NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pratama duduk di bangku kayu kecil di dapur rumah mereka, menatap layar ponselnya yang baru saja menampilkan pesan singkat dari Luna.

Ia mengernyitkan keningnya dan merasa ada rasa janggal yang mulai mengusik ketenangannya.

"Rapat?" gumam Pratama pelan.

"Bukankah kemarin pamitnya pelatihan guru TK? Kenapa sekarang istilahnya jadi rapat?"

Pikiran Pratama mulai berkelana. Sebagai pedagang soto, ia memang tidak sekolah tinggi, tapi ia tahu perbedaan antara pelatihan guru dan rapat bisnis yang sepertinya sangat mendesak hingga telepon darinya pun ditolak.

Perkataan Juwita tentang "mobil mewah" dan tatapan tajam Pak Dirga kembali menghantui kepalanya seperti kaset rusak.

Tepat saat ia sedang melamun, ponselnya kembali bergetar.

Nama Luna muncul di layar. Pratama menarik napas dalam, mencoba menetralkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau.

"Halo, Assalamualaikum, Dik?" ucap Pratama.

"Waalaikumsalam. Mas, maaf ya tadi teleponnya aku tolak. Tadi, ada kepala sekolah yang sedang kasih arahan di depan. Jadi, tidak enak kalau aku angkat," ujar Luna dengan suara terdengar sedikit terengah di seberang sana, seolah ia baru saja berlari atau menahan emosi.

"Oh, begitu. Tadi kamu bilangnya 'rapat' di pesan singkat, Mas kira ada urusan penting sekali."

Luna di ujung telepon sana sempat tertegun. Ia merutuki kecerobohan jemarinya saat mengetik pesan tadi.

"Eh, iya Mas. Maksudku rapat guru-guru peserta pelatihan. Biasalah Mas, urusan birokrasi sekolah. Mas sudah di rumah?" tanya Luna yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Sudah, Dik. Mas baru saja pulang dari pasar. Ini baru mau bersih-bersih rumah. Kamu sudah makan siang?" tanya Pratama mencoba bersikap normal meski hatinya masih menyimpan tanya.

"Sudah kok, Mas. Tadi disediakan pihak penyelenggara," bohong Luna lagi, padahal di depannya kini tersaji hidangan hotel bintang lima yang sama sekali belum ia sentuh karena kehilangan selera makan setelah bertemu Noah dan Dirga.

"Mas jangan capek-capek ya. Aku tutup dulu ya Mas, kegiatannya mau lanjut lagi."

"Iya, Dik. Hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik," jawab Pratama.

Setelah sambungan terputus, Pratama tidak melanjutkan kegiatannya.

Ia justru berjalan menuju lemari pakaian kecil mereka.

Ia melihat tas sekolah yang sering dibawa Luna ke TK Pelangi.

Ada sebuah brosur yang tertinggal di dalam tas sekolah istrinya.

Pratama mengambilnya dan membaca alamat hotel tempat pelatihan itu berlangsung.

"Hotel Grand Luxury Bandung," bacanya pelan.

"Kalau memang ini pelatihan guru, kenapa harus di hotel semewah ini?" bisik Pratama.

Ia merasa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan istrinya.

Rasa cintanya yang besar kini mulai berperang dengan rasa curiga yang membakar.

Di sisi lain, Luna duduk bersandar di kursi kerjanya yang mewah, namun pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat itu.

Rasa bersalah karena telah membohongi Pratama soal kegiatannya di Bandung terus menghantui.

Ia tahu suaminya pasti sedang lelah setelah seharian berjualan soto dan pergi ke pasar sendirian.

Luna memanggil Arini yang sedang merapikan berkas-berkas di meja.

"Arini, tolong pesankan makanan yang paling enak lewat aplikasi online untuk suamiku di Jakarta," perintah Luna pelan.

"Pilihkan menu spesial, tapi ingat, jangan pernah bilang kalau itu dari aku."

Arini menatap atasannya dengan pengertian, lalu mengangguk sigap.

"Baik, Bu CEO. Saya akan pesankan paket makanan lengkap yang bergizi untuk Pak Pratama."

"Tuliskan saja di kolom catatan kalau itu dari 'Hamba Allah'. Jangan sampai dia curiga," tambah Luna lagi.

"Siap, Bu. Segera saya proses," jawab Arini sambil mulai mengutak-atik ponselnya.

Sementara itu di tempat lain dimana Pratama baru saja selesai mandi dan hendak merebahkan tubuhnya yang pegal di kasur tipis mereka. Namun, suara ketukan pintu di depan rumah mengagetkannya.

"Permisi! Paket makanan!" teriak seorang pengemudi ojek online dari balik pintu.

Pratama kembali mengernyitkan keningnya saat mendengar suara pengemudi ojek online.

Ia merasa tidak memesan apa pun, dan segera ia membuka pintu rumahnya .

Ia mendapati tas plastik besar berisi kotak-kotak makanan dari restoran ternama yang aromanya sangat menggoda.

"Maaf Mas, saya tidak pesan ini. Mungkin salah alamat?" tanya Pratama bingung.

"Tidak Mas, ini benar alamatnya. Di sini tulisannya sudah dibayar. Pengirimnya cuma tertulis 'Hamba Allah'," jawab pengemudi itu sambil menyerahkan makanan tersebut dan segera berlalu.

Pratama membawa masuk makanan itu ke meja makan.

Ada ayam bakar madu, sayuran segar, dan berbagai lauk pauk mewah yang jarang ia makan.

Ia teringat Luna. 'Apakah Luna yang mengirim ini? Tapi dia kan cuma guru TK, uang dari mana untuk beli makanan semahal ini?'

Pratama membuka ponselnya, berniat menanyakan hal ini pada Luna. Namun, keraguannya kembali muncul.

Jika ia bertanya, Luna mungkin akan merasa terpojok jika ia memang sedang menyembunyikan sesuatu.

Di sisi lain, bayangan mobil mewah dan kata-kata Juwita kembali berputar di kepalanya.

'Ya Allah, jika istriku memang jujur, berkahi lah makanan ini. Tapi jika ada yang dia sembunyikan, tunjukkanlah jalan yang benar,' batin Pratama perih sambil menyuap makanan mewah itu dengan hati yang gundah.

Pratama menyuap nasi dengan tangan gemetar. Rasa nikmat dari makanan mewah itu justru terasa hambar karena sesak yang menghimpit dadanya.

Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kotak nasi itu.

"Astaghfirullah, ampuni aku, ya Allah. Aku sudah berburuk sangka pada istriku sendiri," bisik Pratama lirih.

Ia merasa sangat berdosa karena sempat meragukan kesetiaan Luna.

Ia meyakinkan dirinya bahwa makanan ini adalah berkah, mungkin benar-benar dari orang baik yang pernah ia bantu saat berjualan soto.

Pratama kemudian mengambil ponselnya dan memotret tumpukan makanan itu.

Ia mengirimkannya kepada Luna lewat pesan singkat.

"Dik, lihat. Ada orang baik yang mengirimkan makanan sebanyak ini ke rumah. Katanya dari Hamba Allah. Mas makan ya, Dik. Semoga rezeki pengirimnya dibalas berlipat ganda."

Di sisi lain di sebuah kamar suite mewah yang tidak jauh dari kamar Luna, Noah duduk di sofa sambil memegang beberapa lembar foto hasil penyelidikan orang suruhannya.

Foto-foto itu menunjukkan Pratama yang sedang mendorong gerobak soto, Pratama yang sedang mengelap keringat, dan rumah kontrakan mereka yang sempit.

Noah tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi ruangan.

"Hahaha! Jadi ini? Ini pria yang kamu pilih, Luna? Seorang tukang soto dekil?" Noah melemparkan foto-foto itu ke meja dengan hina.

"Kamu benar-benar sudah gila. Menolak seorang Noah demi sampah seperti ini?"

Rasa terhina karena ditolak Luna berubah menjadi amarah yang gelap.

Noah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Besok pagi, kerahkan anak buahmu," perintah Noah dengan suara dingin dan kejam.

"Cari ruko tempat dia jualan. Hajar dia sampai habis, rusak gerobaknya, rusak rukonya, dan hancurkan semua yang dia punya. Aku ingin dia tahu rasanya kehilangan segalanya dalam sekejap."

Kemudian Noah menutup ponselnya dengan senyuman licik.

"Kita lihat, Luna. Apa kamu masih akan membanggakan suami 'terhormatmu' itu setelah dia tidak punya apa-apa lagi."

Rapat besar itu baru benar-benar berakhir saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Luna melangkah keluar dari ruang ballroom dengan bahu yang terasa berat.

Kesuksesan negosiasi hari ini sama sekali tidak membuatnya bahagia.

Yang ia inginkan hanyalah pulang, melepas jas mahalnya, dan kembali menjadi istri seorang tukang soto di rumah mereka yang sederhana.

Begitu sampai di kamar, Luna segera merebahkan diri dan menghubungi Pratama melalui panggilan video.

"Mas..." sapa Luna lirih saat wajah lelah namun teduh suaminya muncul di layar.

"Mas rindu, Dik. Besok lekas pulang ya. Rumah terasa sepi sekali tanpa kamu," ucap Pratama.

Suaranya terdengar tulus, tanpa tahu bahwa bahaya besar sedang mengintainya besok pagi.

"Iya, Mas. Aku juga sangat rindu Mas," jawab Luna.

Di tengah kepungan pria-pria ambisius seperti Noah dan Dirga, hanya Pratama yang membuatnya merasa dicintai apa adanya.

Tanpa sadar, air mata Luna menetes membasahi pipinya.

Ia merasa sangat berdosa terus memberikan kebohongan demi kebohongan pada pria sebaik Pratama.

"Loh, Dik? Kenapa menangis?" tanya Pratama panik di seberang sana.

Ia mendekatkan wajahnya ke kamera ponselnya.

"Ada yang menyakitimu di sana? Apa pelatihannya terlalu berat? Dik, jangan menangis. Mas jadi tidak tenang. Apa Mas susul saja kamu ke Bandung sekarang pakai motor?"

Luna segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, sambil mengusap air matanya.

"Jangan, Mas! Jangan susul ke sini!"

"Kenapa? Mas khawatir, Dik," desak Pratama.

"Jauh sekali, Mas. Jalanan malam bahaya untuk motor. Lagipula besok pagi-pagi sekali aku sudah jalan pulang," cegah Luna.

Ia tidak bisa membayangkan jika Pratama menyusul dan melihatnya keluar dari hotel mewah ini.

"Mas istirahat saja ya. Mas harus jaga kesehatan untuk jualan besok pagi."

Pratama terdiam sejenak, lalu mengangguk meski hatinya masih merasa tidak enak.

"Ya sudah, kalau itu maumu. Mas akan tunggu kamu di rumah besok. Tidurlah, Istriku. Mas sayang kamu."

"Aku juga sayang kamu, Mas," bisik Luna sebelum mematikan sambungan telepon.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!