NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kayuhan di Tengah Kesunyian

Genevieve menutup novelnya dengan helaan napas panjang. Kisah cinta tragis di buku itu ternyata jauh lebih menguras emosi daripada yang ia duga, dan perutnya yang mulai berbunyi memberikan peringatan nyata bahwa ia tidak bisa hidup hanya dari cokelat panas dan kesedihan fiksi.

Ia beranjak menuju dapur kecil di belakang dan membuka pintu kulkas tua yang berderit. Isinya menyedihkan: hanya ada setengah botol selai yang sudah mengeras, satu butir telur, dan kotak susu yang hampir habis.

"Sempurna," gumamnya sarkastik. "Kebebasan ternyata berbanding lurus dengan kelaparan."

Genevieve segera menyambar jaketnya dan mengambil kunci sepeda tua milik perpustakaan yang terparkir di gudang samping. Sepeda itu sudah berkarat di beberapa bagian, dan rantainya selalu mengeluarkan bunyi krik-krik yang berisik, namun itu adalah satu-satunya kendaraannya untuk mencapai pasar di ujung kota.

Ia mulai mengayuh. Udara sore itu terasa sangat dingin dan tajam menusuk kulit wajahnya.

Biasanya, jika ia pergi keluar, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengikutinya dari jauh—perasaan waspada yang membuatnya tegang namun entah mengapa terasa...

terlindungi. Sekarang, perasaan itu hilang. Jalanan terasa benar-benar kosong dan datar.

Saat melewati jalanan berbatu,

Genevieve melihat orang-orang kota sibuk dengan urusan mereka. Namun, ada yang aneh. Beberapa orang yang biasanya menyapanya dengan ramah, kini hanya melewatinya dengan tatapan kosong, seolah-olah ia adalah orang asing yang baru pertama kali mereka lihat.

"Apakah mereka semua juga lupa padaku?" pikirnya, hatinya sedikit mencos.

Ia sampai di toko kelontong langganannya. Genevieve memarkir sepedanya dan mulai mengambil beberapa kaleng sup instan, roti, dan beberapa butir telur.

Saat ia hendak membayar di kasir, ia melihat sebuah pajangan botol anggur merah yang terletak di dekat meja kasir. Warnanya yang merah pekat seketika mengingatkannya pada gelas kristal yang retak di tangan Valerius semalam.

Genevieve menggelengkan kepala dengan kuat, seolah ingin mengusir bayangan itu dari otaknya.

"Itu saja, Miss?" tanya penjaga toko tanpa senyum sedikit pun.

"Iya, itu saja," jawab Genevieve singkat.

Setelah selesai, ia menata belanjaannya di keranjang depan sepeda dan mulai mengayuh pulang. Namun, di tengah perjalanan, langit yang tadinya abu-abu mulai meneteskan air. Awalnya hanya gerimis kecil, tapi dalam hitungan detik berubah menjadi hujan deras yang mengguyur kota.

Genevieve panik. Ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga, namun jalanan menjadi licin. Saat ia mencoba berbelok di tikungan tajam menuju perpustakaan, ban sepedanya tergelincir di atas genangan air.

"Aaah!"

Sepedanya oleng, dan Genevieve jatuh tersungkur ke aspal yang keras. Kantong belanjaannya terlempar, kaleng-kaleng sup menggelinding menjauh, dan roti yang ia beli langsung basah kuyup terkena air hujan.

Ia terduduk di tengah hujan, lututnya perih karena tergores aspal.

Genevieve tidak menangis. Ia bukan tipe gadis yang akan meratapi nasib di bawah guyuran hujan hanya karena terjatuh. Dengan geraman kesal, ia bangkit berdiri, mengabaikan rasa perih di lututnya yang mulai mengeluarkan sedikit darah.

"Bagus sekali," gerutunya sambil memunguti kaleng-kaleng sup yang berserakan.

Ia menyambar roti yang sudah lembek terkena air hujan dengan wajah masam,

lalu memasukkan semuanya kembali ke keranjang sepeda dengan kasar. Air hujan mengalir deras dari rambutnya, membasahi bulu matanya hingga ia harus berkali-kali mengerjap. Tanpa bantuan siapa pun, ia menegakkan kembali sepeda tuanya yang terasa lebih berat dari biasanya.

Sesampainya di perpustakaan, ia segera menuntun sepedanya masuk ke gudang samping dan menguncinya. Tubuhnya menggigil hebat; pakaian yang ia kenakan kini menempel dingin di kulitnya.

"Mandilah, Genevieve. Bersih-bersih, lalu lupakan hari sial ini," perintahnya pada diri sendiri.

Ia berjalan masuk ke dalam perpustakaan yang gelap. Langkah kakinya meninggalkan jejak air di lantai kayu yang biasanya selalu ia jaga kebersihannya. Aroma debu dan kertas tua kini bercampur dengan aroma tanah basah yang terbawa dari luar.

Genevieve segera menuju ke kamar mandinya di lantai atas. Ia menyalakan keran air hangat, melepas pakaiannya yang basah kuyup, dan membiarkan uap air menyelimuti ruangan kecil itu. Saat air hangat menyentuh luka di lututnya, ia meringis kecil.

Setelah selesai mandi dan mengenakan piyama wol yang tebal, ia turun kembali ke bawah dengan membawa lap dan ember.

Ia harus segera membersihkan jejak air di lantai perpustakaan sebelum kayu-kayu tua itu rusak karena lembap.

Namun, saat ia sampai di tangga terakhir dan menatap ke arah lobi perpustakaan, langkahnya terhenti.

Di tempat ia tadi meninggalkan jejak kaki berlumpur dan genangan air hujan, lantai itu kini tampak bersih mengkilap. Tidak ada bekas tanah, tidak ada air yang tercecer.

Bahkan, kantong belanjaannya yang tadi ia taruh sembarangan di meja, kini telah tertata rapi. Kaleng-kaleng supnya berbaris sejajar, dan sebuah roti segar yang masih hangat—bukan roti basah yang ia beli tadi—terletak di atas piring porselen putih.

Di samping piring itu, terdapat sebuah handuk kering yang tebal dan segelas susu madu yang masih mengepulkan uap.

Genevieve menatap sekeliling dengan jantung berdebar.

"Valerius?" panggilnya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya suara rintik hujan yang menghantam atap gedung.

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!