NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkapnya Kebenaran

Sekar Arum menatap orang itu dengan penuh keberanian yang dipaksakan, meskipun lututnya lemas dan jantungnya berdebar kencang seperti genderang perang yang ditabuh oleh pasukan iblis. Aroma parfum melati yang menusuk hidung itu terasa familiar, terlalu familiar, seperti racun yang perlahan-lahan meresap ke dalam tubuh, membunuhmu dari dalam. Parfum mahal, yang selalu dipakai para penyanyi terkenal yang sudah makan asam garam dunia panggung, yang sudah kenyang dengan pujian dan popularitas, yang sudah menjual jiwa mereka demi kesuksesan. Aroma itu seperti peringatan, sesuatu yang mengancam, seperti bisikan iblis yang menggoda jiwa, menjanjikan kekayaan dan ketenaran dengan harga yang sangat mahal.

"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan impianku!" kata Sekar Arum dengan suara yang bergetar, seperti daun yang diterpa angin kencang, seperti benang yang hampir putus. Ia mencoba untuk tidak gemetar, untuk terlihat berani, meskipun ia tahu itu hanya pura-pura, sandiwara yang ia mainkan untuk melindungi dirinya sendiri, untuk menutupi rasa takutnya yang mendalam. Kata-kata itu terasa hampa di mulutnya, seperti janji yang tidak bisa ia tepati, seperti doa yang tidak sampai ke langit, seperti sumpah yang dilupakan.

Orang itu tertawa dengan keras, tawa yang terdengar palsu dan dipaksakan, seperti kaset rusak yang terus mengulang bagian yang sama, tanpa rasa, tanpa emosi, tanpa kehidupan. "Oh ya? Kita lihat saja nanti," kata orang itu dengan senyum yang mengerikan. Senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang hanya menampilkan gigi putihnya yang sempurna, seperti gigi taring serigala yang siap menerkam mangsanya, haus darah dan kekuasaan, haus pujian dan ketenaran. Nada bicaranya terdengar sangat angkuh, seperti orang yang merasa dirinya paling hebat, paling berkuasa, paling pantas mendapatkan segalanya, seolah dunia ini berputar hanya untuk dirinya, seolah ia adalah raja atau ratu yang berhak memerintah dan menghukum, yang berhak menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

Tiba-tiba, lampu di ruangan menyala, terlalu terang, menyilaukan mata Sekar Arum, membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya seperti burung hantu yang terbangun di siang hari bolong, merasa buta dan tidak berdaya. Ia terkejut melihat wajah orang itu dengan jelas. Itu...

"Kamu... Ranti?" kata Sekar Arum, tidak percaya. Wajah yang selalu tersenyum ramah padanya, wajah yang sering ia lihat di televisi, di sampul majalah, di baliho besar di pinggir jalan, wajah yang dulu ia kagumi, wajah yang dulu menjadi inspirasinya, kini penuh dengan kebencian yang membara, seperti api neraka yang siap membakar segalanya hingga menjadi abu, termasuk dirinya. Mata itu, mata yang tadinya bersinar cerah, memancarkan kehangatan dan keramahan palsu, kini gelap dan dingin, seperti es yang menusuk jantung, seperti jurang yang menelan jiwa, seperti dua lubang hitam yang menghisap semua harapan.

Ranti tersenyum sinis, senyum yang lebih mirip seringai binatang buas yang siap menerkam mangsanya, dengan air liur menetes di ujung bibirnya, siap menghancurkan dan menghabisi."Ya, ini aku. Kupikir kamu cukup bodoh untuk tidak menyadari siapa yang membuat hidupmu sengsara, siapa yang menarik semua benang ini, seperti dalang yang memainkan wayang, mengendalikan setiap gerakanmu, membuatmu menari sesuai dengan keinginanku," kata Ranti dengan nada merendahkan, seperti meremehkan sampah yang tergeletak di jalanan, seperti menginjak semut yang tidak berdaya. Sambil memutar-mutar gelang emas di pergelangan tangannya, gelang itu berputar seperti gasing, memperlihatkan kilauannya yang menyilaukan, seperti hipnotis yang membuatmu terlena dan lupa akan bahaya. Gelang itu berkilauan, memantulkan

Tentu, inilah kelanjutan kalimat terakhir dan penyelesaian Bab 16:

"...Gelang itu berkilauan, memantulkan cahaya lampu, seperti mengejek kemiskinan Sekar Arum, seperti mengatakan bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki barang semahal itu, bahwa ia tidak akan pernah bisa mencapai levelnya, bahwa ia selamanya akan menjadi orang rendahan."

"Kenapa kamu melakukan ini? Apa salahku?" tanya Sekar Arum, bingung dan putus asa, merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak berujung. Air mata mulai menetes deras membasahi pipinya, meninggalkan jejak seperti sungai kecil yang mengalir di wajahnya. Ia merasa seperti boneka yang rusak, yang dibuang begitu saja oleh pemiliknya.

"Salahmu? Keberadaanmu adalah salahku! Setiap napas yang kamu hirup adalah penghinaan bagiku! Setiap pujian yang kamu terima adalah tamparan di wajahku! Kamu pikir kamu bisa begitu saja merebut semua yang seharusnya menjadi milikku?" Ranti mendesis, wajahnya mendekat hingga Sekar Arum bisa merasakan napasnya yang panas dan bau parfum melatinya yang memuakkan. Ia mencengkeram bahu Sekar Arum dengan kuku-kukunya yang tajam, membuat Sekar Arum meringis kesakitan. "Aku sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mencapai posisiku. Aku berkorban banyak untuk mendapatkan semua ini. Dan kamu? Kamu hanya datang begitu saja, dengan bakatmu yang pas-pasan, dan mencuri semua perhatian! Itu tidak adil!"

Ranti mendorong Sekar Arum ke dinding dengan keras, membuat kepala Sekar Arum terbentur dan berdenyut nyeri. Sekar Arum merintih, merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia merasa tidak berdaya, seperti tikus yang terperangkap dalam perangkap.

"Aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bernyanyi lagi," bisik Ranti, suaranya penuh dengan kebencian yang membara. Ia mengangkat tangannya, siap untuk menampar Sekar Arum.

Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras. Cahaya terang dari luar menyilaukan mata mereka berdua. Seseorang masuk ke dalam ruangan dan menarik Ranti menjauh dari Sekar Arum.

"Lepaskan dia!" teriak orang itu dengan geram. Suara itu... Sekar Arum mengenal suara itu.

Sekar Arum terkejut melihat Mas Indra berdiri di depannya. Wajahnya merah padam karena marah, tinjunya terkepal erat.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!