NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 11) Di bilik kamar mandi

Uap hangat memenuhi bilik kamar mandi itu, menempel pada cermin besar berbingkai emas hingga permukaannya berembun seperti pagi yang malas bangun. Cahaya lilin aromatik bergetar pelan, menyebarkan wangi vanila dan lavender yang lembut, berpadu dengan harum mawar merah yang mengambang di atas busa putih. Air di bathup beriak kecil setiap kali Laila menggerakkan tubuhnya, menciptakan suara lirih yang menenangkan, seperti bisikan sungai di kejauhan.

Laila memejamkan mata, jemarinya perlahan menyusuri lengan dan bahunya, membersihkan sisa-sisa daki dengan gerakan sabun yang lembut. Ia bersenandung lagu lama yang sering Dio nyanyikan ketika mereka masih bersama, nadanya pelan namun penuh perasaan. Suaranya menggema samar di antara dinding marmer, terdengar jernih dan rapuh sekaligus.

"Dio..." lirih Laila bernostalgia.

Tanpa ia sadari, pintu kamar mandi yang semula tertutup kini terbuka sedikit. Seseorang berdiri di sana, diam, memperhatikan.

David.

Ia tidak masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu, bahunya bersandar pada kusen, napasnya tertahan. Cahaya lilin memantulkan siluet Laila di permukaan air, menciptakan bayangan yang bergerak lembut.

David tampak mengamati pergerakan Laila. Entah caranya menyentuh air, menunduk dan tersenyum kecil saat bernyanyi, yang membuat dada pria itu tergelitik.

Beberapa hari terakhir, hubungan mereka sulit dijelaskan. Mereka sudah tidak pernah saling berbalas pesan. Hanya sekali itu saja ketika Laila yang sedang gabut, iseng-iseng mengirimkannya pesan. Setelahnya tidak ada lagi pesan yang sama, dari istri kontraknya tersebut.

David pun enggan untuk mengganggu. Entah karena gengsi atau takut Laila risih.

Sekitar tiga kali mereka bertatap muka. Tidak lama sesudahnya, David langsung ke Belanda demi sebuah urusan bisnis. Meski pertemuan itu hanya sejam atau dua jam, tetapi selalu membekas.

Dan sekarang, melihat Laila seperti ini membuat David sadar betapa kuat hasratnya untuk memiliki.

Di dalam bathup, Laila membuka mata. Ia meraih spons, lalu menyandarkan kepala di tepi bathup.

"Mia…" panggilnya lembut. "Tolong ambilkan handuk, ya."

Tak ada jawaban.

Ia mengerutkan dahi, tapi mengira mungkin suara air menenggelamkan suaranya.

"Mia?" panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras.

David menelan ludah. Ia telah mengunci pintu dari dalam, sehingga membuat Mia tidak bisa masuk ke kamar. Semua itu atas kehendaknya sendiri.

David tidak tahu mengapa ia reflek melakukannya. Mungkin karena ia ingin berbicara dengan Laila, ataupun mau menciptakan suasana berbahaya?

Laila mendesah pelan.

"Aduh, anak itu ke mana sih…" gumamnya.

Laila berdiri perlahan di dalam bathup, air bergeser dan memercik kecil. Busa menempel di pundaknya. Ia meraih pinggiran bathup, bersiap keluar.

Saat itulah, sebuah tangan kekar dari samping pintu, mengulurkan handuk putih bersih.

Laila yang tidak melihat siapa pun di balik uap, langsung menerimanya.

"Terima kasih, Mia..." katanya ringan.

"Sama-sama."

Suara itu berat. Dalam. Bukan suara perempuan.

Tubuh Laila menegang seketika. Jemarinya yang memegang handuk membeku.

Ia menoleh perlahan, seperti seseorang yang takut melihat kenyataan yang sudah ia duga.

Deggg!

Dan di sana, David berdiri di tengah kabut uap dan cahaya lilin.

Wajahnya tegas, matanya tajam walau sulit dibaca. Tapi ia tersenyum, menatap Laila dengan dalam. Membuat jantung perempuan itu berdentum keras.

"Tu... Tuan Da… David?" suara Laila nyaris tak terdengar.

Ia spontan merapatkan handuk ke tubuhnya, wajahnya memerah bukan hanya karena panas air. Melainkan ada sedikit rasa malu.

"Apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya, berusaha terdengar tegas meski suaranya bergetar.

David mengalunkan langkah mendekat, lalu berhenti tepat didepan Laila. Menyisakan jarak yang amat dekat. Cuman sejengkal saja.

"Selamat malam istriku tercinta... Pelayanmu tidak bisa kemari. Karena aku sudah mengunci pintu,” ujarnya menyengir.

Deggg.

Laila membelalakkan mata. Seketika, ia mengeratkan tangannya pada handuk yang melilitnya itu. Pikiran yang aneh-aneh pun, sudah membentang di benaknya.

"Ke.. Kenapa anda mengunci pintu?" tanya Laila lagi. Kali ini dengan tubuh gemetar dan perasaan yang ketar-ketir.

David tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari wajah maupun tubuh indah milik Laila, seolah mencermati sesuatu di sana.

"Sebab aku tidak mau ada orang yang menganggu obrolanku, dengan istriku." Balas David, kian menggetarkan hati Laila.

Laila menelan ludah.

"Bicara bisa dilakukan di luar kamar mandi," sahut Laila, mencoba menahan gugup.

David mengangguk pelan. "Yup, benar."

Namun ia tidak bergerak pergi.

Seperkian detik berlalu dalam diam. Hanya suara air yang menetes dari rambut panjang Laila ke lantai marmer.

"Tuan," Laila berkata lebih tegas, "tolong keluar."

David menaikkan alisnya, dengan masih mempertahankan seringainya yang licik. Katanya, "tuan? Apa aku tidak salah dengar?"

Laila menggigit bibirnya, menahan kesal. Ia diam seribu bahasa. Sedangkan David yang melihat reaksi itu, merasa sikap tersebut cukup menggemaskan.

"Aku tidak suka dipanggil tuan, Laila..." Ucap David. "Karena kita sudah suami-istri, kau bisa memanggil namaku. Misalnya dengan sebutan Dev, atau... Suamiku tersayang," terusnya, menekan nada bicara.

Laila mengepalkan tangan. Mukanya memerah karena marah. Raut wajahnya masam. Ia ingin melawan tapi takut dihajar oleh sang penguasa Sao Paulo itu.

Laila yang kebingungan harus apa agar pria itu keluar hanya bisa meneteskan air mata.

"Hiks..." Laila menangis.

"Kau..." David tersentak.

"Huwaaa..." apalagi kala tangis Laila pecah menjadi isakan yang menggelegar, pria itu langsung merasa bersalah. Padahal niat awalnya cuman mau menggoda Laila. Bukan berbuat macam-macam. Namun, yang terjadi justru diluar dugaannya.

"La... Laila..." bisik David mengarahkan tangannya dengan ragu-ragu namun perlahan, hendak memegang pundak Laila.

Drappp.

Laila memundurkan langkahnya. Ia mendadak takut ketika tangan pria itu terulur. Sebab yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya adalah, bahwa David Mendoza merupakan seorang ketua kartel, pembunuh berdarah dingin dan pria kejam.

David menghentikan niatnya. Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Ia pelan-pelan mundur ke belakang sambil berkata, "baiklah... aku akan keluar. Tolong jangan menangis lagi."

Sebelum kembali menutup pintu kamar mandi, ia meneruskan, "aku tak bermaksud membuatmu tidak nyaman, Laila. Maafkan aku."

"Aku akan menunggumu di luar," ucapnya menutup pintu.

Brakk.

Laila terdiam. Seketika tangisannya mereda.

Setelah pintu tertutup, Laila berdiri mematung beberapa saat. Jantungnya masih berdebar kencang. Ia tidak tahu apakah itu karena tertekan, atau takut.

Ia cepat membasuh bersih dirinya. Mengenakan kimono mandi berwarna putih yang lembut, lalu mengikatnya dengan tangan gemetar.

"Astaga..." David memijit keningnya. "Aku malah jadi kaya menakut-nakutinya," gumamnya.

"Nanti kalau dia sudah keluar, aku harus minta maaf," lanjutnya yang tidak lama kemudian keputusan itu berubah.

"Ah tidak... tidak," David menggelengkan kepala. "Dia pasti masih trauma. Lebih baik aku menunggunya saja, di meja makan."

Dan begitulah, David pun keluar dari dalam dengan raut wajah yang suram. Sehingga membuat Mia yang masih di depan pintu, bergidik ketakutan.

Buru-buru, Mia berlari menghampiri Laila yang terlunglai lemas.

"Nyonya.. Tadi saya mendengar anda menangis sesenggukan. Apa tuan melakukan sesuatu yang brutal terhadap anda? Anda tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya Mia cemas melihat wajah Laila sudah pucat, menyerupai mayat.

"Tidak, Mia. Aku begini karena terkejut." Jelas Laila, dengan langkah sempoyongan karena shock.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!