"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Sebelum kalian membaca, aku mau kasih tau kalau ada beberapa bagian yang aku ubah di episode sebelumnya karena ada kekeliruan.
Note : Jam kerja Naina dan Dimas
Sekian dan terimakasih.
Setelah beberapa hari, note ini akan aku hapus. Selamat membaca kembali.
****
"Assalamu'alaikum, Nai. Aku pulang." Panggil Dimas sembari membuka pintu yang sedikit terbuka. Ia merasa heran dengan hal itu, "Tumben sekali gak di kunci." Benak Dimas.
Saat Dimas masuk, Naina sudah menunggunya di sofa ruang tamu dengan tatapan kosong.
Dimas yang merasa canggung membiarkan hal itu. Ia berjalan melewati ruang tamu hendak menuju ke kamarnya. Keheningan itu membuat tiap langkah Dimas terdengar sangat jelas.
"Mas dari mana?" Tanya Naina tanpa menoleh ke arah Dimas. Langkah kaki Dimas seketika terhenti.
"Kerja, Nai. Emang dari mana lagi?" Dimas balik bertanya.
"Yakin tidak ada hal yang Mas sembunyikan?" Kali ini Naina berjalan mendekati Dimas.
"Aku capek, Nai. Pengen istirahat." Dimas seperti sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia pun gelagapan seperti kedapatan menyembunyikan sesuatu.
"Mas bilang hari ini tidak bisa libur, tapi kenapa Mas malah pergi ke Taman bersama seorang wanita?"
Jantung Dimas berdetak kencang. Walau kebahagiaan menyelimutinya saat bersama Sarah, tetap saja ia merasa bersalah pada Naina yang merupakan istrinya. Gugup, tidak bisa ia sembunyikan. Apalagi tatapan Naina saat ini, seperti mengunci dirinya untuk berkata jujur.
Dimas hanya diam, ia enggan untuk menjawab. Air mata Naina mulai jatuh. Amarahnya tidak bisa di bendung lagi. Dadanya terasa panas. Badanya bergetar.
"Mas pasti bertanya-tanya kan dari mana aku bisa tahu, kan? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Mas. Di kursi Taman kalian berpelukan."
"Aku bisa jelaskan, Nai. Tolong kamu tenang dulu, jangan ribut-ribut ini sudah malam gak enak di dengar tetangga."
"Apa Mas malu jika tetangga tau? Tapi kenapa Mas tidak ada rasa malu sama sekali berpelukan dengan seorang wanita di tengah umum padahal kalian bukan muhrim!"
"Sudah cukup, Nai! Kamu gak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi!"
"Jadi karena ini Mas tidak bisa mencintai ku, Mas? Karena ada orang lain di hati Mas?"
Dimas hening,
"Iya, Nai! Wanita yang kamu lihat itu mantan pacarku dulu! Dan kamu benar, dia alasanku untuk tidak mencintai orang lain selain dia sampai saat ini!"
Naina kembali duduk di sofa, ia menarik nafas panjang berusaha menerima kenyataan yang terucap dari mulut Dimas.
"Aku tidak akan mempermasalahkan apa yang sudah aku lihat dan aku dengar, Mas. Tenang saja, aku tidak selemah yang Mas fikirkan. Aku akan tetap berada di sini menerima semuanya. Tapi aku minta satu hal, tolong jangan di ulangi lagi, Mas. Jangan temui dia lagi. Tolong jangan nodai pernikahan ini dengan menambahkan orang lain pada pernikahan kita. Sekarang Mas sudah menikah dan dia adalah masa lalu." Ucap Naina di sela tangisnya.
Dimas tidak tau harus menjawab apa. Pikirannya berkecamuk. Sebagai seorang laki-laki yang baik tentu ia tidak akan menodai pernikahan mereka. Apalagi, pernikahan mereka yang masih sangat baru. Apa kata orang nanti. Terlebih orang tua Dimas yang pasti sangat mengecam tindakan Dimas.
"Kita lupakan masalah ini, Nai. Aku harap, masalah ini jangan di bawa keluar. Aku minta maaf dan tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi." Ucap Dimas dan kemudian berlalu meninggalkan Naina yang masih terisak.
***
Dimas merebahkan diri di kasur. Isi kepalanya terasa penuh. Dilema, penyesalan, bayangan masa lalu, jalan pernikahan, semua seperti berputar-putar.
"Cobaan atau ujian kah ini?" Tanya Dimas pada diri sendiri. Langit-langit kamarnya seperti di penuhi dengan wajah Naina dan juga Sarah.
"Kenapa aku harus menikah? Kenapa aku harus mempunyai ikatan ini? Aku seperti terjebak dalam situasi yang membingungkan. Tubuhku memang ada di sini, tapi hatiku masih untuk Sarah. Terlepas semua yang Sarah lakukan dulu, cintaku lebih besar daripada sakit yang dulu ia berikan."
"Naina... Dia juga tidak bersalah dalam pernikahan ini. Tapi aku tidak mencintainya. Kenapa aku tidak menunggu lebih lama dan terlalu cepat mengambil keputusan. Kalau saja aku lebih bersabar, mungkin kedilemaan ini tidak akan aku rasakan sekarang."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku akan terjebak dalam situasi ini selamanya, atau bagaimana?"
"Ada rasa berdosa jika bersama Sarah. Tapi juga rasa tertekan saat bersama Naina."
***
Di ruang tamu yang hening, Naina masih berdiam diri di sana. Sesekali ia menyeka air mata yang terus saja terjatuh. Sakit hati yang ia rasakan sekarang seakan membuat tubuhnya menjadi kaku. Ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri.
"Selama ini aku berfikir ini hanya soal waktu dan perlahan cinta itu akan tumbuh. Ternyata ini lebih dari itu." Dalam tangisnya Naina tertawa kecil. Ia seolah menertawakan dirinya dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.
"Seindah apa masa lalu mu itu Mas sampai tidak ada lagi tempat untuk ku?"
"Tapi bagaimana mana pun juga dia adalah masa lalu mu. Dimasa sekarang Mas bersama ku. Tidak salah kan jika aku masih berharap untuk di cintai oleh suami ku sendiri?"
"Aku akan melupakan apa yang terjadi hari ini. Rasa cintaku lebih besar dari pada sakit yang kamu berikan."