Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam itu, Cambridge terasa mencekam dengan udara dingin yang menusuk tulang, namun bagi Archelo St. Clair, kegelapan adalah pelukan yang sudah terlalu akrab. Ia baru saja menyelesaikan satu minggu yang melelahkan di Harvard, satu minggu penuh tekanan akademis dan tatapan menghakimi dari para profesor yang menaruh ekspektasi besar pada pundaknya.
Ponselnya bergetar di saku long coat hitamnya. Sebuah pesan dari Julian.
"Chello, aku di Boston. Di kelab 'Vanguard'. Temui aku, atau aku akan mati karena bosan atau karena overdosis di sini. Aku butuh teman minum yang punya otak."
Archelo menghela napas panjang. Ia tahu ia seharusnya berada di perpustakaan, namun loyalitas aneh pada teman lamanya, yang kini sedang berlibur di Boston, menariknya kembali ke jalur lama. Ia merasa berutang pada Julian, satu-satunya orang yang tidak pernah menuntutnya menjadi sempurna.
Ia memarkir mobilnya beberapa blok dari 'Vanguard', sebuah kelab malam eksklusif dengan lampu neon biru yang menyambar-nyambar di kegelapan.
Archelo melangkah menuju pintu masuk, namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah bayangan muncul dari balik pilar beton.
"Langkah yang sangat bisa ditebak, St. Clair."
Archelo membeku.
Suara itu. Suara yang dalam sekejap sanggup menaikkan tensi darahnya. Ia berbalik dan menemukan Florence Edison berdiri di sana. Flo tidak memakai seragam taktis malam ini, ia mengenakan jaket denim dan syal merah, namun tatapan matanya tetap setajam silet.
"Sudah kuduga, sampah memang tetap akan jadi sampah," ucap Flo dengan nada tenang namun sarat penghinaan. Ia melangkah mendekat, matanya menatap pintu kelab itu lalu kembali ke wajah Archelo. "Ternyata Harvard hanya sekadar tempat transit bagimu untuk mencari tempat mabuk yang baru. Kau menjijikkan."
Biasanya, Archelo hanya akan diam atau membalas dengan sindiran dingin. Namun malam ini, tekanan dari orang tuanya, beban studinya, dan rasa sepi yang menghimpit membuat benteng kesabarannya runtuh total. Ia sudah muak disebut sampah oleh gadis yang baru dikenalnya beberapa minggu.
Archelo melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Flo terpaksa mundur dan punggungnya membentur dinding dingin. Aura Archelo meledak, gelap, pekat, dan sangat mengintimidasi.
"Kau pikir kau siapa, hah?!" bentak Archelo, suaranya menggelegar di gang yang sepi itu.
"Kau pikir dengan marga Edison-mu itu kau berhak menjadi hakim atas hidupku? Kau terus mengikutiku, menghinaku, dan merasa paling suci di dunia ini!"
Flo sedikit tersentak melihat kemarahan yang begitu besar di mata Archelo, namun ia tetap mencoba bertahan. "Aku hanya mengatakan kebenaran..."
"Kebenaran versimu!" potong Archelo dengan kasar. Tangannya mencengkeram dinding di samping kepala Flo, mengurung gadis itu. "Kau menyebutku menjijikkan? Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu bagaimana rasanya harus menjadi sempurna setiap detik di depan dunia! Kau hanya gadis sombong yang hobi mencampuri urusan orang!"
Napas Archelo memburu. Pikirannya mendadak kacau. Bayangan Julian, Hernand, dan kata-kata kotor teman-temannya di markas tiba-tiba merasuki otaknya. Ia teringat ucapan Hernand suatu malam, "Wanita sok suci itu hanya butuh dibungkam, Chello. Sekali kau bawa ke ranjang dan kau tiduri sampai pagi, mereka tidak akan berani bicara lagi."
Dalam kemarahan yang membutakan, kata-kata terkutuk itu meluncur begitu saja dari mulut Archelo.
"Teruslah bicara, Flo. Teruslah menghinaku sampai kau puas," bisik Archelo dengan nada rendah yang berbahaya. "Atau mungkin... apa perlu kau ku tiduri dulu agar kau tahu rasa dan berhenti bicara seperti ini?"
Deg.
Hening seketika menyelimuti gang itu. Kata-kata itu menggantung di udara seperti racun.
Archelo sendiri langsung tersentak.
Jantungnya berdegup kencang bukan karena amarah, tapi karena keterkejutan atas apa yang baru saja ia katakan. Itu bukan dirinya. Itu adalah pengaruh buruk lingkungan lamanya yang merembes keluar. Ia melihat wajah Flo yang biasanya penuh keberanian, kini berubah menjadi pucat pasi. Mata tajam gadis itu bergetar, memancarkan rasa terkejut dan rasa sakit yang tidak bisa disembunyikan.
Flo tidak membalas. Ia terdiam cukup lama, menatap Archelo seolah baru saja melihat monster yang sesungguhnya muncul dari balik topeng pangeran tampan. Tangan Flo yang tadinya siap membalas, kini terkulai lemas di samping tubuhnya.
"Jadi... itu pikiranmu tentang wanita?" suara Flo bergetar, sangat kecil dan hampir pecah. "Hanya sebuah alat untuk membungkam argumen?"
Archelo ingin menarik kata-katanya. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin mengatakan bahwa itu hanya emosi sesaat. Namun, egonya yang terluka dan harga dirinya sebagai seorang St. Clair membuatnya tetap mematung dengan wajah kaku.
"Aku..." Archelo berusaha bicara, namun suaranya tercekat.
Flo mendorong dada Archelo dengan tenaga sisa-sisanya, menjauhkan pria itu darinya. Ia menatap Archelo dengan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan mana pun.
"Kau benar, Archelo. Aku salah," ucap Flo, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya meski ia berusaha keras menahannya. "Aku pikir kau hanya pria yang tersesat dan butuh sedikit dorongan keras. Tapi ternyata... kau memang sampah yang tidak punya rasa hormat pada wanita. Kau jauh lebih rendah dari yang kubayangkan."
Flo berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat, hampir berlari menuju kegelapan jalanan Cambridge.
Archelo berdiri mematung di depan pintu kelab 'Vanguard'. Lampu neon biru di atasnya berkedip-kedip, menerangi wajahnya yang kini dipenuhi penyesalan yang luar biasa. Suara musik dentum-dentum dari dalam kelab terdengar memuakkan di telinganya.
Ia tidak jadi masuk. Niatnya untuk menemui Julian hilang seketika. Kata-kata ibunya, "Tolong hargai dirimu sendiri," terngiang-ngiang kembali, menghakiminya dengan kejam. Ia tidak menghargai dirinya sendiri, dan lebih buruk lagi, ia baru saja merendahkan martabat wanita yang—meskipun menyebalkan adalah satu-satunya orang yang peduli untuk mengawasinya.
Archelo memukul dinding beton itu dengan kepalan tangannya hingga berdarah. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Malam itu, di depan kelab malam yang dulu ia sebut rumah, Archelo St. Clair menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan satu-satunya hubungan murni yang ia miliki di Harvard, dan ia baru saja berubah menjadi orang yang paling ia benci, pria yang menganggap wanita sebagai objek untuk dibungkam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰