Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bau menyengat dari sulfur yang menguap dan sisa amonia yang mengendap di setiap sudut menusuk indra penciuman Axel dengan kekerasan yang tak tertahankan. Namun bagi pria berusia dua puluh tujuh tahun itu, aroma tersebut bukanlah sesuatu yang harus dihindari—melainkan oksigen bagi jiwanya, udara yang menghidupkan setiap serat kesadarannya. Di dalam ruang sempit berukuran empat meter kali empat meter yang terletak tepat di balik dinding dapur rumah kediaman keluarga, dunia luar seakan berhenti berputar. Hanya ada pendar lampu neon putih yang memantul pada permukaan kaca deretan tabung reaksi raksasa, dan suara detak jam dinding yang berirama, seolah-olah sedang berpacu dengan denyut nadi yang berdebar cepat di dadanya.
Lantai semen yang dingin menyebarkan sensasi dingin ke tulang kering kaki Axel melalui alas sepatu laboratoriumnya. Tangan yang terbungkus sarung tangan lateks putih bergerak dengan presisi yang mengerikan—setiap gerakan dihitung dengan cermat, setiap gerakan memiliki tujuan yang jelas. Ia memegang mikropipet volume mikroliter seolah-olah benda itu adalah kristal paling rapuh di jagat raya, jari-jari telunjuknya menekan piston dengan ketelitian yang hanya bisa diraih setelah bertahun-tahun berlatih. Matanya yang merah memerah karena kurang tidur menatap lekat pada sebuah cawan petri yang berisi cairan bening seperti air murni, namun ia tahu betul bahwa di dalamnya berkeliaran milyaran molekul yang menjadi kunci bagi misinya.
𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, gumamnya pelan, bibirnya hanya sedikit bergerak tanpa mengganggu fokusnya. Suaranya serak akibat kurangnya kelembapan dan berjam-jam tidak mengeluarkan suara apa pun, nyaris tenggelam oleh suara mesin sentrifugasi yang berdengung halus di sudut ruangan. Mesin itu bekerja tanpa lelah, memisahkan komponen-komponen cairan yang ia butuhkan dengan kecepatan ribuan putaran per menit.
Axel membayangkan wajah-wajah yang ia lihat dalam berkas-berkas kasus medis—ribuan nyawa yang melayang di pedalaman nusantara hanya karena gigitan ular Oxyuranus microlepidotus, atau yang lebih dikenal dengan nama umum taipan selatan Australia. Racunnya adalah salah satu neurotoksin paling mematikan yang pernah dikenal manusia; dalam waktu beberapa menit saja, ia bisa membuat sistem saraf pusat berhenti bekerja sama sekali. Ia tidak sedang mencari kekayaan atau ketenaran yang melekat pada penemuan besar; ia sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah penebusan bagi ilmu pengetahuan yang selama ini merasa gagal menyelamatkan orang-orang yang dicintainya. Ia ingin menjadi orang pertama di dunia yang menciptakan penawar racun universal, sebuah serum cair yang mampu menetralisir bahkan neurotoksin paling mematikan dalam hitungan detik. Ambisi itu sudah seperti candu yang mengalir di pembuluh darahnya, membuatnya sering kali lupa bahwa dirinya sendiri adalah manusia yang membutuhkan makan, minum, dan istirahat yang cukup.
𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘵𝘢𝘴𝘦 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘮𝘦𝘳 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘢𝘬𝘵𝘪𝘭 𝘢𝘮𝘪𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘢𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘪𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘭𝘦𝘬𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬, pikirnya lagi, matanya tidak pernah menyimpang dari cawan petri yang berada di bawah lensa mikroskop fase-kontras. Ia bisa melihat pola-pola molekul yang terbentuk seperti jaring labirin halus, setiap ikatan kimia adalah jalan yang harus ditembus agar bisa mencapai tujuan. Tangannya meraih botol kecil berisi reagen kimia berwarna kuning muda, namun jemarinya sedikit bergetar tanpa ia sadari. Efek dari tiga gelas kopi tanpa gula dan kurangnya istirahat selama tiga hari berturut-turut mulai menagih janjinya, membuat koordinasi tubuhnya tidak lagi sepenuhnya sempurna seperti biasanya.
Tiba-tiba, suara derit pintu kayu yang bergesekan dengan lantai semen kasar memecah keheningan laboratorium rahasia itu. Bunyinya terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian yang mendalam, namun Axel tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Ia tidak menoleh, tidak mengerutkan kening, bahkan tidak sedikit pun mengubah ritme pernapasannya. Ia tahu persis siapa pemilik langkah kaki yang berat dan berwibawa itu.
"Axel, kamu masih di sini?"
Suara bariton Doni, ayahnya, memenuhi ruangan dengan nada yang hangat namun juga penuh kekhawatiran. Axel tidak perlu melihatnya untuk tahu bahwa ayahnya berdiri di ambang pintu dengan pakaian dinas dokter yang masih rapi, meskipun gurat kelelahan sudah tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang mulai dimakan usia. Garis-garis halus sudah mulai muncul di sekeliling mata dan mulutnya, ujung rambutnya yang hitam sudah mulai bercampur dengan putih di bagian pelipis.
Axel hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari lensa mikroskopnya, jari-jari tangannya masih memegang tabung reaksi kecil yang baru saja ia ambil dari rak pendingin. "Lima menit lagi, Yah. Aku baru saja menemukan titik terang pada ikatan enzimnya—bagian yang selama ini membuat semua percobaan gagal."
Doni menghela napas panjang. Langkahnya mendekat ke arah meja kerja anaknya yang berantakan, alas sepatunya membuat suara gesekan yang lembut setiap kali menyentuh lantai. Ia melihat tumpukan jurnal medis internasional yang terbuka acak di atas permukaan meja stainless steel—halaman-halaman itu penuh dengan catatan tangan Axel yang rapi dan beberapa bagian yang diberi sorotan kuning. Di sebelahnya ada bekas bungkus roti tawar yang sudah mengering dan mulai menguning, serta gelas kopi ketiga Axel hari ini yang masih menyisakan sedikit cairan hitam pekat di bagian dasar. Dengan gerakan pelan namun tegas yang khas seorang yang telah berpengalaman memimpin, Doni meletakkan telapak tangannya yang besar dan kasar di atas bahu Axel yang kurus namun berotot.
"Kamu sudah mengatakan 'lima menit' itu sejak dua jam yang lalu saat Ayah menelpon dari rumah sakit." Ia menekan bahu Axel dengan lembut, seolah ingin menyampaikan kekhawatirannya melalui sentuhan itu. "Lihat matamu, nak. Kamu dokter laboratorium, Axel—bukan tikus percobaan yang hanya dibuat untuk bekerja tanpa istirahat. Kamu tahu lebih baik dari siapapun apa yang terjadi pada sel-sel otak jika terus dipaksa bekerja di bawah tekanan stres yang tinggi tanpa henti."
Akibat sentuhan itu dan kata-kata ayahnya yang menusuk ke dalam hati, Axel akhirnya menegakkan punggungnya yang sudah mulai terasa kaku. Ia melepaskan pandangannya dari lensa mikroskop dan mengeluarkan napas yang dalam, merasakan betapa kaku otot-otot leher dan bahunya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi putar yang berderit pelan setiap kali bergerak, lalu mengusap wajahnya dengan gerakan kasar menggunakan kedua tangan, menyadari bahwa kulitnya terasa hangat dan sedikit kering.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan momentum, Yah." Matanya mulai melihat sekeliling ruangan yang sudah seperti rumah kedua baginya. Rak-rak yang penuh dengan tabung reaksi, mesin-mesin canggih yang ia kumpulkan dengan susah payah, buku-buku referensi yang sudah ia baca berkali-kali hingga halamannya mulai lusuh—semuanya adalah bagian dari perjuangannya. "Jika aku berhenti sekarang, rasanya semua struktur molekul ini akan menguap dari kepalaku begitu saja. Seolah-olah mereka tidak pernah ada."
Doni terkekeh kecil. Ia menarik sebuah kursi kecil yang biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan kecil dan duduk di samping anaknya, membuat jarak antara mereka menjadi sangat dekat. Badan ayahnya yang lebih besar membuat Axel merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang sedang mendapatkan nasihat dari orang tuanya.
"Ambisi itu bagus, nak—bahkan sangat bagus. Tapi ambisi tanpa raga yang sehat hanya akan berakhir di meja otopsi. Kamu mau menyelamatkan orang-orang dari racun ular yang mematikan, tapi jangan sampai kamu meracuni dirimu sendiri dengan kelelahan yang berlebihan. Apa artinya penawar racun jika orang yang menciptakannya sudah tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya?"
Axel menoleh ke arah ayahnya, matanya yang merah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang luar biasa. Ia melihat wajah ayahnya yang penuh perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia menyadari betapa tua ayahnya sudah menjadi. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rasa syukur namun juga sedikit merasa bersalah.
"Yah, Ayah tahu sendiri kan, kalau aku sudah mulai menyelami sesuatu, sulit sekali untuk menginjak rem." Ia mengingat betapa seringkali ibunya yang dulu harus menariknya dari meja kerja atau buku-bukunya hanya untuk memastikan bahwa ia makan dengan benar.
"Persis ibumu." Sahut Doni singkat, dan kata-kata itu membuat Axel terdiam sejenak. Suara ibunya yang lembut seolah terdengar kembali di telinganya, serta wajahnya yang selalu penuh senyuman setiap kali melihat Axel sedang asyik dengan pekerjaannya. "Tapi ibumu juga tahu kapan harus menutup buku dan menikmati makan malam bersama keluarga. Ayah baru saja membawa pulang Jajangmyeon kesukaanmu dari restoran Korea di dekat rumah sakit. Kalau kamu tidak keluar dari sini dalam tiga menit, Ayah pastikan Samuel yang akan menghabiskannya besok pagi saat ia datang ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya."
Mendengar nama sahabatnya yang sudah seperti saudara kandung, Axel mendengus geli dan akhirnya bisa menunjukkan senyuman yang lebih lebar. Samuel adalah dokter di rumah sakit umum tempatnya ia bekerja, dan mereka sudah akrab semenjak masa SMA. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu memang sangat menyukai makanan Korea, terutama Jajangmyeon yang memiliki saus kacang hitam yang gurih.
"Si rakus itu jangan sampai menyentuh porsiku, Yah." Katanya dengan nada yang sudah lebih rileks, bahkan mulai merasakan lapar yang tiba-tiba menyerang setelah tidak makan sejak pagi hari. Ia bisa membayangkan tekstur mie yang lembut dan rasa saus yang kaya di lidahnya—suatu kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan karena terlalu fokus pada percobaan.
Doni berdiri perlahan, tubuhnya yang tinggi membuatnya harus sedikit membungkuk agar tidak menabrak lampu neon yang terpasang di langit-langit rendah. Ia menepuk bahu Axel sekali lagi, kali ini dengan sentuhan yang penuh semangat.
"Maka dari itu, cuci tanganmu dengan bersih, lepaskan jas lab itu yang sudah kumuh, dan jadilah manusia normal untuk beberapa jam saja. Laboratorium ini tidak akan lari kemana-mana, kan? Ia akan tetap ada di sini besok pagi, bahkan minggu depan jika perlu."
Axel menatap meja kerjanya sekali lagi—pada cairan bening dalam tabung reaksi kecil yang menyimpan harapan besarnya untuk menemukan penawar yang dicari. Ia bisa melihat bagaimana cahaya lampu neon memantul pada permukaan kaca tabung itu, seolah-olah sedang menari dalam irama sendiri. Ia menghela napas yang panjang dan dalam, menyadari bahwa peringatan ayahnya benar adanya. Tubuhnya memang sudah mulai memberikan tanda-tanda kelelahan yang tidak bisa diabaikan lagi—mata yang berat, otot yang kaku, dan rasa pusing yang kadang muncul sesekali.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, ia mulai mematikan lampu mikroskop dan melepaskan sarung tangan lateksnya satu per satu. Sarung tangan itu sudah sedikit lembap akibat keringat, dan ia merasa lega saat kulitnya bisa bersentuhan dengan udara ruangan. Ia menutup rapat cawan petri yang berisi cairan eksperimentalnya dan menempatkannya di atas rak yang sudah disiapkan, sebelum akhirnya mulai membersihkan permukaan meja dari bekas-bekas percobaan.
"Baiklah, Yah. Aku kalah." Ujar Axel dengan nada pasrah namun juga penuh rasa lega. Ia merasakan beban yang selama ini menekan pundaknya mulai sedikit terangkat setelah memutuskan untuk berhenti sejenak.
Doni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan menuju pintu keluar sambil menyinari jalan dengan senter yang ia bawa. "Bukan kalah, Axel. Kamu hanya melakukan jeda strategis agar bisa melanjutkan perjuangan dengan lebih baik besok hari." Timpalnya sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan Axel yang masih mematung sejenak dalam keheningan yang mulai terasa lebih nyaman dan tidak lagi menekan.
Setelah beberapa saat, Axel bangkit dari kursinya dan mulai mematikan satu per satu saklar utama peralatan laboratorium. Lampu neon di sekeliling ruangan mulai padam satu demi satu, menyisakan hanya sedikit cahaya dari lampu darurat yang terletak di pojok ruangan. Saat pintu kayu berat itu tertutup dengan suara klik yang lembut dan kunci berputar dengan lancar di gantungan, ia tidak menyadari bahwa di atas meja labnya yang sudah ia bersihkan—sebuah botol kecil berisi racikan eksperimental baru yang belum sempat ia simpan ke dalam lemari pendingin berdiri tepat di samping gelas minumnya yang masih tersisa separuh isi air putih bening. Botol kecil itu berdiri kokoh di atas alas kertas timbangan, dan sedikit cairan kuning muda di dalamnya seolah sedang mengintai kesempatan untuk melakukan sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Seulas senyum tipis terukir di wajahnya saat ia melangkah menuju ruang tengah rumah, kaki kirinya sedikit tersandung pada tali listrik yang terlontar di lantai sebelum ia bisa menyadari dan menghindarinya. Ia membayangkan aroma mie hitam yang khas dan obrolan hangat bersama sang ayah di meja makan keluarga—suatu kesempatan yang jarang ia dapatkan belakangan ini.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ