Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***
"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.
***
"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Abidzar
Athar berdiri di ruang tengah, merapikan jam tangannya. Arsyila sudah menunggu di dekat pintu, wajahnya masih menyimpan sisa lelah semalam. Jam dinding menunjukkan hampir pukul delapan.
Hanya satu yang belum keluar dari kamar.
Azzura.
Azzam melirik pintu kamar adiknya, lalu menatap abinya. Ada keraguan yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia buka suara.
“Abi…” panggilnya pelan. “Menurut Abi, keputusan Kyai Abdul Hamid itu… benar-benar tepat gak buat Zura dan Abidzar?”
Athar menghentikan gerakannya. Ia menoleh pada putra sulungnya itu. Tatapannya tidak langsung menjawab, seolah ingin memastikan Azzam siap menerima jawaban yang jujur—bukan jawaban yang menenangkan semata.
“Zam,” ucap Athar tenang, “dalam hidup ini, tidak semua keputusan terasa tepat di awal.”
Azzam mengerutkan kening, mendengarkan dengan saksama.
“Kyai Abdul Hamid tidak sedang memilihkan kebahagiaan instan untuk adikmu,” lanjut Athar. “Beliau memilihkan tanggung jawab.”
“Bukannya itu berat, Bi?” tanya Azzam lirih.
“Justru karena berat, beliau memilihnya,” jawab Athar lembut. “Orang tua yang baik tidak selalu memberi jalan yang paling mudah, tapi jalan yang paling menjaga.”
Athar melangkah mendekat, menepuk bahu Azzam.
“Abi tidak mengatakan keputusan itu pasti membuat Zura bahagia hari ini,” katanya jujur. “Tapi Abi yakin, keputusan itu tidak akan menzaliminya.”
Azzam terdiam.
“Abidzar,” Athar melanjutkan, “adalah laki-laki yang tau batas, tau amanah, dan tau takut pada Allah. Dan untuk seorang perempuan yang hatinya sedang diguncang, itu lebih penting daripada cinta yang terburu-buru.”
“Kalau suatu hari Zura menyesal?” Azzam bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Athar menatap lurus ke depan. “Kalau itu terjadi, Abi dan kamu tidak akan pernah menjauh darinya.”
Ia kembali menatap Azzam dengan keyakinan penuh.
“Dan satu hal yang harus kamu ingat, Zam… Abi tidak menyerahkan Zura karena keadaan. Abi menyerahkannya karena Abi percaya, Allah sedang menjaganya lewat tangan orang lain.”
Azzam mengangguk pelan. Kekhawatirannya tidak sepenuhnya hilang, tapi ada sesuatu yang menguat di dadanya.
Saat itu pintu kamar Azzura masih tertutup.
Dan Athar, sebagai seorang ayah, hanya bisa berdoa—semoga kelak putrinya memahami, bahwa keputusan ini lahir dari cinta yang paling dalam.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Azzura keluar dengan langkah ragu. Ia sudah rapi—kerudung terpasang, wajahnya bersih tanpa rias berlebihan. Namun matanya… menyimpan ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Takut pada hari ini.
Takut pada kata akad.
Takut pada masa depan yang belum sempat ia pilih.
Athar yang berdiri di ruang tengah langsung menoleh. Senyum lembut terukir di wajahnya, bukan senyum yang memaksa, melainkan senyum seorang ayah yang ingin menenangkan.
“Zura,” panggilnya pelan, “Abi mau bicara.”
Azzura menelan ludah. “Azzura juga, Bi.”
“Baik,” Athar mengangguk. “Kita ke kamar kamu saja.”
“Kok Umma gak diajak?” protes Arsyila refleks.
Azzura melirik sebentar. “Kalau Umma ikut, pasti Umma timnya Abidzar.”
“Seolah Abi kamu gak gitu aja,” sahut Arsyila setengah kesal.
Namun Athar sudah lebih dulu melangkah, diikuti Azzura. Pintu kamar tertutup, menyisakan keheningan.
Athar duduk di kursi dekat jendela. Azzura berdiri sebentar, lalu duduk di tepi ranjang. Jemarinya saling meremas.
“Apa yang mau kamu sampaikan, Zura?” Athar membuka percakapan lebih dulu.
Azzura menarik napas panjang. “Azzura gak mau menikah sama Abidzar, Bi.”
Athar tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan. “Kenapa?”
“Karena dia menyebalkan,” jawab Azzura cepat. “Tiap ketemu pasti ribut. Gak pernah akur. Gak pernah satu frekuensi.”
Ia menunduk, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Dan… Zura masih mau kuliah. Zura belum siap nikah sekarang.”
Athar menyimak tanpa memotong. Setelah hening beberapa detik, ia berbicara. “Zura,” katanya tenang, “Abi mau tanya satu hal.”
Azzura menatap ayahnya. “Selama ini, Abidzar pernah menyakiti kamu?”
Azzura terdiam. Ia mengingat-ingat. Bertengkar iya. Kesal iya. Tapi menyakiti?
“Enggak,” jawabnya lirih.
“Pernah melewati batas?”
Azzura menggeleng pelan.
“Pernah mempermalukan kamu?”
Air mata mulai menggenang di mata Azzura. “Enggak, Bi…”
Athar mengangguk pelan. “Yang kamu sebut menyebalkan itu sebenarnya adalah orang yang selalu menjaga jarak.”
Azzura mengangkat wajahnya.
“Bertengkar bukan tanda benci, Zura,” lanjut Athar. “Kadang itu tanda dua orang sama-sama keras menjaga prinsip.”
Azzura terdiam.
“Kuliah tidak akan berhenti karena menikah,” ucap Athar lembut. “Abi dan Umma tidak akan mencabut masa depanmu. Justru Abi ingin masa depanmu lebih terjaga.”
“Tapi Zura belum cinta, Bi…”
Athar tersenyum kecil. “Abi juga tidak menikahi Umma kamu karena cinta yang sudah meledak-ledak.”
Azzura terkejut. “Hah?”
“Cinta itu tumbuh,” lanjut Athar. “Yang berbahaya itu bukan menikah tanpa cinta, tapi menikah dengan orang yang tidak bertanggung jawab.”
Athar berdiri, lalu berlutut sedikit agar sejajar dengan putrinya.
“Abi tidak memaksa kamu bahagia hari ini,” katanya lirih. “Tapi Abi ingin kamu aman seumur hidup.”
Air mata Azzura jatuh satu per satu.
“Kalau kamu menikah dengan Abidzar,” Athar menatap putrinya penuh keyakinan, “kamu tidak sedang kehilangan mimpi. Kamu sedang ditemani dalam mengejarnya.”
Azzura menggigit bibirnya. Hatinya kacau, tapi kata-kata ayahnya menembus pelan.
“Abi tidak akan memaksa,” tutup Athar. “Kalau kamu menolak, Abi akan berdiri paling depan melindungi kamu.”
Ia mengusap kepala Azzura.
“Tapi sebelum kamu berkata tidak… pastikan itu bukan karena takut, melainkan karena yakin.”
Azzura terdiam lama.
Untuk pertama kalinya sejak semalam,
ia tidak langsung menolak.
Ia berpikir.
Dan entah mengapa Azzura meyakini keputusan Abinya.
***
Keluarga Athar sudah sampai di parkiran Ndalem. Namun langkah Azzura terhenti ketika melihat Abidzar sedang duduk di taman dekat pembatas pesantren.
Azzura segera menghampirinya, ia hanya izin pada Azzam. Azzam memperhatikan adiknya hanya dari kejauhan. Ia tau adiknya ingin bicara untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri.
"Abid, kamu tidak akan menyetujui pernikahan ini kan?"
Abidzar sempat kaget karena tiba-tiba saja Azzura muncul dengan tangan yang bersedekap di dada.
"Datang itu ucapkan salam dulu, Zuyaaa."
Azzura memutar bola matanya, "assalamu'alaikum, Gus Abidzar. Bisa kita bicara?"
"Wa'alaikumussalam. Mau bicara apa?"
"Ya jawab pertanyaan aku tadi."
"Apa yang kakekku katakan tidak ada salahnya, Zuya. Justru itu adalah solusi yang paling baik."
Azzura tidak menyangka dengan jawaban dari Abidzar.
"Itu artinya kamu setuju dengan usulan kakek kamu?"
Abidzar menyunggingkan senyum tipis. "Kenapa aku harus menolak?"
"Abid, jangan membuat aku bingung."
"Bagian mana yang membuat kamu bingung?"
"Kamu seolah-olah mengatakan kalau kamu juga menyetujui pernikahan ini dan ingin menikah denganku."
"Ya memang..." Jawab Abidzar jelas.
"Abiiiddd..." Azzura speechless. Tidak menyangka dengan jawaban Abidzar.
"Emangnya kamu udah solat istikharah?"
"Sudah."
"Jawabannya?"
"Aku tenang." Jawab Abidzar yang begitu yakin.
"Tau ah, ngomong sama kamu gak bisa membuat diri aku yakin."
"Padahal kamu tidak perlu ragu. Kamu cukup mengiyakan aja."
"Heh! Kamu pikir menikah itu mudah apa?"
"Menikah memang tidak semudah itu. Tapi juga tidak semengerikan yang ada di otak kamu."
"Oke, aku tanya sekali lagi. Kamu yakin benar-benar ingin menikah?"
Anggukan mantap dari Abidzar membuat Azzura tertegun. Cepat sekali ia mengambil keputusan.
"Emangnya kamu mau menikah dan hidup bersama sama perempuan yang bawel dan cerewet kaya aku? Kita hampir setiap ketemu ribut terus loh Abid."
"Gak masalah buat aku, itu bikin rumah nanti jadi rame."
Azzura mendengus kesal. "Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
"Tapi..."
"Tapi apa lagi, Zuyaaa? Minta tanggung jawab kan, yaudah ayo menikah?"
Azzura mengerutkan keningnya. "Hah? Ini gimana sih, kok ujung-ujungnya menikah juga?"
"Tunggu aku disini."
Athar berbalik pergi namun bodohnya Azzura menunggu Abidzar.
Tak lama Abidzar datang membawakan Azzura coklat dua bungkus, lengkap dengan air mineral. Karna Azzura sangat menyukai coklat seperti Arsyila dulu apalagi jika dirinya lagi badmood, coklat adalah makanan ajaib untuk mengembalikan moodnya.
Entah dari mana Abidzar tau kebiasaannya itu.
"Ini untuk kamu, duduk kalau mau makan."
Azzura pun menurut, ia langsung membuka bungkus coklat itu dan memakannya.
"Kok kamu tau kalau itu jadi kebiasaan aku kalau lagi badmood?"
"Apa itu cukup meyakinkan kamu kalau aku layak menjadi suami kamu?"
Azzura menghentikan kunyahannya dan menatap Abidzar yang masih berdiri di tempatnya.
"Maksudnya?"
"Aku tau makanan kesukaan kamu, aku tau kamu sangat menyukai coklat seperti umma kamu. Aku tau kamu alergi seafood, aku tau kamu tidak bisa tidur tanpa selimut yang almarhum Opa Bara kasih ke kamu. Aku tau kulit kamu sensitif. Aku tau kamu harus minum minimal 2liter per hari. Aku tau kamu punya masalah pencernaan. Aku tau semua aib-aib kamu, dan masih banyak hal lagi yang aku tau soal kamu. Kita tidak perlu saling mengenal dari awal. Kita sudah berteman dua puluh tahun, Zuya, kita sudah tau sama lain dengan baik."
Penjelasan Abidzar membuat Azzura ternganga. Ia tidak tau Abidzar bisa berbicara panjang lebar seperti itu. "Tapi tetep aja Bid. Aku gak bisa. Jangan maksa buat nikah sama aku hanya karena kita sudah saling kenal sejak kecil."
"Kenapa?"
"Kita bukan jodoh, Abidzar."
Abidzar menyeringai dan memandang Azzura dengan alis terangkat. "Asumsi darimana itu? Memangnya kamu tau siapa jodoh kamu?"
Azzura gelagapan. "Yaaa, ya aku gak tau. Tapi yang jelas bukan kamu."
"Jangan mendahului takdir, Zuya."
"Kamu yang jangan memaksakan takdir."
"Aku bukan memaksakan takdir. Tapi aku sedang mengusahakan takdir aku. Perihal jodoh itu bukanlah takdir Allah yang mutlak, Zuya. Jodoh itu bukan qodar yang ditetapkan Allah sejak lahir dan mutlak tidak bisa diubah. Jodoh adalah bagian dari takdir yang Allah tetapkan dengan melihat seberapa besar ikhtiar kita karena itu Allah memerintahkan kita untuk berusaha. Seseorang yang tidak berusaha untuk takdirnya tidaklah dibenarkan. Jadi Zuya, sekarang ini aku sudah sedang mengusahakan takdirku, yaitu kamu."
"Tapi...."
Azzura sungguh tidak tau harus berkata apa lagi. Abidzar sungguh mampu membuatnya tidak bisa menyanggah setiap kata-katanya.
"Aku pamit. Kamu sebaiknya memikirkannya dengan kepala matang. Aku tau ini bukanlah keputusan yang mudah untuk kamu ambil. Tapi tolong pertimbangkan aku. Aku memang tidak akan menjanjikan pernikahan yang hanya berisi hal-hal indah saja tapi bukan berati aku tidak bisa membahagiakan kamu. Sebagai istriku nanti kamu akan menjadi orang yang paling aku usahakan kebahagiaannya. Kamu bisa pegang kata-kata aku."
Azzura memegang dadanya yang jantungnya berdetak kencang. Ini gila, Azzura tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini apalagi kepada Abidzar. Laki-laki yang setiap bertemu dengannya hanya membuat dirinya kesal, moodnya jelek dan selalu saja menjadi teman ribut dan debat. Dan kini ia merasakan perasaan aneh yang tak ia mengerti, Azzura jadi bingung, ada perasaan hangat yang menjalari hatinya mendengar janji yang Abidzar ucapkan itu.
ckckck mau cari gr"🤭
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
awas kamu abidz bilang telat🤭
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug