🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Retakan yang Terencana
...Bab 3: Retakan yang Terencana...
Batu Penguji itu bergetar hebat di bawah telapak tangan Han Xuan. Suara retakan halus yang menyerupai patahan es terdengar jelas di tengah kesunyian lapangan.
Penatua Ketiga sudah berdiri dari kursinya dengan wajah tegang. Baginya batu itu adalah aset suci klan yang tidak boleh rusak oleh seorang sampah.
Han Xuan memejamkan mata. Ia bisa merasakan energi kuno yang tersimpan di dalam batu itu mencoba merobek meridiannya yang rapuh.
Jika ia membiarkan Void Devouring Constitution menelan seluruh isi batu ini sekarang tubuhnya akan meledak karena kelebihan beban.
Tenang... alirkan ke Dao Bayangan... bisik Han Xuan dalam batinnya.
Ia memutar aliran Qi secara terbalik. Alih-alih menyerap ia menggunakan sedikit energi yang ia curi dari pengawal semalam untuk menyelimuti permukaan batu dengan lapisan tipis Dao Ilusi.
Cahaya yang tadinya mulai memancar liar mendadak meredup dan berubah menjadi warna kuning pudar yang stabil.
"Level tiga. Mortal Tempering tingkat menengah" suara Penatua Ketiga terdengar sedikit lega namun tetap penuh kecurigaan.
Sorak sorai yang tadinya membahana untuk Han Feng mendadak senyap. Para murid klan saling berpandangan. Bagaimana mungkin si cacat yang kemarin dipukuli hingga sekarat bisa mencapai level tiga dalam semalam?
Han Feng melangkah maju dengan wajah memerah. "Mustahil! Batu itu pasti rusak. Dia hanya sampah dengan meridian retak!"
Han Xuan menarik tangannya perlahan. Ia bisa merasakan ujung jarinya mati rasa. Harga dari penggunaan Dao Ilusi barusan adalah hilangnya indra perasanya di tangan kanan selama beberapa hari ke depan. Pengorbanan kecil untuk sebuah sandiwara yang sempurna.
"Tuan Muda Han Feng mungkin benar" ucap Han Xuan dengan suara rendah dan tenang. "Mungkin keberuntungan sesaat karena obat-obatan sisa yang diberikan mendiang ayahku."
Mendengar nama mendiang ayah Han Xuan sang mantan kepala klan yang telah tiada para penatua di podium terdiam.
Itu adalah penjelasan yang masuk akal bagi mereka. Ramuan medis tingkat tinggi memang bisa memberikan lonjakan kekuatan sementara namun biasanya akan menghancurkan masa depan kultivator tersebut.
"Jadi kau membakar potensimu demi lulus ujian ini?" Penatua Ketiga mendengus menghina. "Bodoh. Tapi peraturan tetap peraturan. Kau tetap tinggal di klan sebagai murid luar."
Han Xuan membungkuk hormat. Di balik rambutnya yang menutupi wajah ia tersenyum tipis. Ia telah berhasil mendapatkan waktu yang ia butuhkan.
Namun saat ia hendak berbalik sosok yang melompat dari atap tadi mendarat tepat di tengah lapangan. Pria itu mengenakan jubah biru tua dengan sulaman benang perak. Matanya tajam seperti elang menatap langsung ke arah Han Xuan.
"Tunggu" suara pria itu berat dan penuh otoritas.
"Kepala Instruktur Qin!" beberapa murid berseru dengan nada kagum.
Qin adalah orang terkuat kedua di klan Han. Seorang ahli di tingkat Spirit Foundation level tujuh. Ia berjalan mendekati Batu Penguji dan menyentuh bagian yang retak tadi. Matanya menyipit melihat pola kerusakan yang tidak biasa.
"Ada yang aneh dengan batu ini" gumam Qin. Ia menoleh ke arah Han Xuan yang berdiri mematung. "Nak kemari. Biar aku periksa aliran meridianmu secara langsung."
Jantung Han Xuan berdegup sedikit lebih kencang. Jika Qin mengalirkan Qi ke dalam tubuhnya penyamaran Void Devouring akan terbongkar. Ia akan dianggap sebagai praktisi ilmu hitam yang harus dimusnahkan.
Han Xuan menatap tangan Qin yang mulai bercahaya kebiruan. Ia hanya punya waktu tiga detik untuk memutuskan. Haruskah ia menggunakan Dao Waktu yang sangat terbatas itu?
Harga untuk memundurkan waktu tiga detik adalah satu tahun umur permanen. Bagi Han Xuan yang baru saja memulai kembali satu tahun adalah investasi yang sangat mahal namun tertangkap sekarang berarti kematian total.
Saat tangan Qin hampir menyentuh pundaknya Han Xuan merasakan getaran dari dalam tanah yang ia rasakan tadi semakin kuat. Sesuatu di bawah sana merespons kehadirannya.
Boom!
Tiba-tiba bumi di bawah lapangan ujian berguncang hebat. Retakan besar muncul membelah arena tepat di antara Han Xuan dan Instruktur Qin. Asap hitam berbau belerang keluar dari celah tersebut memicu kepanikan massal di antara para murid.
"Serangan musuh!" teriak salah satu pengawal klan.
Han Xuan memanfaatkan kekacauan itu untuk mundur beberapa langkah masuk ke dalam kerumunan. Ia menatap celah di tanah itu dengan tatapan tajam. Ia tahu ini bukan serangan musuh.
Ini adalah sesuatu yang telah lama terkubur di bawah klan Han dan kehadirannya sebagai The Devourer telah membangunkan entitas tersebut.
Di tengah kepanikan Han Xuan melihat Han Feng yang sedang berusaha melindungi dirinya sendiri. Sebuah rencana jahat muncul di benaknya.
Jika ia bisa memicu konflik antara Instruktur Qin dan apa pun yang ada di bawah sana ia bisa menghilangkan jejak kecurigaan terhadap dirinya.
"Instruktur Qin! Lihat di dalam celah itu! Ada pusaka!" teriak Han Xuan dengan nada yang dibuat panik namun cukup keras untuk didengar semua orang.
Keserakahan adalah kelemahan terbesar manusia. Bahkan seorang ahli seperti Qin tidak akan bisa menahan diri jika mendengar kata pusaka di tengah kekacauan.
Saat Qin mengalihkan perhatiannya ke celah bumi Han Xuan merasakan bisikan jiwa di kepalanya tertawa.
Ya... hancurkan mereka semua...
Asap hitam yang membubung dari celah bumi itu bukan sekadar debu. Han Xuan bisa merasakan esensi yang familiar di dalamnya sebuah sisa-sisa energi dari zaman kuno yang penuh dengan kebencian. Itu adalah energi yang mirip dengan miliknya namun jauh lebih kotor dan tidak murni.
Instruktur Qin yang terprovokasi oleh teriakan Han Xuan tentang pusaka segera merapat ke tepi retakan. Tangannya yang bercahaya kebiruan bersiap untuk meraih apa pun yang ada di bawah sana.
Namun bukannya harta karun sebuah lengan kurus yang terbungkus kain kafan busuk melesat keluar dari kegelapan.
Srak!
Ujung kuku yang tajam menggores jubah biru Qin. Sang instruktur melompat mundur dengan tangkas namun matanya membelalak ngeri melihat apa yang merangkak keluar. Itu adalah mayat hidup yang telah mengering dengan simbol klan Han kuno di dahi yang retak.
"Leluhur!" teriak Penatua Ketiga dari atas podium dengan suara bergetar. "Itu adalah makam bawah tanah para leluhur yang disegel!"
Kepanikan berubah menjadi histeria. Para murid luar berlarian tanpa arah sementara mayat hidup itu mengeluarkan raungan parau yang menggetarkan jiwa. Han Xuan berdiri di antara kerumunan dengan wajah pucat yang dibuat-buat. Di dalam hatinya ia sedang menghitung peluang.
Mayat itu adalah tingkat Meridian Forging puncak (Sub tingkat 7-9). Cukup kuat untuk menyibukkan Qin dan para penatua lainnya selama beberapa waktu.
Kesempatan yang sempurna batin Han Xuan.
Ia tidak melarikan diri ke luar gerbang klan seperti yang lain. Sebaliknya ia memanfaatkan kekacauan dan asap hitam yang menutupi pandangan untuk bergerak menuju paviliun pribadi Han Feng.
Ia tahu bahwa saat semua orang fokus pada serangan mayat leluhur pertahanan di kediaman utama akan melemah.
Han Feng sedang sibuk di lapangan mencoba menunjukkan keberaniannya di depan ayahnya sementara kamarnya yang penuh dengan batu roh dan obat-obatan ditinggalkan hanya dengan penjagaan minimal.
Han Xuan bergerak seperti bayangan di antara bangunan kayu. Dao Bayangan miliknya meskipun masih sangat lemah memungkinkannya untuk menyatu dengan sisi gelap tembok-tembok klan. Ia melewati dua pengawal yang sedang panik tanpa mereka sadari sedikit pun.
Saat ia sampai di depan pintu kamar Han Feng ia merasakan kehadiran seseorang. Bukan pengawal tapi seorang pelayan wanita yang sedang mencoba mencuri sesuatu di tengah kekacauan.
Han Xuan tidak ragu. Ia muncul di belakang wanita itu dan mencengkeram lehernya.
"Jangan bersuara jika kau ingin melihat matahari esok hari" bisik Han Xuan.
Pelayan itu gemetar hebat. Ia menjatuhkan sebuah kotak kecil yang baru saja ia ambil dari meja Han Feng. Han Xuan melirik kotak itu.
Di dalamnya terdapat tiga butir Qi Accumulation Pill tingkat rendah. Sampah bagi dirinya yang dulu tapi harta karun bagi tubuhnya yang sekarang.
Han Xuan tidak membunuh pelayan itu. Ia membutuhkan seseorang untuk disalahkan atas pencurian ini. Ia menyentuh dahi pelayan itu dengan jarinya yang dingin menyuntikkan sedikit fragmen jiwa dari pengawal yang ia telan semalam ke dalam pikiran wanita tersebut.
"Kau akan ingat bahwa kau melihat Han Feng sendiri yang mengambil barang-barang ini dengan wajah ketakutan" perintah Han Xuan dengan nada hipnotis dari Dao Ilusi.
Mata pelayan itu menjadi kosong sejenak sebelum ia mengangguk kaku. Han Xuan melepaskannya dan mengambil kotak obat tersebut beserta sekantong kecil batu roh yang tersembunyi di bawah bantal.
Di luar suara ledakan energi semakin keras. Instruktur Qin tampaknya mulai kewalahan menghadapi mayat hidup yang tidak mengenal rasa sakit itu.
Han Xuan segera meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia kembali ke paviliunnya ia merasakan sebuah tarikan kuat dari arah celah bumi di lapangan. Void Devouring Constitution miliknya bergetar hebat seolah-olah ada sesuatu yang sangat lezat sedang memanggilnya dari dalam kegelapan makam kuno itu.
Ia menoleh sejenak. Jika ia masuk ke sana sekarang ia bisa mendapatkan lebih dari sekadar beberapa butir pil. Tapi taruhannya adalah nyawanya.
Bisikan di kepalanya semakin berisik menuntut lebih banyak nutrisi.
Han Xuan mengepalkan tangannya. Ia harus memilih antara bermain aman atau melakukan pertaruhan gila di bawah hidung para penatua yang sedang bertarung.
Di saat yang sama ia melihat Han Feng terlempar oleh hantaman angin dari pertarungan Qin jatuh tepat di dekat bibir jurang retakan itu.
Sebuah ide yang jauh lebih gelap muncul di benak Han Xuan. Mengapa tidak membiarkan Han Feng menjadi "pembuka jalan" baginya?
<>Cerita Bersambung
<>Han Xuan mau mengorbankan Sepupu nya? Waduh, tapi gak papa sih😂