NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja di Distrik Belanja

Lembayung senja mulai membakar cakrawala Chiba, menyulap langit biru menjadi gradasi jingga dan ungu yang dramatis. Aku berjalan keluar dari stasiun, membiarkan aliran orang-orang yang baru pulang kerja menyeretku menuju distrik perbelanjaan. Di sampingku, Rin berjalan dengan langkah yang sedikit dihentak-hentakkan, tangannya memeluk tas sekolahnya erat-erat sementara matanya sibuk memindai deretan etalase toko.

"Kenapa kau diam saja?" Rin tiba-tiba memecah keheningan, suaranya ketus namun matanya tidak berani menatapku. "Setelah kejadian di sekolah kemarin, kau jadi semakin aneh. Dan jangan pikir aku tidak tahu kalau kau mulai populer di antara gadis-gadis kelas tiga itu."

Aku menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang memantulkan cahaya senja. "Populer adalah istilah untuk mereka yang mencari perhatian, Rin. Aku hanya kebetulan berada di pusat variabel yang sedang bergejolak. Lagipula, bukankah kau harusnya bangga punya kakak yang tidak lagi dianggap sebagai pajangan kelas?"

"Bangga kepalamu!" Rin mendengus, wajahnya sedikit memerah. "Aku hanya tidak mau kau jadi sasaran gosip aneh. Apalagi... aku dengar ada seorang Gyaru yang mendekatimu di koridor hari ini."

Aku terkekeh pelan. Berita di Akademi Sakura ternyata menyebar lebih cepat daripada transmisi data fiber optik. "Informasimu sangat akurat. Tapi tenang saja, seleraku jauh lebih berkelas daripada sekadar rayuan koridor."

Kami memasuki area pasar swalayan yang mulai ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang mencari diskon sore hari. Bau ikan segar, sayuran yang baru disemprot air, dan aroma roti panggang dari bakery di sudut ruangan menciptakan suasana yang sangat membumi.

[Keahlian Memasak: Master - Analisis Bahan Aktif]

Variabel terdeteksi: Daging sapi wagyu grade A sedang diskon 30% di rak nomor tiga. Kesegaran sayur bayam menurun 15%, sarankan alternatif brokoli.

Aku mengambil keranjang belanja dan mulai memilah bahan dengan ketelitian yang hanya dimiliki oleh seorang ahli. Rin hanya mengikutiku dari belakang, sesekali memasukkan camilan favoritnya secara sembunyi-sembunyi ke dalam keranjang. Aku melihatnya, namun aku membiarkannya. Sifat protektifku membuatku merasa bahwa memanjakannya dengan hal-hal kecil seperti ini adalah investasi kebahagiaan yang murah.

"Ren? Kau sedang belanja juga?"

Sebuah suara yang tenang dan sedikit rendah terdengar dari arah rak bumbu dapur. Aku menoleh dan menemukan Eriri Spencer sedang berdiri di sana. Dia tidak mengenakan seragam sekolahnya, melainkan tracksuit hijau kebanggaannya dengan rambut pirang yang dikuncir asal-asalan—penampilan khasnya saat sedang dalam mode "penulis rumahan".

"Eriri? Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja kalah perang dengan naskahmu sendiri," ujarku sembari mendekatinya.

Eriri tersentak, wajahnya langsung memerah padam saat menyadari aku melihat penampilannya yang berantakan. "B-Berisik! Aku hanya sedang kehabisan stok mie instan dan kopi! Dan jangan lihat aku seperti itu, ini pakaian yang paling nyaman!"

Rin melangkah maju, menatap Eriri dengan pandangan menyelidik. "Hmph, sepupu yang satu ini memang tidak punya selera fashion sama sekali kalau di rumah."

"Apa katamu, Rin?!" Eriri mulai meledak, namun dia segera menurunkan volumenya saat menyadari kami sedang di tempat umum. Dia beralih padaku, matanya yang biru berkilat penuh arti. "Ngomong-ngomong, Ren... soal diskusi kita kemarin di studio. Aku sudah mencoba saranmu tentang 'tatapan kosong' itu. Hasilnya... lumayan. Tapi aku butuh bantuanmu lagi untuk adegan latar belakang."

Aku melihat ke sekeliling. Di sini, di antara rak kecap dan saus tiram, bukanlah tempat yang tepat untuk mendiskusikan komposisi estetik mangaka. Namun, sebelum aku sempat menjawab, sebuah sosok lain muncul dari balik rak yang sama.

Utaha Kasumigaoka sedang memegang sebotol anggur memasak, menatap kami dengan senyum manipulatif yang sudah sangat kukenali. Dia mengenakan pakaian kasual yang sangat elegan—mantel panjang hitam dan syal abu-abu yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa daripada usianya.

"Wah, sepertinya distrik belanja ini sedang mengadakan reuni keluarga yang mengharukan," ucap Utaha dengan nada sarkastik yang kental. Matanya beralih ke arah Eriri, lalu ke arahku. "Dan lihatlah 'Sawamura-san' kita yang agung, berbelanja dengan pakaian yang lebih mirip karung sampah hijau."

"KASUMIGAOKA UTAHA! Kenapa kau ada di sini?!" Eriri berteriak tertahan, wajahnya kini merah karena marah, bukan lagi malu.

Interaksi lintas seri ini terjadi begitu organik. Eriri dan Utaha memang sudah memiliki sejarah persaingan panjang di industri kreatif, dan melihat mereka bertemu di pasar swalayan adalah sebuah anomali yang masuk akal di dunia fusi ini.

Aku berdiri di tengah-tengah mereka, menghalangi medan magnet permusuhan yang mulai terbentuk. "Sepertinya variabel di pasar ini mulai menjadi terlalu kompleks. Bagaimana kalau kita selesaikan belanjaan ini sebelum Shizuka-sensei tiba-tiba muncul di sini juga untuk membeli bir?"

Utaha terkekeh, melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya sejengkal. "Kau selalu tahu cara merusak suasana tegang, Saiba-kun. Tapi aku setuju. Berdebat dengan anak kecil berpakaian hijau di tempat umum bukan gayaku."

Rin menarik ujung seragamku, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang jelas pada kehadiran Utaha yang memancarkan aura "wanita dewasa" yang dominan.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Status: Mengamati Dinamika Rivalitas]

[Kemajuan: 72%]

Aku menarik napas panjang. Sepertinya rencana pulang cepat untuk memasak makan malam yang tenang harus sedikit tertunda. Di depanku ada dua seniman besar yang sedang bertikai, dan di sampingku ada adik yang sedang cemburu.

"Rin, ambil brokoli itu. Eriri, simpan mie instanmu dan ikut aku, aku akan mengajarimu cara membuat makanan yang layak agar otakmu tidak tumpul. Dan Senpai..." Aku menoleh pada Utaha dengan tatapan nakal. "Jika kau ingin ikut, pastikan kau punya alasan yang lebih baik daripada sekadar ingin mengejek sepupuku."

Suasana pasar swalayan itu mendadak menjadi hening sesaat karena otoritas yang kutunjukkan. Aku tidak lagi bicara sebagai murid baru, melainkan sebagai pria yang mengendalikan situasi.

Suasana di lorong pasar swalayan itu mendadak terasa lebih sempit. Ketegangan antara Eriri dan Utaha seolah menciptakan medan listrik yang kasat mata, membuat beberapa pengunjung lain memilih untuk berbelok ke arah rak yang berbeda. Aku berdiri di tengah, memegang gagang keranjang belanja dengan santai, sementara Rin di sampingku mulai menunjukkan wajah tidak nyaman—perpaduan antara jengkel dan kewaspadaan terhadap "wanita-wanita asing" yang mengelilingi kakaknya.

Utaha Kasumigaoka menyandarkan punggungnya pada rak bumbu, matanya yang tajam menatap Eriri dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum akhirnya mendarat padaku dengan kilatan nakal. "Alasan yang lebih baik, Saiba-kun? Bagaimana kalau alasannya adalah aku sedang ingin melihat bagaimana seorang 'musafir' sepertimu mengelola kekacauan di dapur? Itu adalah riset karakter yang sangat berharga bagi novelku."

"H-Hah?! Jangan bercanda!" Eriri memprotes, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Ren, kau tidak benar-benar akan membiarkan wanita licik ini datang ke rumah, kan? Dia hanya akan mengacaukan suasana!"

Aku tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Aku hanya menatap Eriri dengan pandangan yang tenang, namun memiliki kedalaman yang membuatnya terdiam. "Dapur adalah wilayah netral, Eriri. Di sana, yang bicara adalah rasa, bukan ego. Jika kau ingin belajar cara menangkap ekspresi 'kepuasan' untuk ilustrasimu, kau tidak akan mendapatkannya dari mie instan yang kau peluk itu."

Eriri menunduk, menatap keranjang belanjanya yang penuh dengan makanan siap saji, lalu menghela napas pasrah. "Terserah kau saja..."

Kami bergerak menuju kasir dalam formasi yang cukup aneh. Aku di depan, diikuti Rin yang terus menempel di sisiku, kemudian Eriri yang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kerah tracksuit, dan terakhir Utaha yang melangkah dengan keanggunan seorang ratu yang sedang melakukan inspeksi wilayah.

Setelah menyelesaikan transaksi, kami berjalan menuju apartemen keluarga Saiba. Matahari sudah benar-benar tenggelam, digantikan oleh lampu-lampu jalan yang memberikan nuansa melankolis pada kota Chiba. Selama perjalanan, Utaha dan Eriri sesekali melempar sindiran tajam tentang industri kreatif, namun aku memilih untuk tidak mengintervensi. Biarlah variabel itu saling bergesekan; terkadang api yang dihasilkan justru melahirkan ide-ide baru.

Sesampainya di rumah, aku segera menuju dapur. Aku tidak ingin membuang waktu. Sifat analitisku langsung memetakan urutan kerja yang paling efisien.

"Rin, ganti pakaianmu dan bantu aku mencuci sayuran. Eriri, kau duduk di meja makan dan perhatikan baik-baik. Dan Senpai... jika kau ingin riset, ambillah catatanmu, tapi jangan menghalangi jalanku," instruksiku dengan nada otoritas yang tenang.

Aku melepas seragam sekolahku, menyisakan kemeja putih yang lengannya kugulung hingga siku. Aku mengenakan apron hitam pemberian Rin, mengikatnya di pinggang dengan gerakan yang mantap.

[Keahlian Memasak: Master - Mode Fokus Teraktivasi]

Tanganku mulai menari. Aku mengambil pisau dapur favoritku, memeriksanya sejenak di bawah cahaya lampu dapur yang terang. Dengan kecepatan yang membuat Eriri dan Utaha terdiam, aku mulai memproses daging wagyu yang tadi kubeli. Setiap irisan memiliki ketebalan yang persis sama, seolah diukur dengan penggaris laser.

Srak, srak, srak.

Suara pisau di atas talenan kayu menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu. Aku tidak hanya memasak; aku sedang menyusun sebuah narasi melalui aroma. Bawang putih yang ditumis dengan mentega mulai mengeluarkan wangi yang sangat menggoda, merambat ke ruang makan dan menyentuh indra penciuman tamu-tamuku.

"Luar biasa..." gumam Utaha tanpa sadar. Dia tidak mencatat apa pun; dia hanya menopang dagunya dengan tangan, matanya tidak lepas dari gerakan tanganku. "Kau bergerak seolah-olah kau tahu persis apa yang diinginkan oleh setiap serat daging itu, Saiba-kun."

"Memasak adalah tentang memahami bahasa bahan, Senpai," jawabku tanpa mengalihkan pandangan. Aku menuangkan sedikit anggur memasak ke atas wajan, menciptakan kobaran api kecil yang terkendali—flambé yang memberikan aroma smoky pada daging. "Jika kau memandangnya hanya sebagai tugas, kau tidak akan pernah merasakan jiwanya."

Rin masuk ke dapur setelah berganti pakaian menjadi kaos santai dan celana pendek. Dia membantu mencuci brokoli, namun sesekali dia melirik ke arah Utaha dan Eriri dengan tatapan waspada. "Kak, kenapa kau memasak porsi sebanyak ini? Kau benar-benar akan memberi makan mereka semua?"

"Berbagi makanan adalah cara tertua manusia untuk menjalin perdamaian, Rin," ujarku sembari menata potongan daging di atas piring saji yang sudah dipanaskan.

Aku menambahkan saus hasil racikanku sendiri—sebuah campuran antara rasa gurih, sedikit manis, dan sentuhan pedas yang elegan. Sebagai sentuhan akhir, aku memberikan taburan lada hitam segar.

"Silakan dinikmati. Wagyu Steak dengan Red Wine Reduction," ucapku sembari menyajikan piring-piring itu di meja makan.

Eriri adalah orang pertama yang mencoba. Dia menusuk sepotong daging kecil, memasukkannya ke dalam mulut, dan seketika itu juga tubuhnya membeku. Matanya membelalak, pipinya merona merah, dan dia tampak seolah-olah baru saja mengalami pencerahan spiritual. "I-ini... bagaimana bisa rasanya selembut ini? Ini jauh lebih enak daripada restoran bintang lima yang pernah dikunjungi ayahku!"

Utaha menyusul dengan gerakan yang lebih anggun. Dia memotong dagingnya dengan presisi, menyesap aromanya sejenak, lalu mencicipinya. Dia menutup matanya, membiarkan rasa itu meledak di lidahnya. "Begitu ya... perpaduan antara kehangatan yang protektif dan ketajaman yang analitis. Masakanmu benar-benar mencerminkan dirimu, Ren Saiba."

Aku duduk di kursi terakhir, menyesap segelas air putih sembari memperhatikan mereka makan. Di bawah cahaya lampu gantung yang hangat, pemandangan ini terasa sangat tenang namun bermakna. Dua rival besar di industri kreatif, seorang adik yang keras kepala, dan aku—semuanya duduk di satu meja yang sama karena aroma masakan.

[Misi Sampingan: Perdamaian di Meja Makan]

[Status: Berhasil]

[Afinitas dengan Eriri & Utaha: Meningkat Drastis]

[Kemajuan Pekerjaan: 75%]

"Jangan terlalu terbiasa dengan ini," ucapku memecah keheningan dengan nada puitis yang sedikit sarkastik. "Besok kita kembali ke kenyataan di mana kalian saling melempar sindiran di koridor sekolah. Tapi untuk malam ini... anggap saja variabel konflik sedang dalam masa hibernasi."

Utaha menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang mengandung lebih dari sekadar apresiasi terhadap makanan. "Kau pria yang sangat berbahaya, Saiba-kun. Kau memberikan kenyamanan yang membuat orang lupa bahwa kau adalah seseorang yang sulit ditaklukkan."

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum penuh makna yang membuat suasana malam itu terasa semakin intim. Di luar, angin malam Chiba berhembus pelan, namun di dalam ruangan ini, kehangatan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!