Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 30
Arkan dan juga Mutiara masuk ke dalam ruang makan, Fajar langsung menghampiri keduanya. Bahkan, dia dengan cepat menuntun Mutiara untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Setelah itu, dia menyiapkan roti isi dan juga susu hangat yang sudah dia buat di hadapan Mutiara. Sikapnya sangat manis sekali.
"Silakan dicicipi roti isi buatanku," ujar Fajar.
Mutiara menolehkan wajahnya ke arah Arkan, baru saja mereka tadi malam baikan. Dia takut kalau hari ini Arkan akan marah kembali karena sikap dari Fajar yang dirasa keterlaluan.
Arkan tersenyum, lalu dia segera duduk di samping Mutiara. Dia menatap putranya, lalu dia berkata.
"Kamu hanya menyediakan sarapan untuk Ibumu? Lalu, mana sarapan buatku?"
"Sebentar, Ayah."
Fajar lalu mengambil roti isi yang sudah dia buat beserta segelas susu di hadapan Arkan, dia juga menyiapkan roti isi dan juga segelas susu untuk dirinya.
Setelah itu dia mempersilakan ayah dan Ibunya itu untuk sarapan, Arkan jujur saja merasa heran dengan sikap anak angkatnya itu.
"Tumben kamu nyiapin sarapan pagi ini," ujar Arkan.
"Aku rasa hubungan kita sudah terasa semakin renggang, biar lebih hangat aku ingin menjadi anak yang berbakti dan membuatkan sarapan untuk kalian."
"Semoga saja benar-benar karena ingin menjadi anak yang baik," ujar Arkan.
"Iya dong Ayah, mana mungkin aku berani berniat untuk melakukan hal yang buruk kepada kalian."
"Sudahlah, kita sarapan saja."
Ketiganya pun terlihat sarapan bersama, tak lama kemudian nenek Mia datang. Fajar juga melakukan hal yang sama, dia membuatkan sarapan untuk nenek Mia.
Setelah itu dia mengajak nenek Mia untuk mengobrol bersama, sama seperti dulu dia mendekati Mutiara. Selesai sarapan Arkan segera mengajak Mutiara pergi, karena pagi ini ada meeting penting di luar.
Tanpa keduanya ketahui, saat mereka keluar dari rumah besar itu, ada Anjar yang sejak tadi pagi berada di sana. Tentunya dia berada di dalam mobilnya dengan menjaga jarak aman.
Setelah melihat Arkan dan juga Mutiara masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil mereka ke suatu tempat, Anjar langsung mengikuti mereka.
Bahkan, ketika mereka masuk ke sebuah kafe, Anjar ikut masuk dan menjaga jarak aman. Dia terus saja memperhatikan Mutiara dan juga Arkan.
"Ya Tuhan, wanita itu benar-benar mirip denganku. Jika dilihat-lihat usianya juga sama seperti anakku yang hilang. Apakah dia benar-benar Liora?"
Anjar terus saja memperhatikan interaksi antara Mutiara, Arkan dan juga klien mereka. Dia juga memperhatikan saat Mutiara mempresentasikan program kerja sama yang sudah mereka buat.
Ketika wanita itu menjelaskan, mirip sekali dengan Cia. Dia seperti melihat wajahnya pada Mutiara, tetapi cara berperilakunya seperti Cia.
"Kenapa aku yakin sekali kalau dia putriku," ujar Anjar sambil menatap Mutiara dengan tatapan penuh rindu.
Penampilan Mutiara sangat sederhana, tapi elegan. Cantik sekali, Anjar sampai sulit berkedip. Hingga beberapa saat kemudian Anjar dikagetkan dengan kedatangan pelayan dan tanpa sengaja menabrak Mutiara.
"Aduh! Panas," ujar Mutiara karena kopi yang pelayan itu bawa tumpah di baju Mutiara.
Anjar refleks mendekat dan memarahi pelayan itu, Arkan yang sudah membuka mulut untuk menegur pelayan itu smpai kaget dibuatnya.
"Kamu itu bisa bekerja atau tidak? Kenapa bisa sampai menumpahkan kopi panas di tubuhnya? Bagaimana kalau kulitnya sampai melepuh?"
"Maaf, Tuan. Maaf, saya tak sengaja. Tolong jangan adukan saya, nanti saya bisa dipecat."
"Kamu pantas dipecat," ujar Anjar.
Setelah mengatakan hal itu, Anjar langsung menghampiri Arkan. Dia menatap pria itu dengan cukup kesal.
"Tahu istrinya terkena kopi panas, kenapa kamu tidak langsung membawanya ke klinik yang ada di depan? Buruan bawa dia ke klinik, nanti kulitnya keburu melepuh."
"Ah, iya. Maaf," ujar Arkan yang dengan cepat menggendong Mutiara dan berlari keluar dari kafe itu menuju klinik.
Setelah melihat kepergian Arkan yang menggendong Mutiara ke klinik, Anjar juga ikut menyusul. Saat tiba di klinik, Mutiara langsung mendapatkan tindakan.
Karena tumpahan kopi itu, ada ruam merah di dadanya. Hal itu membuat Mutiara harus membuka bajunya dan kini dia hanya memakai tanktop saja, tentu saja hal itu membuat Anjar bisa melihat kalung liontin yang saat ini sedang dipakai oleh Mutiara.
"Liontin itu, itu liontin yang aku beli. Aku masih ingat, dia putriku. Dia, Liora."
Anjar berucap dengan lirih, tanpa diminta kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Mutiara sedang dioleskan salep oleh suster. Melihat kedatangan Anjar ke dalam ruangan itu, tentu saja Arkan merasa sangat kesal sekali.
"Ya Tuhan, berani sekali anda masuk tanpa izin! Kenapa anda messum sekali ingin melihat istri saya dalam keadaan seperti ini?" ujar Arkan sambil mendorong Anjar untuk keluar dari dalam ruangan itu.