Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan Ruoling
Sidang demi sidang diadakan. Kediaman Selir Hua diperiksa berkali-kali, baik pengawal serta pelayan yang bekerja untuk Selir Hua dipaksa untuk berbicara kalau sampai mereka berbohong maka akan di siksa tanpa rasa kasihan.
Tak hanya itu keluarga besar Selir Hua juga tidak lepas dari interogasi serta mereka di larang meninggalkan kediaman mereka bahkan pengawal utama utusan dari Permaisuri berjaga di sana.
Bukti-bukti lain yang semakin memberatkan terus bermunculan hingga membuat semua orang yakin kalau Selir Hua adalah pelakunya.
Setiap selir Hua menjalani sidang, Ruoling terus memaksa hadir sampai ia sering menyamarkan penampilannya agar pengawal tidak mengenalinya.
"Aku tidak akan mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat!"
"Tidak kau perbuat? Apa kau gila?!"
"Masih mau berbohong? Apa kau pikir kami semua orang bodoh yang percaya semua omonganmu!?"
"Omong kosong! Sudah jelas semua buktinya ada di kediamanmu!"
Masih banyak komentar dari orang yang menonton setiap persidangan dari ibu membuat Ruoling mulai terbiasa. Di awal ia memang sakit hati, tidak terima dan bahkan tidak ragu untuk menampar orang-orang itu hingga penyamarannya terungkap lalu di paksa untuk keluar dari persidangan.
Sekarang Ruoling tidak ingin memperdulikan mereka lagi. Ia sangat merindukan ibu hingga saat penegak hukum meminta ibu di bawa ke penjara lagi, ia buru-buru bangkit dari tempat duduk dan mendekati ibu.
"Ibu!" Ruoling menelusuri pagar yang menjadi jarak mereka. "Tolong biarkan aku memeluk ibuku."
"Putriku," kata Selir Hua yang di kanan kirinya ada pengawal, kaget melihat keberadaan Ruoling.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Putra mahkota, yang berada di sisi lain lebih dekat dengan penegak hukum, pada Ruoling.
Di istana ada larangan tidak mengizinkan anak di bawah usia lima belas tahun untuk menghadiri persidangan, tapi hal itu pengecualian untuk Putra mahkota karna harus mengantikan peran Permaisuri yang sibuk serta Kaisar belum sadarkan diri sejak keracunan.
"Tolong, biarkan aku bertemu ibu."
"Kita tidak boleh mengizinkannya, Yang Mulia. Sesuai dengan aturan yang berlaku." Ungkap penasehat kerajaan yang ada di samping Putra mahkota.
"Biarkan dia mengikuti ibu sampai di depan penjara," putusnya secara sepihak, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu hendak menyampaikan protesnya tapi mengurungkannya.
Bahkan setelah Zhiyuan serta penjabat istana meninggalkan ruangan sidang semua orang hanya terdiam tanpa berani protes.
Sementara Ruoling sudah ada di luar masih mengikuti ibu yang di kawal beberapa pengawal menuju penjara. Langkah besar mereka membuat Ruoling kesusahan mengikutinya, tapi ia tidak menyerah.
"Tolong biarkan aku bicara dengan putriku," kata Selir Hua dengan memohon tapi tidak di kabulkan pengawal yang terus melangkah. "Sebentar saja."
Pengawal mengabaikannya, membuat Selir Hua menatap Ruoling dengan khawatir. Tanpa harus bicarakan, ia tahu putrinya sudah kelelahan mengikutinya.
Selir Hua yakin pengawal tidak akan memberikan mereka bicara dengan saling menatap karna tidak ingin mendapatkan hukuman.
Sementara itu putrinya berpikir izin dari Putra mahkota maka mereka bisa melepas rindu pasti merasakan kecewa. Selain itu Ruoling harus di sadarkan kalau keinginan kecil itu tidak akan pernah terjadi.
"Cukup sampai di sini saja, Ruoling." Kata Selir Hua pada akhirnya dengan tegas. "Kau kembalilah, ibu baik-baik saja."
"Aku akan mengikuti, Ibu." Balas Ruoling keras kepala. "Aku yakin sampai di penjara kita bisa bicara."
"Tuan Putri sebaiknya jangan ikuti kami lagi," ungkap salah satu pengawal pada akhirnya karna merasa iba dengan Ruoling. "Hal itu tidak akan pernah terjadi."
Ruoling menggeleng masih mengikuti mereka dengan tersenyum penuh rencana sampai kemudian, tiba-tiba ia terjatuh hingga membuat ibu berteriak khawatir dan pengawal berhenti berjalan.
"Putriku!"
"Aku baik-baik saja." Putri pertama dari kerajaan itu hendak berdiri, tapi tidak bisa karna merasakan perih di beberapa bagian tubuhnya. "Tangan dan lututku berdarah."
"Tolong selamatkan putriku!" Selir Hua tidak bisa menyembunyikan kepanikannya di tambah putrinya tidak bisa berdiri. "Tolong, kalau tidak dengan kalian lalu aku harus meminta bantuan pada siapa lagi? Di sini tidak ada orang lain selain kalian."
Tiga pengawal itu pengawal saling melirik, berbicara sampai mengambil keputusan di mana salah satu orang dari mereka mendekati Ruoling dan membantunya untuk berdiri.
"Tolong biarkan aku memeluk, ibu." Kata Ruoling sambil menangis karna menahan rasa sakit di lutut, tangan dan rasa rindu pada Selir Hua. "Aku janji setelah itu aku tidak akan menyusahkan kalian lagi. Aku tidak akan menghadiri sidang lagi."
"Kami bukannya tidak ingin membantu, tapi jika kami melakukan itu maka kami akan di hukum."
"Kali ini saja, aku berjanji tidak akan melaporkan ini pada siapapun." Mohon Ruoling sambil terus menangis berharap ketiga pria itu mengizinkannya. "Tolong bantu aku, lagi pula di sini tidak ada siapapun selain kita berlima."
Pengawal membantunya berdiri menoleh pada kedua temannya yang akhirnya terpaksa mengangguk. Ruoling melihat itu dengan cepat menghapus air matanya lalu berlari mendekati ibu dan langsung memeluknya.