___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Vanya terdiam sejenak di atas kasur. Namun, rasa penasaran dan sifat manjanya yang ingin tahu segalanya membuat ia tidak bisa hanya diam di kamar.
"Vino, Tata Anya turun bentar ya, sayang," bisiknya pada bocah yang sudah pulas itu.
Vanya berjalan berjinjit, menuruni tangga satu per satu dengan hati-hati. Dari balik pilar lantai bawah, ia melihat Aiden sedang duduk bersandar di sofa mewah sambil menyesap kopi yang disuguhkan Mama Olivia.
Di sana juga ada Papa Airlangga yang terlihat sangat akrab berbincang dengan Aiden.
"Aiden, Papa titip Vanya ya. Kamu tahu sendiri, dia itu putri satu-satunya Papa yang paling manja. Papa hanya percaya sama kamu untuk jaga dia di apartemen nanti,"
ucap Papa Airlangga dengan nada kebapakan.
Aiden meletakkan cangkir kopinya, wajahnya berubah sangat serius dan berwibawa.
"Aiden paham, Pa. Bagi Aiden, keselamatan dan kenyamanan Vanya adalah prioritas utama. Papa nggak perlu khawatir, Aiden nggak akan biarkan satu orang pun menyakiti dia."
Vanya yang mendengar itu mendadak merasa haru.
Ternyata di depan orang tuanya, Aiden bisa menjadi sosok yang sangat bisa diandalkan, sangat berbeda dengan sosok mesum yang tadi menggodanya di balkon.
"Loh, Vanya? Kok malah ngintip di situ? Sini duduk, Sayang," panggil Mama Olivia yang menyadari keberadaan putrinya.
Vanya keluar dari persembunyiannya dengan wajah sedikit malu-malu.
"Vanya cuma mau ambil minum ma.."ucapnya beralasan, hampir saja keceplosan memakai logat manjanya di depan Papa.
Ia duduk di samping Mama Olivia, tepat di seberang Aiden. Aiden menatapnya dengan satu sudut bibir yang terangkat tipis, seolah mengejek Vanya yang tadi ketahuan menguping lagi.
"Besok pagi Aiden bareng Vanya ke sekolah, Ma, Pa. Jadi Sopir Vanya libur saja dulu, biar Vanya mulai terbiasa sama Aiden,"
ujar Aiden lancar.
"Wah, bagus itu! Biar kalian makin akrab sebelum hari pernikahan," sahut Papa Airlangga semangat.
"Tapi Pa, besok kan ada jadwal Mama ke sekolah soal... itu," Vanya memotong ragu, melirik Aiden.
Aiden menyahut dengan cepat,
"Soal itu sudah Aiden bicarakan dengan pihak sekolah, Ma. Mama tetap datang besok jam sembilan, tapi Aiden pastikan semuanya akan memihak Vanya.Aiden sudah urus bukti CCTV."
Vanya melongo. Gila, nih cowok geraknya cepet banget! batinnya kagum.
Malam semakin larut. Setelah obrolan panjang tentang logistik perpindahan barang ke apartemen, Aiden akhirnya berpamitan.
"Aiden pamit dulu, Ma, Pa. Kasihan Vino kalau kelamaan tidurnya di sini, takutnya nanti bangun malah rewel."
Aiden berjalan ke arah Vanya, lalu dengan berani ia mengusap puncak kepala Vanya di depan kedua orang tuanya.
"Tidur yang nyenyak. Jangan begadang cuma buat mikirin besok pagi."
Vanya hanya bisa menunduk, wajahnya merah padam.
Mama dan Papanya hanya tersenyum-senyum melihat interaksi mereka yang terlihat sangat manis di mata orang tua.
Begitu Aiden pergi dengan menggendong Vino yang masih tertidur, Vanya langsung ditarik oleh Mama Olivia ke dapur.
"Aiden itu anak baik, Vanya. Mama tenang kalau kamu sama dia. Tapi inget, Vanya... kalau sudah di apartemen nantinya, kamu harus dengerin apa kata Aiden, ya?"
"Iya, Ma..., Vanya ngerti kok,"
jawab Vanya manja sambil memeluk mamanya.
Vanya kembali ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang yang kini terasa luas karena Vino sudah dibawa pulang.
Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan hari esok.
"Papi Aiden mesum... tapi kok gweh jadi kangen ya"
gumamnya pelan sebelum akhirnya terlelap dengan senyum tipis di bibirnya..