NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Di antara es krim dan rahasia

Vanilla.

Pilihan itu masih terasa mengganjal di dada Gina bahkan setelah pesanan selesai dibuat. Azmi duduk di kursi ujung dekat jendela, menunggu.

Beberapa kali ia menatap keluar, lalu kembali ke arah kasir tempat Gina memesan.

Tak lama—

Gina berjalan ke arahnya, membawa nampan kecil berisi dua mangkuk es krim.

“Ini ya, Mbak. Dua scoop strawberry, sama satu vanilla. Hati-hati bawanya,” ucap pelayan tadi masih terngiang.

Gina meletakkan nampan itu di meja.

“Nih, es krimnya,” katanya sambil mendorong salah satu mangkuk ke arah Azmi.

Azmi tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Mereka duduk berhadapan.

Sendok mulai menyentuh es krim yang masih dingin, perlahan mencair.

“Gimana? Enak?” tanya Gina.

Azmi mencoba satu suapan, berpikir sebentar.

“Emm… lumayan,” jawabnya santai.

Gina tertawa kecil.

“Lumayan doang? Itu udah level paling jujur dari kamu ya?”

Azmi mengangkat bahu.

“Kan tadi aku bilang, aku nggak terlalu suka es krim.”

“Tapi tetep dimakan.”

“Ya… karena kamu yang ngajak.”

Kalimat itu keluar ringan.

Tapi entah kenapa, Gina terdiam sepersekian detik.

Sendoknya berhenti di udara.

Lalu ia pura-pura fokus lagi ke es krimnya.

Suasana di antara mereka tidak canggung—tapi tidak sepenuhnya santai juga.

Ada sesuatu yang menggantung.

Beberapa saat kemudian, Gina bersandar sedikit di kursinya.

Azmi menoleh.

“Masih kepikiran yang tadi di mobil?” tanyanya pelan.

Gina menyeringai kecil.

“Cih… bohong banget katanya mau pura-pura nggak denger.”

Azmi ikut tersenyum.

“Iya, bohong,” jawabnya ringan.

“Mana bisa pura-pura nggak denger kalau ada cewek nangis di sebelahku.”

Gina tertawa kecil, lalu merebahkan badannya ke arah meja.

“Iya… aku masih kepikiran,” gumamnya.

“Baru kali ini aku berani nentang omongan ayah.”

Azmi menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Itu tandanya kamu udah capek,” ucapnya pelan.

Gina terdiam sebentar, lalu menarik napas panjang.

“Aku emang capek dari dulu,” ucapnya lirih.

“Cuma… biasanya aku tahan.Aku jalanin tanpa ngeluh sedikit pun.”

Ia menunduk.

“Tapi kali ini beda. Tekanan dari ayah terasa makin berat… dan aku mulai nggak sanggup untuk pura-pura baik-baik aja.”

Azmi menatapnya.

“Padahal kamu punya hak buat nolak,” katanya.

“Jangan paksain semuanya seolah itu kewajiban kamu. Hidup kamu ya tetap kamu yang jalanin, bukan mereka.”

Gina tersenyum tipis, tapi matanya tetap lelah.

“Aku pengen bisa kayak gitu,” balasnya.

“Tapi kamu nggak bakal ngerti rasanya jadi satu-satunya harapan keluarga.”

Ia menggenggam jemarinya sendiri.

“Aku takut… kalau aku berhenti, mereka kecewa.”

Azmi terdiam sebentar, lalu bicara lebih pelan.

“Aku ngerti kok,” ucapnya.

“Soalnya… aku juga pernah ngerasain ada di posisi itu.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Tapi lama-lama aku sadar… hidup yang jalanin tetap kita. Bukan orang lain.”

Gina sedikit tersenyum. Tatapannya penuh saat menatap Azmi.

Azmi melanjutkan, suaranya ringan.

“Terus… alasan kamu ngajak ke mall tadi apa?”

Gina kembali tersenyum.

“Obat,” jawabnya singkat, tegas.

Azmi mengernyit.

“Obat?”

Gina mengangguk pelan.

“Iya. Buat aku, belanja itu semacam penenang,” katanya jujur.

“Entah kenapa, tiap aku jalan di mall, milih barang, nyobain sesuatu… tekanan di kepala rasanya pelan-pelan hilang.”

Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan.

“Bukan soal mewah atau mahal. Bukan itu.”

Gina menarik napas kecil.

“Kadang cuma dari hal kecil—milih barang sendiri—aku ngerasa… oh, ternyata aku masih punya kendali atas hidupku.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan di momen itu… aku bisa ngerasa bahagia. Walau cuma sebentar.”

Gina menatap ke depan, suaranya melembut.

“Aku ngerasa… jadi diri sendiri.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi terasa jujur.

Azmi menatap Gina lebih lama dari biasanya.

Dan entah kenapa—

Azmi merasa ingin menjaga momen itu tetap ada.

“Kalau kamu?” tanya Gina tiba-tiba.

Azmi mengerjap. “Hmm?”

“Kamu kalau nenangin diri… biasanya ngapain?”

Azmi berpikir sebentar.

“Bernyanyi.”

“Cuma itu?”

“Iya… cuma itu.”

Gina tersenyum kecil.

“Simple banget.”

Azmi ikut tersenyum, lalu menatap meja sejenak sebelum bicara.

“Menurutku, bernyanyi itu cara paling jujur buat ngeluarin isi hati,” ucapnya pelan.

“Semua yang nggak bisa diucapin… keluar lewat suara. Entah kenapa tiap aku nyanyi, beban yang numpuk di kepala rasanya berubah jadi sesuatu yang… lebih ringan.”

Gina menatapnya beberapa detik.

Diam.

Lalu berkata pelan—

“Kalau gitu… bisa nggak kamu nyanyiin lagu buat aku?”

Azmi terkejut. “Di sini?”

Gina mengangguk.

Azmi tertawa kecil, sedikit salah tingkah.

“Malu dilihatin orang.”

“Ayolah… please. Sedikit aja,” pinta Gina, suaranya hampir seperti memohon.

Azmi menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Tangannya mengetuk meja pelan, membentuk irama sederhana.

Dan perlahan—

suara itu keluar.

Lembut. Hangat. Tidak dibuat-buat.

Suara Azmi memenuhi ruang kecil itu tanpa perlu dipaksa.

Beberapa pengunjung yang tadinya sibuk mulai menoleh.

Obrolan pelan mereda.

Sendok yang tadinya beradu dengan mangkuk perlahan berhenti.

Seseorang diam-diam mengeluarkan ponsel, merekam.

Namun Azmi tidak peduli.

Ia tidak bernyanyi untuk mereka.

Ia bernyanyi untuk satu orang di depannya.

Gina.

Gina hanya diam, menatapnya.

Dagunya bertumpu di tangan, senyum kecil menghiasi wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

matanya tidak lagi terlihat lelah.

Hanya ada satu hal yang terasa jelas:

Ia sedang benar-benar menikmati momen itu.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!