NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RODA YANG BERPUTAR

Sinar matahari pagi di Bandung menyelinap masuk lewat sela-sela ruko, menyinari teras yang kini sudah berubah wajah total. Rangga berdiri di tengah teras ruko Pak Haji Mansyur dengan kuas cat di tangan. Dia sedang memberikan sentuhan terakhir pada tiang penyangga kayu yang kini dicat cokelat mengilap. Angkringan Berkah, begitulah nama yang ia pilih. Nama yang bukan cuma sekadar identitas dagang, tapi doa yang setiap hari ia langitkan ke langit Tuhan.

Teras itu kini terasa lebih luas dan bersih sekali. Rangga memasang lampu-lampu gantung bergaya industrial yang ia beli dengan menyisihkan uang receh selama berminggu-minggu hasil jualan serabutan. Di sudut kanan ruko, ada area kecil yang sengaja ia buatkan untuk Rinjani. Ada karpet rumput sintetis yang empuk, sebuah meja kayu mungil, dan tumpukan buku yang tertata rapi. Rangga ingin Rinjani tidak lagi harus tidur di atas kardus atau lantai yang dingin saat ia bekerja malam. Dia ingin anaknya tetap bisa belajar dan bermain meski ayahnya sedang sibuk membakar sate di balik gerobak yang mengepulkan asap.

Rangga menarik napas panjang, menghirup aroma cat yang masih basah bercampur dengan udara sejuk Bandung. Pikirannya melayang sebentar ke masa-masa sulit saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan hati yang hancur lebur. Dulu, ia merasa dunianya sudah kiamat. Tapi sekarang, menatap ruko yang mulai tampak asri ini, Rangga sadar kalau Tuhan tidak pernah tidur. Kebaikan yang ia tanam, meski sempat diinjak-injak oleh istrinya sendiri, kini mulai membuahkan hasil.

"Mas Rangga, kok masih sibuk ngecat aja sih? Ini bukunya Rinjani sudah saya bawakan yang baru loh. Ada buku cerita tentang nabi dan buku mewarnai yang kemarin dia minta," suara lembut itu memecah konsentrasi Rangga.

Syakira datang dengan pakaian syar'i berwarna krem yang tampak anggun dan teduh. Gadis itu tidak pernah absen memberikan dukungan sejak malam pertemuan pertama mereka. Malah, Syakira jugalah yang membantu Rangga mengelola manajemen angkringannya. Dia mengajarkan Rangga bagaimana mencatat arus kas setiap malam, memisahkan uang modal untuk belanja besok, uang tabungan untuk masa depan Rinjani, dan uang hasil bersih yang boleh digunakan.

"Eh, Mbak Syakira. Iya nih, sedikit lagi selesai kok. Biar nanti malam tampilannya lebih segar pas pelanggan datang," jawab Rangga sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Aduh, terima kasih banyak ya Mbak, repot-repot bawain buku terus buat Rinjani. Jadi nggak enak saya."

"Nggak repot kok, Mas. Lagian saya senang lihat Rinjani makin pintar dan ceria sekarang. Sini deh Mas, biar saya bantu rapikan catatan belanjanya di meja sana. Mas lanjutin saja catnya biar cepat kering sebelum hujan sore biasanya turun," sahut Syakira sambil tersenyum tulus, senyuman yang selalu berhasil membuat beban di pundak Rangga terasa lebih ringan.

Rangga menatap punggung Syakira yang kini asyik mengobrol dengan Rinjani di sudut bermain. Ada rasa damai yang tidak pernah ia rasakan selama lima tahun menikah dengan Laras. Di sini, ia dihargai bukan karena berapa banyak uang yang ia bawa pulang, tapi karena ketulusan dan kerja kerasnya. Rangga kini mulai dikenal sebagai "Duda Sukses" di lingkungan ruko itu. Pelanggannya makin banyak, mulai dari mahasiswa sampai pekerja kantoran yang sengaja mampir cuma buat merasakan sambal goang buatannya yang legendaris. Meski begitu, Rangga tetap rendah hati. Dia tetap memakai kaus sederhana dan tidak pernah memamerkan penghasilannya yang kini sudah jauh melampaui hasil ojeknya dulu di Jakarta.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Bandung, langit Jakarta terasa begitu menekan jiwa Larasati. Dia berdiri mematung di depan pintu apartemennya dengan secarik kertas di tangan yang bergetar hebat. Itu adalah surat pengusiran resmi. Pihak manajemen apartemen memberikan waktu cuma dua jam bagi Laras untuk mengosongkan unitnya karena uang sewa sudah menunggak selama tiga bulan penuh.

Laras mencoba menghubungi nomor Badru untuk yang ke sekian kalinya, tapi suara operator yang dingin terus saja menjawab kalau nomor itu tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Badru menghilang. Pria yang dulu menjanjikannya istana dan kemewahan tak terbatas itu lenyap seperti ditelan bumi tepat saat tagihan-tagihan mulai membengkak. Laras terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, menatap kopernya yang terbuka berantakan di tengah ruangan yang dulu ia bangga-banggakan.

"Mas Badru, kamu di mana sih? Kok tega tinggalin aku sendirian begini?" tangis Laras pecah. Suara isaknya menggema di ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa.

Laras tidak punya pilihan lain. Dengan sisa tenaga dan harga diri yang sudah runtuh ke titik nol, dia nekat pergi ke kantor pusat perusahaan tempat Badru bekerja. Dia membayangkan akan bertemu Badru di sana, lalu pria itu akan memeluknya, meminta maaf, dan menyelesaikan semua masalah keuangan ini dengan sekejap. Tapi, sesampainya di lobi kantor yang megah dengan dinding kaca yang berkilau itu, kenyataan pahit kembali menghantamnya lebih keras dari hantaman badai.

"Maaf, Ibu Laras. Pak Badru sudah tidak bekerja di sini sejak dua minggu yang lalu. Beliau dipecat secara tidak hormat karena kasus penggelapan dana perusahaan," ujar petugas resepsionis dengan nada yang sangat formal tapi terasa sangat menusuk telinga.

Seketika, lutut Laras terasa lemas. Dunianya seolah berputar. "Penggelapan dana? Tapi... tapi saya nggak tahu apa-apa soal itu!"

"Dan kami juga harus menginformasikan, karena nama Ibu tercatat sebagai penjamin dalam beberapa dokumen pinjaman dan penggunaan fasilitas kantor yang dilakukan Pak Badru, pihak legal kami mungkin akan segera menghubungi Ibu untuk proses pertanggungjawaban," tambah petugas itu lagi tanpa belas kasihan.

Laras merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dia tertatih keluar dari gedung mewah itu dengan pandangan yang kosong. Semua kemewahan yang ia puja-puja, semua barang bermerek yang ia pamerkan di media sosial, ternyata cuma fatamorgana yang dibangun di atas pasir hisap. Dia kehilangan segalanya dalam sekejap mata. Pekerjaannya di kantor lama pun sudah hilang karena dia terlalu sering mangkir demi mengikuti agenda foya-foya Badru.

Laras duduk di halte bus yang panas dan penuh debu, menatap sepatu mahalnya yang kini sudah mulai lecet. Dia teringat Rangga. Sekelebat bayangan suaminya itu muncul di benaknya. Dia teringat bagaimana Rangga dulu selalu bangun lebih pagi untuk membelikannya sarapan, bagaimana Rangga selalu bekerja sampai tengah malam hingga punggungnya berbau asap knalpot cuma agar Laras bisa beli baju baru. Rangga tidak pernah berbohong padanya, Rangga tidak pernah meninggalkannya saat ia sakit, dan Rangga tidak pernah membiarkan nama Laras tercemar oleh masalah apa pun.

"Aku bodoh sekali ya... kok bisa-bisanya aku buang berlian demi sampah yang dilapisi emas?" bisik Laras pada dirinya sendiri. Air matanya jatuh mengenai permukaan tas mahalnya yang kini terasa berat sekali.

Penyesalan itu datang dengan cara yang sangat kejam. Laras kini sendirian di tengah Jakarta yang liar, tanpa uang di saku, tanpa tempat tinggal yang pasti, dan diburu oleh utang yang bahkan bukan ia yang menghabiskan uangnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Teman-teman sosialitanya seketika menghilang saat tahu dia sedang susah.

Sambil terisak di halte bus, pikiran Laras melayang pada Rinjani. Dia merindukan tawa anaknya, dia merindukan pelukan kecil yang dulu sering ia tepis dengan kasar. "Rinjani... maafin Ibu, Nak," rintihnya lirih. Dia merasa sangat hina sekarang. Dia yang dulu berdiri angkuh mengusir Rangga dengan kata-kata "parasit miskin", kini justru menjadi orang yang paling malang di muka bumi.

Laras menarik kopernya di atas trotoar yang panas, berjalan tanpa tujuan yang pasti di bawah terik matahari Jakarta. Dia melihat bayangan dirinya di kaca-kaca gedung yang ia lewati; wajahnya tampak kusam, matanya sembab, dan auranya begitu menyedihkan. Sangat kontras dengan penampilannya yang penuh kesombongan beberapa minggu lalu.

Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, cuma ada satu nama yang terus berbisik di kepalanya: Bandung. Dia tahu dia harus mencari Rangga ke rumah mertuanya, meski dia tidak tahu apakah pintu rumah itu masih terbuka untuk wanita pengkhianat seperti dirinya. Laras sudah tidak punya harga diri lagi untuk dijaga. Dia cuma ingin selamat, dia cuma ingin punya tempat untuk pulang.

"Rangga, tolong aku sekali saja... aku nggak tahu harus ke mana lagi," rintih Laras di tengah bisingnya klakson kendaraan yang seolah menertawakan nasibnya. Roda kehidupan benar-benar sudah berputar 180 derajat. Pria yang dulu ia usir dalam kehujanan kini sedang membangun istana kesuksesannya, sementara wanita yang mengusirnya kini sedang merayap di tanah, memohon belas kasihan dari takdir yang ia hancurkan sendiri.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Kar Genjreng
semoga punya istri yang ke dua amanah benar benar tulus bisa menjadi istri dan menjadi ibu pengganti yang baik
Kar Genjreng
nah ras penyesalan memang datangnya belakangan,, kalau duluan namanya lamaran,,jadi sekarang nikmat rasa yang pernah kamu torehkan kepada Rangga dan Rinjani,,, sombongmu seperti malaikat pencabut nyawa ,,, sekarang justru mirip seonggok sampah 😆👍👍
Kar Genjreng
😮😮kapok tempe mu sudah ga laku mau balik ke mantan suami yang Lo buang Lo ko enak ,,,,ketika Lo senang ninggalin Suami yang bau oli,,, sekarang begitu si bau oli sudah mandiri bersama putrinya Lo ngemis ihhh menjijikan
Kar Genjreng
sekarang mau mencari pria sampah dan menjijikan ga malu dih kalau Ak jadi mantan Amel ogah amat ga usah di terima barang sudah di jamah pria lain ,,
Kar Genjreng
👍👍harus semangat ya Mas agar kelak bisa meraih kesuksesan Aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: ya harus itu
total 1 replies
Kar Genjreng
Oalah nasib kalau beruntung baru satu malam laku hanya lima ribu,,,dan toko itu sudah di sewakan semoga ada tempat lagi yang lebih ramai dan ramah lingkungan nya 😭😭
Mistikus Kata: semoga mas
total 1 replies
Kar Genjreng
semangat. menjemput rezeki
Mistikus Kata: itu suatu kewajiban
total 1 replies
Kar Genjreng
👍👍 semogaa berhasil ya Rangga tekatmu pasti akan terwujud bismillah,,🙏
Mistikus Kata: kita berdoa saja
total 1 replies
Kar Genjreng
😭😭mudah mudahan ketemu orang baik' dan menolong ayah dan putrinya,, kelak akan hidup bahagia dan bisa membagakan ayahnya,, aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: kerasa banget di bab ini
total 1 replies
Kar Genjreng
seru dan bagus,,
Kar Genjreng
biarpun laki laki jelaskan kumuh tetapi berjuang untuk menyenangkan mu apa balasan nya Lo hina suami li dan ayah dari Putrimu,,,lihat Lo hanya berdagang barang
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
Kar Genjreng
pergi saja Rangga kalau tidak biar binimu yang suruh pergi dan kamu tinggal berdua dengan Rinjani,,
Kar Genjreng
😭😭 terkadang seperti ini suami kerja kasar wanita kerja halus,,,tapi biasanya Wanita nya baik ini beda Wanita nya kejam
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,
Kar Genjreng
mampir semoga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!