NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaisar adalah Suamiku?!

“Nona…”

Suara itu terdengar ragu, seolah takut memanggil terlalu keras namun juga tak sanggup menahan kekhawatiran. Langkah kecil menyusul di belakang, sedikit tergesa, mengikuti bayangan gadis di depannya yang terus berjalan tanpa menoleh.

“Apakah Anda benar-benar tidak apa-apa?”

Shuang Shuang memandang punggung Bai Ruoxue dengan wajah cemas. Sejak keluar dari ruangan tempat hukuman itu dijatuhkan, sikap Nona Bai terasa berbeda—terlalu diam, terlalu kaku, seperti seseorang yang menahan terlalu banyak hal di dadanya.

Namun Bai Ruoxue sama sekali tidak memperlambat langkahnya.

Lorong istana terbentang panjang, lantainya dingin, dindingnya menjulang dengan ukiran halus yang seharusnya tampak indah, namun baginya hanya terasa asing dan menekan. Ia berjalan cepat, terlalu cepat untuk ukuran pakaian yang dikenakannya.

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar datar namun mengandung nada lelah yang sulit disembunyikan. “Aku hanya ingin segera menemui pria itu… dan menyelesaikan semua ini.”

Kata-katanya keluar begitu saja, tanpa dipikirkan panjang. Ada kekesalan di sana. Ada kelelahan. Dan ada sesuatu yang lebih dalam—perasaan muak yang menumpuk sejak ia terbangun di tempat ini. Jujur saja, ia sudah sangat lelah dengan semua ini.

Hanfu panjang berwarna pucat yang dikenakannya menyapu lantai batu setiap kali ia melangkah. Kainnya berlapis-lapis, berat, membelit tubuhnya seperti belenggu. Ia harus terus mengangkat sedikit bagian bawahnya agar tidak tersandung, sesuatu yang sama sekali tidak terbiasa ia lakukan.

Berbeda dengan pakaian yang biasanya ia kenakan saat kuliah. Simpel dan nyaman. Juga tidak ribet seperti pakaian di sini.

Sial… batinnya kesal. Aku benar-benar belum terbiasa dengan pakaian ini.

Menurutnya, pakaian ini terlalu merepotkan untuk sesuatu yang katanya “anggun”. Terlalu panjang. Terlalu banyak lapisan. Dan yang paling membuatnya tidak nyaman—potongannya terbuka di bagian dada, memperlihatkan lebih banyak kulit daripada yang biasa ia kenakan di dunia sebelumnya. Apakah semua wanita di sini selalu berjalan dengan dada terbuka seperti ini?

Tanpa sadar, Bai Ruoxue mengangkat tangannya dan menutupi dadanya, refleks naluriah yang muncul begitu saja.

Pakaian semua wanita di sini seperti ini ya? gerutunya dalam hati. Ini terlihat terbuka dan aku tidak terbiasa..

Ia hampir saja kembali membuka mulut, hendak melanjutkan keluhannya—tentang pria itu, tentang istana ini, tentang semua hal yang terasa tidak masuk akal—

“Oh iya, pria itu—”

“Nona!”

Teriakan itu memotong kalimatnya dengan tajam.

Bai Ruoxue tersentak dan langsung berhenti melangkah. Ia menoleh dengan wajah bingung, alisnya berkerut. “Kenapa?” tanyanya refleks. “Ada apa?”

Shuang Shuang berdiri di belakangnya dengan wajah pucat. Mata gadis pelayan itu membesar, napasnya sedikit terengah seolah baru saja menghadapi bahaya besar. Tangannya terangkat, hampir seperti ingin menutup mulut Bai Ruoxue jika bisa.

“Jangan begitu, Nona!” pekiknya tertahan, suaranya ditekan serendah mungkin namun tetap terdengar panik. “Anda berbicara tentang Yang Mulia dengan tidak sopan!”

Bai Ruoxue semakin bingung.

“Jika ada yang mendengarnya,” lanjut Shuang Shuang cepat, matanya gelisah menoleh ke kiri dan kanan, memastikan lorong itu benar-benar kosong, “Anda bisa terkena masalah lagi! Hukuman hari ini saja sudah—”

Ia tak melanjutkan kalimatnya, seolah takut kata-kata itu sendiri bisa mendatangkan petaka.

Hari ini, Shuang Shuang memang ditugaskan untuk mengantar Bai Ruoxue ke paviliun lelaki itu setelah hukuman selesai. Seratus lembar aturan tata krama—hukuman yang bagi Shuang Shuang sudah cukup membuat siapa pun trauma.

Namun yang membuatnya lebih gelisah adalah kenyataan bahwa… Nona Bai jelas tidak memahami satu pun isi dari aturan itu.

Bai Ruoxue menghela napas panjang.

“Memangnya kenapa?” tanyanya, nada suaranya terdengar jujur, polos, tanpa maksud menantang. “Aku hanya menyebutnya pria itu.”

Kalimat itu membuat wajah Shuang Shuang semakin pucat.

“Karena beliau adalah Yang Mulia Li Chenghan,” jawabnya akhirnya, suaranya merendah, penuh keseganan saat menyebut nama itu. Seolah hanya dengan mengucapkannya saja sudah merupakan tindakan berani.

Bai Ruoxue memiringkan kepala. “Siapa memangnya dia?”

Pertanyaan itu jatuh seperti petir di siang bolong.

Shuang Shuang terbelalak. Benar-benar terbelalak. Mulutnya sedikit terbuka, matanya melebar, seolah apa yang baru saja ia dengar mustahil untuk diucapkan oleh seseorang yang hidup di istana ini.

Ia menatap Bai Ruoxue lama, seolah mencoba memastikan sesuatu.

“Apakah…” suaranya bergetar, “apakah Anda benar-benar Nona Bai Ruoxue?”

Deg.

Kalimat itu menghantam tepat ke dada Bai Ruoxue.

Ada rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau, mengiris sesuatu yang selama ini ia pendam rapat-rapat.

Apakah aku benar-benar Bai Ruoxue?

Ia terdiam. Otaknya berpacu. Bagaimana ia harus menjelaskan? Bahwa ia bukan gadis ini? Bahwa ia berasal dari dunia yang berbeda, dari waktu yang berbeda?

Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Shuang Shuang sudah melanjutkan dengan wajah serius, seolah mengira diamnya Bai Ruoxue hanyalah akibat kelelahan.

“Beliau adalah pemimpin Kekaisaran Lianhua,” ucapnya dengan nada penuh hormat. “Penguasa tertinggi negeri ini.”

Bai Ruoxue membeku.

“Kaisar Li Chenghan.”

Penjelasan itu disampaikan dengan runtut, jelas, seolah Shuang Shuang telah menghafalnya sejak lahir. Setiap kata terdengar mutlak. Tak terbantahkan.

Dan di saat itulah, kepingan-kepingan yang berserakan di benak Bai Ruoxue perlahan menyatu.

Kerajaan kuno.

Istana megah.

Pakaian aneh dan rumit.

Tatapan orang-orang yang selalu menunduk setiap kali pria itu lewat.

Nada suaranya yang dingin namun tak pernah dibantah.

Cara semua orang membeku saat ia berbicara.

Jadi… ini bukan syuting. Bukan mimpi.

Ia benar-benar berada di kerajaan kuno.

Dan pria itu—pria yang memaksanya menulis seratus lembar aturan tata krama, yang menatapnya seolah ia hanyalah gangguan kecil—adalah seorang kaisar.

Napas Bai Ruoxue terasa berat.

“Dan…” suara Shuang Shuang kembali terdengar, kali ini lebih pelan, seolah ragu mengucapkan kalimat berikutnya.

Namun Bai Ruoxue masih terjebak dalam pikirannya sendiri. Dunia terasa berputar terlalu cepat.

“Beliau adalah suami Anda!”

Kalimat itu akhirnya jatuh.

Seketika, Bai Ruoxue menoleh dengan gerakan kasar. Matanya terbelalak lebar, wajahnya memucat.

“Apa?!”

Suaranya menggema di lorong kosong itu.

Jantungnya berdegup kencang, terlalu kencang, seolah hendak meloncat keluar dari dadanya. Kata suami terus berputar di kepalanya, memantul tanpa makna yang bisa ia cerna.

“Kaisar…?” suaranya tercekat. “Suamiku…?”

Shuang Shuang mengangguk cepat, meski jelas gugup melihat reaksi Bai Ruoxue. “Anda adalah Selir Xue, Nona. Salah satu selir Yang Mulia.”

Bai Ruoxue mundur selangkah tanpa sadar.

Selir.

Bukan permaisuri. Bukan istri dalam pengertian yang ia pahami. Namun tetap saja—terikat. Terjebak.

Ia tertawa kecil, suara yang keluar terdengar hampa.

Gila, batinnya. Ini benar-benar gila.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!