NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 DARAH DI ASPAL

Dokter itu menyebut angka. Aryo lupa persisnya. Yang ia ingat, tubuhnya langsung lemas. Lututnya gemetar. Dunia serasa berhenti berputar.

Dua juta. Tiga juta. Entahlah. Yang jelas, itu angka yang tak pernah ia pegang dalam seumur hidup.

Aryo duduk di lorong. Sendiri. Lampu neon mendengung. Bau obat menyengat. Dari kejauhan, suara bayi menangis. Bukan anaknya. Anaknya diam. Terus diam.

Ia merogoh saku celana. Uang Rp 5.000. Sisa dari ongkos ke sini.

"Pak..."

Aryo menoleh. Bu Satinah berdiri di sampingnya. Wajah bulatnya penuh iba.

"Pak, saya pulang dulu. Ngurus anak. Besok saya balik."

Aryo mengangguk. Nggak bisa ngomong.

Bu Satinah pergi. Langkahnya menjauh. Sepatu jepitnya berdetak di lantai. Semakin lama semakin hilang.

Tinggal Aryo sendiri. Di lorong panjang itu. Dengan Rp 5.000 di saku. Dengan bayi yang diam di inkubator. Dengan istri yang belum sadar di UGD.

 

Pagi buta. Aryo nggak tidur semalaman. Ia cuma duduk di kursi besi dekat jendela NICU. Memandangi inkubator dari kejauhan.

Perawat ganti jaga. Dokter ganti shift. Pasien datang, pasien pergi. Tapi Aryo tetap di situ. Seperti patung.

Jam enam pagi, pintu UGD terbuka. Seorang perawat keluar. Melihat Aryo.

"Pak, Mbak Dewi sudah sadar. Ingin ketemu Bapak."

Aryo bangkit. Lututnya kaku. Kepalanya pusing. Tapi ia lari setengah tersandung ke ruang UGD.

Dewi terbaring di ranjang. Wajahnya pucat. Tapi matanya terbuka. Ia tersenyum lihat Aryo.

"Mas..."

Aryo pegang tangannya. Tangannya gemetar. "Ri... kamu... kamu selamat..."

Dewi mengangguk lemah. "Anak... anak kita, Mas?"

Aryo diam sebentar. Harus jujur atau nggak?

"Anak kita selamat, Ri. Perempuan. Cantik."

Dewi tersenyum. Senyum lebar pertama setelah berhari-hari. "Bisa... bisa aku lihat?"

Aryo menggeleng. "Masih di inkubator, Ri. Kata dokter, harus dirawat dulu. Paru-parunya belum kuat."

Dewi mengangguk, meski matanya kecewa. "Terus... terus kapan bisa lihat?"

"Nanti, Ri. Nanti kalau udah boleh."

Dewi diam. Lalu tiba-tiba matanya berkaca. "Mas... bayar rumah sakit... gimana? Aku dengar... dengar biayanya banyak..."

Aryo kaget. "Kamu dengar dari mana?"

"Perawat... perawat ngomong sama suster... aku dengar..."

Aryo menggenggam tangan Dewi. "Nggak usah mikir itu, Ri. Yang penting kamu sehat. Anak kita sehat. Urusan uang... aku urus."

Dewi menangis. "Mas... aku takut... aku takut ngerepotin..."

"NGACO!" potong Aryo, tapi suaranya lembut. "Kamu istriku. Bukan repotan. Kamu segalanya buat aku."

 

Dari pintu, seorang suster memanggil. "Pak, saya mau bicara soal administrasi."

Aryo keluar. Diikuti suster ke ruang administrasi. Seorang wanita berkacamata duduk di depan meja. Wajahnya datar.

"Pak, ini rincian biaya untuk dua pasien: istri Bapak di UGD dan bayi di NICU."

Wanita itu memberikan secarik kertas. Aryo baca. Angka-angka berjajar rapi. Tapi satu angka yang paling besar: Rp 3.450.000.

"Uang muka dulu, Pak. Minimal 1,5 juta. Sisanya bisa dicicil."

Aryo diam. 1,5 juta. Dari mana?

"Pak?" wanita itu menatapnya. "Bisa bayar?"

Aryo geleng. "Nggak... nggak ada, Bu. Saya... saya penarik becak."

Wanita itu diam. Lalu menunjuk ke luar. "Di sebelah sana ada pos pelayanan sosial. Coba ke sana. Minta surat keterangan tidak mampu. Nanti bisa dapat keringanan."

Aryo mengucap terima kasih berkali-kali. Ia keluar. Tapi kakinya nggak ke pos sosial. Ia ke tempat telepon umum.

Ia telepon tetangga. Minta tolong panggilkan rentenir.

 

Siang harinya, seorang pria datang ke rumah sakit. Badan gempal, pakai kemeja lusuh. Tapi matanya tajam.

"Pak Aryo? Saya Kirman. Dari desa Bapak."

Aryo mengangguk. "Ia, Pak. Saya pinjam uang."

Rentenir itu tersenyum. "Berapa?"

"1,5 juta."

"Bunga 20 persen per bulan. Jaminan?"

Aryo diam. Jaminan? Apa yang bisa dijaminkan?

"Becak," katanya akhirnya. "Becak saya."

Rentenir mengangguk. "Bawa surat-suratnya besok. Nanti saya transfer."

Aryo lega. Tapi dalam hati, ia takut. Becak satu-satunya penghasilan. Kalau sampai nggak bisa bayar, besok narik apa?

Tapi untuk sekarang, yang penting istri dan anaknya selamat.

 

Sore harinya, Aryo ke NICU lagi. Ia berdiri di depan kaca. Bayinya masih di inkubator. Masih diam.

Tapi kali ini, Aryo perhatikan detail. Bayinya kecil sekali. Mungil. Tangan dan kakinya kurus. Kulitnya merah, transparan. Aryo bisa lihat pembuluh darah di bawah kulit.

Di kepala, ada selang infus. Di hidung, ada selang oksigen. Dada kecil itu naik turun pelan. Sangat pelan.

Aryo tempelkan tangan ke kaca.

"Nak... Bapak lagi. Ini Bapak. Bapak udah dapet uang buat bayar rumah sakit. Kamu nggak usah khawatir. Kamu di sini aja dulu, sampai sembuh."

Bayinya tak bergerak. Tapi mata Aryo tetap tertuju ke sana.

"Bapak nggak tahu kamu sakit apa, Nak. Bapak cuma penarik becak. Tapi Bapak janji: apapun yang terjadi, Bapak nggak bakal ninggalin kamu. Kamu anak Bapak pertama. Kamu istimewa."

Air matanya jatuh. Jatuh di lantai.

Dari belakang, suster yang jaga NICU menghampiri. "Pak, kasihan ya. Tapi anak Bapak kuat, kok. Dia berjuang."

Aryo menoleh. "Mbak, anak saya... kenapa sih Mbak? Kenapa dia nggak nangis kayak bayi lain?"

Suster itu diam sebentar. "Saya nggak berani bilang, Pak. Nanti dokter yang jelasin. Tapi dari yang saya lihat... kayaknya ada masalah di sarafnya."

Aryo diam. Kata "saraf" itu asing. Tapi terdengar menakutkan.

 

Malam harinya, Aryo tidur di lorong lagi. Kali ini ia bawa koran bekas. Digelar di lantai, dekat pintu UGD. Supaya kalau Dewi butuh sesuatu, ia cepat masuk.

Jam 2 pagi. Aryo terbangun. Ada yang menyentuh pundaknya. Seorang suster.

"Pak, Mbak Dewi minta ditemani."

Aryo bangun. Masuk ke UGD. Dewi terbaring, matanya terbuka.

"Mas... aku nggak bisa tidur..."

Aryo duduk di sampingnya. "Kenapa, Ri?"

Dewi menatapnya. "Aku takut, Mas... takut... aku mimpi anak kita... dia... dia nggak selamat..."

Aryo pegang tangannya. "Nggak, Ri. Anak kita selamat. Kuat. Tadi aku lihat."

Dewi tersenyum tipis. "Beneran?"

"Beneran. Dia cantik. Mirip kamu."

Dewi tertawa kecil. Tawa pertama setelah berhari-hari. "Mas... kamu bohong. Bayi baru lahir kan keriput."

Aryo ikut tertawa. "Iya sih. Tapi nanti kalau udah gede, pasti cantik."

Mereka tertawa bersama. Di ruang UGD yang dingin, di antara suara monitor dan alat-alat medis, ada tawa. Ada hangat.

 

Pagi harinya, Aryo ke pos sosial. Urus surat keterangan tidak mampu. Antre dari jam 7 pagi sampai jam 11. Akhirnya dapat juga.

Ia bawa ke ruang administrasi. Wanita berkacamata itu melihat suratnya. Mengangguk.

"Baik, Pak. Dapat keringanan 30 persen. Sisanya 2,4 juta. Bisa dicicil."

Aryo lega. Setengah lega. 2,4 juta masih besar. Tapi setidaknya berkurang.

Ia ke luar. Di lobi rumah sakit, ia melihat sebuah toko kecil. Menjual susu formula dan perlengkapan bayi.

Aryo masuk. Ia beli susu formula yang paling murah. 25 ribu. Sisa uang tinggal 5 ribu. Tapi nggak apa-apa. Yang penting anaknya bisa minum.

Sore harinya, ia ke NICU lagi. Lewatkan susu ke suster. "Mbak, ini buat anak saya. Tolong dikasih ya."

Suster itu tersenyum. "Nanti saya kasih, Pak. Tapi anak Bapak masih dapat infus. Mungkin belum bisa minum."

Aryo mengangguk. "Nggak apa-apa. Simpen dulu."

Ia berdiri di depan kaca. Melihat anaknya. Bayinya sama saja. Diam. Selang di mana-mana. Tapi Aryo yakin, anaknya lihat dia.

"Nak, Bapak bawa susu. Nanti kalau udah boleh minum, Bapak suapi ya."

Dari dalam inkubator, tangan mungil itu bergerak. Sedikit.

Aryo tersenyum. "Bapak tahu kamu dengar. Bapak tahu."

 

Malam itu, Aryo nggak tidur di lorong. Ia diajak Bu Satinah pulang ke desa. Naik angkutan desa. Sepanjang jalan, ia diam. Matanya kosong.

"Pak, tenang aja. Dewi sama anaknya baik-baik aja," Bu Satinah menghibur.

Aryo mengangguk. Tapi pikirannya kacau. Utang 1,5 juta ke rentenir. Cicilan rumah sakit 2,4 juta. Becak digadaikan. Besok narik apa? Cari uang dari mana?

Sampai di rumah, ia buka pintu. Rumah kosong. Sepi. Hanya suara jangkrik dari luar.

Ia duduk di kursi bambu. Pandangi langit-langit yang bocor. Ingat Dewi. Ingat anaknya.

Tiba-tiba, ia ingat sesuatu. Di bawah tempat tidur, ada celengan bambu. Celengan Dewi. Isinya uang receh hasil jualan gorengan.

Aryo mengambilnya. Ia pecahkan celengan itu. Uang receh berhamburan. Seratus, dua ratus, lima ratus. Ia hitung. Total: Rp 37.500.

Ia pegang uang itu. Air matanya jatuh.

"Ini uang kamu, Ri... kamu nyisihin buat apa ya?" bisiknya.

Lalu ia ingat. Dewi pernah bilang: "Mas, aku nabung buat beli baju buat anak kita."

Aryo nangis. Nangis di kursi bambu itu. Sendiri. Gelap.

 

Esok harinya, ia kembali ke rumah sakit. Bawa uang Rp 37.500. Uang receh semua. Ia berikan ke administrasi.

"Ini uang muka, Bu. Sisanya nanti saya cicil."

Wanita itu melihat uang receh itu. Diam sebentar. Lalu tersenyum.

"Sabarr, Pak. Saya doakan anak Bapak lekas sembuh."

Aryo mengucap terima kasih. Ia ke UGD. Dewi sudah lebih baik. Boleh pindah ke ruang rawat biasa.

Aryo bantu pindahkan. Di ruang baru, Dewi bisa duduk. Ia minta lihat anaknya.

"Mas, anter aku ke NICU. Aku mau lihat anakku."

Aryo bantu Dewi duduk di kursi roda. Dorong ke NICU. Sampai di depan kaca, Dewi diam. Menatap inkubator.

"Itu dia?" tanyanya, suaranya bergetar.

Aryo mengangguk. "Itu anak kita, Ri."

Dewi menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tangannya menempel di kaca.

"Nak... Nak... Ibu di sini... Ibu lihat kamu... Ibu sayang kamu..."

Bayinya tak bergerak. Tapi Dewi terus bicara. Terus menangis. Terus memandang.

Aryo memegang pundak Dewi. Diam. Mendukung.

Di lorong itu, di depan kaca NICU, seorang ayah dan ibu melihat anak mereka untuk pertama kalinya. Anak yang lahir dalam keheningan. Anak yang mungkin tak akan pernah normal.

Tapi bagi mereka, dia tetap anak mereka. Darah daging mereka. Cinta mereka.

 

Sore harinya, Aryo pamit sebentar. Ia ke luar rumah sakit. Jalan kaki ke pasar. Mencari pekerjaan tambahan.

Di pasar, ia tawarkan diri jadi kuli pikul. Angkat barang dagangan. Upahnya 20 ribu sekali angkut.

Ia angkat karung beras. Satu, dua, tiga. Keringat bercucuran. Pundaknya lecet. Tapi ia nggak peduli.

Sore itu ia dapat 60 ribu. Lumayan.

Ia beli nasi bungkus dua. Satu buat Dewi, satu buat dirinya. Sisa 40 ribu buat tabungan.

Saat balik ke rumah sakit, hari sudah gelap. Dewi sudah tidur. Aryo letakkan nasi di sampingnya. Ia ke NICU lagi.

Bayinya masih di inkubator. Masih diam. Tapi monitor menunjukkan detak jantung yang stabil.

Aryo tersenyum. "Kuat, Nak. Bapak juga kuat."

Ia duduk di kursi dekat jendela. Mengeluarkan nasi bungkus. Makan perlahan. Sendirian.

Tapi ia nggak sendiri. Di balik kaca itu, anaknya ada. Bernapas. Berjuang.

Dan itu cukup.

 

Tengah malam, Aryo dihubungi suster. "Pak, anak Bapak demam. Kami harus beri obat."

Aryo panik. Lari ke NICU. Dari balik kaca, ia lihat suster-suster sibuk. Ada yang pegang alat suntik. Ada yang cek monitor.

Ia lihat anaknya. Bayi itu bergerak-gerak kecil. Seperti kesakitan. Mulutnya menganga, tapi suara nggak keluar.

Aryo ingin masuk. Ingin peluk anaknya. Tapi ia nggak bisa.

Ia hanya bisa menempelkan tangan di kaca. Berdoa.

"Tuhan... jangan ambil dia... jangan ambil anakku..."

Suster-suster terus bekerja. Aryo lihat jarum suntik masuk ke tubuh mungil itu. Bayinya meronta. Tapi lemah. Sangat lemah.

Aryo nggak tahan. Ia menangis. Menangis di depan kaca itu.

Suster kepala keluar. Wajahnya lelah. "Pak, demamnya tinggi. Tapi kami sudah beri obat. Kita tunggu sampai pagi."

Aryo mengangguk. "Mbak... tolong... tolong jagain anak saya..."

"Insya Allah, Pak. Kami akan jaga."

Aryo duduk di kursi. Nggak bisa tidur. Ia pandangi inkubator. Lihat bayinya yang mungil itu berjuang melawan demam.

Di sebelahnya, kursi kosong. Biasanya ada Dewi. Tapi Dewi masih lemah. Nggak boleh turun dari ranjang.

Aryo sendirian. Menghadapi malam terpanjang dalam hidupnya.

 

Jam 3 pagi. Suster keluar lagi. Kali ini tersenyum.

"Pak, demamnya turun. Anak Bapak selamat."

Aryo jatuh berlutut. Menangis. Tangis lega. Tangis syukur.

"Ia masuk Islam, Mbak? Atau Kristen?" tanyanya nggak jelas.

Suster itu tersenyum. "Pokoknya selamat, Pak."

Aryo tertawa. Tertawa dan nangis bersamaan. Ia lihat ke dalam inkubator. Bayinya tidur tenang. Dada kecilnya naik turun. Teratur.

"Nak... kamu kuat... kamu hebat... Bapak bangga..."

Dari dalam, tangan mungil itu bergerak. Seperti melambai.

Aryo yakin. Anaknya tahu. Anaknya dengar.

 

Pagi harinya, Dewi sudah bisa jalan. Ia ke NICU sendiri. Duduk di samping Aryo.

"Mas, gimana semalam?"

Aryo pegang tangannya. "Demam. Tapi udah turun. Selamat."

Dewi menangis. "Syukur... syukur, Mas..."

Mereka berdua duduk di depan kaca itu. Memandangi anak mereka. Bayi mungil yang terus berjuang.

"Mas, kita kasih nama apa?" tanya Dewi.

Aryo diam. Mikir. Lalu berkata, "Risma."

"Risma?"

"Ia. Rismawati. Artinya... permata."

Dewi tersenyum. "Rismawati. Cantik. Iya, Mas. Dia permata kita."

Aryo memandang anaknya. "Risma... dengar, Nak. Kamu permata Bapak. Permata Ibu. Nggak ada yang bisa gantikan kamu."

Dari dalam inkubator, Risma tak bergerak. Tapi di monitor, detak jantungnya stabil.

Kuat.

Sekuat cinta orang tuanya.

 

[BERSAMBUNG]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!