Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *2
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Rin langsung beranjak meninggalkan halaman belakang tanpa menunggu orang tuanya berucap lagi. Hatinya sudah sangat lelah. Batinnya sudah sangat tidak sanggup lagi jika dipaksa untuk mengalah.
Karena itu, dia memilih untuk memberontak kali ini. Buat kali ini saja. Dia ingin memilih jalan hidupnya sendiri. Ingin menentukan ke mana langkah yang paling baik agar bisa tetap berdiri di kemudian hari.
Setelah Rin beranjak, papa dan mamanya terdiam beberapa saat. Lalu kemudian, papanya angkat bicara dengan hati yang sangat emosi.
"Anak itu. Semakin lama, semakin keras kepala. Bukan kita yang bicara dengan nada tinggi padanya. Tapi malah dia yang bicara dengan nada tinggi pada kita."
Mela menyentuh lengan suaminya dengan lembut. "Jangan marah, Pa. Sebenarnya, kita juga salah. Kita memang selalu meminta Rin mengalah dari Yara. Lagian, apa yang Rin katakan memang ada benarnya. Selain kita selalu ingin Rin mengalah, sekarang dia juga sudah punya pacar. Marvel juga ingin melamar Rin dalam waktu dekat, bukan?"
Papa Rin langsung menoleh ke arah istrinya. Menatap sang istri dengan tatapan lekat selama beberapa detik. "Lalu kita harus apa? Surat dari desa sudah datang tiga hari yang lalu. Perjodohan itu harus dilanjutkan. Bagaimana bisa kita menunggu lebih lama lagi. Sedangkan kita sudah menunda pernikahan ini selama dua tahun, Ma."
Mela terdiam. Benaknya memikirkan dengan pelan apa yang baru saja suaminya katakan. Memang benar, pernikahan dari perjodohan yang tertulis di atas surat wasiat itu harusnya dilangsungkan tiga tahun yang lalu. Tapi mereka menundanya karena beberapa pertimbangan.
Salah satunya karena tidak ingin memaksa putri mereka untuk pernikahan dini. Memang, tidak ada nama yang tertulis untuk siapa perjodohan itu harus diberikan. Karena di dalam surat itu hanya disebutkan salah satu dari putrinya saja yang harus menikah.
Tapi, surat itu dibuat saat anak keduanya lahir. Otomatis, anak keduanya lah yang berhak atas perjodohan itu. Tapi, saat ini, perjodohan itu tidak memungkinkan untuk Yara. Karena sekarang, Yara masih sibuk dengan dunia pendidikannya.
Desa yang akan menjadi tempat tinggal anaknya setelah menikah itu sangat jauh dari kota tempat mereka tinggal sekarang. Lalu, bagaimana caranya Yara bisa melanjutkan pelajaran jika harus tinggal di desa. Sedangkan perjanjian itu tertulis dengan sangat jelas, setelah menikah, siap ikut suami tinggal di desa.
Di sisi lain, Rin sedang duduk sambil memeluk bantal di atas ranjang. Dia sedang berada di kamarnya saat ini. Setelah perdebatan kecil dengan orang tuanya barusan, dia memilih langsung mengurung diri di kamar.
Hatinya kesal, perasaannya tak tenang. Orang tuanya sedang memaksakan pernikahan lewat perjodohan padanya, dengan secara tidak langsung. Padahal, kedua orang tuanya sudah sangat dekat dengan pria yang tak lama lagi akan menjadi calon tunangannya.
Ya ... meskipun sekarang mereka baru sebatas berpacaran. Tapi, Marvel juga sudah lumayan sering berkunjung ke rumah. Maklum, sudah punya rencana akan melanjutkan hubungan kejenjang yang lebih serius lagi ke depannya.
"Apa yang mama dan papa pikirkan sebenarnya? Padahal, sudah jelas kalau saat ini aku sudah punya calon, tapi mereka tetap meminta aku menerima perjodohan walau secara tidak langsung."
"Sebenarnya, aku ini anak mereka atau bukan?"
"Sudah sangat jelas bahwa wasiat itu dibuat ketika Yara lahir. Tapi, papa masih tidak ingin memaksa Yara pergi. Malahan, mereka minta aku secara tidak langsung untuk menggantikan Yara menikah dengan pria desa itu."
Rin memukul-mukul bantal yang ada di depannya dengan kesal. "Kenapa mereka begitu padaku?"
Kesal bercampur sedih, Rin langsung menyembunyikan wajahnya di antara bantal yang ada di depannya. Beberapa saat terdiam, ponsel Rin berdenting kecil. Sebuah pesan masuk ke ponsel tersebut.
Rin bangun, lalu meraih ponsel. Tertulis dengan jelas nama pengirim di layar ponsel.
My love. *Lagi apa, sayang? Tar malam, aku ke rumah ya. Mau ku bawakan apa?* Begitulah bunyi pesan yang baru saja masuk ke aplikasi hijau milik Rin.
Mata Rin menatap lekat ke arah layar ponsel. Hatinya yang sedih perlahan membaik walau tidak sepenuhnya. My love, atau Marvel. Pacarnya yang sangat ia cintai. Pria yang selalu ada untuknya saat dia sedih. Walau sering bertengkar kecil, tapi pria itu sangat romantis.
Tidak pernah lupa untuk menanyakan sudah makan atau belum. Tidak pernah lupa dengan hari ulang tahunnya. Selalu perhatian dan cukup pengertian. Sangat romantis pula. Tidak pernah melewatkan hal-hal kecil seperti memberikan bunga atau coklat di hari-hari penting. Pokonya, Marvel tergolong pria romantis yang Rin kenal sejauh ini.
Setelah membaca pesan dari Marvel, Rin mengetik cepat untuk membalas pesan tersebut. *Tidak perlu bawa apa-apa. Cukup kamu datang saja. Ada hal juga yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku tunggu kedatangan mu.*
Pesan itu terkirim. Lalu, tidak membutuhkan waktu yang lama, Marvel membalasnya dengan singkat. *Oke, sayang. Tunggu aku.* Diujung pesan, emoji hati tak lupa Marvel berikan.
Rin tersenyum kecil. Namun, dia tidak membalas pesan tersebut. Dia hanya melihat pesan itu sejenak, lalu mematikan layar ponsel dengan cepat.
Pikirannya sedang berkecamuk. Perlahan, tekat ia bulatkan. Kedatangan Marvel malam ini, dia akan membahas hubungan mereka agar lebih cepat berlanjut kejenjang yang lebih serius. Rin sudah bertekad, dia akan meminta Marvel menikahinya dalam waktu dengan. Tanpa acara pertunangan lagi, dia ingin segera dijadikan istri.
Rin berpikir, cara ini adalah cara yang paling sesuai untuk dirinya sekarang. Dari pada dipaksa menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak dia kenali, lebih baik menikah tanpa resepsi yang mewah dengan pria yang sudah jelas punya hubungan dengannya.
*
Malam harinya, seperti yang telah Marvin janjikan, pria itu datang bertamu. Tentu saja tidak ia lupakan buah tangan untuk si pacar. Beberapa buah mangga, dan anggur.
Saat Marvel datang, yang membukakan pintu bukan Rin. Melainkan, Yara. Adik Rin yang kebetulan ada di ruang tamu.
"Kak Marvel." Sambut Yara seperti biasa.
"Ara. Rin ada?"
"Kakak di kamar. Tunggu sebentar, biar aku panggilkan."
Belum sempat Marvel menjawab, Rin sudah muncul. Wajah ceria Yara masih terlihat seperti biasa. "Nah, kakak sudah muncul. Gak perlu ku panggilkan lagi."
"Ya sudah. Aku tinggal ya kalian berdua," ucap Yara sambil beranjak.
Seperti biasa, Yara adalah anak yang ceria. Dia adik yang cukup menyenangkan dengan aura positif yang selalu ia perlihatkan setiap harinya. Namun, di balik itu semua, Rin masih merasa kalau Yara adalah adik yang menyebalkan. Karena setelah adiknya itu lahir, dia sebagai kakak selalu di nomor duakan oleh kedua orang tua, bahkan rekan terdekatnya.