Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Sepasang bola mata memandang datar teman-temannya yang sudah menikah, bahkan diantara mereka ada yang sudah memiliki anak. Mungkin hanya tinggal dua sampai lima orang yang masih melajang, termasuk dengan Vania. Usia mereka kisaran dua puluh enam sampai dua puluh tujuh tahun.
Hari ini Vania menghadiri acara reuni sekolah yang diadakan oleh temannya, sebagai seorang gadis yang kini menjadi tekenal, Vania tentu harus datang ke sana. Bisa saja kan ada momen yang bisa dia gunakan untuk keperluan kontennya. Seperti selebgram lainnya yang membuat konten ala-ala bertemu teman lama saat reuni.
Vania memandang ke arah teman-temannya yang terlihat harmonis dengan pasangan serta anak mereka, ia cukup iri melihat pemandangan itu.
Alis Vania menukik tajam, ia merasa terganggu saat anak laki-laki dari temannya merengek, ibu dari anak itu duduk tepat di sampingnya. Telinganya terasa panas saat anak berusia kisaran tiga tahun itu menangis.
" Tolong anak kamu diajak keluar dulu. Berisik, aku gak suka denger anak nangis," tegur Vania sembari mendengus. Sehingga teman yang satu meja dengan memandangnya terkejut.
"Maaf, teman-teman. Anakku memang kadang suka rewel. Aku keluar dulu ga buat nenangin anakku," ujar temannya itu sembari menggendong anak laki-lakinya yang masih menangis.
Vania mendelik." Ini alasan aku gak mau datang ke reuni begini. Aku gak suka liat anak-anak nangis kayak gitu," gerutunya.
Inilah kekurangan dari Vania, dia tidak suka anak kecil, menurutnya anak kecil itu menyebalkan. Belum lagi dia juga gampang sekali kesal terhadap suatu hal yang menurutnya menganggu, bahkan itu hal kecil sekalipun. Meski begitu teman-temannya masih mau berteman dengan Vania, karena memang sebenarnya dia baik. Ya atau mungkin mereka berteman dengan Vania karena statusnya yang merupakan anak orang kaya, apalagi sekarang dia sudah menjadi selebgram terkenal. Pasti banyak sekali yang numpang pansos padanya.
" Sabar dong, Vania. Kamu akan sebentar lagi nikah sama pacarmu itu, terus punya anak. Kamu pasti akan ngerasain apa yang dia rasain," ujar salah satu teman satu mejanya.
Vania menyeringai." Aku memang akan segera menikah sama Deo, tapi kami menikah hanya karena ingin hidup berdua saja. Kami sudah sepakat untuk tidak punya anak dulu."
Temannya itu menghela napas." Iya, itu kan kesepakatan kamu dengan Deo. Lah, kalau orang tua kalian pengen punya cucu? Apalagi kamu anak satu-satunya, Van."
Vania menaikan kedua pundaknya." Ya, tinggal jawab aja yang menikah itu aku sama Deo, kami punya pilihan sendiri untuk memilih akan memiliki keturunan atau tidak. Gak ada salahnya kan kalau gak mau punya anak dulu? Membayangkan gimana ribetnya jadi seorang ibu aja aku gak sanggup."
" Tapi anak itu anugrah Tuhan loh, Van. Kamu juga keliatannya subur dan sehat. Bisa-bisanya gak mau punya anak," ujar perempuan yang lain.
"Intinya aku mau menikmati hidup berdua dulu nantinya setelah menikah."
"Sudahlah, kalian nasehatin Vania gak akan mempan. Kayak gak tau aja gimana keras kepalanya dia."
Vania hanya tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan makan sembari mengobrol hal lain. Sedangkan Vania melirik ke arah teman-temannya yang sedang menyusui bayi dan menyuapi anak mereka.
Ribet banget, niatnya nyari bahan konten malah begini. Nyesel datang ke sini. Batin Vania.
Dengan kaos hitam polos dan celana jeans yang klasik, Raihan berjalan menghampiri kerumunan mantan teman sekolahnya yang sedang berkumpul di reuni itu. Sorot mata tertuju pada pria yang sedang merapikan rambut gelapnya. Sebagai mantan ketua OSIS dan pujaan para gadis di masa sekolah, kharismanya masih memikat. Senyuman ramah Raihan memecah keheningan.
"Wih Raihan tuh! Gak nyangka gantengnya awet banget." decak kagum seorang wanita, suaranya berdesir di antara kerumunan.
"Iya, tetapi sayang sekali baru empat bulan lalu dia jadi duda, alasan sebenarnya belum jelas, namun gosip yang beredar menyebut mantan istrinya itu materialistis." keluh wanita lain dengan nada berat, kecewa. "Padahal sayang loh mereka udah menikah hampir empat tahun, apalagi mereka menikah setelah wisuda." imbuhnya lagi, suaranya menyimpan penyesala.
"Namanya juga rumah tangga, lambat laun sifat asli masing-masing akan terbongkar," timpal gadis di sampingnya dengan filosofi ringan. "Meski begitu, tetap aja keren, ya. Raihan masih keliatan kayak ABG, walaupun single parent dengan satu anak, tapi tetap mempesona," candanya, mengundang tawa renyah dari yang lainnya.
Ketika para perempuan berada di sekitarnya tengah membahas Raihan, Vania justru sibuk menikmati makanan dan minumannya. Ia tidak tertarik ikut menimbrung obrolan sial lelaki berstatus duda keren itu. Yang saat ini ada di hidup Vania cuma Deo, pria yang akan menjadi calon suaminya. Hati Vabua sudah cukup untuk Deo.
"Van, itu si Raihan! Kamu kan dulu sempat tergila-gila padanya?" bisik teman Vania dengan nada menggoda.
Vania menoleh, matanya sedikit berkilauan, namun segera membalas, "Ah, itu kan masa lalu. Sekarang aku sudah bersama Deo."
Teman di sampingnya berkata sambil bercanda, "Bayangkan kalau kamu belum bersama Deo, Raihan bisa jadi pilihan terbaikmu. Raihan, pengusaha ternama, dan kamu, selebgram yang digandrungi. Kalian berdua bakal jadi sensasi!"
"Iya, bisa jadi. Tapi semua itu tidak mungkin lagi. Aku sudah terlanjur cinta mati kepada Deo." Vania berusaha meyakinkan, meski ada bayang keraguan yang singgah sejenak di benaknya.
"Lagipula aku tidak tertarik pada lelaki duda. Masih banyak lelaki lajang yang menanti, mengapa harus mengidamkan seseorang yang sudah punya masa lalu?" tegasnya dengan sedikit tawa.
Teman lainnya mengangkat bahu, "Tapi ingat, Van. Kamu dan Deo LDR terus. Kapan kalian berencana menikah? Apa kamu tidak khawatir? LDR itu rentan, loh." Kalimat itu seperti jarum yang menusuk ke dalam hati Vania, membuatnya merenung dalam diam.
Vania menghela napasnya." Aku percaya sama Deo. Bagiku, dia pria yang tepat untuk di jadikan sebagai kepala keluarga. Sebentar lagi dia juga akan menemui kedua orang tuaku. Kami akan bahas soal rencana pernikahan."
"Aku mengirimkan doa-doa terbaik agar semuanya lancar hingga hari H nanti. Ujian pra-pernikahan itu wajar, tetapi aku percaya kamu dan Deo memiliki kekuatan untuk menaklukkannya bersama-sama." ucapan tersebut mengalir tulus dari bibir temannya.
"Terima kasih atas doanya." Vania membalas dengan senyum yang terukir indah di wajahnya.
Setiap kali matanya menatap foto-foto bersama Deo yang terpajang di layar ponsel, bulu matanya yang lentik berkedip pelan, seolah-olah mengikuti irama kebahagiaan yang mereka ciptakan bersama.Keanggunan Vania semakin terpancar saat dia mengenakan gaun indah yang membalut tubuhnya sempurna dalam tiap gambar.
Salah satu foto teristimewa adalah ketika Deo, dalam balutan jas elegan, melingkarkan sebuah cincin ke jari manisnya di tengah makan malam romantis. Itu bukan sembarang cincin, melainkan lambang komitmen dan keseriusan Deo dalam menjalin tali kasih yang kini semakin erat. Setiap detail dari momen itu terpahat dalam benak Vania, sebuah janji suci yang akan mereka jaga bersama hingga akhir waktu.