NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:637.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posesif di hari pertama

​Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kamar, namun suasana di dalam kamar utama mansion Ardiansyah terasa lebih sibuk dari biasanya. Hari ini adalah hari pertama Gia akan menginjakkan kaki di universitas sebagai mahasiswi seni. Di atas ranjang, Gia sedang memeriksa isi tas kulit cokelatnya untuk kesekian kalinya, buku sketsa, pensil berbagai ukuran, dan tablet grafis yang semuanya merupakan pilihan terbaik dari Ares.

​Gia mengenakan salah satu setelan yang dijahit Madame Clarissa tempo hari. Sebuah kemeja putih dengan aksen pita kecil di leher yang dipadukan dengan rok high waisted berwarna abu-abu muda. Penampilannya sangat segar, memancarkan aura intelek namun tetap lembut. Namun, di sudut ruangan, Ares berdiri dengan tangan bersedekap, memerhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan tatapan yang sangat intens.

​"Gia, kemari sebentar!" Panggil Ares. Suaranya rendah, memiliki nada otoriter yang biasanya ia gunakan di ruang rapat.

​Gia menghampiri suaminya dengan wajah penuh tanya.

"Ada apa, Mas? Ada yang salah dengan penampilan Gia?"

​Ares tidak menjawab. Ia justru meraih kerah kemeja Gia, merapikannya sedikit, lalu jemarinya bergerak menutup kancing teratas yang sebenarnya tidak perlu dikancingkan. Ia juga menggeser posisi kalung berlian Gia agar terlihat jelas di tengah. Ares menatap wajah Gia, mengamati riasan tipis yang membuatnya terlihat terlalu menarik di mata pria lain.

​"Dengar, Gia!" Ares memegang kedua bahu Gia, memaksa istrinya menatap langsung ke matanya yang tajam.

"Universitas itu tempat yang bebas. Kamu akan bertemu dengan banyak orang seniman, mahasiswa tingkat akhir, bahkan dosen-dosen muda yang mungkin merasa mereka punya kharisma"

​Gia tersenyum kecil, merasa geli dengan nada bicara Ares.

"Lalu?"

​"Lalu, Mas tidak ingin kamu terlalu ramah" Tegas Ares.

"Kalau ada yang tanya namamu, kau harus jawab Giana Ardiansyah!" Ares sudah seperti ingin mentato nama Ardiansyah di kening Gia agar semua orang tau siapa pemilik Gia sebenarnya.

"Hmm, apa lagi selain itu Mas?" Gia berusaha menahan senyumnya.

"Kalau ada yang mencoba meminta nomor ponselmu dengan alasan diskusi seni, kau jawab saja suami saya galak!"

Gia menahan mati-matian agar tawanya tidak meledak.

"Jangan memberikan senyuman yang terlalu manis pada sembarang orang. Kalau ada pria yang mencoba mengajakmu bicara di luar urusan tugas, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"

​"Bilang kalau saya sudah punya suami yang sangat protektif?" Goda Gia, matanya berkilat jahil.

​Ares tidak tertawa. Ia justru menarik pinggang Gia agar merapat padanya.

"Jangan bercanda, Gia. Mas serius. Kamu adalah milik Ardiansyah. Mas sudah mengatur agar sopir pribadimu menunggumu tepat di depan lobi gedung seni setiap kali kelas selesai. Jangan pergi ke kafe di luar kampus tanpa memberitahu Mas. Dan yang paling penting..."

​Ares meraih tangan kiri Gia, mengangkat jemari manisnya yang dilingkari cincin pernikahan yang berkilau.

"Jangan pernah lepaskan cincin ini. Biarkan ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang mencoba mendekat bahwa kamu sudah ada yang memiliki. Mas tidak suka berbagi perhatian, bahkan untuk sekadar sapaan dari pria lain!"

​Gia tertegun melihat sisi posesif Ares yang begitu meledak-ledak pagi ini. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Meskipun terdengar mengekang, ia tahu ini adalah bentuk rasa takut kehilangan yang dimiliki Ares.

​"Mas Ares, Gia ke sana untuk belajar, bukan untuk mencari perhatian!" Bisik Gia sambil mengusap rahang tegas suaminya.

"Mas harus percaya pada saya. Di hati saya hanya ada satu pria, dan dia sedang berdiri di depan saya sekarang!"

​Ares menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak protektif yang membakar dadanya. Ia mengecup kening Gia dengan sangat lama.

"Mas percaya padamu, Gia. Mas hanya tidak percaya pada pria-pria di luar sana yang mungkin melihat apa yang Mas lihat dalam dirimu"

​Perjalanan menuju kampus dilakukan dengan mobil sedan hitam paling mewah milik Ares. Ares bersikeras untuk mengantar sendiri di hari pertama ini, menunda rapat paginya demi memastikan Gia sampai dengan selamat. Sepanjang jalan, tangan Ares tidak pernah melepaskan genggaman dari tangan Gia, seolah ia sedang mencoba menyalurkan kekuatannya.

​Begitu mobil mewah itu memasuki area kampus, perhatian semua mahasiswa yang sedang berlalu-lalang langsung tertuju pada kendaraan tersebut. Kehadiran mobil mewah di fakultas seni adalah pemandangan yang langka.

​Ares menghentikan mobil tepat di depan gedung utama fakultas seni. Sebelum Gia turun, Ares kembali menariknya untuk sebuah kecupan singkat namun penuh penekanan di bibir.

"Ingat kata-kata Mas tadi. Mas akan menjemputmu tepat pukul empat sore. Jangan terlambat satu menit pun!"

"Loh, katanya tadi supir yang akan menjemput Gia?"

"Tidak jadi!" Jawab Ares ketus.

​"Iya iya, Mas. Gia mengerti," Jawab Gia dengan senyum menenangkan.

​Gia turun dari mobil, dan seketika ia merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Ia merasa sedikit canggung, namun ia teringat pesan Ares untuk berdiri tegak. Ia menyandang tas kulitnya dan berjalan masuk ke koridor kampus.

​Baru beberapa langkah Gia berjalan, seorang mahasiswa tingkat akhir dengan rambut gondrong dan gaya khas seniman mendekatinya.

"Hai, mahasiswi baru ya? Butuh bantuan mencari ruang studio?" Tanya pria itu dengan nada yang sangat ramah.

​Gia teringat peringatan Ares. Ia memberikan senyum yang sangat formal, hampir dingin.

"Terima kasih, tapi saya sudah tahu jalannya. Permisi"

​Gia terus berjalan tanpa menoleh lagi, meninggalkan pria itu yang tampak terperangah. Di dalam hatinya, Gia tertawa kecil. Mas Ares benar, ternyata tidak sampai lima menit saya sudah ada yang menyapa, pikirnya.

​Namun, Gia tidak menyadari bahwa di dalam mobil yang masih terparkir tak jauh dari sana, Ares belum beranjak. Ia memerhatikan interaksi singkat itu melalui kaca film mobil yang gelap. Matanya menyipit saat melihat pria itu mendekati istrinya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat hingga buku jarinya memutih.

​"Cari tahu siapa mahasiswa itu!" Perintah Ares dingin setelah mengirim sebuah foto pada asistennya yang saat ini ia hubungi.

"Pastikan dia tahu siapa suami dari wanita yang dia ajak bicara tadi!"

​Ares baru melajukan mobilnya setelah memastikan Gia sudah benar-benar masuk ke dalam gedung dan menghilang dari pandangannya. Bagi Ares, memberikan kebebasan pada Gia untuk kuliah adalah ujian terbesar bagi kesabarannya. Ia ingin istrinya berkembang, namun di sisi lain, sisi gelapnya ingin mengurung Gia di dalam mansion agar hanya ia yang bisa menikmati kecantikan dan bakat istrinya.

​Hari pertama kuliah Gia dimulai dengan semangat yang membara, namun ia juga tahu bahwa di balik kebebasannya, ada seorang singa Ardiansyah yang siap menerkam siapa pun yang berani mengganggu miliknya. Perjalanan Gia untuk menjadi mahasiswi seni bukan hanya soal belajar melukis, tapi juga soal bagaimana ia menjaga kepercayaan dari pria yang paling ia cintai di tengah godaan dunia luar.

1
Kukun Sabarno
palingan nanti Siska pulang minta balikan🤭
febby fadila
loh tamat si thor blom juga lihat gimana proses kenbang anakya, tp semangat kak san cerita bagus ♥️♥️♥️♥️🥰🥰🥰
febby fadila
baru nemu dicerita ini klw mertua yg plin plan swpwrti nyonya besar ini
febby fadila
ciiieee bang ares sdah buka puasa setelah sekian purnama mencari sang istri yg kabur 🥰🤣🤣
febby fadila
kenangan terindah sebelum pulang ke kota ♥️🥰🤣
febby fadila
lagian jadi sekdes wong mulurnya pedas amat kek ibu² rempong yg belanja di gerobak pedagang sayur 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
semoga aja nggak ada konflik lagi
febby fadila
ya elah pak sekdes kepo
febby fadila
sunggu cobaan nggaja da habisnya buat kalian berdua ini
febby fadila
semangat ya ares
febby fadila
🤣🤣🤣🤣 bumil kena mental ta 🤣🤣
febby fadila
si aki aki klw sdah cemburu tu seram banget 🤣🤣
febby fadila
gimana kbarnya si nyonya besar ini 🤣🤣🤣 klw tau anak nya jadi kuli padi 🤣🤣
febby fadila
ada aja yg bikin ares cemburu 🤣🤣🤣
febby fadila
semangat ya ares semoga hati gia cepat luluh biar romantis lagiv🥰🥰♥️
febby fadila
hooo jangan bodoh lagi ares dan kemakan omongan orang lagi
febby fadila
tadinya aku kira mereka akan bertemu 5 thn kemudian dan gia sdah punya anak dari ares yg disembunyikan 🤣🤣 ternyata lain juga ini cerita ♥️🥰
febby fadila
seorang CEO yg berkuasa seperti ares ini nggak bisa menemukan gia yg hanya wanita biasa,
febby fadila
ciiihhh bertahun tahun hidup dibawah keteknya sarah kau hilman, menyianyiakan anak kandungmu dan sekarang kalian sdah bangkrut baru pura² menyesal cihhh..
febby fadila
semangat ya res semoga aja gia masih mau kembali sama kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!