Jatuh cinta pada anak tiri seiring nya waktu karena istri selingkuh terus menerus?! padahal... Renzo Draja adalah pria mapan.. bagaimana konflik mereka dan cara Renzo Draja mengatasi nya?
Setelah bercerai dengan istri nya, entah bagaimana caranya Nias Wiliam yaitu mantan istri nya Renzo Draja mendapatkan uang, sedangkan Renzo Draja nyaris menguasai semua bisnis di kota.
Setelah bercerai, Renzo di perintahkan untuk kencan buta dengan para wanita pilihan Ayah Renzo Draja, yaitu Jhonson Draja.
Gaskeun mampir baca novel ku cuyy!
[Karya Official Wulan.Chanz]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wuna.Chanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Rencana
Malam nya, saat Renzo baru saja pulang, pelayan mansion menyambut dengan sopan.
"Selamat datang Tuan Renzo", Renzo hanya mengangguk tipis, Nias datang untuk membawakan jaket jas Renzo, saat Renzo mau melepaskan jaket jas yang di pakai, tiba-tiba di hentikan oleh Ayah Renzo bernama Jhonson menelpon ponsel Renzo yang biasa nya tidak akan menelpon di jam pulang kerja, Renzo mengambil ponsel nya lalu mengerutkan kening saat melihat nama Ayah nya.
* Tumben Ayah telpon jam segini *
Ucap Renzo dalam hati, tetapi Renzo tetap mengangkat telpon nya.
"Halo Ayah? ada apa telpon jam segini? tumben banget", Tanya Renzo dengan nada sopan sembari berjalan ke sofa dan tanpa sengaja mengabaikan Nias yang membuka kedua tangan nya untuk menerima jaket jas nya Renzo. Renzo duduk di sofa dengan santai.
"Maaf ganggu ya nak? Ayah telpon kamu waktu kamu baru pulang kerja gini, jadi gimana kabar tentang Nias? udah hamil belum?", Tanya Jhonson dengan penasaran, Renzo menghela nafas frustasi, jelas sudah bosan dengan pertanyaan itu yang hampir setiap Minggu nya Renzo dengar selama dua tahun ini, Nias juga ikut menghela nafas mendengar pertanyaan itu lagi.
"Maaf Ayah, belum", Jawab Renzo dengan muak.
"BELUM!? INI SUDAH HAMPIR TIGA TAHUN! TIGA TAHUN KALIAN MENIKAH MASIH SAJA BELUM PUNYA ANAK!", Amuk Jhonson dengan tidak terima, Renzo segera mematikan telpon nya, melempar ponsel ke meja membuat suara keras.
...SSSTTRRAKK!!!...
Renzo menghela nafas, sembari merapihkan rambut nya ke belakang.
"Buatkan aku teh!", Ucap Renzo dengan amarah yang masih tertera di nada nya, Pelayan di bidang dapur segera mengangguk lalu bergegas membuat teh, Renzo bangkit dari sofa menoleh ke Nias yang masih berdiri di dekat pintu mansion.
"Sayang... maaf tentang Ayah ku", Ucap Renzo dengan lemah lembut, Nias tersenyum, mengangguk kecil.
"Iya sayang, gak papa kok, Ayah kamu khawatir sama keturunan kita, kan buat penerus jabatan kamu, sayang", Jawab Nias dengan penuh cinta, Renzo tersenyum mendengar jawaban Nias.
"Iya sayang, jadi... kamu udah siapin air hangat untuk aku mandi di bathub?", Tanya Renzo sembari menutup mata kanan nya, tersenyum jahil, Nias terkekeh gugup memalingkan pandangan nya.
"E-Eh ehehe maaf sayang, lupa", Jawab Nias dengan gugup, Renzo tetap tersenyum membuka mata kanan nya walau sebenar nya kecewa.
"Iya sayang, gak papa", Ucap Renzo dengan santai nya, lalu bangkit dari sofa, dan berjalan ke lantai atas melalui tangga, tetapi pikiran Renzo memikirkan tentang keturunan nya itu dengan khawatir, sedangkan Nias segera membuka ponsel nya sendiri, dan mengirimkan pesan entah ke siapa, pelayan dapur datang menaruh teh yang panas hingga mengeluarkan uap, agar setelah Renzo selesai mandi teh nya sudah hangat, ternyata Nias sedang telponan bersama seseorang dengan nada penuh dengan cinta.
"Halo sayang? kamu mau ketemuan gak malam ini?", Tanya Nias dengan penuh cinta, pelayan bidang dapur yang bernama Pia terdiam mendengar itu.
* Ini Nyonya Nias telpon siapa sih? masa telpon Tuan Renzo? kan ponsel nya Tuan Renzo di meja *
Ujar Pia dalam hati.
"Iih iya sayang, aku juga gak ada acara apa-apa", Ucap Nias dengan nada manis seperti itu membuat Pia semakin curiga lalu segera pergi kembali ke dapur setelah menaruh gelas teh di meja, menghampiri teman pelayan dapur nya yang bernama Alen.
"Eh Nyonya Nias mau kencan sama seseorang nanti malam", Bisik Pia pada Alen yang seketika mengerutkan kening nya karena mendengar cerita Pia.
"Palingan sama temen nya itu", Bisik Alen dengan pelan, Pia menggelengkan kepala nya dengan keras.
"Dia panggil sayang ke dia", Jawab Pia, Alen terkejut kecil, Pia mengangguk.
"Jadi penasaran iih", Ucap Pia dengan geli, Pia dan Alen tertawa kecil, tiba-tiba ketua pelayan dapur datang, memukul meja dengan keras.
...PPPRRAKKK!!!...
Pia yang terkejut langsung memeluk Alen dengan erat.
"Woy anjir! lepasin!", Sentak Alen dengan geli, lalu Pia melepaskan Alen, menatap ke ketua pelayan dapur yang bernama Jane yang suka di panggil kakak oleh para pelayan, emang di kenal galak abis.
"Heh, ngapain sih? bukan nya beresin dapur yang kotor malah gosip", Ucap Jane dengan kesal, Pia menundukkan kepala nya.
"Maaf kak", Jawab Pia dengan takut, Jane menghela nafas tapi padahal di dalam hati nya juga sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh Pia dan Alen sampai-sampai mereka berdua tertawa seperti tadi.
* Ngomong apa sih nih anak-anak, gue jadi penasaran juga, kayak seru banget sama gosip mereka *
Ucap Jane dalam hati dengan penasaran.
...****************...
Renzo turun ke lantai bawah setelah selesai mandi dan memakai baju piyama, Renzo melihat teh nya sudah di sajikan membuat Renzo lebih rileks, saat Renzo menyadari Nias tidak ada di ruang tamu.
"Nias?! sayang?!", Panggil Renzo dengan keras, membuat suara Renzo menggema di mansion yang besar, karena tidak ada jawaban dari Nias, Renzo menghela nafas lalu duduk di sofa, mengambil cangkir teh nya yang sudah hangat, meniup uap teh sebelum meneguk hingga beberapa tegukan, ponsel Renzo berdering di atas meja.
...Drrrtt... Drrrtt.....
Layar ponsel nya menunjukkan nama Nias, Renzo langsung tau kalo Nias pergi main bersama teman-teman nya, karena Nias selalu pergi setelah Renzo pulang kerja, Renzo menghela nafas lalu menaruh cangkir teh nya kembali ke meja dan mengambil ponsel nya yang masih tergeletak di atas meja, setelah itu mengangkat telpon.
"Halo sayang? aku mau main dulu ya sama teman-teman ku seperti biasa", Ucap Nias dengan lembut, Renzo mengangguk walau Nias tidak bisa melihat nya.
"Iya sayang gak papa, tapi jangan terlalu sering main ya, aku juga mau di temanin sama kamu", Jawab Renzo dengan keberatan, Nias terdengar tertawa kecil.
"Iya sayang iya, nanti aku pulang nya gak terlalu malam kok", Jawab Nias dengan geli, Renzo menghela nafas.
"Yaudah sayang, aku matiin dulu ya telpon nya ya?", Tanya Renzo dengan nada yang tetap lembut.
"Iya sayang, dadah...", Jawab Nias dengan nada yang lebih manis, Renzo mematikan telpon nya, teridam sejenak menjadi patung saat mendengar langkah kaki dari belakang nya, suara langkah nya semakin dekat Renzo segera menoleh ke belakang, melihat Pia dan Alen yang mendekati dengan wajah ketakutan yang tertera di wajah mereka berdua.
"Ada apa?", Tanya Renzo dengan bingung, Pia dan Alen sampai di samping nya Renzo tapi mereka berdua seperti ragu-ragu untuk berbicara, Renzo yang melihat itu membuat emosi nya mendidih.
"Katakan!", Sentak Renzo dengan penuh amarah, Pia dan Alen tersentak membuat Pia segera membuka suara.
"N-Nyonya Nias selingkuh!", Ucap Pia dengan terburu-buru, Renzo mengerutkan kening nya, mendengar pengakuan Pia.
"Dia panggil seseorang di telpon nya dengan panggilan sayang saat Tuan Renzo pergi mandi!", Ucap Alen dengan takut, Renzo terkekeh kecil.
"Kalian ini kenapa? dia panggil teman-teman nya pakai sayang, udah biasa kali", Ucap Renzo dengan heran, Pia dan Alen saling bertukar pandangan dengan bingung, lalu mereka berdua kembali menatap ke Renzo.
"Nah Tuan, kalau cowok?", Tanya Pia dengan penasaran, Renzo menggelengkan kepala nya dengan senyuman geli terpasang di wajah nya, jelas tidak masalah dengan itu.
"Aku sama dia udah nikah hampir tiga tahun, gak mungkin lah kalau dia selingkuh dari aku, lagian siapa yang mau cewek yang boros kayak dia?", Jawab Renzo dengan santai, Pia dan Alen mengangguk setuju juga dengan ucapan nya Renzo itu, Renzo kembali duduk menghadap ke depan, tidak menatap lagi ke arah Pia dan Alen.
"Dah sana pergi, jangan ganggu aku", Perintah Renzo dengan tegas, Pia dan Alen segera berlari pergi tidak mau membuat Renzo marah lagi.
* Tapi bisa jadi dia selingkuh, aku tau Nias bosan dengan aku, karena aku sibuk bekerja terus *
Ucap Renzo dalam hati, menghela nafas setelah berpikir seperti itu, mengusap-usap pelepis nya dengan frustasi, Renzo mendapatkan telpon lagi, tetapi kali ini dari sahabat nya, yang bernama Ayden, lalu Renzo segera mengangkat telpon nya.
"Halo? tumben lo telpon gue, ada apa?", Tanya Renzo dengan lebih santai dan rileks.
"Eh istri lo belum hamil?", Tanya Ayden dengan khawatir, Renzo menghela nafas.
"Weh, stop nanyain itu ya, gue muak, tapi iya belum, kenapa gitu?", Ucap Renzo dengan muak, Ayden terdengar menghela nafas kecewa memalui telpon.
"Heran gue, udah hampir tiga tahun gak hamil-hamil, jangan-jangan lo mandul", Ucap Ayden dengan jahil Renzo terkejut dengan ejekan Ayden.
"Enak aja! kagak! asal tuduh ae lo ini!", Jawab Renzo dengan geli, Ayden tertawa jahil.
"Udah mendingan lo adopsi anak aja gih, gue denger-denger yang punya panti asuhan anak-anak nya sehat itu di panti asuhan yang nama nya Cemara", Ucap Ayden dengan lebih serius, Renzo berpikir sejenak lalu menghela nafas, tau kalau Ayden benar.
"Gak tau lah, gue tanyain ke Ayah gue dulu boleh atau enggak kalau adopsi anak aja", Ucap Renzo, Ayden agak kesal karena Renzo harus izin ke Ayah nya.
"Ooh ayolah, itu hak lo, masa lo harus izin terus ke Ayah lo? sekali-kali enggak juga gak papa kali", Hasut Ayden dengan jahil, Renzo menghela nafas.
"Udah lah, gue tetap mau izin, gue udah kebiasaan harus izin terus", Jawab Renzo dengan kesal.
"Oh iya tentu aja, lo kan putra nya mantan CEO besar jadi nya lo harus patuh dan selalu izin", Ejek Ayden, Renzo terkekeh kecil.
"Ya, dan lo udah biasa gak izin karena lo kan putra bungsu dari keluarga Zeon yang selebritis banget, dan paling di sayang dan di manja ya?", Balas Renzo dengan ejekan juga, Ayden tertawa geli.
"Oke-oke itu jawaban yang impas", Jawab Ayden dengan konyol, Renzo terkekeh kecil mendengar jawaban nya.
"Yaudah gue matiin dulu telpon nya", Ucap Renzo, Ayden yang mendengar itu langsung mematikan telpon nya, lalu Renzo memberikan pesan ke Jhonson.
"Ayah, aku udah mutusin kalau aku mau adopsi anak", Jhonson sedang mengetik.
"Iya gak papa, tapi usahakan anak nya pria ya?", Jawab Jhonson, Renzo menghela nafas lalu mengetik di layar ponsel nya.
"Bakal Renzo usahain", Jawab Renzo, Lalu Jhonson sudah tidak membalas pesan nya Renzo, itu membuat Renzo langsung mengirim pesan ke Ayden.
"Nanti antar gue ke panti asuhan Cemara ya?", Tanya Renzo yang seperti perintah bukan pertanyaan, Ayden membalas pesan nya.
"Oke aman, nanti gue ke mansion lo", Jawab Ayden, Renzo akhirnya selesai dengan ponsel nya, lalu melihat jam yang menunjukkan jam delapan malam, Renzo membuka kembali ponsel nya dan mengirimkan pesan ke Nias.
"Sayang, hubungi aku waktu kamu udah pulang, terus aku bakal kasih waktu satu jam lagi buat kamu main ya sayang ku?", Tanya Renzo, tetapi Nias tidak menjawab, bahkan Nias tidak membaca nya, Renzo menghela nafas, terpaksa menelpon Nias, tetapi Nias mematikan telpon nya, membuat Renzo agak kesal.
"Oke sayang, nanti aku telpon", Jawab Nias, Renzo menghela nafas, agak lega dengan jawaban itu, lalu Renzo mengetik layar lagi.
"Iya sayang", Jawab Renzo, lalu mematikan ponsel nya, bangkit dari sofa dan berjalan menuju tangga untuk ke kamar pribadi nya, ingin beristirahat sembari menunggu telpon dari Nias, saat sampai kamar, Renzo segera menutup pintu dan berbaring di ranjang, menutup mata untuk tidur.
...****************...
Renzo terbangun di jam sembilan malam, menghela nafas frustasi karena merasa kepala nya sakit, lalu melihat ponsel nya yang berdering karena telpon dari Nias, Renzo segera mengangkat telpon nya.
"Iya sayang? mau aku jemput?", Tanya Renzo dengan nada berat yang serak karena baru saja bangun tidur.
"Iya sayang, jemput aku di kafe yang seperti biasa ya", Jawab Nias dengan lelah habis bermain, Renzo tersenyum kecil.
"Iya sayang, aku akan di sana dalam... tiga puluh menit ya sayang?", Tanya Renzo.
"Iya sayang aku tunggu ya", Jawab Nias, lalu Renzo mematikan telpon nya, segera bangkit, memakai jaket nya dan celana hitam panjang, mengambil ponsel dan kunci mobil nya, setelah itu Renzo bergegas ke lantai satu.
...****************...
Saat sampai di halaman depan mansion yang luas dengan banyak mobil mewah terparkir, dan kolam kecil di di bagian kanan mansion ada kolam ikan dengan isi ikan mahal, juga ada tanaman bunga yang indah, Renzo segera berlari kecil menuju mobil yang akan Renzo kendarai, lalu Renzo masuk ke kursi pengemudi dan mengendarai mobil nya dengan agak mengebut.
...****************...
Renzo sampai di kafe itu lebih awal sepuluh menit, Renzo menoleh ke kafe, terkejut melihat Nias bersama pria lain yang merangkul nya, Renzo segera mematikan mesin mobil dan turun dari mobil, menghampiri Nias dengan langkah cepat, Nias terkejut melihat Renzo, lalu Nias melihat jam melalui ponsel sebelum menatap kembali ke Renzo.
"S-Sayang? kamu datang lebih awal, oh ya sayang ini teman ku", Ucap Nias dengan agak panik dan gugup, Pria itu melepaskan rangkulan nya dari bahu nya Nias, lalu Pria itu mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan bersama Renzo.
"Apa kabar? gue Arka", Ucap Arka dengan percaya diri, Renzo menatap rambut pirang nya Arka, lalu tau siapa Arka, yaitu sahabat nya Nias yang selalu bersama Nias, Renzo tersenyum kecil, berjabat tangan dengan Arka.
"Iya gue Renzo, suami nya Nias", Ucap Renzo dengan agak kesal, Arka tersenyum mengangguk.
"Iya, kita baru kenalan ya? setelah beberapa kali bertemu", Jawab Arka dengan akrab, Renzo melepaskan tangan nya Arka, menoleh ke Nias, menarik pergelangan tangan Nias, lalu menuntun nya masuk ke mobil, Nias menoleh ke Arka.
"Sampai ketemu nanti ya?", Tanya Nias dengan senyuman, Arka hanya mengangguk. Saat di dalam mobil.
"Sayang, bisa jaga jarak dengan pria lain gak?", Tanya Renzo dengan kesal tetapi tetap lembut tanpa menatap ke arah Nias, tetapi Nias menoleh ke Renzo, tersenyum takut, mengangguk kecil, Renzo menghela nafas, lalu menyalakan mesin mobil, mengendarai nya menuju mansion, di tengah perjalanan yang sunyi, mobil nya berhenti di lampu merah.
"Aku udah mutusin kalau kita bakal adopsi anak saja di panti asuhan Cemara", Ucap Renzo untuk mengisi keheningan di mobil, Nias terlihat agak terkejut.
"B-Baiklah sayang... tapi yang agak dewasa ya? aku keberatan kalau anak nya masih terlalu muda", Ucap Nias dengan malu-malu, Renzo terkekeh kecil, mengangguk paham.
"Iya aku paham kok sayang, jangan khawatir", Jawab Renzo dengan geli.
...-Bersambung-...