Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Raditya Mahardika. Baru saja ia selesai mencerna informasi dari Pak Agus tentang siapa sebenarnya Kirana, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Mbak Kirana.
"Halo, Mas Rio?" suara Kirana terdengar sedikit terburu-buru, namun tetap berusaha menjaga ketenangannya.
"Iya, Mbak Kirana. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Raditya, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja mengetahui rahasia besar.
"Mas, maaf sekali saya merepotkan lagi. Ada map biru di kursi depan, sepertinya tertinggal saat saya turun tadi. Bisa tolong antarkan ke dalam? Saya sedang di tengah rapat penting di lantai dua, ruang diskusi utama. Mas langsung naik saja, saya sudah titip pesan ke resepsionis," pinta Kirana.
"Baik, Mbak. Saya segera ke sana," Raditya menutup telepon.
Ia melirik ke arah kursi penumpang. Benar saja, sebuah map biru tua dengan logo emas "KiraPharma" terselip di sela jok. Raditya mengambilnya. Jemarinya meraba tekstur map yang mahal itu. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di spion.
"Oke, Rio. Saatnya melihat sisi lain dari majikanmu."
Raditya melangkah memasuki gedung dengan langkah tegap. Meskipun ia mengenakan kaos gelap dan celana kargo, postur tubuhnya yang atletis dan tatapan matanya yang tajam membuatnya tidak terlihat seperti supir biasa. Begitu melewati pintu kaca otomatis, hawa dingin AC yang mewah langsung menyambutnya.
Interior lobi KiraPharma sangat mengesankan. Dindingnya dihiasi panel kayu oak dan marmer putih. Di sudut ruangan, terdapat instalasi seni bertema molekul kimia yang artistik. Raditya, yang biasa berada di lingkungan kantor kelas dunia, harus mengakui bahwa selera Kirana dalam membangun identitas perusahaan sangatlah brilian.
"Siang, Mas. Mau antar berkas untuk Ibu Kirana?" tanya seorang resepsionis cantik dengan seragam rapi. Ia tersenyum ramah, tidak ada nada merendahkan meski melihat pakaian Raditya.
"Iya, Mbak. Saya Rio," jawabnya singkat.
"Silakan, Mas. Lift di sebelah kiri, langsung ke lantai dua ya. Ruang rapatnya ada di sebelah kanan begitu keluar lift," resepsionis itu menunjukkan arah.
Raditya melangkah masuk ke dalam lift yang berdinding cermin mengkilap. Saat lift bergerak naik, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia merasa seperti seorang agen rahasia yang masuk ke markas sekutu yang tak terduga.
Ting!
Pintu lift terbuka. Lantai dua ini terasa lebih sibuk namun sunyi. Beberapa staf berlalu-lalang membawa dokumen, mereka semua tampak fokus. Raditya menyusuri lorong berkarpet tebal hingga matanya menangkap sebuah ruang rapat besar dengan dinding kaca transparan di bagian atasnya.
Ia berhenti tepat di depan pintu. Namun, alih-alih langsung mengetuk, ia terdiam sejenak. Dari balik kaca kecil yang tidak tertutup tirai, ia bisa melihat pemandangan yang membuatnya benar-benar terpukul.
Di ujung meja panjang berbahan kaca, berdiri Kirana Adytama. Ia telah melepas jaket luarnya, menyisakan kemeja putih tulang yang dipadukan dengan celana kain berpotongan rapi. Rambutnya yang tadi pagi hanya diikat asal, kini tertata sangat rapi dalam gelungan french twist.
Kirana sedang memegang alat penunjuk laser, mengarahkannya ke sebuah layar besar yang menampilkan struktur kimia kompleks dan grafik proyeksi pasar.
"Jika kita tidak bisa memastikan kemurnian ekstrak ini mencapai sembilan puluh delapan persen, saya tidak akan meluncurkan produk ini ke pasar Jepang. KiraPharma tidak menjual janji, kita menjual efikasi dan keamanan," suara Kirana terdengar lantang, jernih, dan penuh otoritas.
Raditya melihat bagaimana para pria dan wanita di ruang itu—yang nampaknya adalah para ahli farmasi dan manajer senior—mengangguk takzim. Tidak ada satu pun yang berani memotong pembicaraannya. Kirana berbicara tentang paten, regulasi internasional, dan inovasi bioteknologi dengan kefasihan yang luar biasa.
Raditya merasa dunianya terbalik. Perempuan yang di depan keluarganya disebut "hanya barista", yang dengan sabar menyuapi nenek di panti lansia, yang makan nasi pecel di bawah pohon dengan lahap... adalah singa betina di dunia korporasi.
Dia luar biasa, batin Raditya. Ada rasa bangga yang aneh menyelinap di hatinya, seolah-olah ia baru saja menemukan berlian di tengah tumpukan kerikil.
Namun, di saat yang sama, Raditya merasa tersindir. Ia menyadari satu hal yang krusial: Kirana juga sedang menyamar. Sama seperti dirinya.
Kirana menyembunyikan kekuatannya, kekayaannya, dan kecerdasannya dari keluarga Adytama. Ia membiarkan dirinya dihina oleh Mama Reva dan diremehkan oleh Bianca, demi alasan yang Raditya belum pahami. Apakah karena ia ingin melindungi bisnisnya? Atau karena ia tahu keluarganya hanya akan memanfaatkan keberhasilannya?
Raditya mengetuk pintu dengan pelan. Suasana di dalam rapat terhenti sejenak. Kirana menoleh, dan saat matanya bertemu dengan mata Raditya di balik kaca, raut wajahnya yang keras seketika melunak. Ia memberikan isyarat agar Raditya masuk.
Raditya membuka pintu, berjalan masuk dengan kepala sedikit menunduk—tetap menjaga perannya sebagai Rio.
"Ini berkasnya, Mbak Kirana," ucap Raditya sambil menyerahkan map biru itu.
"Terima kasih, Mas Rio. Maaf ya jadi harus naik ke atas," jawab Kirana. Suaranya kembali menjadi lembut, namun aura kepemimpinannya masih terasa sangat kuat di ruangan itu.
"Sama-sama, Mbak. Saya tunggu di bawah," Raditya berpamitan.
Saat ia berjalan keluar, ia bisa merasakan beberapa pasang mata di ruang rapat memperhatikannya dengan heran—mungkin mereka bertanya-tanya mengapa CEO mereka memiliki supir yang terlihat begitu... berwibawa.
Kembali ke dalam lift, Raditya menyandarkan kepalanya di dinding besi. Penemuan ini mengubah segalanya. Tadinya, ia hanya ingin bermain-main dengan penyamaran ini untuk menghindari perjodohan konyol. Namun sekarang, ia merasa memiliki ikatan yang lebih dalam dengan Kirana.
Mereka berdua adalah dua orang yang hidup dalam bayang-bayang identitas lain.
Apakah kamu juga merasa kesepian dengan rahasiamu, Kirana? tanya Raditya dalam hati.
Raditya keluar dari lift dan kembali menuju mobil. Ia duduk di kursi kemudi, menatap gedung KiraPharma dengan pandangan baru. Sekarang ia mengerti mengapa Kirana begitu hati-hati. Jika Bianca atau Mama Reva tahu tentang gedung ini, mereka akan menghisap Kirana sampai kering.
Rasa penasaran Raditya kini berubah menjadi rasa hormat yang sangat dalam. Ia merasa harus lebih berhati-hati dalam penyamarannya sendiri. Jika Kirana begitu cerdas hingga bisa membangun perusahaan farmasi sebesar ini dari nol, maka tidak akan sulit baginya untuk mencium sesuatu yang aneh dari "Rio" jika ia melakukan kesalahan kecil saja.
Hubungan mereka kini berada di wilayah baru. Sebuah hubungan yang dipenuhi oleh kehati-hatian, rahasia yang saling tumpang tindih, namun entah mengapa, Raditya merasa ia mulai menyukai permainan ini. Ia bukan lagi sekadar supir. Ia adalah penonton eksklusif dari kehidupan seorang wanita paling misterius di Surabaya.
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Mas Rio, rapatnya hampir selesai. Kita langsung ke hotel Grand City setelah ini ya? Ada janji dengan mitra dari Jepang. Mas Rio tidak keberatan kan kalau hari ini pulangnya agak larut?
Raditya tersenyum miring, matanya berkilat penuh semangat.
"Ke mana pun Anda pergi, Mbak Kirana... saya akan mengantar Anda," bisik Raditya pelan sambil mulai menyalakan mesin mobil.
***