desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Ancaman yang Tak Terduga
Malam di Tanah Abang tak pernah benar-benar sunyi. Suara televisi dari kamar-kamar kost, deru motor yang sesekali lewat, dan obrolan warung kopi di ujung gang selalu jadi pengantar tidur. Tapi malam itu, Aira tak bisa tidur.
Ia berbaring di kasur tipisnya. Memandangi langit-langit kamar yang mulai mengelupas catnya. Memikirkan sore tadi. Memikirkan Raka. Memikirkan bagaimana pria itu menggenggam tangannya saat ia bercerita tentang Rian.
Genggaman itu hangat. Kuat. Seperti ingin bilang, "Kau tak sendiri."
Ponselnya bergetar. Sudah larut, jam sebelas malam. Aira mengangkat, berharap itu Maya yang biasanya begadang. Tapi bukan.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Tapi ia tahu siapa.
"Selamat malam, Nona Aira. Maaf mengganggu larut malam. Saya dapat informasi menarik hari ini. Raka membawa Arka ke butikmu. Kalian bertiga terlihat bahagia. Sangat bahagia. Tapi ingat, Nona. Aku masih di sini. Dan aku tak akan tinggal diam. - L"
Aira membaca pesan itu. Jantungnya berdetak cepat. Ia membalas:
"Bagaimana kau tahu?"
Balasan masuk cepat:
"Jakarta kecil, Nona. Banyak mata yang bisa kubayar. Percayalah, aku tahu segalanya."
Aira menggigit bibir. Tangannya gemetar. Ia mengetik lagi:
"Apa maumu, Lita?"
"Aku hanya ingin kau tahu posisimu. Jangan terlalu dekat. Jangan terlalu nyaman. Karena sebentar lagi, semuanya akan berubah. Dan kau akan kembali ke duniamu. Dunia kecil yang sempit di Tanah Abang."
Aira tak membalas. Ia hanya menatap layar ponsel dengan dada sesak.
Pesan baru masuk lagi:
"Oh ya, satu lagi. Besok aku akan ke rumah Raka. Resmi. Akan ada pertemuan keluarga. Aku, Raka, dan Arka. Kau tak diundang. Paham?"
Aira mematikan ponsel. Meletakkannya di samping bantal. Memejamkan mata.
Tapi tidur tak kunjung datang.
---
Di apartemen The Rosewood, Raka juga belum tidur. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap dokumen-dokumen yang seharusnya ia baca. Tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Pertemuan dengan Lita pagi tadi masih membekas. Air mata wanita itu. Pengakuannya. Janjinya untuk berubah.
Dan sore ini, pertemuan dengan Aira. Cerita tentang adiknya. Air matanya. Genggaman tangannya.
Dua wanita. Dua dunia. Dua masa lalu yang berbeda.
Raka menghela nafas. Ia tak tahu harus memilih yang mana. Atau justru tak perlu memilih?
Ponselnya bergetar. Lita lagi.
"Rak, besok aku ke rumah. Jam 10 pagi. Aku ingin ketemu Arka. Resmi. Sebagai ibunya. Kau tak bisa melarang."
Raka membaca. Ia membalas singkat:
"Datanglah. Tapi jangan buat Arka sedih."
"Aku ibunya. Aku sayang Arka. Aku tak akan buat dia sedih."
Raka tak membalas. Ia meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Badai benar-benar akan datang.
---
Pagi itu, Jakarta cerah. Matahari bersinar terik. Tapi di dalam apartemen The Rosewood, udaranya dingin. Bukan karena AC, tapi karena ketegangan.
Raka duduk di ruang tamu. Arka di sampingnya, memeluk guling. Wajah anak itu campuran antara senang dan takut.
"Bapak, Ibu beneran datang?"
"Iya, Nak."
"Janji enggak pergi lagi?"
Raka diam. Ia tak bisa menjawab. Ia tak tahu.
Pintu apartemen diketuk. Bi Inah membuka. Lita masuk.
Hari itu Lita tampil berbeda. Tak ada gaun mahal, tak ada riasan menor. Ia memakai dress sederhana warna krem. Rambut diikat ekor kuda. Wajahnya tanpa riasan tebal. Ia mencoba tampil sebagai ibu yang sederhana, yang rendah hati.
Lita berjalan mendekat. Matanya langsung tertuju pada Arka.
"Ark..." suaranya bergetar.
Arka diam. Memeluk gulingnya erat.
Lita berjongkok di depan Arka. Tak jadi memeluk. Menahan diri.
"Ark, Ibu... Ibu pulang."
Arka menatap Lita. Lama. Matanya berkaca-kaca.
"Ibu pergi lama."
Lita menangis. "Ibu tahu. Ibu minta maaf. Ibu... Ibu salah. Ibu janji, sekarang Ibu enggak akan pergi lagi."
Arka diam. Lalu tiba-tiba ia berkata, "Ibu bohong."
Lita terkejut. "Ark?"
"Ibu bohong. Dulu Ibu juga janji enggak pergi. Tapi Ibu pergi. Waktu Arka sakit."
Lita tersedu-sedu. "Ark, maafkan Ibu. Ibu sungguh-sungguh minta maaf."
Raka dari kursi tamu hanya diam. Memperhatikan.
Arka menunduk. Air matanya jatuh.
"Arka... Arka mau Ibu. Tapi Arka takut."
Lita tak bisa menahan lagi. Ia memeluk Arka. Erat.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."
Arka diam dalam pelukan itu. Tak membalas. Tapi juga tak menolak.
Raka menarik nafas panjang. Ia melihat ada keikhlasan di mata Lita. Tapi ia juga tahu, luka tak bisa sembuh dalam sehari.
Bi Inah yang berdiri di dapur, ikut menangis melihat adegan itu.
Lita melepas pelukan. Memegang wajah Arka dengan kedua tangannya.
"Ark, Ibu janji. Ibu enggak akan pergi lagi. Ibu akan jagain Arka. Temenin Arka. Bacain cerita buat Arka. Ibu akan jadi Ibu yang baik. Janji."
Arka menatap Lita. Lalu perlahan, ia mengangguk.
"Iya, Bu."
Lita tersenyum. Senyum yang tak dibuat-buat. Tulus.
Raka akhirnya angkat bicara. "Lita, duduklah. Kita bicara."
Lita mengangguk. Ia melepas Arka. Arka lari ke kamar, mungkin masih bingung dengan perasaannya.
Lita duduk di sofa menghadap Raka.
"Terima kasih, Rak. Terima kasih sudah mengizinkanku datang."
Raka menghela nafas. "Lita, aku belum percaya padamu. Jujur. Tapi untuk Arka, aku akan beri kesempatan. Tapi ingat, satu saja kau menyakiti dia, aku tak akan segan mengusirmu."
Lita mengangguk. "Aku paham. Aku terima. Akan aku buktikan."
Mereka berbicara panjang. Tentang Arka. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Lita bercerita tentang hidupnya tiga tahun terakhir. Tentang Richard yang menipunya. Tentang bagaimana ia jatuh miskin di Singapura. Tentang bagaimana ia bangkit perlahan.
"Aku kerja apa saja, Rak. Jadi pelayan, jadi SPG, jadi apa saja. Aku ingin pulang, tapi malu. Tapi waktu tahu Arka punya teman baru, Aira, aku cemas. Cemas kalau dia lupa padaku. Makanya aku pulang."
Raka diam. "Aira orang baik. Dia sayang Arka."
Lita menunduk. "Aku tahu. Aku lihat fotonya. Dia... dia cantik. Dan baik. Mungkin lebih baik dari aku."
Raka tak menjawab.
Lita mengangkat kepala. "Rak, aku tak akan halangi hubunganmu dengan Aira. Jika kalian memang ada perasaan, silakan. Aku hanya ingin jadi ibu buat Arka. Itu saja."
Raka terkejut. "Kau... merelakan?"
Lita tersenyum getir. "Aku tak punya hak untuk melarang, Rak. Aku yang pergi dulu. Aku yang hancurkan keluarga ini. Kalau kau bahagia dengan Aira, aku akan terima."
Raka diam. Perkataan Lita membuatnya bingung. Kemarin Lita mengancam Aira. Hari ini ia bicara seperti ini.
Mana yang asli?
---
Sore harinya, Aira menerima telepon dari Raka.
"Nona Aira, maaf mengganggu. Saya hanya ingin kasih tahu... Lita datang tadi. Ke rumah. Ketemu Arka."
Aira diam. Jantungnya berdetak.
"Arka bagaimana?"
"Arka... campur aduk. Senang, takut, bingung. Tapi Lita bilang, dia mau berubah. Mau jadi ibu yang baik."
Aira menghela nafas. "Syukurlah, Pak. Semoga benar-benar baik."
"Nona Aira, saya juga ingin bilang... Lita tahu tentang Nona. Tentang pertemuan kita. Dia bilang, dia tak akan halangi."
Aira terkejut. "Dia bilang begitu?"
"Iya. Tapi saya... saya tak tahu harus percaya atau tidak."
Aira diam. Ia ingat pesan-pesan Lita. Ancaman-ancaman itu. Mana yang benar?
"Pak Raka, saya hanya ingin bilap. Hati-hati. Jangan terlalu cepat percaya."
Raka menghela nafas. "Saya tahu. Tapi untuk Arka, saya harus beri kesempatan."
"Aku mengerti, Pak. Doa terbaik untuk Arka."
"Terima kasih, Nona. Saya... saya juga ingin bilang, terima kasih untuk semuanya. Untuk kebaikan Nona pada Arka."
Aira tersenyum. "Sama-sama, Pak."
Telepon ditutup. Aira menatap ponselnya. Hatinya campur aduk. Senang Lita bilang tak akan halangi. Tapi curiga dengan perubahan sikap Lita yang drastis.
Maya datang. "Mba, siapa tadi?"
"Pak Raka."
"Ngapain?"
"Kasih tahu kalau Lita udah dateng ke rumah. Ketemu Arka."
Maya mengerutkan kening. "Terus?"
"Dia bilang Lita mau berubah. Mau jadi ibu baik."
Maya bersiul. "Wah, bagus dong. Berarti Mba bisa tenang."
Aira menggeleng. "Aku enggak yakin, May. Lita itu... dia ancam aku kemarin. Kasar. Tiba-tiba hari ini dia bilang merelakan? Aneh."
Maya diam. Memikirkan.
"Mba bener juga. Orang jahat mendadak baik, biasanya ada maunya."
"Iya. Makanya aku curiga."
"Tapi apa maunya?"
Aira menggeleng. "Entah. Tapi kita harus hati-hati."
---
Di hotel berbintang, Lita duduk di kamarnya. Ia memandangi pemandangan Jakarta dari jendela kaca. Ponsel di tangannya.
Sebuah panggilan masuk. Dari luar negeri.
Lita mengangkat. "Halo, Sayang."
Suara pria di seberang. "Gimana?"
"Lancar. Raka mulai luluh. Aku mainin peran ibu minta maaf. Nangis-nangis. Dia percaya."
"Bagus. Arka?"
"Dia masih takut. Tapi lama-lama pasti luluh. Anak kecil gampang dilupain."
Pria itu tertawa. "Kau pintar, Sayang. Ingat target kita. Bukan Raka. Bukan Arka. Tapi perusahaan. Begitu kau dapet akses, kita gas."
Lita tersenyum. Senyum yang berbeda. Bukan senyum ibu tulus. Tapi senyum predator.
"Aman. Aku tunggu waktu yang tepat."
"Oke. Aku kirim uang bulanan. Jangan boros."
"Okay, Sayang."
Telepon ditutup. Lita menatap layar ponsel. Di galeri, ada foto Raka dan Arka. Ia menatapnya lama.
"Maaf, Rak. Ini bukan tentang kalian. Ini tentang uang."
Ia hapus foto itu. Lalu memesan makan malam mahal dari room service.
Di luar, Jakarta malam itu indah. Tapi di dalam kamar hotel, ada ular yang sedang menyiapkan diri untuk memangsa.
---
Minggu-minggu berikutnya berjalan cepat. Lita datang ke apartemen hampir setiap hari. Membawakan Arka mainan, baju, makanan kesukaannya. Ia berusaha keras jadi ibu baik.
Arka mulai terbiasa. Ia mulai mau dipeluk, mau diajak main, mau cerita. Tapi di malam hari, saat sendiri, ia masih sering bertanya pada Bi Inah.
"Bi, Ibu beneran enggak pergi lagi?"
Bi Inah selalu menjawab, "Mudah-mudahan, Nak."
Raka melihat perubahan Arka. Ia senang. Tapi ia juga waspada. Ada sesuatu di mata Lita yang tak bisa ia percaya sepenuhnya.
Sementara Aira, ia menjaga jarak. Ia tetap datang sesekali main dengan Arka, tapi tak lagi sesering dulu. Ia tak ingin mengganggu proses Lita dan Arka.
Tapi Lita tahu. Ia tahu Aira masih ada. Dan itu mengganggunya.
Suatu sore, saat Raka di kantor, Lita datang ke apartemen. Arka sedang tidur siang. Lita duduk di ruang tamu bersama Bi Inah.
"Bi, Nona Aira masih sering datang?"
Bi Inah ragu menjawab. "Kadang-kadang, Bu. Main sama Arka."
Lita tersenyum. Manis.
"Aira baik ya. Sayang Arka."
"Iya, Bu."
Lita diam. Lalu berkata pelan, "Bi, aku minta tolong. Kalau Aira datang, tolong kabari aku. Aku ingin tahu. Bukan apa-apa, aku hanya ingin atur jadwal. Biar enggak bentrok."
Bi Inah mengangguk. "Baik, Bu."
Tapi di hati Bi Inah, ada firasat tak enak. Permintaan Lita aneh. Seperti memata-matai.
Malamnya, Bi Inah telepon Raka. Cerita tentang permintaan Lita.
Raka diam. Lalu berkata, "Bi, lakukan saja. Tapi kalau ada yang aneh, kabari aku cepat."
"Iya, Tuan."
Raka menaruh ponsel. Pikirannya kacau. Lita mulai menunjukkan belangnya. Tapi apa maunya?
Ia ingat pesan Aira. "Hati-hati. Jangan terlalu cepat percaya."
Mungkin Aira benar.
---
Dua minggu kemudian, Arka ulang tahun. Raka mengadakan pesta kecil di apartemen. Hanya keluarga dekat dan beberapa teman Arka dari sekolah.
Lita datang lebih awal. Membantu dekorasi. Memasak beberapa makanan kesukaan Arka. Ia tampil sempurna sebagai ibu yang baik.
Aira diundang. Tapi ia ragu. Haruskah datang? Tapi Arka sudah minta sejak lama.
"Aira, dateng ya! Arka ulang tahun!"
Aira tak bisa menolak.
Pesta berlangsung meriah. Arka senang sekali. Teman-temannya datang. Kue ulang tahun besar dengan gambar dinosaurus. Lita memotong kue, didampingi Raka. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.
Aira datang membawa kado. Sebuah boneka dinosaurus buatan tangan, dari kain perca.
Arka langsung memeluk boneka itu. "Aira! Aira datang!"
Aira tersenyum. "Selamat ulang tahun, Ark."
Lita mendekat. Tersenyum manis. "Nona Aira, terima kasih sudah datang. Arka senang sekali."
Aira membalas senyum. "Sama-sama, Bu Lita."
Lita meraih tangan Aira. "Nona, bisakah kita bicara sebentar?"
Aira terkejut. Tapi mengangguk.
Mereka pergi ke balkon. Jauh dari keramaian pesta. Lita menutup pintu kaca.
"Nona Aira, aku ingin berterima kasih."
Aira mengernyit. "Untuk apa?"
"Untuk kebaikan Nona pada Arka. Selama aku pergi, Nona yang jagain dia. Aku tahu itu."
Aira diam. Tak tahu harus berkata apa.
Lita melanjutkan, "Dan aku juga minta maaf. Untuk pesan-pesan kasar itu. Aku... aku cemburu. Cemburu lihat Nona dekat dengan anakku. Tapi sekarang aku sadar, Nona baik. Dan aku harus terima."
Aira menatap Lita. Mencari kebohongan di matanya. Tapi yang ia lihat hanya ketulusan.
"Lita, aku terima maafmu. Dan aku... aku senang kau kembali. Arka butuh ibunya."
Lita tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nona. Kau baik sekali."
Mereka berpelukan. Hangat.
Di dalam, Raka melihat adegan itu dari jendela. Ia tersenyum. Mungkin Lita benar-benar berubah. Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Tapi di sudut lain balkon, sebuah ponsel tersembunyi di balik pot bunga. Perekam suara menyala. Merekam seluruh percakapan.
Lita tersenyum dalam pelukan Aira. Tapi senyumnya berbeda. Senyum kemenangan.
---
Malam harinya, setelah pesta usai, Lita duduk di kamar hotelnya. Ia memutar rekaman percakapan dengan Aira. Suaranya dan suara Aira terdengar jelas.
Ia mengirim rekaman itu ke satu nomor. Disertai pesan:
"Sayang, ini bahan pertama. Nanti aku kirim lagi yang lebih seru."
Balasan masuk:
"Bagus. Kita bisa pakai ini buat hitam-in Aira. Kasih ke Raka, bilang Aira mau rebut Arka. Atau kasih ke media, bilang Aira ibu tiri kejam. Banyak cara."
Lita tersenyum.
"Iya, Sayang. Banyak cara."
Ia mematikan ponsel. Berbaring di tempat tidur mewah. Memandangi langit-langit.
"Maaf, Aira. Kau terlalu baik untuk dunia ini. Tapi aku butuh uang. Dan kau penghalang."
---
Di Tanah Abang, Aira tak bisa tidur. Ia memikirkan pertemuan dengan Lita. Pelukan itu. Maaf itu. Terima kasih itu.
Ada yang aneh. Tapi ia tak bisa menjelaskan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Raka.
"Selamat malam, Nona Aira. Terima kasih sudah datang. Arka senang sekali. Saya juga senang melihat Nona dan Lita akur. Semoga ke depannya baik."
Aira membalas:
"Sama-sama, Pak. Saya juga senang. Selamat malam."
Ia meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Tapi di hatinya, ada bisikan kecil.
Hati-hati, Aira. Sesuatu tak beres.
Aira membuka mata. Menatap gelapnya kamar.
Ia tak tahu, di hotel mewah, ular sedang menyiapkan taringnya.
Dan badai sesungguhnya, belum datang.
---
Catatan Penulis Chapter 10:
Inilah awal dari konflik sesungguhnya. Lita ternyata punya agenda besar. Bukan sekadar ingin kembali jadi ibu, tapi ada target lain: perusahaan Raka. Dan Aira, yang tulus dan polos, jadi korban.
Perhatikan bagaimana Lita memainkan peran. Di depan Raka dan Aira, ia tampil sebagai ibu yang menyesal dan ingin berubah. Tapi di belakang, ia adalah predator sejati.
Aira mulai curiga. Tapi kebaikannya sering kali jadi kelemahan. Ia terlalu mudah percaya pada orang.
Raka, di sisi lain, mulai lengah. Kebahagiaan Arka membuatnya abai pada tanda-tanda bahaya.