NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:119.5k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguasa Baru Pagoda Serpihan Surga

Sha Nuo memandang sosok Boqin Changing yang berdiri beberapa langkah di depannya. Angin lembut menggerakkan jubah pria itu, membuat ujung kainnya berayun pelan seperti bayangan yang menari di antara rerumputan berkilau. Tatapan Boqin Changing tidak bergerak. Ia memandang dunia di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Bukan kagum. Bukan heran. Lebih seperti seseorang yang sedang menatap kenangan.

Sha Nuo menyipitkan mata. Ada sesuatu di mata Boqin Changing. Sebuah kedalaman yang tidak muncul saat pertama kali mereka tiba. Seolah tempat ini menyimpan jejak waktu yang hanya diketahui oleh satu orang di antara mereka. Sha Nuo akhirnya membuka suara.

“Apa kau pernah kemari?”

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Senyumnya muncul perlahan, tipis, hampir tak terlihat. Senyum yang mengandung lebih banyak masa lalu daripada kata-kata.

“Aku pernah sekali kemari.”

Jawaban itu membuat Sha Nuo mengangkat alis. Ia melangkah mendekat sedikit, memandang hamparan dunia kecil itu, lalu kembali bertanya,

“Kau kemari untuk berlatih?”

Boqin Changing menggeleng pelan.

“Tidak seratus persen seperti itu.”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya menyapu langit yang bercahaya.

“Saat itu… aku melatih muridku.”

Sha Nuo tersenyum spontan. Nada suaranya berubah ringan.

“Kau punya murid?”

Boqin Changing ikut tersenyum. Kali ini lebih jelas.

“Aku punya satu.”

Nada itu tidak terdengar seperti kebanggaan berlebihan. Namun ada kehangatan yang tidak bisa disembunyikan.

“Bocah itu sangat berbakat,” lanjutnya pelan. “Namun bakat saja tidak cukup. Ia harus terus berlatih lebih keras.”

Sha Nuo tertawa kecil.

“Siapa nama murid yang beruntung itu?”

Boqin Changing menjawab tanpa ragu.

“Gao Rui.”

Nama itu jatuh begitu saja di udara, lalu percakapan berhenti di sana. Boqin Changing tidak menambahkan apa pun. Tidak menjelaskan. Tidak membuka cerita. Seperti kebiasaannya, ia menutup topik dengan diam.

Tatapannya beralih ke sekeliling. Pohon-pohon raksasa tumbuh tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Batangnya tebal, kulit kayunya berwarna keemasan pucat, dan daunnya memantulkan cahaya lembut seperti kaca tipis. Boqin Changing berjalan ke arah sana.

Sha Nuo mengikuti dengan rasa penasaran. Boqin Changing mengangkat satu tangan. Udara bergetar halus.

Tidak ada ledakan energi. Tidak ada aura menekan. Hanya gerakan sederhana dari jari-jarinya yang bergerak seperti sedang menggambar sesuatu di udara.

Srrrtttt...

Kulit kayu terbelah rapi. Batang pohon terpotong tanpa suara. Potongan-potongan kayu melayang perlahan, berputar, lalu menyusun diri.

Sha Nuo berhenti melangkah. Matanya melebar. Kayu-kayu itu tidak jatuh. Tidak bertabrakan. Mereka saling menempel, terikat oleh benang energi tak kasat mata yang menari di antara sambungan.

Dinding terbentuk. Rangka atap menyatu. Balok-balok saling mengunci. Dalam hitungan napas, sebuah rumah kayu sederhana namun kokoh berdiri di tengah hamparan rumput berkilau.

Boqin Changing menurunkan tangannya. Menandakan pekerjaannya telah selesai.

Sha Nuo menggeleng tak percaya, lalu tertawa.

“Kau benar-benar bisa melakukan segalanya.”

Nada suaranya penuh kekaguman yang tidak disembunyikan.

“Kalau dunia persilatan tahu kau juga tukang bangunan, mereka mungkin semakin putus asa.”

Boqin Changing hanya tersenyum tipis. Ia melangkah masuk ke dalam rumah baru itu, lalu mengangkat tangannya ke udara. Kilatan cahaya muncul dari cincin ruang di jarinya.

Satu per satu benda keluar. Meja kayu, kursi, peralatan makan, lampu minyak, kasur, selimut, bantal dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Semua ditata dengan gerakan efisien tanpa kata-kata.

Sha Nuo berdiri di ambang pintu, menyaksikan seperti seseorang yang menonton pertunjukan yang terlalu alami untuk disebut teknik. Tidak lama, rumah itu benar-benar tampak layak huni. Hangat, sederhana, dan tenang.

Malam perlahan turun di dunia kecil Pagoda Serpihan Surga. Mereka duduk berhadapan di meja kayu. Hidangan sederhana tersaji, berasal dari persediaan cincin ruang Boqin Changing,

Mereka makan tanpa banyak bicara. Tidak canggung. Tidak pula sunyi. Lebih seperti dua orang yang sudah terlalu terbiasa berbagi keheningan.

Setelah selesai, Sha Nuo meregangkan tubuhnya.

“Tempat ini… benar-benar membuat orang lupa dunia luar.”

Boqin Changing tidak membantah. Ia berdiri, memandang ke luar jendela kayu yang menghadap lautan rumput bercahaya.

“Aku akan memulihkan diri sementara waktu.”

Sha Nuo menoleh. Boqin Changing melanjutkan,

“Efek sambaran petir sebelumnya masih terasa sedikit di tubuhku.”

Nada suaranya santai, namun Sha Nuo tahu pria itu tidak pernah mengeluhkan sesuatu tanpa alasan. Sha Nuo mengangguk paham.

“Beristirahatlah. Kita punya waktu banyak.”

Ia tidak mempermasalahkan itu sedikit pun. Di dunia kecil ini, waktu bukan lagi sesuatu yang mendesak.

Angin malam berhembus lembut di luar rumah kayu. Di dalam, dua sosok duduk dalam ketenangan yang jarang mereka temui di dunia persilatan.

Sementara jauh di kedalaman pikiran Boqin Changing, sebuah nama kembali terngiang, Gao Rui. Sebuah kenangan yang terpatri dalam hatinya.

...*******...

Keesokan harinya, cahaya lembut dunia kecil Pagoda Serpihan Surga menyapu dinding rumah kayu mereka. Boqin Changing berdiri di depan pintu, menarik napas panjang. Luka-lukanya belum sepenuhnya pulih. Bekas sambaran petir siksaan dunia masih meninggalkan rasa perih samar di meridian dan tulangnya. Namun dibandingkan semalam, kondisinya sudah jauh membaik. Energinya kembali mengalir stabil, tidak lagi tersendat-sendat.

Sha Nuo keluar menyusul, memandangnya sekilas.

“Kau sudah lebih baik?”

“Belum seratus persen,” jawab Boqin Changing tenang. “Tapi cukup.”

Ia melangkah maju.

“Mari kita berkeliling.”

Sha Nuo mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Dalam sekejap, keduanya melesat ke udara.

Angin dunia kecil itu berbeda dari dunia luar. Tidak liar, tidak pula berat. Mereka terbang menembus hamparan hutan kristal, melewati lembah berkilau, dan menyusuri pegunungan yang memantulkan cahaya keemasan.

Setelah beberapa waktu, keduanya menyadari satu hal. Aura kehidupan di tempat ini… terlalu kuat.

Di balik pepohonan raksasa, di antara kabut tipis pegunungan, dan di dasar lembah berair jernih, tersembunyi keberadaan-keberadaan kuat. Nafas mereka berat. Energi mereka murni. Sebagian bahkan telah menyentuh tingkat kecerdasan tinggi, Binatang suci. Jumlahnya tidak sedikit.

Tatapan Boqin Changing berubah tipis. Tanpa berkata apa-apa, ia berhenti di udara. Lalu,

Booom.

Aura pendekar bumi puncak miliknya meledak keluar. Tekanan energi padat menyapu bumi dan langit. Pada saat yang sama, aura kematian pekat yang menjadi ciri khasnya mengalir seperti kabut hitam yang membentang luas. Pedang Neraka Kegelapan kini di tangannya, bilahnya memancarkan cahaya kelam yang seolah menyerap cahaya sekitar.

Belum selesai. Ia juga mengeluarkan aura raja miliknya. Tekanan dominasi yang tidak terlihat, namun terasa seperti hukum alam yang turun dari langit, menyelimuti kawasan itu.

Sha Nuo menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil. Ia memahami maksudnya. Tanpa ragu, ia juga melepaskan aura pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit. Energi miliknya mengandung tekanan luar biasa. Aura raja dan aura kematian yang ia miliki turut menyebar. Keduanya tidak menahan apa pun.

Langit dunia kecil itu bergetar pelan dan memancarkan kilatan dan cahaya petir. Di hutan-hutan di bawah sana, mata-mata bercahaya terbuka. Tubuh-tubuh besar bergerak. Nafas berat terdengar. Namun naluri mereka berbicara lebih cepat daripada insting menyerang.

Makhluk-makhluk itu memahami satu hal dengan jelas, dua sosok di langit bukan mangsa. Bukan pula lawan yang bisa diuji. Mereka adalah eksistensi yang tidak boleh disentuh.

Satu per satu aura binatang suci itu mereda. Beberapa bergerak menjauh. Beberapa memilih bersembunyi lebih dalam. Tidak ada yang mencoba mendekat.

Boqin Changing menurunkan sedikit tekanannya, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat membantai. Ia hanya sedang menetapkan batas.

Setelah puas berkeliling dan memastikan tidak ada ancaman tersembunyi, keduanya kembali ke rumah kayu mereka.

Saat kaki mereka menyentuh tanah, Sha Nuo akhirnya membuka suara.

“Aku baru sadar… jumlah binatang suci di alam ini cukup banyak.”

Boqin Changing mengangguk. Ekspresinya datar.

“Entahlah. Sejak awal aku ke sini memang sudah seperti itu.”

Sha Nuo menyipitkan mata.

“Apa kau tidak ingin membantu mereka mendapatkan tubuh manusia seperti kau membantu Long dan Yue?”

Nama itu membuat udara terasa sedikit berbeda. Long, Yue. dan petir siksaan dunia.

Bahu Boqin Changing bergidik tipis, nyaris tak terlihat. Namun ia merasakannya jelas. Ingatan tentang sambaran petir itu masih terpatri kuat di otaknya. Rasa sakit yang menembus tulang, seakan menghancurkan meridian, seolah seluruh hukum langit berusaha mencabik keberadaannya. Ia masih bisa merasakan bau hangus energi di kulitnya.

Boqin Changing menghela napas pelan.

“Jika bukan dalam kondisi terdesak,” ujarnya tenang, “atau tidak ada keuntungan yang jelas bagiku… aku tidak berniat merasakan sambaran petir itu lagi.”

Nada suaranya tidak mengandung ketakutan. Hanya perhitungan.

Sha Nuo terdiam sejenak. Ia memahami sepenuhnya. Petir siksaan dunia bukan sekadar hukuman biasa. Itu adalah peringatan dari hukum alam terhadap tindakan yang melampaui batas.

Boqin Changing menatap hamparan rumput bercahaya di depan rumah mereka.

“Biarkan mereka tumbuh dengan jalannya sendiri,” lanjutnya pelan. “Dunia ini sudah cukup tenang tanpa perlu kita ganggu keseimbangannya.”

Angin berhembus lembut. Untuk pertama kalinya sejak memasuki dunia kecil ini, kawasan itu benar-benar memahami, penguasa baru telah tiba. Bukan untuk menaklukkan. Namun cukup kuat untuk melakukannya jika mereka mau.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Nazam Roni
macet thor
Ipung Umam
lanjutkan terus menerus Thor 👍👍
Megs Kitchen
1 tip for Babang Boqin n 1 tip again for om Hantu yah 🥰🥰💕💕
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!