"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperbaiki Semuanya
Naina bangkit dari kasur, ia berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Ia menatap dirinya di cermin dan mengukir gambar hingga membentuk pola tersenyum pada cermin itu. "Semua akan baik-baik saja. Mulai lagi hari mu tanpa ada beban pikiran dan lupakan semua hal yang sudah menyakiti mu." Ucap Naina pada dirinya sendiri.
Seperti biasa, gadis itu akan mulai menyibukkan diri di dapur sembari menunggu Dimas bangun.
***
Dimas duduk di meja makan, ia hanya diam memperhatikan Naina yang menyiapkan sarapan. Setiap gerakan Naina ia perhatikan dengan seksama. Pikirannya melayang saat bertemu Sarah kemarin sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Aku sadar posisiku sekarang, Dim. Mau sebesar apa cinta kamu ke aku, aku hanyalah masa lalu mu. Statusmu juga sekarang sudah beristri." Ucap Sarah. Dimas hanya diam mendengarnya. "Aku emang janda, gak mungkin juga aku akan ngerebut kamu dari istrimu." Ucap Sarah di sertai tawa kecil, ia tidak ingin suasana menjadi canggung, hingga sebisa mungkin ia membuat obrolannya bersama Dimas sesantai mungkin.
"Andai aja aku bisa nunggu lebih lama. Mau kaya apa dan gimana pun kamu sekarang, aku tetap akan nerima kamu, Sar."
"Gak perlu di sesali. Aku udah liat istri kamu, kok. Dari luar aku bisa menilai, dia gadis yang baik, tulus dan juga penyayang. Aku sempat insecure sama dia waktu di pesta. Terlihat anggun dalam kesederhanaan. Rugi kalau di sia-siakan."
Sepintas wajah Naina muncul di pikiran Dimas. Ada perasaan bersalah pada gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
"Jangan nodai pernikahan kamu, Dim. Aku ngajakin kamu ketemu cuma kangen aja sama diriku yang dulu. Sejak menikah, aku seperti kehilangan diriku. Aku pulang ke Indonesia, agar bisa pulih dari semua rasa sakit. Dan melupakan semua sakit yang udah aku rasain."
"Tapi perasaan gak bisa di bohongi, Sar."
"Aku tau. Toh, kita masih bisa berteman, kan?"
Dimas tertawa sinis.
"Ya. Teman." Jawab Dimas kemudian.
*****
Kopi hangat dan beberapa menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Pemandangan yang selalu Dimas lihat sejak ia menikah. Dimas menyadari, dalam keadaan seperti apapun, Naina tetap memperlakukannya dengan baik. Rasa malu menyelimuti hati Dimas. Sepintas bayangan ibunya melintas, "Perlakukan istrimu dengan baik!" Ucapan bu Ais terngiang di telinga.
"Nai, aku akan ambil cuti biar kita bisa liburan dan banyak menghabiskan waktu bersama." Ucap Dimas saat Naina duduk di depannya.
Naina kaget mendengar ucapan Dimas. Sampai ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya terdiam menatap Dimas dengan mata sedikit membulat.
"Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Dan aku ingin menebus semua kesalahanku." Sambung Dimas.
Naina diam sesaat, ia seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Tapi... hari ini aku sudah mulai kerja, Mas." Ucap Naina.
"Oh. Iya kah?" Tanya Dimas ada raut wajah kekecewaan di sana.
"Apa Mas lupa, kemarin aku pergi untuk wawancara?"
"Iya. Maaf, aku lupa."
"Aku terlanjur bilang hari ini akan memulai, Mas. Tidak enak sama Ibu nya. Apa kata beliau kalau aku tiba-tiba membatalkan."
Dimas mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah. Mungkin bisa lain kali."
"Iya, Mas. Maaf, ya."
"Tidak apa-apa. Yaudah, biar aku antar kamu kerja."
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa berangkat sendiri. Maaf kalau aku tidak bilang ke Mas, kalau aku sudah membeli motor bu Santi tetangga kita."
"Motor?"
Naina mengangguk. "Hitung-hitung membantu sesama. Bu Santi lagi perlu uang."
"Bisa bawanya?"
"Bisa, kok. Kemarin aku sudah coba dan semuanya oke."
"Oh. Yaudah."
"Aku masuk jam sembilan. Jam kita beda, begitu juga rutenya." Naina memberikan sebuah kertas pada Dimas. "Ini alamat toko bunganya, Mas."
Dimas mengambil kertas itu, membacanya kemudian menyimpan itu di saku bajunya.
"Nanti kapan-kapan aku ambil libur biar bisa antar kamu."
Naina menyunggingkan senyuman dan mengangguk. Walau sebenarnya hatinya masih terasa sakit perihal kejadian kemarin, tapi dengan sikap manis Dimas pagi ini, ia merasa sangat senang.
"Suatu keajaiban. Semoga hubungan kami ke depan semakin membaik."
udah muak gw di otak nya sarah mulu, kasian naina,,
sarah jga udah tau dimas laki orang, malah di biarin anak nya deket sma si dimas, kan cari masalah pusing sndri krna udah terlanjur deket,,
kasih dia cwok gih biar gak recokin rumah tangga orang mulu,,,
kalau Dimas masih datangin sarah dan Kimmy,,buat naina pergi jauh dan Dimas nangis darah..