NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Dimensi Lilac

Malam turun dengan perlahan, menelan sisa-sisa cahaya senja yang tadi masih menggantung di langit. Di kediaman sederhana itu, suasana telah kembali tenang. Tang Ming telah lama pergi, meninggalkan halaman yang kembali sunyi, hanya ditemani suara serangga malam dan desiran angin yang menyentuh dedaunan.

Wu Zetian kini berada di dalam kamarnya.

Ia menutup pintu kayu perlahan, memastikan kaitnya terpasang dengan baik. Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur sederhana berwarna pucat, ia duduk di tepi ranjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dada. Saat kepalanya hampir menyentuh bantal, tiba-tiba,

Zetian…

Suara itu terdengar samar. Lembut, nyaris seperti bisikan angin, namun jelas menyebut namanya.

Wu Zetian membuka mata.

Ia terdiam beberapa detik, menahan napas, berusaha memastikan apakah itu hanya perasaannya saja. Namun detik berikutnya, suara itu kembali terdengar.

Zetian…

Ia bangkit setengah duduk, menoleh ke kiri dan ke kanan. Kamarnya sunyi. Tidak ada siapa-siapa. Lampu minyak kecil di sudut ruangan masih menyala redup, bayangannya menari di dinding kayu.

“Apa aku terlalu kelelahan?” gumamnya pelan.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Namun perasaan aneh itu tidak menghilang. Justru semakin kuat, seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari dekat.

Pandangan Wu Zetian kemudian tertuju pada tas kain yang ia letakkan di atas meja kecil dekat jendela. Tas yang ia bawa dari hutan.

Alisnya sedikit berkerut. Ia bangkit dari ranjang dan melangkah mendekat. Saat jari-jarinya menyentuh kain tas itu, ingatannya langsung tertarik pada satu benda.

Liontin Lilac itu

Ia membuka ikatan tas dan mengeluarkan sebuah liontin dengan batu permata berwarna lilac pucat. Permukaannya masih tampak kusam, sedikit kotor oleh tanah dan debu hutan.

Wu Zetian duduk kembali di tepi ranjang, menimang liontin itu di telapak tangannya. Ia mengambil kain kecil dan mulai menggosok permukaan batu permata itu dengan perlahan. Warna lilacnya perlahan tampak lebih jernih, memantulkan cahaya lampu minyak dengan lembut.

Namun tanpa sengaja, jarinya bergeser dan mengenai bagian besi pengikat di sekitar batu permata liontin tersebut.

Ces.

Rasanya seperti digigit semut.

“Aduh”

Ia menarik tangannya refleks. Setetes darah merah segar muncul dari goresan kecil itu dan jatuh tepat ke permukaan permata.

Wu Zetian terdiam. Ia merasa aneh.

Darah itu tidak menetes ke bawah.

Sebaliknya, ia melihat dengan jelas bagaimana cairan merah itu seolah ditarik ke dalam inti batu permata, meresap perlahan hingga menghilang sepenuhnya.

Matanya membelalak.

“Apa…?”

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, permata itu mulai memancarkan cahaya. Awalnya hanya redup dengan kilau lilac lembut seperti cahaya kunang-kunang. Namun dalam hitungan detik, sinarnya semakin terang, semakin kuat, hingga memenuhi seluruh ruangan.

Cahaya lilac menyelimuti kamar Wu Zetian, memantul di dinding, langit-langit, bahkan lantai kayu. Intensitasnya membuat matanya perih.

Kenapa cahayanya makin terang.

Wu Zetian refleks menutup matanya dengan kedua tangan.

Detik demi detik berlalu. Ketika cahaya itu akhirnya meredup dan menghilang sepenuhnya, ia perlahan membuka matanya kembali.

Namun, pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Wu Zetian berdiri di sebuah aula luas dengan langit-langit tinggi, dikelilingi ornamen berwarna lilac yang berkilauan lembut. Pilar-pilar megah menjulang, dihiasi ukiran rumit yang memancarkan cahaya halus. Udara terasa sejuk dan bersih, dipenuhi aroma bunga yang menenangkan.

“Dimana ini..” bisiknya.

Seperti dejavu, ia menoleh ke sekeliling, memastikan bahwa apa yang ia lihat nyata.

“Aku… di mana?”

Belum sempat ia mencerna sepenuhnya, sebuah suara kecil terdengar dari depan.

“Hai, kakak cantik~!”

Wu Zetian menoleh.

Seorang gadis kecil muncul di hadapannya. Pipinya tembem, matanya besar dan berkilau, hidungnya mungil, dan rambutnya pendek dan berkilau. Ia terlihat seperti anak TK, sangat menggemaskan.

Wu Zetian terpaku sejenak, hampir tersihir oleh wajah polos itu.

“A-aku…” katanya pelan.

Gadis kecil itu tersenyum lebar.

“Selamat datang di Dimensi Lilac! Namaku Nana, dan aku akan mengajak kakak berkeliling hari ini!”

“Nana?” ulang Wu Zetian.

“Iya, kakak! Ada apa?”

Wu Zetian menghela napas pelan, mencoba tetap tenang.

“Bisakah kau jelaskan kenapa aku bisa berada di… apa tadi? Dimensi?”

“Baiklah, kakak,” jawab Nana antusias. “Ini adalah ruang dimensi. Ruang dimensi adalah ruang spiritual yang bisa gunakan oleh pemiliknya untuk berkreasi. Dan nama ruang ini adalah Dimensi Lilac.”

“Oh…” Wu Zetian mengangguk perlahan. “Baiklah. Aku mengerti.”

“Sekarang aku akan mengajak kakak berkeliling!” Nana bertepuk tangan.

“Tunggu.” Wu Zetian tiba-tiba menghentikannya.

Tanpa aba-aba, ia langsung memegang kedua pipi tembem Nana.

“Pipimu lucu dan tembem sekali. Aku mana tahan,” katanya sambil mencubit ringan.

“Hei!” Nana menatapnya kesal. “Sudah lepaskan kak! Pipiku sakit!”

Wu Zetian tertawa kecil dan akhirnya melepaskan tangannya.

“Baiklah, baiklah. Sekarang ayo tunjukkan jalannya. Aku sudah penasaran.”

"Tapi sebelum keluar, aku akan menunjukkan kakak kamar pribadi kakak. Dan dipojok sana adalah kamar mandinya" Terang Nana.

Wu Zetian masuk ke dalam kamarnya dan berdecak kagum dengan semua interior kamarnya.

Nana kemudian berjalan menuju pintu kastil. Sementara Wu Zetian mengikutinya dari belakang.

Begitu pintu terbuka, pemandangan yang tersaji membuat Wu Zetian terdiam.

Sebuah taman luas terbentang di depan mereka, dipenuhi tanaman hijau dan bunga berwarna-warni. Nana mulai menunjuk satu per satu tanaman obat.

“Ini tanaman penawar racun,” jelas Nana. “Yang itu untuk mempercepat penyembuhan luka. Dan ini untuk memperkuat tubuh.”

“Kualitasnya jauh lebih tinggi dibanding obat di dunia kakak sebelumnya,” tambahnya.

Wu Zetian menatap kagum.

Mereka kemudian berjalan ke sudut taman, menuju sebuah ruangan tersembunyi. Begitu pintunya dibuka, Wu Zetian terpaku.

"WOW"

Rak-rak tinggi penuh pakaian, gaun hanfu modern dengan berbagai motif dan gaya. Sepatu hak, tas, make up, dan aksesori tersusun rapi.

“Mulai hari ini, ini semua adalah milikmu,” ujar Nana bangga. “Dan aku yang akan menjaganya.”

“Milikku?” Wu Zetian membelalakkan mata. “Serius?”

“Serius.”

Wu Zetian langsung berlari ke sana kemari, mencoba tas, sepatu, gaun.

“Aku mimpi apa semalam?” gumamnya. Ia menepuk pipinya sendiri hingga merah.

“Sudah, jangan menampar pipimu lagi kak,” kata Nana. “Ini bukan mimpi.”

Wu Zetian tertawa bahagia. Di dunia sebelumnya, ia bahkan tak pernah bermimpi untuk memiliki walk-in closet seperti ini.

“Oke, selanjutnya ke bagian utara,” kata Nana. “Ikuti aku!”

Mereka melewati jembatan kecil berwarna lilac berkilau, lalu masuk ke ruangan besar.

“OH MY GOD”

Sebuah supermarket lengkap terbentang di hadapannya. Freezer penuh seafood, ayam potong, dan aneka frozen food. Banyak cemilan dan juga minuman disini. Bahkan parfum, dan segala per sabun-sabunan ada disini. Banyak juga peralatan yang berada disini. Pokoknya lengkap.

Mereka kemudian berpindah ke ruangan berikutnya

“Dan ini dapurnya,” ucap Nana seraya membuka pintu

Wu Zetian ternganga.

“Semua alat masak ada di sini… bahkan alat baking dan barbeque?”

“Tentu!”

Ruangan berikutnya adalah perpustakaan raksasa. Buku tersusun rapi hingga keatap ruangan dengan segala macam buku.

“Ini…” Zetian menelan ludah. “Luar biasa.”

Setelah berkeliling, mereka duduk di bangku taman dekat sungai yang begitu jernih.

Wu Zetian menatap alirannya. “Aku tidak melihat hulunya.”

“Sungai ini tidak memiliki hulu,” jawab Nana.

“Hah? Kok bisa?”

“Sumber mata airnya langsung dari langit.”

Wu Zetian kembali terkejut.

“Ini adalah air suci,” lanjut Nana. “Air suci ini bisa menetralisir racun, menyembuhkan penyakit, bahkan meningkatkan kultivasi.”

Wu Zetian terdiam, matanya berbinar.

_______________

Yuhuuu~🌹

Ini adalah chapter penutup malam ini.

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author.

See you~💖

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!