Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tribulasi langit(fix)
Pagi hari di lapangan latihan utama Sekte Awan Mendung biasanya dipenuhi dengan suara teriakan semangat dan denting senjata.
Namun, sejak Li Qiye—identitas samaran Fang Yuan—bergabung, atmosfer di sana berubah menjadi canggung.
Murid-murid lain menjaga jarak setidaknya tiga meter darinya, seolah-olah ada garis kematian yang tak terlihat di sekelilingnya.
Fang Yuan berdiri di pojok lapangan, melakukan gerakan dasar tinju dengan ritme yang konstan.
Setiap pukulannya tidak mengeluarkan suara, namun udara di depannya tampak beriak—tanda bahwa kontrol Qi-nya sudah berada di tingkat yang sangat tinggi.
Di tengah latihan itu, sesosok wanita cantik dengan jubah sutra biru muda berjalan mendekat.
Namanya Lin Xiao, murid dalam yang terkenal karena kecantikannya dan bakatnya yang di atas rata-rata.
Biasanya, para murid lelaki akan memperebutkan perhatiannya, namun kali ini, dialah yang datang mendekat.
"Teknik yang menarik," ucap Lin Xiao dengan suara lembut yang dibuat semanis mungkin.
Ia berdiri cukup dekat hingga aroma parfum bunganya menyentuh hidung Fang Yuan. "Aku belum pernah melihat gaya bertarung seperti itu di sekte ini. Apakah kau keberatan jika kita berlatih tanding sebentar, Li Qiye?"
Lin Xiao memberikan senyum terbaiknya, jenis senyum yang biasanya bisa meluluhkan hati pria manapun.
Namun, Fang Yuan bahkan tidak menghentikan gerakannya.
Matanya tetap menatap lurus ke depan, seolah-olah Lin Xiao hanyalah sebatang pohon yang kebetulan berdiri di sana.
"Kau menghalangi cahayaku," ucap Fang Yuan datar, suaranya sedingin es di puncak gunung.
Lin Xiao tersentak. Senyumnya membeku. "Apa? Aku hanya ingin ..."
"Pergi," potong Fang Yuan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. "Kau lemah, dan aroma parfummu mengganggu fokusku. Jangan membuang waktuku dengan basa-basi yang tidak berguna."
Lin Xiao mematung di tempat, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah.
Di sekeliling mereka, murid-murid lain berbisik-bisik tak percaya. Seorang dewi sekte baru saja diusir seperti lalat pengganggu.
Tanpa menoleh lagi, Fang Yuan menyelesaikan latihannya dan berjalan pergi menuju asramanya, meninggalkan Lin Xiao yang gemetar karena terhina.
Di dalam kesunyian kamarnya, Fang Yuan duduk bersila di atas lantai batu. Bai Lie sudah menunggu di sudut, segera berlutut saat tuannya masuk.
"Tuan, apakah latihan Anda berjalan lancar?" tanya Bai Lie dengan nada patuh.
Fang Yuan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menutup matanya, merasakan energi Qi yang mengalir di Dantiannya yang kini berbentuk altar kelabu. "Bai Lie, jelaskan padaku tentang kenaikan ranah setelah Pendirian Fondasi. Apa yang menghalangi seorang kultivator untuk mencapai puncak?"
Bai Lie menarik napas dalam, wajahnya tampak serius. "Tuan, untuk mencapai Ranah Pembentukan Inti (Ranah ke-3) dan seterusnya, kekuatan fisik dan Qi saja tidak cukup. Di sanalah hukum dunia mulai bekerja. Itulah yang disebut dengan Tribulasi Langit."
Fang Yuan membuka satu matanya. "Tribulasi Langit?"
"Ya," lanjut Bai Lie. "Langit tidak menyukai makhluk yang mencoba melampaui batas kodratnya. Semakin kuat seseorang, semakin besar ancaman yang ia berikan pada keseimbangan alam. Saat Tuan mencoba menembus ranah yang lebih tinggi, Langit akan mengirimkan hukuman berupa petir penghancur atau ujian mental yang mematikan. Banyak kultivator hebat yang hancur menjadi abu karena tidak mampu menahan murka Langit."
Bai Lie menelan ludah sebelum melanjutkan dengan suara berbisik, "Apalagi bagi mereka yang menempuh jalan yang ... menantang hukum langit. Tribulasi yang mereka terima biasanya sepuluh kali lipat lebih kejam."
Fang Yuan terdiam. Ia teringat akan janjinya di dalam dimensi Mutiara Petir—untuk menjadi musuh Langit dan menghancurkan hukum yang telah mempermainkan hidupnya.
"Jadi, Langit akan mencoba menghentikanku dengan petir?" Fang Yuan bergumam pelan. Sebuah kilatan ungu muncul sesaat di matanya, bergema dengan Mutiara Petir yang tersembunyi di dalam dadanya.
"Benar, Tuan. Itu adalah penghakiman akhir," jawab Bai Lie takut-takut.
Fang Yuan tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Ia kembali memejamkan matanya sepenuhnya, masuk ke dalam meditasi yang dalam.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.