Perjodohan yang terjadi antara Kalila dan Arlen membuat persahabatan mereka renggang. Arlen melemparkan surat perjanjian kesepakatan pernikahan yang hanya akan berjalan selama satu tahun saja, dan selama itu pula Arlen akan tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Namun bagaimana jika kesalahpahaman yang selama ini diyakini akhirnya menemukan titik terangnya, apakah penyesalan Arlen mendapatkan maaf dari Kalila? Atau kah, Kalila memilih untuk tetap menyelesaikan perjanjian kesepakatan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Belanja
Kalila menghentikan langkahnya begitu Arlen benar-benar membawanya ke depan pintu toko elektronik yang ada di dalam sebuah mall mewah. Mau tak mau Kalila menarik tangan Arlen untuk menghentikan langkah pria itu juga.
"Kenapa? Mau cari toko di mall yang lain?"
"Bukan. Tapi ngapain kita ke sini?" Cicit Kalila.
"Kan tadi aku udah bilang, pokoknya kedai kamu harus punya alat espresso dan oven baru."
"Iya, tapi kenapa harus ke tempat ini? Kan, bisa ke toko elektronik yang harganya lebih miring. Kalo di sini mahal-mahal banget!"
"Ga apa-apa mahal, yang penting awet dan kamu ga kesulitan lagi." Arlen malah menyunggingkan senyuman gantengnya. "Ayo!" Tangannya malah kini yang memegang tangan Kalila dan menarik pelan Kalila untuk masuk ke dalam toko elektronik yang harga-harganya membuat mata Kalila tidak berhenti membeliak.
Tapi pria disebelahnya itu terlihat santai-santai saja. Dia malah minta rekomendasi SPG yang mendampingi mereka untuk dipilihkan mesin espresso dan oven yang paling bagus.
Astaga, harganya membuat Kalila rasanya ingin kabur saja, padahal bukan dia yang mengeluarkan uang, tapi rasanya dia tidak sanggup melihat harga yang ditunjukkan.
"Oke, saya am-"
"Eh, maaf ya, Mbak. Kami masih mau muter-muter dulu. Ga apa-apa, kan?" Kalila memotong ucapan Arlen begitu saja dan langsung menarik pria itu keluar dari toko itu.
"La, ih, kenapa malah ga jadi? Aku tadi udah tanya-tanya banyak loh sama SPG-nya. Itu mesin paling bagus kualitasnya."
"Ar, kamu ga lihat harganya bisa buat bayar uang sewa kedai tiga tahun? Aku ga mau. Terlalu pemborosan."
"Tapi itu yang terbaik. Istriku harus mendapatkan yang terbaik." Arlen mengucapkannya dengan sangat tegas, dia kembali melenggang masuk ke dalam toko, meninggalkan Kalila yang selalu kelu setiap kali Arlen menyebutnya seperti itu. Otaknya menyuruh bibirnya mengelak panggilan itu, tapi hatinya punya kata yang lain.
"Maaf, Nona, kalau saya boleh kasih masukan, lebih baik turuti saja pemaksaan ini. Percuma kalau Nona menolak sekeras apa pun, Tuan akan tetap pada pendiriannya." Noe menghampiri Kalila yang masih terpaku di tempatnya.
Kalila hanya bisa menghela napas panjang melihat Arlen yang kini sudah berdiri di depan oven yang harganya...ah sudahlah, Kalila tidak mau melihatnya, dia memilih untuk menjauh saja.
Sepanjang kakinya bergerak menunggu Arlen menyelesaikan pembayaran, tak hentinya Kalila sebentar-sebentar menahan napas melihat bagaimana toko elektronik ini mematok harga-harga barang dengan sangat fantastis. Kalila hanya bisa tersenyum canggung setiap kali seorang SPG menghampirinya untuk menawarkan barang yang dilihat Kalila.
Apa-apaan, panggangan roti aja sampai satu juta?! Batin Kalila. Mau heran, tapi ini nyata.
Kalila melihat Arlen yang masih berdiri di depan kasir, kemudian terlihat Arlen seperti memberikan instruksi pada salah satu petugas di toko itu, setelahnya Arlen menghampiri Kalila.
"Kamu mau beli panggangan juga? Mau yang warna apa?"
"Engga-engga!" sahut Kalila buru-buru. Lalu dia lebih dulu berjalan keluar dari toko itu dengan langkahnya yang cepat.
Setelah selesai dengan urusan belanja yang sangat menguras kantong jika dilihat melalui sudut pandang Kalila, pria itu tiba-tiba saja meraih tangan Kalila dan membawanya memasuki sebuah restoran.
"Mau ngapain?" tanya Kalila.
"Berenang." Sahut Arlen asbun. "Ya makan, lah. Aku lapar. Memangnya kamu ga lapar habis belanja?"
"Yang belanja, kan, kamu."
"Iya dong, buat kamu." jawab Arlen dengan sangat percaya diri dan senyum yang sumeringah.
Mereka akhirnya menempati meja yang kosong, dan buku menu pun diberikan oleh waiters. Lagi-lagi, mata Kalila harus senam mata, karena harga-harga dari menu yang tersaji bisa membuat seseorang seperti Kalila memilih untuk menunda lapar.
"Ar," Kalila menutup sebagian wajahnya sembari memanggil Arlen dengan volume pelan. "kita pindah aja, yuk."
"Apa?" Arlen menyahut namun dalam volume normal.
"Kita pindah restoran aja." Kalila masih dengan volume pelan seperti berbisik.
Arlen mengangguk. Kalila akhirnya bisa menghela napas lega...tapi hanya sebentar, karena Arlen malah mengangkat tangannya untuk memanggil waiters.
"Istriku mau memesan menu yang paling mahal disini."
"EH!" Kalila menepuk lengan Arlen, dia menggeleng, tapi dia tidak bisa menyela karena suami-nya itu malah terus memesan menu-menu yang lain. Hingga akhirnya Kalila hanya bisa mengikuti masukan dari Noe.
"Kenapa Noe harus duduk jauh dari meja kita?"
"Dia yang mau begitu."
"Tapi, makanannya kamu yan bayarin, kan?"
"Noe yang bayarin kita."
"Heh! Mana bisa begitu? Makanannya mahal-mahal banget!"
Arlen seketika terkekeh, senang sekali melihat bagaimana ekspresi kaget Kalila yang bercampur kesal.
"Becanda, La. Ya iya lah, aku yang bayar, masa Noe."
Kalila mendengkus.
"Lagian kenapa sih, dari tadi sensi amat soal harga, kan, yang bayar aku."
"Iya lah, kamu beliin aku mesin kopi seharga tiga tahun uang sewa kedai aku, trus oven malah lebih parah lagi harganya."
"Kamu ga suka sama mesin kopi dan ovennya? Apa mau diganti saja dengan model yang lain?"
"Enggak!" jawab Kalila dengan tegas. "Kamu coba pikir, kalo kamu beliin aku barang-barang mewah seperti itu, gimana aku bisa ganti ke kamunya?"
"Memang siapa yang suruh ganti?"
"Ya ga ada. Tapi aku ga mau cuma-cuma aja. Apa lagi nanti kalo kita udah selesai kontrak."
"Kamu masih tetap ingin ga mau membatalkan kontrak kita, La?"
Kalila membuang napas. "Kita udah pernah membahas ini, kan, jawabanku tetap sama, Ar. Kamu berhak hidup bersama wanita yang kamu pilih. Begitu pun juga dengan aku."
"Tapi...bagaimana kalau karena perbuatanku malam itu, kamu...hamil?"
"Ga mungkin."
"Kenapa ga mungkin?"
"Karena sekarang aku sedang datang bulan."
.
.
.
Bersambung
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏🏻💐
Semangat & sehat2 slalu utk karyanya terbarunya 💪🏼🥰