf, dan siap menerima konsekuensi hukum. Tapi kamu tidak, kamu cuma lari, bersembunyi, dan berharap semuanya akan hilang begitu saja."
Lenna tidak bisa menjawab.
"Tapi aku tidak akan biarkan kamu lupa, Lenna." Dara menurunkan suaranya... berbahaya, dingin. "Di mana pun kamu pergi, aku akan pastikan orang-orang tahu siapa kamu. Apa yang kamu lakukan, sehingga kamu tidak akan pernah bisa membangun kehidupan baru dengan kebohongan lagi."
"Kamu... kamu jahat..." bisik Lenna.
"Aku belajar dari yang terbaik." Dara tersenyum. "Dari kamu."
Manajer kembali mendekat. "Mbak Lenna, ada pesanan lain yang menunggu."
Lenna terpaksa pergi... punggungnya membungkuk, seperti membawa beban berat.
Regan menatap Dara dengan campuran kagum dan khawatir. "Kak... itu kejam sekali..."
"Dia pantas."
"Tapi Kakak terlihat... seperti menikmati penderitaannya."
Dara terdiam. Apakah dia menikmati ini? Sebagian darinya, bagian yang pernah jadi Dara dokter mafia yang keras mungkin menikmati.
Tapi bagian lain, bagian yang masih ingat rasa sakit hampir kehilangan anak merasa ini adalah keadilan.
"Aku tidak menikmati, Regan. Aku cuma memastikan dia tidak akan menyakiti orang lain lagi."
"Dengan menghancurkannya total?"
"Dengan memberinya pelajaran yang tidak akan dia lupakan."
Pesanan datang. Mereka makan dalam diam, Dara mengamati Lenna yang terus melayani pelanggan lain dengan wajah kosong, seperti robot.
Setelah selesai, Dara membayar dan memberikan tip yang sangat besar. Lima ratus ribu.
Lenna menatap uang itu dengan mata membelalak.
"Kenapa... kenapa kamu kasih ini..."
"Bukan karena aku kasihan." Dara berdiri, menatapnya. "Tapi karena aku mau kamu tahu, aku bisa memberikanmu uang sebanyak ini dengan santai. Sementara kamu harus kerja keras seharian penuh untuk dapat sepersepuluhnya, itu perbedaan antara kita sekarang."
"Kamu mau aku merasa rendah..."
"Tidak... Aku mau kamu merasa konsekuensi." Dara berjalan ke pintu, berhenti sebentar. "Oh, satu lagi, Rio kabur ke Bali. Dia selingkuh lagi dengan turis asing, kamu tidak tahu?"
Lenna terlihat seperti ditampar.
"Bohong..."
"Cek sendiri media sosialnya, dia posting foto dengan wanita bule kemarin." Dara tersenyum dingin. "Sepertinya dia sudah move on. Sementara kamu masih di sini, menderita sendiri."
Lenna jatuh terduduk di kursi terdekat, seluruh tubuhnya gemetar.
Dara keluar dari restoran tanpa menoleh lagi.
Di mobil, Regan bertanya pelan. "Kak, apa benar Rio di Bali dengan wanita lain?"
"Benar. Aku yang bayar tiketnya dan kasih dia kontak wanita itu, turis Belanda kaya yang sedang liburan." Dara menatap keluar jendela. "Aku mau Lenna tahu, bahkan pria yang dia cintai pun tidak setia padanya. Tidak ada yang akan setia pada wanita seperti dia."
"Kakak... kakak berubah, kamu tahu itu kan?"
Dara menatap Regan. "Berubah bagaimana?"
"Lebih dingin... Lebih kejam... Lebih... seperti orang yang pernah hidup di dunia gelap."
Dara tersenyum pahit. "Mungkin karena aku memang orang itu, Aku Dara Alvarino Dokter mafia yang pernah melihat banyak kematian. Dan sekarang aku ada di tubuh Kiara, menggabungkan trauma keduanya."
"Tapi Kakak masih punya hati kan?"
Dara menyentuh perutnya, merasakan tendangan lembut dari dalam.
"Aku punya untuk anakku, untuk orang-orang yang tidak menyakitiku. Tapi untuk Lenna?" Dia menatap Regan. "Untuk dia, aku tidak punya ampun."
lupita namanya siapa ya