Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Di antara es krim dan rahasia
Vanilla.
Pilihan itu masih terasa mengganjal di dada Gina bahkan setelah pesanan selesai dibuat. Azmi duduk di kursi ujung dekat jendela, menunggu.
Beberapa kali ia menatap keluar, lalu kembali ke arah kasir tempat Gina memesan.
Tak lama—
Gina berjalan ke arahnya, membawa nampan kecil berisi dua mangkuk es krim.
“Ini ya, Mbak. Dua scoop strawberry, sama satu vanilla. Hati-hati bawanya,” ucap pelayan tadi masih terngiang.
Gina meletakkan nampan itu di meja.
“Nih, es krimnya,” katanya sambil mendorong salah satu mangkuk ke arah Azmi.
Azmi tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berhadapan.
Sendok mulai menyentuh es krim yang masih dingin, perlahan mencair.
“Gimana? Enak?” tanya Gina.
Azmi mencoba satu suapan, berpikir sebentar.
“Emm… lumayan,” jawabnya santai.
Gina tertawa kecil.
“Lumayan doang? Itu udah level paling jujur dari kamu ya?”
Azmi mengangkat bahu.
“Kan tadi aku bilang, aku nggak terlalu suka es krim.”
“Tapi tetep dimakan.”
“Ya… karena kamu yang ngajak.”
Kalimat itu keluar ringan.
Tapi entah kenapa, Gina terdiam sepersekian detik.
Sendoknya berhenti di udara.
Lalu ia pura-pura fokus lagi ke es krimnya.
Suasana di antara mereka tidak canggung—tapi tidak sepenuhnya santai juga.
Ada sesuatu yang menggantung.
Beberapa saat kemudian, Gina bersandar sedikit di kursinya.
Azmi menoleh.
“Masih kepikiran yang tadi di mobil?” tanyanya pelan.
Gina menyeringai kecil.
“Cih… bohong banget katanya mau pura-pura nggak denger.”
Azmi ikut tersenyum.
“Iya, bohong,” jawabnya ringan.
“Mana bisa pura-pura nggak denger kalau ada cewek nangis di sebelahku.”
Gina tertawa kecil, lalu merebahkan badannya ke arah meja.
“Iya… aku masih kepikiran,” gumamnya.
“Baru kali ini aku berani nentang omongan ayah.”
Azmi menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Itu tandanya kamu udah capek,” ucapnya pelan.
Gina terdiam sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Aku emang capek dari dulu,” ucapnya lirih.
“Cuma… biasanya aku tahan.Aku jalanin tanpa ngeluh sedikit pun.”
Ia menunduk.
“Tapi kali ini beda. Tekanan dari ayah terasa makin berat… dan aku mulai nggak sanggup untuk pura-pura baik-baik aja.”
Azmi menatapnya.
“Padahal kamu punya hak buat nolak,” katanya.
“Jangan paksain semuanya seolah itu kewajiban kamu. Hidup kamu ya tetap kamu yang jalanin, bukan mereka.”
Gina tersenyum tipis, tapi matanya tetap lelah.
“Aku pengen bisa kayak gitu,” balasnya.
“Tapi kamu nggak bakal ngerti rasanya jadi satu-satunya harapan keluarga.”
Ia menggenggam jemarinya sendiri.
“Aku takut… kalau aku berhenti, mereka kecewa.”
Azmi terdiam sebentar, lalu bicara lebih pelan.
“Aku ngerti kok,” ucapnya.
“Soalnya… aku juga pernah ngerasain ada di posisi itu.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Tapi lama-lama aku sadar… hidup yang jalanin tetap kita. Bukan orang lain.”
Gina sedikit tersenyum. Tatapannya penuh saat menatap Azmi.
Azmi melanjutkan, suaranya ringan.
“Terus… alasan kamu ngajak ke mall tadi apa?”
Gina kembali tersenyum.
“Obat,” jawabnya singkat, tegas.
Azmi mengernyit.
“Obat?”
Gina mengangguk pelan.
“Iya. Buat aku, belanja itu semacam penenang,” katanya jujur.
“Entah kenapa, tiap aku jalan di mall, milih barang, nyobain sesuatu… tekanan di kepala rasanya pelan-pelan hilang.”
Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan.
“Bukan soal mewah atau mahal. Bukan itu.”
Gina menarik napas kecil.
“Kadang cuma dari hal kecil—milih barang sendiri—aku ngerasa… oh, ternyata aku masih punya kendali atas hidupku.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan di momen itu… aku bisa ngerasa bahagia. Walau cuma sebentar.”
Gina menatap ke depan, suaranya melembut.
“Aku ngerasa… jadi diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa jujur.
Azmi menatap Gina lebih lama dari biasanya.
Dan entah kenapa—
Azmi merasa ingin menjaga momen itu tetap ada.
“Kalau kamu?” tanya Gina tiba-tiba.
Azmi mengerjap. “Hmm?”
“Kamu kalau nenangin diri… biasanya ngapain?”
Azmi berpikir sebentar.
“Bernyanyi.”
“Cuma itu?”
“Iya… cuma itu.”
Gina tersenyum kecil.
“Simple banget.”
Azmi ikut tersenyum, lalu menatap meja sejenak sebelum bicara.
“Menurutku, bernyanyi itu cara paling jujur buat ngeluarin isi hati,” ucapnya pelan.
“Semua yang nggak bisa diucapin… keluar lewat suara. Entah kenapa tiap aku nyanyi, beban yang numpuk di kepala rasanya berubah jadi sesuatu yang… lebih ringan.”
Gina menatapnya beberapa detik.
Diam.
Lalu berkata pelan—
“Kalau gitu… bisa nggak kamu nyanyiin lagu buat aku?”
Azmi terkejut. “Di sini?”
Gina mengangguk.
Azmi tertawa kecil, sedikit salah tingkah.
“Malu dilihatin orang.”
“Ayolah… please. Sedikit aja,” pinta Gina, suaranya hampir seperti memohon.
Azmi menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Tangannya mengetuk meja pelan, membentuk irama sederhana.
Dan perlahan—
suara itu keluar.
Lembut. Hangat. Tidak dibuat-buat.
Suara Azmi memenuhi ruang kecil itu tanpa perlu dipaksa.
Beberapa pengunjung yang tadinya sibuk mulai menoleh.
Obrolan pelan mereda.
Sendok yang tadinya beradu dengan mangkuk perlahan berhenti.
Seseorang diam-diam mengeluarkan ponsel, merekam.
Namun Azmi tidak peduli.
Ia tidak bernyanyi untuk mereka.
Ia bernyanyi untuk satu orang di depannya.
Gina.
Gina hanya diam, menatapnya.
Dagunya bertumpu di tangan, senyum kecil menghiasi wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
matanya tidak lagi terlihat lelah.
Hanya ada satu hal yang terasa jelas:
Ia sedang benar-benar menikmati momen itu.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔