NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

# BAB 19: SATRIA DISKORS

Pagi itu aku bangun dengan perasaan aneh.

Campuran antara seneng dan takut.

Seneng karena kemarin KPK udah buka penyelidikan. Berita korupsi beasiswa udah tersebar ke mana-mana. Orang-orang pada dukung kami.

Tapi takut karena... karena aku tau Pak Bambang sama Pak Julian pasti gak akan diem aja.

Mereka pasti bakal balas dendam.

Dan ternyata... tebakanku bener.

Jam tujuh pagi, hape Arjuna bunyi. Dia telpon aku.

"Sat! Gue baru dapet surat dari sekolah! Kita didiskors! Semua! Lu, gue, Vanya, Adrian, Nares! Kita semua didiskors!"

Jantungku berhenti.

"Apa?! Alasannya apa?!"

"Mencemarkan nama baik sekolah! Mereka bilang kita sebarkan hoax! Dan kita harus dateng ke sekolah jam sembilan pagi buat sidang. Bawa orang tua!"

Aku tutup telpon.

Tangan gemetar.

Diskors.

Berarti aku gak bisa ikut ujian nasional. Gak bisa lulus. Gak bisa kuliah.

Semua hancur.

"SIAL!"

Aku teriak sambil gebrak meja. Ayah dari kasur kaget.

"Sat... Satria kenapa?"

Aku ceritain semuanya. Ayah diem. Mukanya sedih.

"Satria... ayah ikut kamu ke sekolah."

Aku geleng. "Ayah gak bisa, Yah. Ayah gak bisa jalan. Ayah gak bisa apa-apa. Biar aku aja yang dateng."

Ayah nangis. "Maafkan ayah, Nak... ayah gak bisa apa-apa... ayah gak bisa bela kamu..."

Aku peluk ayah. "Gak papa, Yah. Aku bakal bela diri aku sendiri."

***

Jam sembilan pagi.

Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna berdiri di depan ruang sidang sekolah.

Ruangan besar. Ada meja panjang. Di belakang meja duduk Pak Bambang, Pak Julian, Kepala Sekolah, sama beberapa guru lain.

Di depan kami ada kursi-kursi kosong buat orang tua.

Tapi... ibu aku dateng.

Ibu yang harusnya masih istirahat di puskesmas. Ibu yang masih lemah. Ibu yang baru keluar kemarin sore.

Ibu dateng pake kursi roda. Didorong sama Pak Hadi.

Mukanya pucat. Tangannya gemetar. Tapi matanya... matanya penuh tekad.

"Sat..."

Ibu bisik pelan.

Aku langsung ke ibu. Aku pegang tangannya. "Bu... ibu kenapa dateng? Ibu harusnya istirahat..."

Ibu geleng. "Ibu harus dateng. Ibu harus bela kamu. Ibu... ibu gak akan biarkan mereka sakiti kamu lagi."

Aku nangis. "Bu..."

Orang tua yang lain juga dateng. Ayahnya Arjuna. Pria tinggi besar berkacamata hitam. Mukanya dingin. Gak ada ekspresi.

Bibinya Vanya. Wanita paruh baya yang galak. Mukanya kesal.

Ibunya Adrian. Wanita gemuk yang baik. Mukanya khawatir.

Ibunya Nareswari. Wanita kurus yang udah tua. Mukanya sedih.

Kami semua duduk. Orang tua di belakang kami.

Pak Bambang berdiri. Dia pegang palu kayu. Dia ketuk meja.

TOK TOK TOK.

"Sidang dimulai. Hari ini kami mengadakan sidang disiplin untuk lima siswa yang melakukan tindakan mencemarkan nama baik sekolah. Mereka adalah: Satria Bumi Aksara, Vanya Clarissa Valerine, Adrian Bramantyo, Nareswari Kirana, dan Arjuna Dewantara."

Suaranya keras. Tegas. Penuh kekuasaan.

"Mereka telah menyebarkan informasi bohong kepada media dan publik bahwa sekolah kami melakukan korupsi dana beasiswa. Mereka telah merusak reputasi sekolah yang sudah dibangun puluhan tahun. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mendiskors mereka selama waktu yang tidak ditentukan."

Ibu langsung berdiri dari kursi roda. Meskipun badannya gemetar, dia berdiri.

"Pak Bambang! Anak saya tidak bohong! Anak saya punya bukti! Bapak yang korupsi! Bapak yang curi uang rakyat!"

Suara ibu keras. Gemetar. Tapi penuh kemarahan.

Pak Bambang melotot. "Ibu! Jaga ucapan Ibu! Kalau Ibu terus menuduh, saya akan laporkan Ibu ke polisi!"

Ibu jalan pelan ke depan. Kakinya lemas. Hampir jatuh. Pak Hadi langsung pegangin.

"Pak... anak saya itu anak yang baik. Dia pintar. Dia berjuang keras. Dia... dia cuma mau keadilan. Kumohon jangan keluarkan dia. Kumohon..."

Ibu jatuh berlutut di depan meja Pak Bambang.

JATUH BERLUTUT.

Ibuku. Ibu yang selama ini kuat. Ibu yang selama ini gak pernah mengeluh meski tangannya lecet-lecet cuci baju. Ibu yang selama ini jadi tulang punggung keluarga.

Sekarang berlutut.

Berlutut di depan orang yang curi masa depan anaknya.

"KUMOHON PAK... KUMOHON JANGAN KELUARKAN ANAK SAYA... DIA ANAK SAYA SATU-SATUNYA... DIA HARAPAN SAYA... KUMOHON..."

Ibu nangis sambil pegang kaki meja.

Aku gak kuat.

Aku langsung berdiri. Aku ke ibu. Aku angkat ibu.

"Bu... Bu jangan mohon sama mereka... Bu jangan berlutut sama orang jahat kayak mereka..."

Air mataku jatuh. Aku peluk ibu.

"Bu... gak usah mohon. Satria gak butuh sekolah ini. Satria akan buktikan kita benar. Satria akan buktikan mereka salah. Dan mereka... mereka akan masuk penjara."

Aku liat Pak Bambang dengan mata penuh kebencian.

"Bapak boleh keluarin saya. Bapak boleh diskors saya. Tapi Bapak gak bisa tutup mulut saya. Gak bisa tutup kebenaran. KPK udah turun tangan. Media udah tau. Masyarakat udah tau. Bapak... Bapak gak akan bisa lari."

Pak Bambang gebrak meja. "SATRIA! KELUAR DARI RUANGAN INI SEKARANG! KAMU DAN KEEMPAT TEMANMU RESMI DISKORS! KALIAN DILARANG MASUK SEKOLAH SAMPAI WAKTU YANG TIDAK DITENTUKAN!"

Aku bantuin ibu berdiri. Aku pegang kursi roda. Aku dorong ibu keluar.

Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna ikut keluar.

Orang tua mereka juga ikut keluar. Mukanya marah semua.

Ibunya Adrian teriak. "Sekolah ini sekolah sampah! Dipimpin orang-orang sampah!"

Bibinya Vanya juga teriak. "Saya akan laporkan sekolah ini ke dinas pendidikan! Kalian gak bisa semena-mena kayak gini!"

Tapi Pak Bambang cuma senyum dingin. "Silakan lapor ke manapun. Tapi keputusan kami sudah final."

***

Kami keluar dari ruang sidang.

Kami jalan ke koridor. Koridor yang rame. Banyak siswa-siswa nongkrong.

Begitu liat kami keluar, mereka semua diem.

Terus...

Tepuk tangan.

PLOK! PLOK! PLOK!

Satu siswa mulai tepuk tangan. Terus yang lain ikut. Terus makin banyak. Sampai semua siswa di koridor tepuk tangan.

Keras. Rame.

"KALIAN PAHLAWAN KAMI!"

"TERIMA KASIH SUDAH BERANI!"

"KAMI DUKUNG KALIAN!"

"JANGAN MENYERAH!"

Siswa-siswa pada teriak. Pada dukung kami.

Beberapa siswa bahkan nangis.

Ada satu cewek kelas sepuluh. Dia jalan ke arah aku. Dia peluk aku sambil nangis.

"Terima kasih, Kak Satria... ayah saya juga korban. Ayah saya dulu urus beasiswa tapi gak dapat. Sekarang saya tau kenapa. Terima kasih udah bongkar kejahatan mereka..."

Aku peluk dia balik. "Sama-sama. Ini bukan cuma buat aku. Tapi buat kalian semua."

Siswa-siswa lain juga pada peluk kami. Pada kasih dukungan. Pada nangis bareng kami.

Untuk pertama kalinya... aku ngerasa dihargai di sekolah ini.

Bukan dihina. Bukan dijauhin.

Tapi dihargai.

***

Kami keluar dari sekolah dengan kepala tegak.

Meskipun kami didiskors. Meskipun masa depan kami gak jelas.

Tapi kami gak menyesal.

Karena kami tau... kami udah lakuin yang bener.

Di luar gerbang sekolah, wartawan-wartawan udah nunggu.

"Satria! Kalian didiskors?"

Aku ngangguk. "Iya. Kami didiskors karena membongkar korupsi."

"Apa yang akan kalian lakukan?"

"Kami akan terus berjuang. Kami gak akan berhenti. Kami akan pastikan Pak Bambang dan Pak Julian dihukum. Dan kami akan pastikan... semua anak miskin yang jadi korban dapat keadilan."

Wartawan ngangguk. Kamera terus ngerekam.

***

Sore itu, aku duduk di warung Pak Hadi.

Ibu udah tidur di kamar belakang. Capek banget.

Hape aku bunyi. Nomor gak dikenal.

Aku angkat. "Halo?"

"Satria Bumi Aksara?" suara laki-laki. Berat. Dewasa.

"Iya. Ini siapa?"

"Saya Budi Santoso. Wartawan senior dari harian Kompas. Saya sudah mengikuti kasus kalian. Saya... saya punya bukti tambahan yang lebih besar."

Jantungku berdetak cepat. "Bukti apa?"

"H. Bambang bukan cuma korupsi beasiswa. Dia juga korupsi dana BOS selama lima tahun terakhir. Total uang yang dia curi lebih dari sepuluh miliar rupiah. Saya punya dokumen lengkapnya. Tapi... tapi saya butuh bantuan kalian untuk bongkar ini."

Sepuluh miliar.

Angka yang gak bisa aku bayangin.

"Kita... kita harus ketemu. Kapan dan dimana?"

"Besok sore. Jam lima. Di taman dekat sekolah kalian. Saya akan bawa semua bukti. Tapi... tapi hati-hati. Jangan bilang ke siapapun dulu. Ini sangat berbahaya."

Telpon ditutup.

Aku liat hape dengan tangan gemetar.

Sepuluh miliar.

Ini... ini lebih gede dari yang kami kira.

Aku langsung telpon Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna.

"Besok kita ketemu lagi. Ada perkembangan baru."

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!