NovelToon NovelToon
WANG SHIN

WANG SHIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengawal / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

왕신 ー 4

...왕신...

...-----ᏇᏗᏁᎶ ᏕᏂᎥᏁ----...

𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!

Semua mata Venomous menyaksikan bagaimana Shin berlagak dalam melawan para begundal dari Goseong, menakjubkan dan patut diapresiasi.

Hari berikut dan berikutnya, dia semakin menunjukkan bakat. Mulai dari menangani pungutan, peleraian pengunjung rusuh di pub dengan cara yang tenang, hingga lain-lain.

Dan hari ini ....

“Selamat, Wang Shin ... kau resmi menjadi anggota khusus, bergabung dengan enam kepala naga.” ーOrang-orang terbaik kepercayaan Venom, sayap baja kelompok mereka

Para venomous diharamkan iri. Jika mereka menginginkan pangkat sama, “Maka bertindak dan bersikaplah cerdas seperti Wang Shin.”ーSyarat Sol Gibaek.

Hari ini Shin mendapat libur, diizinkan bersenang-senang dengan uang banyak dari hasil kerja kerasnya sebagai venomous yang bintangnya hampir sempurna. Motor bahkan diberikan sebagai transport pulang dan pergi.

“Dengan jatah liburmu, kau akan kemana?” tanya Gibaek, saat Shin bersiap akan berlalu dari ruangan.

“Aku hanya ingin tidur dan makan di rumah.”

Diangguki Gibaek dengan senyumnya yang dalam pandangan Shin terlalu manis untuk posisi elite dunia hitam. Jika berhasil menjadi teman, dia akan menyarankan pria itu untuk ikut audisi idol saja.

“Baguslah, silakan.”

Shin tak basa-basi, “Aku permisi. Akan kujaga motormu dengan baik."

“Tentu saja harus.”

Terhentak kakinya menjauh, undur diri dari hadapan Gibaek tanpa menoleh lagi. Lirikan mata menyapu tatapan orang-orang yang tersebar di dalam markas, kemudian melangkah lebar. Tidak ada gunanya peduli pandangan mereka, tujuannya tidak termasuk mencari pengakuan yang tidak perlu.

Keinginan pertama sebenarnya adalah pulang ke rumah untuk bertemu istri, tapi panggilan dari Park Junwon membuatnya terpaksa harus mampir ke kantor polisi.

Namun sebelum realisasi ke dua tempat tujuan, sesuatu yang fatal dia sadari, menahan lajunya untuk berbelok ke tempat lain. Motor dihentikan di halaman sebuah bangunan sederhana dengan garasi kecil.

Tidak buru-buru masuk, dia malah berjongkok menatap sebuah benda kecil yang menempel di badan motor, lalu berdecak sambil membuang wajah dengan bibir tersenyum lucu.

“Seharusnya kau memasang alat pelacak yang sebesar penggorengan saja, Sol Gibaek,” cibirnya.

Sarkas ditujukan pada sebuah alat pelacak yang dipasang Gibaek. Ukurannya sebesar kancing kemeja, yang bagi Shin terlalu besar.

Sisanya dia memilih abai, mendengus sambil berdiri, lalu masuk ke dalam rumah dengan pintu yang menggunakan kode angka untuk membuka kunci.

Sama sekali tidak istirahat atau merebah, hanya mengambil sebuah benda logam dengan bandulan boneka beruang seukuran jempol sendiriーkunci motor.

Dia membuka garasi di sisi kiri, masuk lalu keluar bersama sebuah sepeda motor berwarna hitam jenis ninja. Helmet sudah membalut kepala. Motor Sol Gibaek berhenti bergerak sampai di rumah itu.

Tidak berlagak atau melakukan hal tidak berguna, segera berpacu membelah jalanan di angka jam sepuluh pagi.

Sampai di kantor Park Junwon setengah jam kemudian, masuk ke ruangan setelah mendapat izin petugas depan. Atas nama janji bertemu.

Sekarang sudah duduk mengisi kursi kayu berhadapan dengan Junwon terhalang meja.

“Kudengar akan ada transaksi besar antara Gibaek dan pemasok dari Jepang. Aku tidak bisa mengabarkan padamu setiap waktu, jadi sebaiknya kalian bersiap. Kapan pun itu.”

“Baiklah, Shin. Terima kasih. Prioritaskan jaga dirimu dan tetaplah tenang.”

Hanya senyuman tipis dengan jawaban singkat, “Jangan cemaskan aku. Aku pergi.”

Sikap itu ditanggapi Park Junwon dengan kepala mengeleng-geleng. “Orang itu benar-benar."

Di jalanan lain, Sol Gibaek berada di dalam mobil yang melaju juga, duduk santai bersandar sembari menatap layar ponsel menyala dengan tampilan laman titik GPS yang dipasang pada motor yang dipakai Shin. Sesirat senyum menghias bibir seraya bergumam, “Dia benar-benar di rumah. Anak baik.”

Rumah itu tertera di alamat kartu penduduk Wang Shin yang dipalsukan Junwon. Gibaek menyelidikinya melalui telik sandi dan mendapati informasi sepadan. Tetangga di sana mengiyakan jika Wang Shin tinggal seorang diri, berkepribadian baik dan bekerja sebagai peracik minuman di sebuah bar.

Sedang ....

Ninja hitam yang dikendarai Shin kembali menggetarkan jalanan. Tujuan utama pulang adalah menghabiskan waktu dengan istrinya, bercinta dan bercerita banyak tentang hari-hari berlalu.

Menyempatkan diri mampir ke beberapa toko berbeda untuk membeli hadiah; bunga, kue, sepatu untuk Ana dan sehelai baju musim panas untuk Son Hadam si ibu mertua laknat.

Kantong-kantong itu tergantung memenuhi bagian depan motornya. Senyuman tipis memulas singkat saat melirik buket bunga yang menguar aroma wangi.

“Minimal Ana harus menciumku saat menerimanya.”

Hal-hal seperti itu jarang dia lakukan, tapi kali ini merasa harus.

Namun saat tiba di depan gerbang kediaman Ana yang tidak tertutup penuh, kaca helm disibak dari wajah lalu turun dari tunggangan.

Singkat melangkah untuk mencapai gerbang, tiba-tiba sorot mata Shin mengecil tajam.

Sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah berdampingan dengan mobilnya Ana.

“Mobil Sol Gibaek,” cicitnya.

!!

“Apa yang dia lakukan di sini?”

40 menit kemudian ....

Shin yang masih menunggu bersama motornya bersembunyi di balik tembok rumah seorang tetangga yang bersebrangan, bangkit menegak menatap Gibaek yang baru keluar diantar Yoo Ana dan ibunyaーHadam.

Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya Son Hadam sangat menyukai Gibaek sampai berulang kali bibirnya yang tipis itu memulas senyum.

“Gibaek pasti mempersembahkan tumpukan emas. Ck!”

Pandangan Shin kemudian beralih pada wajah istrinya.

“Di antara canggungnya, dia tersenyum, tersipu, dan ramah.” Tatapan berubah sedikit masam. “Jejak cinta pertama yang belum pudar. Haruskah aku berontak?”

 Di tengah pemikiran yang mulai kusut, Sol Gibaek mulai memasuki mobil, undur diri kemudian melaju pergi.

Shin mengendapkan diri di persembunyian agar tidak dilihat ketua mafia itu, baik oleh mata terbuka ataupun melalui kaca kendaraannya.

Keberadaannya di dekat Ana yang jika diketahui, jelas akan mengacau semua rencana.

Setelah menjauh, barulah dia keluar. Ana beserta ibunya sudah masuk ke dalam rumah.

Ditatap Shin, buah tangan yang dia beli beserta bunga yang belum layu di atas motor, lalu berdecak, “Aku sudah sangat dewasa untuk terganggu dengan hal-hal remeh.”

Dia tahu, tidak peduli sebesar apa yang dilakukan, di mata ibu mertua dia tetaplah sampah. Tapi di antara ke-minus-an itu, setidaknya ada Ana yang masih punya senyuman. Jadi, ada atau tidak ada Gibaek, keadaan menyangkut dirinya akan tetap sama.

“Baiklah ... ayo kita masuk dan beri mereka hadiah.”

Dan ya ... sesuai yang ada dalam bayangan Shin, menanggapi kepulangannya, wajah Son Hadam menyerupai induk ayam yang mengerami telur-telurnya.

Dengan nada bengis dia mengomentari helai baju yang dibelikan Shin. “Bahan jelek seperti ini hanya akan membuat tubuhku gatal!” Kasar melempar baju itu ke atas sofa, kemudian pergi begitu saja.

“Bu!"

Teguran Ana segera ditahan Shin dengan menarik pundaknya agar tidak beranjak. “Sudah, tak apa. Biarkan saja."

“Tapi, Shin ... Ibu sudah keterlaluan!”

“Kubilang tak apa,” kata Shin, membawa Ana duduk kembali mengisi sofa. “Yang terpenting dirimu, itu sudah cukup.”

Ana pasrah, menatap bunga di genggamannya, menyesapnya dengan mata terpejam, lalu berucap sambil menatap wajah lelaki itu beserta senyum. “Terima kasih. Aku menyukainya.”

“Syukurlah.” Shin tersenyum sekilas, untuk kemudian bertanya, “Jadi, Ana ... untuk apa Gibaek datang kemari? Kau yang mengundangnya?”

1
chaa
semangat 💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: nggak, Kak.
gk semangat aku ... 😭
total 1 replies
Be___Mei
Hemmm, pekerjaan Shin nggak jauh jauh dari orang berkuasa.
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: emang gitu, Mak?🤓
total 1 replies
Be___Mei
Nahhh, kan. Gerak-gerik Nyonya Lim nggak bisa. Orang kaya elit emang begitu 🤧
Be___Mei
Pinter juga Nyonya ini
Be___Mei
Ian, cewek???
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Laki, Mak.
Ian Haris🤓
total 1 replies
Be___Mei
Cobain masakan Kalimantan juga ya 😂
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan bilang buaya goreng?🤣
total 1 replies
Be___Mei
kwkwkwk barulah terungkap bahwa Shin tajir melintir 😂😂
Be___Mei
Udahlah, Shin. Cewek banyak kok di dunia. Salah satunya aku 🤭 cuma aku sedikit berbeda dengan Ana. Kalau Ana biasanya pakai gaun seksoi, aku pakainya daster 😂😂
Be___Mei
Aishhh!! Ana Sibal ****
Be___Mei
Ya elah, Neng! Dikasih aman malah kabur.
Be___Mei
Mamam tuh calon mantu idaman
Be___Mei
Iya juga. Ngapain coba meladeni Gibek padahal dia udah hapus ikatan kontrak sama Shin. Apakah dia mau berpijak di dua perahu?? Ana oh Ana
Be___Mei
Bayangin wajah visual artis kpopnya kebingungan. Pasti lucu tapi kasihan juga 🥲🤣
Be___Mei
Istri mana yang bisa menolak pesona seorang Shin?! Walaupun nikah kontrak, tapi mereka pasangan sah 🤧
Be___Mei
Teman Anda! Teman baru Anda 🤧 orang yang selalu kau andalkan, itu dia suami Ana
Be___Mei
Perasaanku mengatakan Takeda masih hidup. Pria sekuat itu tidak mudah jadi ubi kan mak???
Machan
kurang menantang ye, Shin😆
Machan
bisa jujur juga ternyata mulutnya
Machan
anjay, keren tatonya
Machan
pernah ngalamin ini saat rapat pembentukan anggota OSIS🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!