NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RODA YANG BERPUTAR

Sinar matahari pagi di Bandung menyelinap masuk lewat sela-sela ruko, menyinari teras yang kini sudah berubah wajah total. Rangga berdiri di tengah teras ruko Pak Haji Mansyur dengan kuas cat di tangan. Dia sedang memberikan sentuhan terakhir pada tiang penyangga kayu yang kini dicat cokelat mengilap. Angkringan Berkah, begitulah nama yang ia pilih. Nama yang bukan cuma sekadar identitas dagang, tapi doa yang setiap hari ia langitkan ke langit Tuhan.

Teras itu kini terasa lebih luas dan bersih sekali. Rangga memasang lampu-lampu gantung bergaya industrial yang ia beli dengan menyisihkan uang receh selama berminggu-minggu hasil jualan serabutan. Di sudut kanan ruko, ada area kecil yang sengaja ia buatkan untuk Rinjani. Ada karpet rumput sintetis yang empuk, sebuah meja kayu mungil, dan tumpukan buku yang tertata rapi. Rangga ingin Rinjani tidak lagi harus tidur di atas kardus atau lantai yang dingin saat ia bekerja malam. Dia ingin anaknya tetap bisa belajar dan bermain meski ayahnya sedang sibuk membakar sate di balik gerobak yang mengepulkan asap.

Rangga menarik napas panjang, menghirup aroma cat yang masih basah bercampur dengan udara sejuk Bandung. Pikirannya melayang sebentar ke masa-masa sulit saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan hati yang hancur lebur. Dulu, ia merasa dunianya sudah kiamat. Tapi sekarang, menatap ruko yang mulai tampak asri ini, Rangga sadar kalau Tuhan tidak pernah tidur. Kebaikan yang ia tanam, meski sempat diinjak-injak oleh istrinya sendiri, kini mulai membuahkan hasil.

"Mas Rangga, kok masih sibuk ngecat aja sih? Ini bukunya Rinjani sudah saya bawakan yang baru loh. Ada buku cerita tentang nabi dan buku mewarnai yang kemarin dia minta," suara lembut itu memecah konsentrasi Rangga.

Syakira datang dengan pakaian syar'i berwarna krem yang tampak anggun dan teduh. Gadis itu tidak pernah absen memberikan dukungan sejak malam pertemuan pertama mereka. Malah, Syakira jugalah yang membantu Rangga mengelola manajemen angkringannya. Dia mengajarkan Rangga bagaimana mencatat arus kas setiap malam, memisahkan uang modal untuk belanja besok, uang tabungan untuk masa depan Rinjani, dan uang hasil bersih yang boleh digunakan.

"Eh, Mbak Syakira. Iya nih, sedikit lagi selesai kok. Biar nanti malam tampilannya lebih segar pas pelanggan datang," jawab Rangga sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Aduh, terima kasih banyak ya Mbak, repot-repot bawain buku terus buat Rinjani. Jadi nggak enak saya."

"Nggak repot kok, Mas. Lagian saya senang lihat Rinjani makin pintar dan ceria sekarang. Sini deh Mas, biar saya bantu rapikan catatan belanjanya di meja sana. Mas lanjutin saja catnya biar cepat kering sebelum hujan sore biasanya turun," sahut Syakira sambil tersenyum tulus, senyuman yang selalu berhasil membuat beban di pundak Rangga terasa lebih ringan.

Rangga menatap punggung Syakira yang kini asyik mengobrol dengan Rinjani di sudut bermain. Ada rasa damai yang tidak pernah ia rasakan selama lima tahun menikah dengan Laras. Di sini, ia dihargai bukan karena berapa banyak uang yang ia bawa pulang, tapi karena ketulusan dan kerja kerasnya. Rangga kini mulai dikenal sebagai "Duda Sukses" di lingkungan ruko itu. Pelanggannya makin banyak, mulai dari mahasiswa sampai pekerja kantoran yang sengaja mampir cuma buat merasakan sambal goang buatannya yang legendaris. Meski begitu, Rangga tetap rendah hati. Dia tetap memakai kaus sederhana dan tidak pernah memamerkan penghasilannya yang kini sudah jauh melampaui hasil ojeknya dulu di Jakarta.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Bandung, langit Jakarta terasa begitu menekan jiwa Larasati. Dia berdiri mematung di depan pintu apartemennya dengan secarik kertas di tangan yang bergetar hebat. Itu adalah surat pengusiran resmi. Pihak manajemen apartemen memberikan waktu cuma dua jam bagi Laras untuk mengosongkan unitnya karena uang sewa sudah menunggak selama tiga bulan penuh.

Laras mencoba menghubungi nomor Badru untuk yang ke sekian kalinya, tapi suara operator yang dingin terus saja menjawab kalau nomor itu tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Badru menghilang. Pria yang dulu menjanjikannya istana dan kemewahan tak terbatas itu lenyap seperti ditelan bumi tepat saat tagihan-tagihan mulai membengkak. Laras terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, menatap kopernya yang terbuka berantakan di tengah ruangan yang dulu ia bangga-banggakan.

"Mas Badru, kamu di mana sih? Kok tega tinggalin aku sendirian begini?" tangis Laras pecah. Suara isaknya menggema di ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa.

Laras tidak punya pilihan lain. Dengan sisa tenaga dan harga diri yang sudah runtuh ke titik nol, dia nekat pergi ke kantor pusat perusahaan tempat Badru bekerja. Dia membayangkan akan bertemu Badru di sana, lalu pria itu akan memeluknya, meminta maaf, dan menyelesaikan semua masalah keuangan ini dengan sekejap. Tapi, sesampainya di lobi kantor yang megah dengan dinding kaca yang berkilau itu, kenyataan pahit kembali menghantamnya lebih keras dari hantaman badai.

"Maaf, Ibu Laras. Pak Badru sudah tidak bekerja di sini sejak dua minggu yang lalu. Beliau dipecat secara tidak hormat karena kasus penggelapan dana perusahaan," ujar petugas resepsionis dengan nada yang sangat formal tapi terasa sangat menusuk telinga.

Seketika, lutut Laras terasa lemas. Dunianya seolah berputar. "Penggelapan dana? Tapi... tapi saya nggak tahu apa-apa soal itu!"

"Dan kami juga harus menginformasikan, karena nama Ibu tercatat sebagai penjamin dalam beberapa dokumen pinjaman dan penggunaan fasilitas kantor yang dilakukan Pak Badru, pihak legal kami mungkin akan segera menghubungi Ibu untuk proses pertanggungjawaban," tambah petugas itu lagi tanpa belas kasihan.

Laras merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dia tertatih keluar dari gedung mewah itu dengan pandangan yang kosong. Semua kemewahan yang ia puja-puja, semua barang bermerek yang ia pamerkan di media sosial, ternyata cuma fatamorgana yang dibangun di atas pasir hisap. Dia kehilangan segalanya dalam sekejap mata. Pekerjaannya di kantor lama pun sudah hilang karena dia terlalu sering mangkir demi mengikuti agenda foya-foya Badru.

Laras duduk di halte bus yang panas dan penuh debu, menatap sepatu mahalnya yang kini sudah mulai lecet. Dia teringat Rangga. Sekelebat bayangan suaminya itu muncul di benaknya. Dia teringat bagaimana Rangga dulu selalu bangun lebih pagi untuk membelikannya sarapan, bagaimana Rangga selalu bekerja sampai tengah malam hingga punggungnya berbau asap knalpot cuma agar Laras bisa beli baju baru. Rangga tidak pernah berbohong padanya, Rangga tidak pernah meninggalkannya saat ia sakit, dan Rangga tidak pernah membiarkan nama Laras tercemar oleh masalah apa pun.

"Aku bodoh sekali ya... kok bisa-bisanya aku buang berlian demi sampah yang dilapisi emas?" bisik Laras pada dirinya sendiri. Air matanya jatuh mengenai permukaan tas mahalnya yang kini terasa berat sekali.

Penyesalan itu datang dengan cara yang sangat kejam. Laras kini sendirian di tengah Jakarta yang liar, tanpa uang di saku, tanpa tempat tinggal yang pasti, dan diburu oleh utang yang bahkan bukan ia yang menghabiskan uangnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Teman-teman sosialitanya seketika menghilang saat tahu dia sedang susah.

Sambil terisak di halte bus, pikiran Laras melayang pada Rinjani. Dia merindukan tawa anaknya, dia merindukan pelukan kecil yang dulu sering ia tepis dengan kasar. "Rinjani... maafin Ibu, Nak," rintihnya lirih. Dia merasa sangat hina sekarang. Dia yang dulu berdiri angkuh mengusir Rangga dengan kata-kata "parasit miskin", kini justru menjadi orang yang paling malang di muka bumi.

Laras menarik kopernya di atas trotoar yang panas, berjalan tanpa tujuan yang pasti di bawah terik matahari Jakarta. Dia melihat bayangan dirinya di kaca-kaca gedung yang ia lewati; wajahnya tampak kusam, matanya sembab, dan auranya begitu menyedihkan. Sangat kontras dengan penampilannya yang penuh kesombongan beberapa minggu lalu.

Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, cuma ada satu nama yang terus berbisik di kepalanya: Bandung. Dia tahu dia harus mencari Rangga ke rumah mertuanya, meski dia tidak tahu apakah pintu rumah itu masih terbuka untuk wanita pengkhianat seperti dirinya. Laras sudah tidak punya harga diri lagi untuk dijaga. Dia cuma ingin selamat, dia cuma ingin punya tempat untuk pulang.

"Rangga, tolong aku sekali saja... aku nggak tahu harus ke mana lagi," rintih Laras di tengah bisingnya klakson kendaraan yang seolah menertawakan nasibnya. Roda kehidupan benar-benar sudah berputar 180 derajat. Pria yang dulu ia usir dalam kehujanan kini sedang membangun istana kesuksesannya, sementara wanita yang mengusirnya kini sedang merayap di tanah, memohon belas kasihan dari takdir yang ia hancurkan sendiri.

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!