NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kandidat 2 - Si Jenius Kaku

​"Bawa masuk korban berikutnya."

​Dominic bahkan tidak menunggu pintu tertutup rapat setelah kepergian si cantik Tiffany yang banjir air mata. Dia memutar kursi kebesarannya, menatap langit-langit seolah sedang berdoa agar dewa bisnis memberinya kesabaran—atau setidaknya hiburan.

​Harper, yang sudah berdiri di ambang pintu, menahan napas panjang. Dia memberi isyarat tangan. Masuklah seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu yang terlalu rapi, kacamata bingkai tebal, dan rambut yang disisir klimis dengan gel yang mungkin cukup untuk menahan badai.

​"Perkenalkan, Pak. Ini Julian," kata Harper singkat, nadanya datar. "Lulusan terbaik Harvard Business School, punya dua gelar master sebelum usia dua puluh lima, dan mantan asisten direktur di Wall Street."

​Dominic menurunkan pandangannya dari langit-langit. Matanya menyapu Julian dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang malas.

​"Harvard, hm?" gumam Dominic.

​Julian langsung membusungkan dada, dagunya terangkat sedikit angkuh. "Benar, Pak. Summa Cum Laude. Tesis saya tentang 'Manipulasi Psikologi Pasar dalam Krisis Ekonomi Global' mendapat penghargaan akademik tertinggi."

​"Wow. Judul yang panjang untuk ukuran pengangguran," komentar Dominic tajam.

​Wajah Julian sedikit berkedut, tapi dia tetap mempertahankan senyum kaku yang sepertinya sudah dilatih di depan cermin. "Saya bukan pengangguran, Pak. Saya sedang mencari tantangan yang sepadan dengan kapasitas intelektual saya. Dan saya dengar bekerja dengan Dominic Vance adalah ujian mental tertinggi."

​Dominic menegakkan punggungnya. Alisnya terangkat satu. Menarik. Bocah ini punya nyali, atau mungkin cuma ego yang kebesaran.

​"Oke, Tuan Jenius," Dominic menunjuk layar saham di dinding kaca yang masih menampilkan grafik merah dan hijau. Pertanyaan yang sama yang tadi membuat Tiffany menangis. "Jawab pertanyaan yang tadi gagal dijawab si nona cantik. Rumus Black-Scholes. Berapa probabilitas kebangkrutan saya?"

​Harper menahan napas. Ini pertanyaan jebakan. Tidak ada yang hafal rumus itu di luar kepala kecuali komputer atau orang gila.

​Julian bahkan tidak menoleh ke layar. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk.

​"Dengan asumsi volatilitas pasar saat ini berada di angka dua puluh persen dan suku bunga bebas risiko di satu koma lima persen," Julian berbicara cepat seperti mesin penjawab otomatis, "probabilitas pelaksanaan opsi tersebut adalah dua belas koma empat persen. Namun, jika Bapak memperhitungkan faktor eksternal seperti perang dagang di Eropa, angkanya naik menjadi delapan belas persen. Bapak tidak akan bangkrut, tapi margin keuntungan Bapak akan tergerus sekitar dua juta dolar."

​Hening.

​Suara AC sentral mendadak terdengar sangat nyaring.

​Harper melongo. Dia menoleh ke Dominic, menunggu bosnya meledak atau setidaknya membentak.

​Tapi Dominic terdiam. Wajahnya datar, tidak terbaca. Di dalam kepalanya, Dominic menghitung cepat. Angka itu... tepat. Akurat sampai ke desimalnya. Bocah kacamata ini benar.

​Rasa tidak suka langsung menjalar di dada Dominic. Dia tidak butuh kalkulator berjalan. Dia butuh sekretaris yang bisa dimarahi, bukan yang bisa mengoreksi kesalahannya. Kalau sekretarisnya lebih pintar darinya, di mana letak kesenangan menjadi bos?

​"Dua juta dolar itu uang receh," kata Dominic akhirnya, berusaha terdengar tidak terkesan. "Jawabanmu standar buku teks. Kaku. Membosankan."

​"Tapi benar," sela Julian cepat. "Dan efisiensi adalah kunci, Pak. Saya bisa memangkas waktu rapat Bapak hingga tiga puluh persen dengan manajemen waktu yang presisi."

​"Presisi?" Dominic mendengus. Dia berdiri, berjalan perlahan mengelilingi meja kerjanya. "Kau tahu apa yang paling aku benci dari lulusan Harvard? Kalian semua berpikir dunia ini bisa diatur pakai Excel."

​"Data tidak pernah bohong, Pak."

​"Tapi manusia bisa," balas Dominic dingin. Dia berhenti tepat di depan Julian. Jarak mereka dekat, adu dominasi terjadi. "Kau terlalu pintar. Kau akan mendebat setiap perintahku. Kalau aku minta jadwal kosong buat main golf, kau pasti akan menceramahiku soal 'produktivitas yang hilang', kan?"

​Julian terdiam sebentar, lalu mengangguk jujur. "Secara teknis, main golf saat jam kerja adalah inefisiensi alokasi sumber daya manusia."

​"Nah! Itu dia!" Dominic menunjuk wajah Julian seolah baru saja menemukan jerawat besar. "Kau cerewet. Aku benci orang cerewet."

​"Saya hanya mencoba profesional, Pak."

​"Profesionalisme itu termasuk tahu kapan harus tutup mulut!" sergah Dominic. Dia memutar otak. Dia tidak bisa menolak orang ini karena alasan 'terlalu pintar'. HRD akan menertawakannya. Dia butuh alasan lain. Alasan yang mutlak.

​Mata Dominic tertumbuk pada mesin kopi di sudut ruangan. Senjata pamungkas.

​"Oke, tes terakhir," kata Dominic, senyum licik terukir di bibirnya. "Buatkan aku kopi. Double shot espresso. Tanpa gula. Suhunya harus pas. Kalau kau bisa menyajikan kopi yang layak minum dalam waktu tiga menit, kau diterima."

​Mata Julian berbinar. Tantangan fisik. Mudah. "Siap, Pak."

​Pria itu berjalan tegap menuju pantry. Gerakannya efisien. Dia mencuci tangan, mengeringkannya, mengambil cangkir, mengatur mesin. Semuanya dilakukan dengan presisi robot. Tidak ada gerakan sia-sia.

​Dua menit empat puluh lima detik kemudian, Julian kembali. Dia meletakkan cangkir itu di meja Dominic dengan hati-hati. Tidak ada tumpahan setetes pun.

​"Silahkan, Pak. Arabika Gayo. Suhu sembilan puluh derajat Celcius, sesuai standar internasional penyajian espresso."

​Harper mengamati dari sudut ruangan. Baunya enak. Warnanya sempurna. Crema-nya tebal keemasan. Ini kopi yang sempurna. Julian pasti lolos. Harper sudah siap menyerahkan ID card sekretarisnya.

​Dominic mengambil cangkir itu. Dia menatap cairan hitam itu, lalu melirik Julian yang berdiri tegak penuh percaya diri.

​Sialan, batin Dominic. Kelihatannya enak.

​Dominic menyesapnya sedikit.

​Cairan hangat itu membasahi lidahnya. Pahit, asam, dan gurih berpadu sempurna. Suhunya pas. Teksturnya lembut. Jujur saja, ini mungkin kopi paling enak yang pernah masuk ke mulutnya bulan ini. Bahkan lebih enak dari buatan Harper yang kadang masih suka moody.

​Tapi Dominic adalah Dominic.

​Dia menelan kopi itu, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke meja dengan suara tak yang keras. Wajahnya berubah menjadi ekspresi jijik yang sangat meyakinkan.

​"Apa ini?" tanya Dominic pelan.

​Senyum Julian goyah. "Kopi, Pak?"

​"Ini bukan kopi," desis Dominic. Dia mendorong cangkir itu menjauh dengan ujung jari telunjuknya, seolah benda itu menular. "Ini air bekas pel lantai. Kau mau meracuniku?"

​"A-apa?" Julian ternganga, kacamatanya hampir melorot. "Tapi Pak, saya mengikuti prosedur..."

​"Rasanya hambar! Pahitnya seperti obat nyamuk! Teksturnya kasar!" Dominic berdiri, membentak keras. "Lulusan luar negeri tidak bisa bikin kopi? Apa yang kau pelajari di sana? Cara merusak mood orang kaya?"

​"Tapi Pak, biji kopinya sama dengan—"

​"KELUAR!" potong Dominic, tangannya menunjuk pintu. "Bawa air pel ini bersamamu. Jangan kembali sampai kau belajar membedakan kopi dan limbah industri!"

​Julian berdiri mematung. Wajahnya merah padam antara malu dan marah. Egonya hancur berkeping-keping. Tanpa bicara sepatah kata pun, dia menyambar cangkir itu dan berjalan keluar dengan langkah kaku seperti robot rusak.

​Pintu tertutup.

​Dominic langsung duduk kembali, menghela napas lega. "Hampir saja."

​"Bapak bohong."

​Suara Harper memecah keheningan. Wanita itu berjalan mendekat ke meja, menatap sisa noda kopi di pinggir cangkir yang tertinggal.

​"Kopi itu enak, kan?" tuduh Harper. "Saya bisa mencium aromanya dari jarak lima meter. Julian membuat kopi yang sempurna. Dia menjawab soal matematika Bapak. Dia memenuhi semua kriteria."

​Dominic mengangkat bahu, mengambil tabletnya kembali seolah tidak terjadi apa-apa. "Lidahku bilang tidak enak. Lidah CEO adalah hukum mutlak di gedung ini."

​"Bapak sengaja," suara Harper mulai meninggi. "Bapak bukan mencari sekretaris. Bapak mencari alasan."

​Harper mencengkeram tepi meja Dominic, menatap lurus ke mata pria itu. Kesabaran yang dia bangun selama lima tahun bertambah retak.

​"Bapak menolak si cantik karena dia bodoh. Bapak menolak si jenius karena dia pintar. Lalu Bapak mau apa? Sekretaris yang setengah bodoh setengah pintar? Yang bisa sulap?"

​Dominic meletakkan tabletnya kasar. Dia menatap balik Harper dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan keras kepala di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang posesif.

​"Aku mau yang pas, Harper. Yang tahan banting saat aku teriak. Yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara. Yang tahu persis berapa takaran gula untuk kopiku tanpa perlu kutanya."

​"Itu saya!" seru Harper frustasi. "Dan saya mau resign!"

​"Tepat," jawab Dominic dingin. "Karena kau satu-satunya yang memenuhi standar, maka kau tidak bisa pergi sampai kau menemukan kloningan dirimu. Dan sejauh ini? Dua kandidat gagal total. Skor sementara: Dominic dua, Harper nol."

​Dominic menyeringai, seringai kemenangan yang membuat darah Harper mendidih.

​Harper mundur selangkah. Dia sadar sekarang. Ini bukan soal standar tinggi. Ini sabotase. Dominic tidak akan pernah meloloskan siapa pun. Dia akan mencari cacat pada malaikat sekalipun hanya untuk menahan Harper di sini.

​"Oke," bisik Harper, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. "Bapak mau main curang? Baik. Saya terima tantangannya."

​"Oh ya?" Dominic menaikkan alis.

​"Tunggu kandidat ketiga," kata Harper dingin, matanya berkilat berbahaya. "Saya tidak akan bawa lulusan Harvard atau model. Saya akan bawa mimpi buruk Bapak."

1
Muft Smoker
kak ,,
cerita kk yg ini bnr2 bikin hipertensi ,,
perlu cek darah aq kak abis ini ,,
tkut drah tinggi ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣

kak bisa gx ad scene si Dominic tenggelam di laut trus ilang bertahun2 sampai si Harper nikah sama dokter Ryan ,,
🤭🤭🤣🤣🤣
sebel aq tuh sama si domba ,, banyak tingkah gengsi segede bulan ,, /Smug//Smug//Smug/
Sastri Dalila
👍👍👍👍👍👍😀
Anbu Hasna
itulah kenapa aku suka karya2mu. Kerasa khasnya, bukan sekedar ikutin maunya pasar...
Savana Liora: makasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
Dom ,, kelakuan mu emnk udh kelewat batas ,,
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Kostum Unik
Cuma di novel ini loh karakter cewek gk bego gk penakut gk gentar cm krn ktm lawan nya cowok.. Di novel mana pun mau gmn hbt nya karakter cewek ttp aja mereka melempem pada akhir nya...
Muft Smoker: betul kak ,,
dsini semua tokoh perempuan ny bnr2 nunjukin Kalo mereka bnr2 ras terkuat di bumi ,,
total 2 replies
Naviah
percayalah Dom, sikapmu ini bukanya bikin Harper suka sama kamu tapi bikin menjauh, arogansi mu udah over dosis
Naviah
perlu priksa mata Dominic ya Harper, ban nya gak kenapa napa tapi dibilang bocor🤣
Kostum Unik
Astaghfirullah DomDom.. Kamu mmg udah keterlaluan. Lambemu pengen ku gerus pake ulekan
Naviah
gak habis fikir ban bocor? 🤣
Rlyn
tarik nafas Harper 🤭🤣
Savana Liora: 😄🤭🤭🤭🤭🤣🙏
total 1 replies
Kostum Unik
Sabar sabar sabar ini bulan puasa... Gk ada kan manusia modelan DomDom.. Pasti gk ada. Cuma ada di cerita ini kan kak Savana... /Sob/
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
Kostum Unik
Luar biasa emg Harper ini. Sabar nya bukan main sm si ogep DomDom
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
astaga tikus got sebesar anak kucing kena fitnah🤣
Naviah
ya pintar dalam bisnis tapi mines dalam percintaan 🤣
ms. S
dom.. cemburu buta
Muft Smoker
kak Savana ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
This Is Me
Kak Savana, bisa gak nih Harper lepas aja dari Dom. Sekali ini tokoh cowoknya sakit jiwa beneran. Kasian Harper
Savana Liora: lupa ya kalo judulnya pawang.

kayak pawang ular 🤣🤣
total 3 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo1
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Sastri Dalila
si dom² ada aja usaha nya
Savana Liora: namwnya jg usaha 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!