Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak
Tidak lama kemudian Jetro melihat Cakra, atasan Febi mendekati Fiola. Seringai sinis muncul di wajah Jetro.
Akhirnya muncul juga.
Malik dan Erlan sudah menyelidikinya.
"Calon istrimu dijodohkan. Tapi dia diselingkuhi," lapor Erland.
Di waktu yang berbeda Malik juga memberikan laporan.
"Kekasih calon suami gadis itu, kakaknya sendiri."
Sekarang Jetro sudah punya buktinya.
*
*
*
"Cakra, kenapa kamu datang ke sini? Nanti kalo Jetro datang bagaimana?" agak panik Fiola merespon kehadiran Cakra
"Tenang saja. Anak buahku sedang mengawasi pintu depan restoran ini." Cakra menyahut santai membuat Fiola terbelalak kesal.
Cakra bahkan sudah datang lebih dulu dari Fiola. Dia meminta pegawainya Rino untuk mengawasi pintu depan. Jadi akan tau saat Jetro datang.
Fiola menghembuskan nafas lega bercampur kesal. Situasinya aman terkendali rupanya.
"Mau sampai kapan kamu menunggu dia?" sinis Cakra bertanya.
Fiola mengatur jalan nafasnya agar lebih teratur. Dia harus bisa tenang menghadapi kecemburuan Cakra.
"Mungkin dua puluh menit lagi." Niatnya akan mengabari mamanya Jetro jika waktu yang dia targetkan sudah berlalu dan Jetro masih belum datang juga.
Dia memang tidak mau bertemu dengannya karena sudah tertarik dengan Febi? batinnya marah dan ngga terima. Padahal dia sudah berdandan secantik mungkin.
Bahkan dia sempat berendam sebentar di spa agar tidak terlalu kelihatan kusut karena baru saja landing lagi tadi.
Segala persiapannya menjadi tak berguna karena Jetro tidak bisa melihatnya.
"Kamu selalu cantik, Fio," rayu Cakra. Dia mengira akan melihat wajah lelah Fiola. Tapi tetap saja gadis itu selalu bisa tampak cantik dan segar.
Fiola tersenyum senang, tapi juga kecewa, harusnya Jetro yang mengatakannya.
"Acaramu malam ini bagaimana?" tanya Fiola sambil menatap wajah Cakra. Sesekali dia melihat ke arah pintu restoran.
"Ngga tau. Aku ngga mau memikirkannya."
"Papa katanya akan ikut." Saat papanya mengatakan niatnya, dia merasa senang sekali. Papanya memuluskan jalannya untuk bisa bersama Jetro.
Untung papanya tidak tau kalo Jetro tertarik dengan Febi.
Cakra menghela nafas.
"Papamu sangat bersemangat. Seharusnya itu kita, bukan aku dan Febi." Tatap Cakra tajam.
"Kalo kita, saat mamamu sudah menerima aku, aku ngga akan menolak." Fiola balas menatap tajam Cakra.
Cakra melepaskan nafasnya dengan kasar. Tapi kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Dia sudah datang."
Fiola terkejut mendengarnya. Reflek dia merapikan dandanannya.
Cakra menatap sinis. Hatinya jadi tidak yakin kalo Fiola tidak tertarik dengan Jetro.
"Sia sia saja. Laki laki itu hanya suka dengan Febi," sinisnya sebelum pergi.
Fiola mendelikkan matanya mendengar perkataan Cakra yang meremehkannya.
Tapi aura wajahnya spontan berubah lembut ketika matanya menangkap sosok Jetro yang memasuki pintu restoran.
Hampir saja Fiola menunjukkan euforia kebahagiaannya kalo saja dia tidak mengingat ada Cakra yang sedang mengawasinya.
Dia tidak ingin terlihat menyolok menyukai Jetro di depan Cakra. Dia ingin Cakra bisa melepasnya dengan rela dan tanpa adanya kemarahan.
Soal adiknya, pasti Jetro akan melupakannya nanti karena sebentar lagi Febi akan menikah dengan Cakra.
"Fiola, kan," sapa Jetro setelah berada di depan gadis itu.
Fiola juga sudah berdiri menyambut kedatangan laki laki itu.
"Pak Jetro?"
*
*
*
"Ternyata orang tua kita sudah saling kenal, ya?" Fiola membuka obrolan.
Jetro tersenyum tipis. Dia menatap pelayan yang tampak ragu mendekat. Pelayan yang merupakan gadis muda tadi sempat diketusin Fiola.
Jetro melambaikan tangannya ramah.
Saat pelayan itu tiba, dia mengulurkan daftar menu pada Jetro dan Fiola.
"Kenapa tidak pesan duluan?"
"Saya lebih suka menunggu Pak Jetro."
Pelayan itu sampai melirik Fiola karena gadis itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadi. Sekarang sudah menjadi gadis yang lembut tidak marah marah dan judes. Gadis pelayan itu bisa mengerti karena yang dihadapi seorang laki laki muda yang sangat tampan.
Jetro memberikan daftar menunya pada pelayan itu, begitu juga Fiola.
Fiola mengamati Jetro diam diam. Laki laki itu masih seperti yang dia kenal saat jadi pramugari di pesawatnya. Tetap tidak banyak bicara. Bahkan sana sekali tidak memuji penampilannya. Cakra saja terpesona padanya, sungutnya dalam hati.
Fiola memegang perban kecil di keningnya untuk menarik perhatian Jetro. Tapi laki laki itu hanya fokus pada layar ponselnya.
"Tadi teman teman kerjaku menanyakan kenapa keningku luka." Fiola memulai lagi obrolan, mengharap diperhatikan Jetro.
Jetro hanya mengalihkan tatapnya sebentar sebelum kembali fokus pada ponselnya. Seakan yang dikatakannya tidak penting.
"Om kamu menawarkan agar aku menghilangkan bekasnya di rumah sakit keluarga kalian," ucapnya lagi.
Masih tidak ada tanggapan dari Jetro.
Gadis pelayan restoran itu membawakan pesanan mereka.
"Mungkin kamu bisa menemani aku saat ke rumah sakit. Aku perlu mengganti perban." Fiola menunjukkan perban dengan jari telunjuknya.
"Aku sibuk."
Pelayan restoran itu menahan senyumnya sebelum pergi. Dia dapat melihat ekspresi kecewa yang amat sangat di wajah yang penuh pura pura itu.
Fiola melirik sebal pada pelayan yang kini seolah senang melihat dia ditolak begini. Wajah Gadis pelayan itu sudah tidak takut lagi saat pergi.
Dasar pelayan kurang ajar.
Kini dia hanya bisa diam dan menghabiskan makanannya dengan perasaan mangkel.
Masa, sih, Febi bisa diberikan bunga oleh Jetro? Memangnya apa yang sudah Febi lakukan?
Dia dan Jetro sudah beberapa kali bertemu. Tapi Jetro tidak pernah berpikir mengirimkannya buket bunga seperti yang dia berikan pada Febi.
"Setelah ini... apakah kita akan ketemu lagi?" tanya Fiola yang ngga tahan dengan suasana hening ini. Yang ada hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.
"Tentu."
Wajah Fiola yang suntuk kini sumringah lagi.
Rencana papanya berhasil.
Kini Fiola sudah bisa tersenyum menikmati makanannya.
"Apakah di restoran lagi?" tanyanya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Apa?" Jetro menahan sendok di piringnya. Dia menatap Fiola dengan bingung.
"Emm.... Pertemuan kita yang selanjutnya kapan?" tanya Fiola dengan pipi merona. Padahal dengan Cakra, dia tidak pernah merasakan gugup begini.
Jetro tersenyum samar.
"Bukannya kamu pramugari? Kita ketemu saat kamu bekerja, kan?"
Maksudnya apa? Fiola menatap Jetro dengan tatapan aneh. Dia merasa ada yang salah dengan kata kata Jetro.
"Ten tentang niat orang tua kita... ba bagaimana?" tanya Fiola dengan debaran di dada yang ngga nyaman.
"Jangan salah paham. Aku setuju menemuimu bukan karena menyukaimu." Jetro mengusap mulutnya dengan sapu tangan, membiarkan gadis di depannya yang tampak mematung dengan wajah pucat.
"Aku hanya menghargai undangan papamu," lanjut Jetro datar.
Kata kata Jetro menampar kuat jantung Fiola.
Dia ditolak?
"Aku pulang duluan, ya. Pekerjaan sudah menungguku." Jetro kemudian bangkit dari duduknya. Melangkah pergi meninggalkan Fiola yang masih belum meresponnya.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,