Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27: Pertempuran Samudera Kelabu (END)
Samudera yang biasanya berwarna biru safir kini berubah menjadi kelabu pekat, seolah airnya sendiri telah kehilangan nyawa. Kabut hitam yang membawa aroma kematian—The Malediction Fog—merayap di atas permukaan laut, menelan cahaya bulan dan bintang. Di tengah kesuraman itu, Armada Persatuan yang dipimpin oleh Elara Lane berdiri seperti garis pertahanan terakhir antara kehidupan dan kehampaan.
Elara berdiri di atas dek The Sovereign Lane yang kini telah dimodifikasi. Lambung kapalnya dilapisi baja tahan sihir dari Valtaria, dan di puncak tiang layarnya, berkibar bendera persatuan Matahari, Serigala, dan Naga.
"Mereka mendekat," suara Alaric terdengar tenang namun tajam di sampingnya. Mata merahnya mampu menembus kabut, melihat siluet kapal-kapal hitam Zandaria yang tidak memiliki layar, namun bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. "Jumlah mereka... ribuan, Elara."
"Jumlah tidak berarti jika kita memiliki api yang tepat," balas Elara. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada kapal-kapal Valtaria di sayap kanan.
Gemuruh Baja dan Api
"MERIAM IGNIS! TEMBAK!" perintah Elara melalui kristal transmisi.
Seketika, kegelapan malam pecah. Ratusan meriam uap milik Raja Magnus memuntahkan peluru inti matahari. Cahaya oranye menyilaukan membelah kabut, menghantam barisan depan kapal Zandaria. Ledakan hebat terjadi, namun alih-alih hancur, kapal-kapal hitam itu seolah-olah menyerap sebagian ledakan tersebut sebelum akhirnya tenggelam.
"Energi mereka sangat lapar," gumam Magnus dari kapal The Iron King. "Mereka memakan ledakan kita!"
"Jika mereka lapar akan energi, berikan mereka energi yang tidak bisa mereka cerna!" Elara berbalik ke arah langit. "Xylia! Sekarang!"
Dari atas awan, ribuan penunggang naga Draken menukik tajam. Naga-naga itu tidak menyemburkan api biasa; mereka menyemburkan api yang telah diberkati oleh sihir pemurnian Elara. Api putih-biru itu menghantam dek kapal Zandaria, membakar sisa-sisa energi korosif dan membuat kapal-kapal itu meledak dari dalam.
Masuk ke Jantung Kegelapan
Di tengah armada musuh, terdapat satu kapal yang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari kapal lainnya—The Leviathan of Zandaria. Kapal itu adalah sebuah pulau bergerak yang terbuat dari tulang raksasa dan energi hitam yang berdenyut. Di atasnya, berdiri sosok yang selama ini menjadi dalang: Lich King Malakor, penguasa tertinggi Zandaria.
"Alaric, bawa aku ke kapal itu," ucap Elara. "Selama Malakor masih hidup, armada ini akan terus bangkit kembali."
Alaric mengangguk. Ia memanggil Ksatria Perunggu dari dasar laut. Ksatria-ksatria itu muncul ke permukaan, menciptakan jembatan baja di antara kapal-kapal yang bertikai. Alaric dan Elara berlari di atas jembatan itu, menembus hujan panah hitam dan serangan sihir kegelapan.
Setiap kali bayangan mencoba meraih mereka, pedang Duskbringer milik Alaric membelahnya, sementara Elara melepaskan gelombang cahaya perak untuk membersihkan jalan.
Duel di Atas Leviathan
Saat mereka menginjakkan kaki di dek The Leviathan, suhu udara turun drastis hingga napas mereka menjadi kristal es. Malakor berdiri menunggu mereka, memegang tongkat yang terbuat dari tulang belakang naga kuno.
"Gadis kecil yang menolak untuk mati," suara Malakor terdengar seperti gesekan tulang di atas logam. "Kau membawa aliansi yang rapuh untuk melawan keabadian. Zandaria tidak akan berhenti sampai dunia ini menjadi sunyi."
"Dunia ini tidak akan sunyi selama detak jantungku masih ada!" Elara menerjang, belati obsidian-nya berkilau dengan intensitas yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Pertempuran itu melampaui batas kemampuan manusia. Malakor memanggil ribuan roh penasaran untuk menyerang mental Elara, namun Alaric berdiri sebagai perisai, menggunakan aura serigalanya untuk melolong balik dan menghancurkan ilusi tersebut.
"Sekarang, Elara!" Alaric berteriak saat ia berhasil menahan tongkat Malakor dengan pedangnya.
Elara melompat tinggi, energinya kini menyatu dengan relik Lane dan tanda sisik naga di lehernya. Ia bukan lagi sekadar Empress; ia adalah inkarnasi dari dendam yang telah dimurnikan menjadi tekad.
"DEMI MEREKA YANG TELAH KAU HANCURKAN!"
Elara menusukkan belatinya tepat ke jantung kristal Malakor yang berada di tengah dadanya. Cahaya putih meledak dari titik tersebut, menembus tubuh Malakor dan merambat ke seluruh kapal The Leviathan.
Runtuhnya Sang Bayangan
Malakor menjerit saat jiwanya yang terikat selama ribuan tahun mulai hancur menjadi partikel cahaya. Tanpa pemimpinnya, seluruh armada Zandaria kehilangan stabilitasnya. Kapal-kapal hitam itu mulai hancur menjadi debu, tertiup oleh angin laut yang kini kembali berhembus segar.
Namun, ledakan energi dari Malakor sangat besar. The Leviathan mulai pecah menjadi ribuan keping.
"Alaric! Kita harus pergi!" teriak Elara.
Mereka melompat ke laut tepat saat kapal raksasa itu tenggelam ke dalam pusaran air. Di dalam air yang dingin, Elara merasakan kekuatan sihirnya terkuras habis. Pandangannya mulai mengabur saat ia melihat bayangan Alaric yang berusaha menjangkaunya.
Apakah ini akhirnya? pikir Elara. Setidaknya... dunia ini aman.
Fajar Kemenangan
Saat Elara membuka matanya kembali, ia berada di pantai berpasir putih. Sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajahnya. Di sekelilingnya, sorak-sorai para prajurit dari tiga penjuru terdengar memenuhi udara. Magnus, Xylia, dan Kael berdiri di sana, wajah mereka penuh luka namun tersenyum dengan lega.
Alaric ada di sampingnya, memegang tangannya dengan erat. "Kita menang, Elara. Zandaria telah tenggelam kembali ke dasar kehampaan."
Elara bangkit berdiri, menatap laut yang kini kembali biru jernih. Di horison, kapal-kapal sekutu mulai berlayar pulang. Penyatuan tiga penjuru bukan lagi sekadar taktik perang, melainkan dasar dari sebuah kekaisaran baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Perang telah usai," bisik Elara. "Tapi tugas kita untuk membangun dunia yang adil baru saja dimulai."
Elara Lane menatap mahkotanya yang tergeletak di pasir. Ia mengambilnya, namun tidak langsung memakainya. Ia menyadari bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada mahkota perak itu, melainkan pada janji yang ia penuhi untuk melindungi mereka yang ia cintai.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔