NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sang Primadona dalam Bayang-bayang

Malam itu, Balai Kota seolah terbakar oleh cahaya ribuan lilin dan lampu kristal. Musik orkestra mengalun megah, memenuhi udara dengan nada-nada waltz yang menghanyutkan. Namun, saat pintu besar itu terbuka dan seorang gadis melangkah masuk, seolah-olah waktu berhenti berputar sejenak.

Genevieve tampak seperti personifikasi dari mawar hitam yang mekar di tengah musim salju.

Gaun merah marun yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan sangat sempurna, mengikuti setiap lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian longgar. Topeng renda hitam itu menutupi sebagian wajahnya, namun tetap menonjolkan bibirnya yang ranum dan mata cokelatnya yang berkilat karena kegugupan.

Langkah kakinya yang anggun menciptakan desas-desus di antara para tamu.

"Siapa dia?" bisik seorang wanita di balik kipas bulunya.

"Lihat gaunnya... itu bukan buatan penjahit kota ini," sahut yang lain.

Orang-orang berusaha menebak identitas di balik topeng itu. Wangi tubuh Genevieve yang kini bercampur dengan esensi mawar liar dan sedikit aroma obat herbal menyeruak ke udara, menciptakan aura misterius yang membuat para pria menahan napas saat ia lewat. Ia tampak asing, megah, dan sangat menggoda.

Julian, yang berdiri di sudut ruangan dengan setelan jas terbaiknya, mematung. Ia merasa mengenali siluet itu, namun kemewahan yang terpancar dari gadis itu membuatnya ragu.

Namun, di antara ratusan manusia yang sibuk dengan topeng dan tawa palsu mereka, ada satu sosok yang tidak perlu menebak.

Di balkon lantai dua yang gelap, tersembunyi dari jangkauan cahaya lampu, Valerius berdiri dengan segelas cairan merah di tangannya.

Matanya yang tajam mengunci sosok Genevieve sejak detik pertama gadis itu menginjakkan kaki di lantai dansa. Baginya, wangi Genevieve bukan sekadar parfum; itu adalah aroma anggur yang paling candu, sebuah perpaduan antara kemurnian dan gairah yang telah ia "tandai" sendiri.

Valerius menghirup udara dalam-dalam, menikmati bagaimana aroma gadis itu mendominasi indranya, mengalahkan bau keringat dan parfum murah manusia lainnya.

Ia tersenyum tipis, sebuah seringai predator yang siap menerkam mangsanya di tengah keramaian.

"Kau datang juga, Puan kecil," bisiknya pelan, suaranya hilang ditelan hiruk-pikuk musik, namun seolah tersampaikan langsung ke telinga Genevieve.

Rasa sesak mulai menghimpit dada Genevieve. Ia terbiasa bersembunyi di balik rak-rak buku yang berdebu, bukan menjadi pusat perhatian di bawah lampu gantung yang menyilaukan. Ia merasa seperti lukisan yang salah tempat, terlalu gelap dan terlalu misterius untuk pesta yang gegap gempita ini.

Namun, perhatian massa yang tadinya tertuju padanya tiba-tiba teralihkan seolah ada magnet baru yang lebih kuat.

Pintu besar di sisi utama balai kota terbuka lebar, dan sang pembawa acara meneriakkan nama yang sudah ditunggu-tunggu: Eleanor, putri tunggal ketua kota yang sangat berpengaruh.

Eleanor melangkah masuk seperti matahari yang terbit di tengah malam. Ia mengenakan gaun yang dihiasi ribuan payet kristal yang memantulkan cahaya ke segala arah, berwarna biru langit yang cerah dan menyilaukan mata.

Wangi parfumnya—perpaduan melati dan jeruk yang mahal—meledak di udara, menenggelamkan aroma mawar liar yang melekat pada Genevieve.

"Luar biasa! Benar-benar cantik!" seru para tamu, segera mengerumuni sang putri kota.

Genevieve menghela napas lega. Ia merasa beban di bahunya terangkat saat orang-orang mulai berpaling darinya untuk memuja kemilau Eleanor.

Kini, ia kembali menjadi bayangan di sudut ruangan, posisi yang jauh lebih ia sukai.

Namun, di tengah rasa leganya, sebuah perasaan dingin merayap di punggungnya. Meski semua orang sedang menatap Eleanor, Genevieve merasa ada satu pasang mata yang sama sekali tidak berpaling darinya. Ia menoleh ke arah balkon atas yang gelap.

Di sana, Valerius tetap berdiri kaku, tak bergeming sedikit pun oleh kehadiran sang putri kota yang bersinar.

Baginya, kemilau emas dan kristal itu hanyalah sampah jika dibandingkan dengan aroma "anggur" yang menguar dari kulit Genevieve. Di mata sang vampir, Eleanor hanyalah lilin kecil, sementara Genevieve adalah gerhana yang menelan segalanya.

Valerius meletakkan gelasnya, lalu mulai melangkah menuruni tangga kayu yang gelap, bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar menuju arah Genevieve.

Sementara Julian berbeda Perubahan fokus Julian begitu drastis hingga hampir terasa lucu, jika saja tidak terasa sedikit menyakitkan bagi harga diri Genevieve.

Baru kemarin pria itu tampak begitu khawatir di depan pintu perpustakaan, namun kini, begitu sosok Eleanor yang berkilauan muncul, perhatian Julian beralih seperti jarum kompas yang ditarik magnet raksasa.

Mata Julian berbinar terang, mencerminkan ambisi dan kekaguman pada kasta yang lebih tinggi.

Ia segera menyesuaikan jasnya, menegakkan punggung, dan mulai merangsek maju ke kerumunan demi mendapatkan perhatian sang putri kota. Genevieve benar-benar dilupakan dalam sekejap mata.

Genevieve berdiri mematung di pinggir lantai dansa. Ada rasa pahit yang aneh di hatinya, namun juga rasa syukur yang lebih besar. Setidaknya, Julian tidak akan lagi mengganggunya malam ini.

"Begitulah sifat manusia, bukan?"

Sebuah suara dingin berbisik tepat di belakang telinga Genevieve, membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa menoleh pun, ia tahu siapa itu. Aroma dingin dan maskulin yang familiar mulai menyelimutinya, mengusir sisa-sisa wangi parfum jeruk milik Eleanor.

"Mereka selalu mengejar cahaya yang paling menyilaukan, namun buta terhadap keindahan yang paling dalam," lanjut Valerius.

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!