NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Kecelakaan

Angin sore itu terasa lebih dingin menusuk kulit Aura, atau mungkin hanya perasaannya yang sedang kacau balau. Ia berdiri di depan gerbang sekolah yang mulai sepi, matanya tak lepas menatap aspal jalanan, berharap motor butut Kak Bima segera muncul dari tikungan.

Jari Aura gemetar saat menekan layar ponselnya untuk kesekian puluh kalinya. Nama Kak Bima terpampang di sana, tapi setiap kali ia menekan tombol panggil, hanya suara operator yang menyahut dengan nada datar yang menyakitkan hati.

"Kak Bima di mana sih? Kenapa nggak aktif? Kak, aku mohon aktif... jemput aku..." lirih Aura. Suaranya nyaris hilang, tertelan bising kendaraan yang berlalu-lalang.

Rasa cemas mulai merayap seperti duri yang menusuk dadanya. Aura takut. Ia takut jika Arfan tiba-tiba muncul lagi di depannya. Bayangan Arfan yang memojokkannya di studio galeri tadi kembali berputar seperti film horor di kepalanya. Setiap ada mobil mewah yang lewat, jantung Aura berdegup kencang, takut itu adalah Arfan yang datang untuk memaksanya pulang.

Zahra dan Mawar yang masih setia menemani di sampingnya terlihat sangat panik melihat kondisi Aura. Wajah sahabat mereka itu sudah pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan tangis.

"Mungkin Kak Bima lagi sibuk banget di bengkel, Ra. Kamu tahu kan kalau dia udah pegang mesin, kadang dunia sekitar dilupakan," ucap Mawar mencoba menenangkan, meski ia sendiri merasa ada yang tidak beres.

Aura menggeleng lemah, air mata nyaris jatuh. "Tapi biasanya Kak Bima nggak pernah matiin HP, War. Kecuali kalau dia lagi marah besar atau ada masalah di rumah?"

Pikiran itu menghimpitnya. Aura merasa sendirian. Pelindung utamanya, orang yang paling ia percayai untuk menjaganya dari Arfan, justru menghilang di saat ia merasa sangat terancam.

"Ra, udah sore banget ini. Mending kita anter lo pulang aja pake mobil jemputan gue," pinta Zahra dengan nada memohon. Mawar pun menatap Aura dengan tatapan yang sama, mendesak Aura untuk tidak keras kepala.

Aura melihat ke arah jalanan sekali lagi. Kosong. Tidak ada tanda-tanda Kak Bima. Ia merasa sangat sungkan untuk merepotkan mereka, apalagi arah rumah mereka berlawanan jauh.

"Enggak usah, Zah, War. Aku... aku nggak mau ngerepotin kalian. Kalian duluan aja, orang tua kalian pasti udah nungguin," jawab Aura dengan senyum yang dipaksakan, sebuah senyum yang sebenarnya adalah topeng dari rasa takut yang luar biasa.

"Tapi Ra—"

"Aku mau langsung balik aja, ini mau pesan taksi online biar cepet sampai," potong Aura cepat. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia membuka aplikasi di ponselnya. Pikirannya sudah buntu. Logikanya tertutup oleh rasa ingin segera sampai di rumah dan bersembunyi di balik pintu kamar.

Setelah Zahra dan Mawar pergi dengan berat hati, Aura berdiri sendirian. Di tengah keputusasaannya karena Kak Bima tak kunjung datang, ia menekan tombol Pesan.

Hingga sebuah mobil hitam dengan kaca yang sangat gelap merapat perlahan di depannya. Aura menarik napas panjang, ia merasa lega karena jemputannya datang, ia langsung masuk ke dalam dan ingin segera sampai ke rumah.

Aura duduk di jok belakang, menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke kaca jendela. Ia mencoba kembali menghubungi Bima, namun tetap saja, ponsel kakaknya membisu. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi saat ia menyadari jalanan di luar jendela mulai berubah. Aspal halus berganti jalanan berlubang, dan deretan ruko berubah menjadi tembok-tembok kusam dari gudang tua yang tak berpenghuni.

"Pak... ini bukan jalan ke rumah saya. Bapak salah jalan," ucap Aura, suaranya bergetar hebat. Sopir itu tidak menyahut. "Pak! Saya bilang berhenti! Berhenti sekarang atau saya lompat!"

Aura mulai memukul-mukul jok depan dengan kepalan tangannya yang kecil. Ia teringat sosok perawat misterius di UKS dulu, mungkinkah Arfan sudah menyewa orang untuk menculiknya? Atau jangan-jangan, pria di balik masker itu adalah Arfan sendiri?

"Ini Kamu kan, Kak Arfan?! Berhenti, Kak! Jangan gila, aku mau pulang! Aku benci kamu, Kak! Buka pintunya!" teriak Aura histeris, air matanya tumpah membasahi pipi.

Tiba-tiba, sopir itu membanting setir dengan liar. Ciiiiiitttt! Suara ban yang bergesekan dengan aspal memekakkan telinga. Mobil itu hilang kendali, meluncur deras ke arah dinding bangunan tua di depan mereka.

BRAAAKKKK!

Benturan hebat itu menghancurkan bagian depan mobil. Tubuh Aura terlempar ke depan, kepalanya menghantam kaca jendela dengan keras sebelum akhirnya ia terjerembap di lantai mobil. Pandangan Aura mendadak kabur, telinganya berdenging hebat, dan aroma besi terbakar serta asap mulai memenuhi ruangan sempit itu.

Di tengah kesadarannya yang mulai menipis, Aura melihat pintu mobil di sampingnya ditarik paksa dari luar. Seseorang muncul dengan wajah yang hancur oleh kepanikan. Bukan senyum tenang atau dingin yang biasanya ia lihat, tapi wajah seorang pria yang ketakutan setengah mati.

"Aura! Aura, sadar!"

Itu suara Arfan. Suara yang biasanya Aura hindari, kini terdengar seperti satu-satunya harapan. Arfan menarik tubuh Aura keluar dari mobil yang mulai berasap itu. Di saat yang sama, sopir misterius tadi melompat keluar dari pintu depan dan lari menghilang ditelan kegelapan gudang.

Namun, malapetaka belum usai. Guncangan keras dari tabrakan tadi membuat struktur bangunan gudang yang sudah tua itu goyah. Sebuah besi penyangga raksasa di atas mereka berderit nyaring, sebelum akhirnya terlepas dan jatuh meluncur tepat ke arah Aura.

"Awas!"

Arfan tidak punya waktu untuk berpikir. Ia tidak menarik Aura menjauh, karena jaraknya terlalu dekat. Secepat kilat, ia memutar tubuhnya, memeluk Aura erat-erat ke dalam dadanya, dan menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng.

BUGH!

Suara hantaman besi itu terdengar begitu mengerikan. Tubuh Arfan tersungkur ke tanah, namun dekapannya pada Aura sama sekali tidak terlepas. Ia tetap memeluk gadis itu, melindunginya dari reruntuhan debu dan semen yang berjatuhan.

Darah segar mulai mengalir deras dari belakang kepala Arfan. Cairan merah yang hangat itu menetes, membasahi kemeja putihnya, lalu perlahan mengalir ke tangan Aura yang terjepit di antara dada mereka.

"Kak... Kak Arfan?" Aura terbata. Napasnya memburu saat melihat darah itu kian banyak.

Arfan berjuang membuka matanya yang kuyu. Ia menatap Aura, mencoba memberikan senyum tipis yang sangat parau. "Kamu... nggak apa-apa, Ra? Ada yang... sakit?" bisiknya dengan suara yang kian menghilang.

Aura hanya bisa menggeleng, air matanya jatuh tepat di pipi Arfan. "Enggak, Kak... Aku nggak apa-apa. Kakak kenapa lakuin ini? Kak, bangun!"

Arfan tidak menjawab lagi. Matanya perlahan terpejam, dan berat tubuhnya kini sepenuhnya bersandar pada Aura. Pria itu terkulai lemas, tak sadarkan diri di dalam pelukan gadis yang selama ini ia obsesikan.

"Kak! Bangun, Kak! Tolong! Siapa pun tolong!" jerit Aura histeris.

Rasa benci yang tadi membara di galeri kini luruh tak bersisa, berganti dengan rasa bersalah yang mencekik lehernya. Ia baru saja menuduh pria ini sebagai penculiknya, padahal sekarang, pria inilah yang menyerahkan nyawanya demi memastikan Aura tetap bernapas. Di tengah kesunyian gudang yang mencekam, Aura hanya bisa mendekap tubuh Arfan yang bersimbah darah, menangisi pahlawan yang paling ia takuti itu.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!