Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PEMBALIKAN
Sabtu pagi, Rajendra bangun jam enam dengan perasaan aneh.
Bukan nervous. Bukan takut. Justru tenang.
Terlalu tenang untuk hari yang akan menentukan hidupnya.
Dia mandi, pakai kemeja putih yang sudah dia setrika kemarin malam, celana bahan hitam, sepatu pantofel. Tidak sarapan karena perutnya terasa penuh meski kosong.
Jam tujuh, dia keluar kamar kos, naik taksi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Sampai jam delapan lewat, masih sepi. Hartono belum datang.
Rajendra duduk di bangku koridor, menatap orang-orang yang mulai berdatangan—lawyer dengan tas tebal, orang biasa dengan wajah cemas, petugas pengadilan yang hilir mudik.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Good luck, bos. Kita semua doain lu."
Dari Arief:
"Lu pasti bisa. Kick their asses!"
Dari Rian:
"Stay calm. Stay confident."
Rajendra tersenyam kecil, mengetik balasan singkat ke group chat mereka:
"Thanks, guys. Gue usahakan yang terbaik."
Jam sembilan, Hartono datang dengan tas kulit coklat besar, wajah serius tapi tenang.
"Pagi. Sudah siap?"
"Siap."
"Bagus. Ayo kita review bukti sekali lagi sebelum sidang."
Mereka duduk di bangku koridor, Hartono mengeluarkan dokumen-dokumen dari tas.
"Ini laporan Dr. Sutanto. Ini laporan ahli grafologi. Ini surat keputusan IDI tentang pencabutan izin Dr. Hendra. Ini statement bank resmi yang buktikan dokumen mereka palsu. Semua lengkap."
"Bapak yakin ini cukup?"
"Lebih dari cukup. Tapi Daniel pasti akan coba sesuatu. Dia pengacara yang licik. Kita harus waspada."
"Apa yang mungkin dia coba?"
"Bisa apa aja. Saksi dadakan. Bukti baru. Atau attack karakter kamu—bilang kamu tidak layak dapat warisan karena attitude atau behavior."
"Tapi itu gak relevan secara hukum kan?"
"Secara teknis tidak. Tapi hakim juga manusia. Kadang persepsi karakter bisa influence keputusan."
Rajendra mengangguk, mencatat mental.
Jam sepuluh kurang sepuluh menit, mereka masuk ke ruang sidang.
Julian dan Daniel sudah duduk di meja sebelah kiri. Julian terlihat lebih tua dari sidang terakhir—wajah pucat, mata cekung, postur tubuh agak bungkuk.
Daniel duduk dengan tenang, membaca dokumen, wajah tanpa ekspresi.
Ririn duduk di bangku penonton belakang, sendiri, wajah sembab. Dera tidak terlihat.
Rajendra dan Hartono duduk di meja sebelah kanan.
Hakim Marianne masuk, semua berdiri, lalu duduk lagi.
"Selamat pagi. Sidang untuk pembacaan putusan perkara nomor 145/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel dibuka."
Hakim membuka berkas tebal di depannya, membaca beberapa lembar dengan serius.
Ruangan hening total. Hanya terdengar suara kertas dibalik dan napas orang-orang yang menahan tegang.
Rajendra merasakan jantungnya berdebar keras tapi wajahnya tetap tenang.
Hartono duduk dengan postur rileks, tapi matanya fokus ke hakim.
Hakim akhirnya menatap ke dua pihak.
"Sebelum saya bacakan putusan, saya akan sampaikan pertimbangan hukum berdasarkan bukti dan keterangan yang telah disampaikan kedua pihak."
Dia menatap dokumen lagi.
"Pertama, tentang kondisi mental almarhum Dimas Baskara pada saat pembuatan surat wasiat. Pihak penggugat mengajukan dokumen medis dari Klinik Keluarga Sehat yang menyatakan almarhum mengalami gejala demensia. Namun, pihak tergugat berhasil membuktikan bahwa dokumen tersebut tidak valid."
Hakim menatap Julian sebentar, lalu lanjut.
"Ahli grafologi yang dihadirkan tergugat memberikan kesimpulan dengan confidence level 95 persen bahwa tanda tangan di dokumen klinik tersebut adalah palsu. Selain itu, Dr. Hendra Gunawan yang tercantum sebagai dokter pemeriksa telah kehilangan izin praktik sejak tahun 2008, sehingga tidak mungkin melakukan pemeriksaan tahun 2009."
Daniel berdiri.
"Yang Mulia, kami keberatan dengan kesimpulan tersebut. Ahli grafologi bukan ilmu pasti—"
"Kuasa hukum penggugat, duduk. Saya belum selesai."
Daniel duduk dengan rahang mengeras.
Hakim melanjutkan.
"Sebaliknya, pihak tergugat menghadirkan Dr. Sutanto, dokter pribadi almarhum, dengan rekam medis lengkap yang menunjukkan almarhum dalam kondisi sehat mental sampai seminggu sebelum meninggal. Kesaksian Dr. Sutanto sangat kredibel dan didukung dokumen resmi dari RSCM."
Rajendra merasakan sedikit lega, tapi belum sepenuhnya.
Hakim belum selesai.
"Kedua, tentang validitas surat wasiat itu sendiri. Surat wasiat dibuat dengan prosedur yang benar—ada notaris sah, ada saksi sah, ada tanda tangan almarhum yang telah diverifikasi otentik. Tidak ada cacat hukum dalam proses pembuatan surat wasiat tersebut."
"Ketiga, tentang tuduhan bahwa tergugat melakukan tekanan psikologis kepada almarhum untuk mendapatkan warisan. Pihak penggugat tidak berhasil menghadirkan bukti yang kuat untuk mendukung tuduhan ini. Keterangan dari pembantu rumah tangga yang dihadirkan sebagai saksi bersifat subjektif dan tidak didukung bukti material."
Hakim berhenti sebentar, minum air putih dari gelas di mejanya.
Rajendra menahan napas.
"Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, majelis hakim mengambil putusan sebagai berikut..."
Hening total.
"Mengabulkan gugatan penggugat sebagian."
Rajendra merasakan dadanya sesak.
Sebagian?
Itu artinya dia tidak menang sepenuhnya?
Hakim melanjutkan.
"Surat wasiat almarhum Dimas Baskara tertanggal 12 Juni 2009 dinyatakan SAH dan MENGIKAT secara hukum."
Rajendra merasakan sesuatu hangat menjalar di dadanya.
Sah dan mengikat.
Itu artinya dia menang.
"Namun..."
Rajendra menegang lagi.
"Mengingat hubungan keluarga antara penggugat dan tergugat, dan untuk menjaga keharmonisan keluarga, majelis hakim menyarankan agar tergugat mempertimbangkan untuk melakukan negosiasi kembali pembagian warisan secara kekeluargaan di luar pengadilan."
Hartono berdiri.
"Yang Mulia, saran tersebut bersifat optional bukan mandatory, benar?"
"Benar. Ini hanya saran moral. Secara hukum, tergugat berhak penuh atas 60 persen saham sesuai surat wasiat."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Hakim mengetuk palu.
"Putusan ini bersifat final dan mengikat. Sidang ditutup."
Bunyi palu bergema di ruangan.
Rajendra duduk diam, tidak bergerak, memproses apa yang baru terjadi.
Dia menang.
Dia benar-benar menang.
Hartono menepuk bahunya.
"Selamat. Kamu menang."
Rajendra menatap Hartono, lalu tersenyum—senyum lega campur tidak percaya.
"Kita menang."
"Kamu menang. Ini kemenangan kamu."
Di meja sebelah, Julian duduk dengan wajah kosong. Daniel packing dokumennya dengan wajah kesal.
Ririn masih duduk di bangku penonton, menangis pelan.
Rajendra menatap mereka semua, merasakan campuran emosi—lega, sedih, bersalah, tapi juga puas.
Dia tidak mencari ini. Dia hanya mempertahankan apa yang memang haknya.
Mereka keluar dari ruang sidang. Di koridor, Hartono berjabat tangan dengan Rajendra.
"Sekarang kamu bisa fokus ke bisnis kamu. LokalMart bisa dapat dana lebih besar untuk scale. Masa depan kamu cerah."
"Terima kasih, Pak Hartono. Tanpa Bapak, saya tidak akan menang."
"Kamu yang fight. Saya cuma guide. Anyway, saya harus pergi, ada meeting siang ini. Celebrate your win, Rajendra. You deserve it."
Hartono pergi.
Rajendra berdiri sendirian di koridor, menatap keluar jendela besar yang menampilkan Jakarta siang hari.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina:
"GIMANA?! Udah keluar?! Hasilnya apa?!"
Rajendra tersenyum, mengetik balasan:
"Menang. Kita menang."
Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering, group call dari Dina, Arief, dan Rian.
Rajendra angkat, langsung terdengar teriakan dari ketiga-tiganya.
"YESSS! LU MENANG! GUE TAHU LU PASTI BISA!"
Rajendra tertawa—tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.
"Thanks, guys. Gue gak bisa lakuin ini tanpa support kalian."
"Jangan lebay! Sekarang balik ke kantor! Kita harus celebrate!"
"Oke. Gue ke sana sekarang."
Rajendra tutup telepon, lalu berjalan menuju tangga untuk keluar gedung.
Tapi di ujung koridor, dia melihat seseorang berdiri—Dera.
Dia tidak masuk ruang sidang tadi, tapi sekarang dia di sini, berdiri dengan wajah dingin, menatap Rajendra.
Mereka bertatapan beberapa detik.
Lalu Dera bicara dengan suara pelan tapi penuh ancaman.
"Selamat. Kamu menang di pengadilan. Tapi ini belum selesai."
"Dera, stop. Sudah cukup. Kita bisa move on dari ini."
"Move on? Setelah kamu hancurkan keluarga kita? Setelah kamu bikin Ayah jadi seperti orang gila?"
"Aku gak bikin apa-apa. Kalian yang bikin semua ini dengan coba jatuhkan aku berkali-kali."
Dera tersenyum dingin.
"Kamu pikir kamu aman sekarang? Kamu pikir dengan menang di pengadilan, semua selesai?"
Rajendra merasakan sesuatu dingin di punggungnya.
"Apa maksud kamu?"
"Kamu akan tahu. Segera."
Dera berbalik, berjalan menuruni tangga, menghilang.
Rajendra berdiri diam beberapa detik, merasakan unease yang kuat.
Ada sesuatu yang salah.
Tapi dia tidak tahu apa.
Dia menggelengkan kepala, mencoba ignore perasaan itu, lalu turun tangga, keluar gedung pengadilan.
Di luar, cuaca cerah. Matahari bersinar terang. Jakarta ramai seperti biasa.
Rajendra berjalan ke halte bus terdekat, berencana naik bus ke kantor untuk celebrate dengan tim.
Tapi di tengah jalan, dia melihat seseorang berdiri di dekat motor, menatapnya dengan tatapan aneh.
Pria berjaket hitam, helm fullface, postur besar.
Rajendra merasa ada yang salah.
Pria itu mulai berjalan mendekat—cepat.
Rajendra berbalik, mulai berlari.
Tapi pria itu lebih cepat—mengejar dengan langkah panjang.
Rajendra berlari ke arah kerumunan orang, berharap pria itu akan berhenti kalau ada banyak saksi.
Tapi pria itu tidak berhenti.
Rajendra sampai di tengah jalan raya, hampir tertabrak mobil, tapi terus berlari.
Pria itu masih mengejar.
Rajendra meraih ponselnya sambil berlari, mencoba telepon Dina—tapi tangannya gemetar, ponsel hampir jatuh.
Tiba-tiba, dari arah lain, motor lain datang cepat—berhenti di depan Rajendra.
Penumpang motor itu membuka helm.
Bambang.
"Naik! Cepat!"
Rajendra tidak pikir dua kali—langsung naik ke motor Bambang.
Bambang gas motor, melesat cepat melewati traffic, meninggalkan pria berjaket hitam yang masih berdiri di tengah jalan.
Setelah beberapa blok, Bambang berhenti di area yang lebih aman.
Rajendra turun dari motor dengan kaki gemetar.
"Pak Bambang? Kenapa Bapak di sini?"
Bambang melepas helmnya, wajahnya serius.
"Bu Siti telepon saya pagi ini. Dia dengar Dera hire someone untuk... untuk menyakiti kamu setelah sidang. Saya langsung ke pengadilan, tunggu di parkiran, dan kebetulan saya lihat orang itu mulai kejar kamu."
Rajendra merasakan seluruh tubuhnya dingin.
Dera hire someone untuk menyakitinya.
Physically.
Ini bukan lagi soal dokumen palsu atau cyber attack.
Ini sudah masuk ke ranah criminal violence.
"Saya harus lapor polisi. Sekarang."
"Iya. Ayo. Saya antar."
Mereka naik motor lagi, menuju kantor polisi terdekat.
Rajendra meraih ponselnya dengan tangan yang masih gemetar, menelepon Hartono.
"Pak Hartono, ada masalah besar. Dera hire orang untuk attack saya secara fisik. Saya hampir... saya hampir diserang tadi. Pak Bambang selamatkan saya."
Hartono terdiam sebentar, lalu bicara dengan nada sangat serius.
"Dimana kamu sekarang?"
"Dalam perjalanan ke kantor polisi."
"Bagus. Lapor semuanya. Semua bukti yang kamu punya—dokumen palsu, cyber attack, sekarang physical attack. Ini sudah criminal. Dera harus ditangkap."
"Saya akan lapor semua."
"Dan Rajendra, stay safe. Jangan keluar sendirian sampai Dera ditangkap. Mereka sudah desperate. Mereka bisa coba lagi."
"Saya paham."
Sambungan terputus.
Rajendra menatap jalanan Jakarta yang berlalu cepat di samping motor Bambang, merasakan realitas yang baru saja terjadi perlahan sink in.
Dia menang di pengadilan.
Tapi perang belum selesai.
Bahkan mungkin baru saja mulai.
[ END OF BAB 34 ]