Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16: Sandiwara di Sidang Agung
Malam itu, kediaman Lane menjadi saksi bisu dari sebuah konspirasi yang jauh lebih gelap daripada yang pernah dibayangkan oleh Menteri Valois. Di bawah cahaya lilin yang temaram di perpustakaan rahasia, Elara dan Alaric duduk berhadapan. Tidak ada air mata, tidak ada keputusasaan; yang ada hanyalah perhitungan dingin.
"Racun Lethos bekerja dengan cara mengikat detak jantung korbannya," Elara menjelaskan sambil menyebarkan bubuk perak di atas meja. "Jika aku memberikan penawar yang salah, jantung Ayah akan berhenti. Tapi, jika kita menggunakan Sihir Mati Suri dari klan Ravenhurst yang pernah kau ceritakan..."
Alaric mengangguk, matanya berkilat penuh pengertian. "Aku bisa menghentikan detak jantungnya selama dua jam. Bagi mata awam, ia akan tampak seperti sudah tak bernyawa. Namun, Elara, risikonya sangat besar. Jika dalam dua jam itu kau gagal mendapatkan penawar asli dari Valois, Ayahmu benar-benar akan pergi."
Elara menggenggam tangan Alaric. "Aku tidak punya pilihan selain mempercayaimu, Alaric. Dan kau... kau harus siap untuk dibenci oleh seluruh dunia besok pagi."
Alaric tersenyum tipis, sebuah senyuman sedih namun penuh cinta. "Aku sudah menjadi monster di mata mereka selama bertahun-tahun, Elara. Menjadi penjahat untuk satu hari lagi demi dirimu adalah kehormatan bagiku."
Fajar Kesakitan
Saat sinar matahari pertama menyentuh menara istana, suasana di Balai Sidang Agung sudah memanas. Para menteri, bangsawan tinggi, dan anggota keluarga kerajaan berkumpul dengan bisik-bisik yang meresahkan. Berita tentang runtuhnya Pelabuhan Utara telah menyebar seperti api di atas tumpahan minyak.
Kaisar duduk di takhta emasnya, wajahnya tampak lelah dan penuh kecurigaan. Di sisi kanan takhta, Menteri Valois berdiri dengan keanggunan seorang pemenang, sesekali melirik ke arah pintu besar balai sidang.
Pintu terbuka. Elara Lane masuk dengan gaun hitam pekat—warna berkabung yang sangat kontras dengan kulit pucatnya. Ia tidak berjalan di samping Alaric. Alaric masuk beberapa saat kemudian dengan tangan terikat rantai sihir, dikawal oleh ksatria kekaisaran di bawah perintah langsung kementerian keuangan.
"Yang Mulia!" suara Elara memecah kesunyian, terdengar pecah dan penuh dengan kepedihan yang dibuat-buat namun terasa sangat nyata. Ia jatuh berlutut di depan takhta. "Saya memohon keadilan! Ayah saya... Marquess Lane... kini sedang meregang nyawa karena kekejaman pria ini!"
Elara menunjuk ke arah Alaric dengan tangan yang bergetar.
Seluruh ruangan berdengung. Valois tersenyum tipis di balik telapak tangannya.
"Nona Lane," Kaisar berkata dengan nada berat. "Jelaskan tuduhanmu terhadap Grand Duke Alaric von Ravenhurst. Ini adalah tuduhan yang sangat serius."
"Grand Duke Alaric... dia menginginkan kontrol penuh atas Pelabuhan Utara untuk mendanai pemberontakannya!" Elara menangis, air mata buaya yang ia latih sepanjang malam mengalir deras. "Ketika Ayah menolak untuk menyerahkan segel dermaga tujuh, Alaric menghancurkan pelabuhan itu dengan sihir hitamnya dan meracuni Ayah agar ia bisa mengambil alih secara paksa!"
Alaric hanya menunduk, tidak membela diri. Aktingnya sebagai pria yang tertangkap basah sangat sempurna, memicu amarah para menteri yang memang sejak lama iri pada kekuasaannya.
Jebakan di Dalam Jebakan
Menteri Valois melangkah maju, berpura-pura menjadi penengah yang bijaksana. "Yang Mulia, ini adalah pengkhianatan yang tak termaafkan. Saya memiliki dokumen yang menunjukkan aliran dana gelap dari Ravenhurst menuju organisasi ilegal di Barat. Ditambah dengan kesaksian Nona Lane, tidak ada alasan untuk ragu."
Kaisar menatap Alaric. "Alaric, apakah kau memiliki pembelaan?"
Alaric mendongak, matanya merah. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk kekuasaan. Lane hanyalah batu sandungan kecil."
Ruangan meledak dalam kemarahan. Valois merasa telah berada di puncak kemenangannya. Ia mendekati Elara, berpura-pura menghiburnya dengan menyentuh bahunya. "Nona Lane yang malang. Serahkan dokumen hak milik pelabuhan itu sekarang, agar kementerian bisa segera mengambil alih dan... menyediakan 'obat' untuk ayahmu."
Elara merogoh balik gaunnya, mengeluarkan sebuah gulungan perak. Namun, saat ia hendak menyerahkannya, ia berhenti.
"Menteri Valois," bisik Elara, cukup keras untuk didengar oleh Kaisar. "Kenapa obat untuk Ayah ada padamu? Bukankah kau bilang Alaric yang meracuninya?"
Langkah Valois terhenti. Matanya menyipit. "Maksud saya... kementerian memiliki penawar untuk segala jenis racun Ravenhurst."
"Tapi racun yang menyerang Ayah bukan berasal dari Ravenhurst," Elara berdiri, wajahnya yang tadinya penuh air mata mendadak berubah menjadi dingin dan tajam. Ia menyeka air matanya dengan gerakan anggun. "Itu adalah racun Lethos. Racun yang hanya dimiliki oleh faksi Solis Invicta. Benar kan, Menteri?"
Kaisar mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Elara?"
"Yang Mulia!" Elara berbalik menghadap Kaisar. "Pagi ini, Ayah saya dinyatakan mati oleh tabib istana. Namun, sesaat sebelum 'kematiannya', beliau menyerahkan ini padaku."
Elara mengeluarkan sebuah kristal perekam suara—alkimia langka yang jarang dimiliki siapapun. Saat kristal itu diaktifkan, suara Menteri Valois menggema di seluruh aula:
"Bunuhlah aku, Alaric. Tapi jika jantungku berhenti berdetak, pelayan di dapur akan menjatuhkan satu tetes racun 'Lethos' ke dalam teko ayahmu..."
Wajah Valois memucat seketika. Seluruh balai sidang mendadak sunyi sesunyi kuburan.
Kebangkitan Sang Marquess
"Itu... itu adalah rekayasa sihir!" teriak Valois, mencoba mencari jalan keluar.
"Sihir rekaman tidak bisa direkayasa, Valois," suara berat itu muncul dari arah pintu masuk.
Semua mata menoleh. Marquess Lane berdiri di sana, didukung oleh Kael. Ia tampak pucat, namun matanya tajam dan hidup. Efek mati suri yang diberikan Alaric telah berakhir tepat waktu.
"Aku masih hidup, Valois. Dan aku melihatmu menuangkan racun itu ke dalam cangkirku sendiri," Marquess Lane berjalan perlahan menuju tengah aula.
Alaric dengan mudah menghancurkan rantai sihir di tangannya—rantai yang ternyata sudah ia rapuhkan sendiri sejak awal. Ia berdiri di samping Elara, tangannya melingkar di pinggangnya, menunjukkan bahwa seluruh sandiwara tadi adalah bagian dari rencana mereka.
"Yang Mulia," Alaric berkata dengan suara yang menggetarkan ruangan. "Menteri Valois adalah pemimpin faksi Solis Invicta di dalam istana ini. Dia menggunakan jabatan kementerian untuk mendanai pengkhianatan di Pelabuhan Utara."
Valois mencoba melarikan diri, namun para ksatria bayangan Alaric yang menyamar sebagai pengawal istana segera mengepungnya.
"KAU!" Valois menunjuk Elara dengan penuh kebencian. "Bagaimana kau bisa tahu tentang rencana itu?!"
Elara melangkah maju, menatap Valois tepat di matanya—tatapan yang sama yang ia berikan pada Isabella sebelum wanita itu jatuh. "Karena aku sudah melihat akhir dari ceritamu, Menteri. Dan di akhir cerita itu, tidak ada matahari yang terbit untukmu."
Akhir dari Sang Menteri
Kaisar berdiri dari takhtanya dengan murka yang luar biasa. "Tangkap Valois! Segel seluruh hartanya! Dan aku ingin setiap orang yang namanya tercatat dalam jaringan Solis Invicta dibawa ke hadapanku dalam keadaan hidup atau mati!"
Valois diseret keluar dari aula, berteriak-teriak tentang matahari yang akan tetap terbit. Namun bagi Elara, itu hanyalah kebisingan yang tak berarti.
Elara menoleh ke arah Alaric. "Kita melakukannya."
"Kita baru saja memotong jantung mereka," jawab Alaric pelan. "Tapi ingat, Elara, seekor naga tidak langsung mati saat jantungnya ditusuk. Ia akan mengamuk lebih hebat sebelum napas terakhirnya."
Marquess Lane menghampiri putrinya, memeluknya dengan erat. "Aku bangga padamu, Elara. Ibumu... dia pasti tersenyum melihat keberanianmu hari ini."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Elara merasakan sebuah firasat buruk. Ia melirik ke arah kursi menteri keuangan yang kini kosong. Di bawah kursi itu, ia melihat secarik kertas kecil yang jatuh.
Elara memungutnya dan membacanya dalam hati:
"Valois hanyalah pengalihan. Fokuslah pada Sang Kaisar yang asli di Barat."
Elara meremas kertas itu. Musuh tingkat tinggi berikutnya telah memberikan sinyal. Dan kali ini, pertempuran tidak akan terjadi di aula istana, melainkan di medan perang yang sesungguhnya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔