Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Juanchi
"Gak nyangka banget ternyata kamu sungguh bijak." Ucap Ceni sedikit mengejek.
"Ya iyalah gini gini gue lulusan terbaik universitas." Ucap pemuda itu.
"Uni_ hah apa.?" Tanya Ying Zu bingung.
Ceni dan pemuda itu pun saling pandang.
"Ehem bukan apa-apa kok hehe iya." Ucap pemuda itu menggaruk kepala nya yg tak gatal.
Ying Zu hanya ber oh ria saja.
Ceni hanya dapat menghela nafasnya.
Orang-orang yg sudah sekian lama terperangkap di tanah ilusi itu pun satu persatu mulai mendekat ke arah Ceni dan kawan-kawan.
"Apakah nona yg membebaskan kami.?" Tanya salah satu nya.
Ceni hanya mengangguk pelan.
"Kalau begitu, saya mewakili mereka semua mengucapkan terima kasih pada nona karena sudah membebaskan kami dari sini." Ucap warga.
"Sama-sama paman, aku dan sahabatku hanya tidak sengaja lewat tadi nya." Ucap Ceni.
"Ini sebagai ungkapan terima kasih kami, kami menemukan ini di hutan." Ucap warga memberikan beberapa batu-batu berkilau pada Ceni.
Ceni pun menerima nya tak lupa mengucapkan terimakasih.
Setelah beberapa saat berbincang dengan warga desa, para warga yg sudah sekian lama menghilang itu pun akhirnya memilih pulang ke kediaman mereka masing-masing agar dapat bertemu kembali dengan keluarga mereka masing-masing.
Dan saat ini tinggal lah Ceni, Ying Zu dan pemuda itu.
"Ngomong-ngomong nama kamu siapa.?" Tanya Ceni.
"Oh iya kita belum kenalan, nama gue Zeno di kehidupan lalu." Ucap Zeno.
"Oh Zeno, nama ku Ceni dan ini temen ku Ying Zu." Ucap Ceni.
Ying Zu hanya mengangguk saja tanda membenarkan ucapan Ceni.
Ceni pun mendekat ke arah Zeno lalu berisik.
"Ying Zu dari zaman ini dia bukan seperti kita, maka dari itu lebih baik ubah panggilan jadi aku, kamu, kita, jangan ada kata Lo gue, paham,? entar repot lagi." Bisik Ceni lalu memundurkan tubuh nya.
"Oh baiklah." Ucap Zeno cengengesan.
Ceni hanya memutar bola matanya malas.
"Ying Zu ayo kita pergi." Ucap Ceni lalu berjalan ke arah kuda nya begitu pula Ying Zu.
"Eh eh eh, gu_ eh aku gimana.?" Ucap Zeno.
"Memang nya kamu mau gimana.?" Tanya Ceni balik.
"Masa aku di tinggal sendirian lagi, aku boleh ikut gak.?" Ucap Zeno dengan tampang menyedihkan.
"Heh muka mu gak cocok di gituin bikin geli, ganteng-ganteng kok kelakuan begitu." Ucap Ceni julid.
"Ayo lah nona Ceni." Ucap Zeno berusaha membujuk.
"Masalah nya kamu mau naik apaan, kuda kita cuma 2, tapi orang nya ada 3, kasian dong kuda nya menanggung beban." Ucap Ceni mendelik.
"Tenang saja nona Ceni, aku punya kuda kok." Ucap Zeno.
"JABRIK." Teriak Zeno.
"Lah Jabrik.?" Ucap Ceni tak habis pikir lalu tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Ying Zu hanya diam melihat interaksi Ceni dan Zeno yg perkataan mereka tak Ying Zu mengerti tapi ia rasa nya enggan untuk bertanya.
Dari kejauhan Kuda gagah berwarna Cokelat berlari ke arah Zeno setelah nama nya di panggil oleh sang tuan.
NGIK
Kuda yg Zeno beri nama jabrik itu pun berhenti di hadapan Zeno dengan gagah.
"Keren juga kuda mu Zen." Ucap Ceni menatap kagum si jabrik, kuda jantan berwarna coklat milik Zeno.
Zeno pun membusungkan dada nya bangga ketika kuda nya di puji gagah.
"Sekarang kuda sudah ada, mari kita pergi." Ucap Zeno lalu Menaiki kuda milik nya.
Ceni pun mengangguk, sedangkan Ying Zu hanya mengikuti Ceni.
Ketiga nya pun melajukan kuda mereka keluar dari batas hutan ilusi yg saat ini sudah tidak lagi berkabut seperti sebelumnya.
.
Perjalanan yg memakan waktu 3 jam itu akhir nya berhenti di sebuah kota yg lumayan ramai, serta padat penduduk yg sedang berdagang.
"Ini nama nya kota Juanchi nona, kota nya para pedagang, sebab kota ini sering di lalui oleh iring-iringan kereta kerajaan sekitar maupun kerajaan tetangga, tak jarang pula yg singgah hendak berbelanja maupun menginap setelah perjalanan jauh." Terang Ying Zu.
"Apakah kita akan menginap, atau tidak.?" Tanya Zeno pada Ceni dan Ying Zu.
Mendengar ucapan Zeno, ying Zu hanya terdiam lalu menoleh ke arah Ceni menunggu jawaban.
"Kita menginap saja, besok kita akan lanjut perjalanan, apa kau tau dimana letak penginapan Ying Zu.?" Tanya Ceni menoleh ke arah Ying Zu.
Ying Zu pun mengangguk.
"Ada nona, aku sudah hafal kota ini karena aku sering ke sini walaupun hanya untuk membeli bahan baku obat-obatan."Ucap Ying Zu.
"Bagus, ayo kita makan dulu baru setelah itu kita menuju ke penginapan, kau tau dimana restoran di sini Ying Zu, yg sekira nya memiliki makanan yg enak.?" Ucap Ceni.
"Tau nona, ayo ikuti aku." Ucap Ying Zu.
Ceni dan Zeno pun mengikuti Ying Zu dari belakang karena mereka sama-sama tidak tau dan masing-masing merasa asing dengan wilayah kota dimana mereka berada saat ini.
.
Setiba nya di restoran di kota itu, Ceni, Ying Zu dan Zeno pun turun dari kuda nya lalu di sambut oleh sang penjaga kuda restoran tersebut.
"Selamat datang nona-nona muda, tuan muda." Ucap penjaga kuda tersebut dengan ramah.
"Hem." Ceni hanya mengangguk dan berdehem saja.
"Baiklah paman, tolong jaga kuda ku ya." Ucap Zeno lalu memberikan beberapa koin emas pada paman penjaga kuda.
"Tapi ini kebanyakan tuan muda, harga nya cuma beberapa koin perak saja." Ucap paman penjaga kuda dengan menundukkan kepala nya.
"Ambil saja paman aku tak punya koin perak." Ucap Zeno lalu menyelipkan koin emas tersebut di telapak tangan penjaga kuda.
Paman penjaga kuda dengan mata yg berkaca-kaca membungkuk kan tubuh nya berulang kali karena bertemu orang baik yg memberi nya uang lebih, terkadang bahkan mereka tak di bayar oleh pemilik kuda lain nya yg pernah menitipkan kuda kepada nya, alih alih mendapatkan uang lebih mereka justru terkadang mendapatkan banyak cacian dari pemilik kuda karena meminta imbalan yg bahkan tidak seberapa itu.
Dengan penuh semangat paman penjaga kuda bersama rekan nya menarik tali kekang kuda-kuda milik Ceni, Ying Zu dan Zeno untuk di ikat dan di bariskan dengan teratur.
Mereka saat ini pun memasuki restoran yg terbilang sangat terkenal di kota tersebut.
Di dalam restoran itu tampak beberapa kursi panjang sudah di penuhi oleh orang-orang yg tampak nya ialah dari kalangan bangsawan, terlihat dari pakaian mereka yg sangat mencolok apabila dibandingkan dengan rakyat biasa.
"Ayo kita duduk di pojok saja." Ajak Ceni.
Ying Zu dan Zeno pun mengikuti langkah kaki Ceni memilih untuk duduk di pojokan agar tak terlibat sedikit perdebatan di antara para bangsawan yg adu kekayaan dan kekuasaan.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪