NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:95k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Kabar Duka

Air dari kran kamar mandi mengalir deras, membasahi ubin yang terasa dingin di telapak kaki.

Hanin berdiri cukup lama di bawah guyuran itu. Bukan hanya untuk membersihkan tubuhnya, tapi seperti ingin menghapus sisa-sisa perasaan yang sejak pagi mengganjal di dada.

Ia menutup mata. Air bercampur dengan air mata yang tak sepenuhnya berhenti.

“Ini lembaran baru,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu harus kuat.”

Dari luar kamar mandi terdengar suara Ghania mengetuk pelan.

“Hanin? Sudah hampir Dzuhur, ya. Jangan kelamaan, nanti kita telat ke aula.”

“Iya … sebentar lagi,” jawab Hanin, suaranya sedikit serak.

Beberapa menit kemudian, Hanin keluar dengan pakaian yang rapi dan kerudung yang sudah terpasang lebih tenang. Rambutnya yang masih lembap ia rapikan cepat. Ghania sudah siap dengan mukena terlipat di tangannya.

“Kita biasanya langsung dari aula ke musala,” jelas Ghania. “Jadi mukena sekalian saja dibawa.”

Hanin mengangguk. “Baik.”

“Deg-degan?” tanya Ghania tiba-tiba sambil tersenyum miring.

“Sedikit.”

“Tenang saja. Perkenalannya nggak bikin kamu disuruh pidato panjang kok. Cuma nama, asal, alasan masuk pondok. Selesai.”

Alasan masuk pondok. Kalimat itu membuat jantung Hanin berdetak sedikit lebih cepat. Ia belum siap menjawab pertanyaan itu dengan jujur.

“Kalau lupa ngomong, tinggal bilang aja, ‘mohon bimbingannya.’ Pasti semua senyum,” lanjut Ghania bercanda.

Hanin tertawa kecil. “Kamu sering bantuin santri baru ya?”

“Lumayan. Aku sudah hafal ekspresi mereka. Mata sembap, suara pelan, jawabnya singkat-singkat.”

Hanin menatapnya. “Aku termasuk ya?”

“Banget.”

Keduanya tertawa ringan. Untuk pertama kalinya, langkah Hanin terasa sedikit lebih ringan saat mereka keluar kamar.

Lorong lantai dua sudah mulai ramai. Beberapa santri berjalan beriringan, membawa Alquran dan mukena. Suara sandal beradu dengan lantai kayu terdengar bersahut-sahutan.

“Assalamu’alaikum, Ghania,” sapa seorang santri.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Ghania ramah.

Tatapan beberapa pasang mata sempat berhenti di wajah Hanin.

“Santri baru ya?”

“Iya,” jawab Ghania cepat. “Nanti kenalan di aula.”

Hanin hanya tersenyum tipis. Mereka menuruni tangga kayu yang berderit pelan. Udara siang mulai terasa hangat, tapi angin desa tetap membawa kesejukan yang berbeda dari kota.

Aula terlihat cukup luas. Lantainya bersih dengan tikar panjang digelar rapi. Di depan ada meja kecil dan mikrofon sederhana.

“Biasanya duduk melingkar saja,” kata Ghania. “Santri baru di depan.”

“Di depan?” ulang Hanin pelan.

“Iya. Biar kelihatan.”

Jantung Hanin kembali berdegup lebih cepat. Belum sempat mereka melangkah masuk ke dalam aula, terdengar suara yang memanggil dari samping bangunan utama.

“Hanin.”

Langkah Hanin terhenti. Ghania ikut berhenti.

Di bawah pohon besar tak jauh dari aula, Ustaz Hamid berdiri dengan wajah yang sulit ditebak.

“Iya, Ustaz?” jawab Hanin sopan.

“Sebentar, Nak. Ke sini dulu.”

Hanin menoleh pada Ghania.

“Kamu masuk dulu saja,” ujar Ustaz Hamid lembut pada putrinya. “Bapak akan menyusul.”

Ghania mengangguk, meski wajahnya menyimpan tanda tanya. “Baik, Abah.”

Sebelum masuk aula, Ghania berbisik cepat pada Hanin, “Nanti aku simpan tempat duduk ya.”

Hanin hanya mengangguk pelan. Ia berjalan mendekat ke arah Ustaz Hamid. Langkahnya terasa aneh. Ada sesuatu di nada suara beliau yang berbeda. Tidak seperti tadi pagi.

“Ustaz memanggil saya?” tanya Hanin hati-hati.

Ustaz Hamid tersenyum tipis. “Iya. Hanin tidak perlu ikut perkenalan di aula.”

Hanin mengerjap. “Tidak perlu, Ustaz?”

“Tidak.”

“Tapi … tadi Ghania bilang—”

“Tidak apa-apa.” Suara beliau tetap lembut, tapi tegas. “Ada hal yang perlu kita bicarakan.”

Hanin menelan ludah. “Sekarang, Ustaz?”

“Iya. Mari ke ruang guru.”

Ruang guru berada di samping kantor administrasi. Sebuah ruangan sederhana dengan rak buku tinggi, meja kayu panjang, dan beberapa kursi. Hanin masuk dengan perasaan tak menentu.

Ustaz Hamid mempersilahkannya duduk. “Duduklah, Nak.”

Hanin duduk di kursi kayu yang terasa dingin. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Di luar, terdengar samar suara santri di aula mulai berkumpul. Ada yang tertawa kecil, ada yang bercakap pelan.

Suasana di dalam ruangan justru terasa sunyi. Ustaz Hamid duduk di seberangnya.

Beberapa detik beliau hanya diam. Hanin mulai merasa gelisah.

“Ustaz … apa ada yang salah?” tanyanya pelan.

Ustaz Hamid menarik napas panjang. “Hanin,” ucapnya hati-hati, “Apa pun yang Ustaz sampaikan nanti, kamu harus berusaha sabar.”

Sabar. Kata itu membuat jantung Hanin seperti tersentak.

“Sabar?” ulangnya pelan.

“Iya.”

“Kenapa, Ustaz?”

Ustaz Hamid menatapnya dalam-dalam. Tatapan seorang ayah. Bukan hanya seorang pengasuh pesantren.

“Tadi pagi, setelah orang tuamu meninggalkan pondok .…”

Hanin langsung menegakkan badan. “Iya?”

“Di perjalanan pulang, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.”

Dunia seperti berhenti. “Apa?” Suara Hanin hampir tak terdengar.

“Mereka mengalami kecelakaan, Nak.”

Hanin menatap wajah Ustaz Hamid, mencoba mencari tanda bahwa ini hanya salah dengar. Hanya salah paham.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Ustaz Hamid melanjutkan dengan suara yang tetap tenang, meski matanya menunjukkan keprihatinan.

“Bapak baru saja menerima telepon dari rumah sakit di kota.”

Rumah sakit. Kata itu menghantam lebih keras.

“Abi … dan Umi?” suara Hanin bergetar.

“Mereka sedang dalam penanganan medis.”

Hanin merasa telinganya berdenging. “Penanganan … maksudnya bagaimana, Ustaz?” tanyanya cepat. “Mereka baik-baik saja, kan? Tidak… tidak apa-apa, kan?”

Ustaz Hamid terdiam sesaat. "Mereka masih dirawat. Kondisinya belum bisa dipastikan sepenuhnya.”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menusuk. Belum bisa dipastikan. Hanin berdiri mendadak.

“Saya harus pulang.”

Tubuhnya gemetar.

“Saya harus ke rumah sakit, Ustaz. Saya harus tau keadaan Abi dan Umi.”

Ia hampir melangkah, tapi lututnya terasa lemas. Hanin merasa dunia hancur. Membayangkan kedua orang tuanya berada di rumah sakit.

1
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Mardiana: tapi memang kebanyakan orang suka begitu datang ke kuburan berdoa untuk almarhum endingnya minta di doain. maaf memang keliru🙏🙏
total 2 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
Ilfa Yarni
loh fahmi ngapain datang ke kuburannya orangtua hanin apa tujuannya
ken darsihk: Mungkin Fahmi mau minta maaf ke makam abi da umi nya Hanin
Karena secara tidak langsung penyebab kematian orang tua nya Hanin ya dia dan mama nya Fahmi
total 1 replies
Oma Gavin
ngapain fahmi datang ngga ngaruh sama hanin
Lela Angraini
hohohoooo,,ada apakah ini?🤔🤔 sprtiny ada sesuatu disini,,knp fahmi tba" muncul? hayo hayoooo
dyah EkaPratiwi
ngapain Fahmi Dateng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!