NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Mendapatkan Kekuasaan

Bai Ruoxue memahami satu hal setelah berhari-hari diserang tanpa henti: ia tidak bisa menang dengan melawan dari depan.

Di istana ini, orang yang paling cepat binasa adalah mereka yang terlihat ingin berkuasa. Ambisi yang terlalu terang benderang adalah undangan terbuka untuk dihancurkan bersama seluruh garis keturunannya. Selir yang berani menampakkan taring, selir yang berani bersinar terlalu cepat—mereka semua punya akhir yang sama: dijatuhkan ramai-ramai, lalu dilupakan.

Maka langkah pertamanya tidak boleh terlihat sebagai perlawanan.

Ia harus tampak… kecil.

Tidak penting.

Tidak layak dijadikan musuh.

Ia harus menjadi sosok yang bahkan tidak pantas untuk dibenci.

Dan karena itu, Bai Ruoxue memilih sasaran yang tidak pernah dipandang siapa pun sebagai “kekuasaan”.

Pelayan.

Malam itu, hujan turun tipis, seperti tirai abu-abu yang menutup langit istana. Tidak deras, tidak pula berhenti—cukup untuk membuat udara lembap dan dingin meresap ke tulang. Paviliun Bai Ruoxue tenggelam dalam kesunyian yang nyaris menyakitkan. Letaknya memang tidak terpencil, namun kini terasa terasing, seolah-olah keberadaannya sengaja dihapus dari peta perhatian istana.

Jatah lentera hanya dua.

Cahaya kuningnya redup, bergetar setiap kali angin malam menyelinap melalui celah jendela. Bandingkan dengan paviliun selir lain yang terang benderang—seperti bintang-bintang kecil di tanah—paviliun ini tampak muram, hampir menyedihkan.

Itu disengaja.

Di istana, pengurangan cahaya bukan sekadar penghematan. Itu adalah pesan.

Pesan bahwa pemilik paviliun ini tidak lagi penting.

Shuang Shuang menuangkan teh hangat dengan tangan gemetar. Uap tipis naik perlahan, namun tidak mampu menghangatkan suasana. Wajah gadis itu tegang, matanya merah karena menahan tangis yang terlalu sering ditelan.

“Nona…” suaranya nyaris bergetar. “Hari ini kepala pelayan kembali menunda kebutuhan obat Anda. Katanya… stoknya terbatas.”

Bai Ruoxue mengangguk pelan, seolah itu bukan kabar baru.

“Aku tahu,” jawabnya lembut.

Ia duduk tegak meski lututnya masih berdenyut nyeri. Wajahnya pucat, bibirnya kering, bahunya tampak rapuh di balik kain sederhana yang kini jauh dari mewah. Siapa pun yang melihat dari luar akan mengira ia sudah kehabisan tenaga. Selir yang menunggu kejatuhannya tinggal menghitung hari.

Namun Shuang Shuang, yang berdiri paling dekat dengannya, merasakan sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.

Tatapan Bai Ruoxue tidak kosong lagi.

Tidak ada kebingungan di sana.

Tidak ada kepanikan.

Tatapan itu… menghitung.

Seperti seseorang yang sudah berhenti berharap diselamatkan, dan mulai memetakan jalan sendiri.

“Shuang Shuang,” ucap Bai Ruoxue tiba-tiba.

“I-iya, Nona?”

“Siapa nama pelayan dapur yang sering mengantarkan makanan ke sini?”

Shuang Shuang tertegun. “Ah?” Ia berpikir sejenak. “Namanya Lin Yue, Nona. Dia pelayan rendahan. Biasanya ditempatkan di paviliun terpencil atau selir yang… tidak diprioritaskan.”

“Dia yang terakhir datang hari ini?”

“Iya,” jawab Shuang Shuang pelan. “Dan… dia minta maaf terus-menerus. Sampai hampir menangis.”

Bai Ruoxue mengangguk kecil, seolah memastikan sesuatu dalam pikirannya.

“Panggil dia.”

Shuang Shuang refleks menegang. “Untuk apa, Nona?”

“Untuk bicara.”

Nada itu tenang. Tidak memerintah. Namun tidak memberi ruang untuk ditolak.

Tak lama kemudian, Lin Yue datang dengan kepala tertunduk dalam. Langkahnya hati-hati, hampir seperti berjalan di atas es tipis. Pakaian pelayannya sederhana, warnanya kusam karena sering dicuci. Wajahnya pucat, bukan karena sakit—melainkan karena takut.

Begitu melihat Bai Ruoxue, ia berlutut terlalu cepat hingga lututnya membentur lantai dengan bunyi pelan.

“S-Selir Xue,” katanya tergagap. “Jika makanan hari ini tidak layak, mohon hukum saya saja—”

“Aku tidak memanggilmu untuk menyalahkan,” potong Bai Ruoxue lembut.

Nada itu membuat Lin Yue membeku. Ia mengangkat kepala perlahan, matanya membesar, seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Bai Ruoxue menatapnya dengan tenang. Tidak dingin, tidak mengancam.

“Aku ingin bertanya,” lanjutnya, “apakah kau sering dimarahi akhir-akhir ini?”

Lin Yue terdiam.

Hujan di luar terdengar lebih jelas dalam keheningan itu. Setetes air jatuh dari atap, memercik di batu halaman.

Lalu Lin Yue mengangguk kecil.

“Karena aku?” tanya Bai Ruoxue lagi, suaranya hampir berbisik.

Hening.

Beberapa detik berlalu. Detik-detik yang terasa panjang dan menyesakkan. Akhirnya Lin Yue menjawab lirih, “Iya.”

Bai Ruoxue tidak terkejut.

Ia tersenyum tipis. Bukan senyum yang menyenangkan. Bukan pula senyum licik. Melainkan senyum seseorang yang mengerti.

“Karena kau ditempatkan di paviliunku,” katanya. “Dan paviliunku sedang tidak disukai.”

Lin Yue menunduk lebih dalam. “Saya hanya pelayan kecil, Nona.”

“Aku tahu,” jawab Bai Ruoxue. “Justru itu.”

Dua kata itu membuat udara terasa berubah.

Bai Ruoxue sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Gerakannya pelan, namun penuh maksud. “Lin Yue, jika aku jatuh… kau juga akan ikut jatuh. Kau tahu itu, bukan?”

Lin Yue menggigit bibirnya hingga memucat. “Saya tahu.”

“Namun jika aku bertahan,” lanjut Bai Ruoxue, “dan suatu hari posisiku berubah… kau juga akan ikut terangkat.”

Itu bukan janji manis.

Tidak ada kata akan kujadikan kau kepala pelayan.

Tidak ada sumpah berlebihan.

Hanya kebenaran dingin tentang cara kerja istana.

Pelayan hidup dari siapa yang mereka layani.

Bai Ruoxue mengambil sebuah gelang rambut sederhana dari meja. Kayunya halus, ukirannya kasar, jelas bukan benda mahal. Ia menyerahkannya pada Lin Yue.

“Ini,” katanya, “untukmu.”

Lin Yue terkejut. “Saya tidak berani menerima—”

“Ambil,” ucap Bai Ruoxue lembut namun tegas. “Bukan sebagai hadiah. Sebagai tanda.”

“Tanda… apa?”

“Tanda bahwa aku mengingat namamu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada emas.

Di istana ini, pelayan paling takut dilupakan. Air mata Lin Yue jatuh tanpa suara.

“Mulai sekarang,” lanjut Bai Ruoxue, “aku tidak butuh kau melakukan hal berbahaya. Aku hanya ingin kau mendengar.”

“Mendengar… apa?”

“Siapa yang memerintahkan apa. Siapa yang mengeluh tentang siapa. Siapa yang merasa puas, dan siapa yang mulai gelisah.”

Ia berhenti sejenak. “Kau tidak perlu menyampaikan semuanya. Hanya… hal yang menurutmu penting.”

Lin Yue menatap Bai Ruoxue lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat selir yang lemah.

Ia melihat seseorang yang memahami istana lebih baik dari kebanyakan orang yang lahir di dalamnya.

“Saya mengerti,” ucapnya akhirnya.

Dan itulah langkah pertama Bai Ruoxue.

Tidak ada konspirasi besar.

Tidak ada racun.

Tidak ada jebakan mencolok.

Hanya satu nama pelayan yang diingat.

Dalam tiga hari, informasi kecil mulai mengalir seperti tetesan air. Terpisah-pisah, tampak sepele, namun perlahan membentuk pola.

Bai Ruoxue tahu selir mana yang paling sering mengeluh tentang jatah.

Ia tahu siapa yang pura-pura tenang namun takut Kaisar akan kembali tiba-tiba.

Ia tahu satu selir berpangkat tinggi berselisih dengan kepala pelayan wanita soal pembagian kain sutra musim dingin.

Masalah kecil.

Namun di istana, masalah kecil adalah retakan awal.

Langkah keduanya bahkan lebih berbahaya.

Ia membantu tanpa terlihat membantu.

Ketika seorang pelayan paviliun tetangga dihukum karena kesalahan sepele, Bai Ruoxue tidak turun tangan secara langsung. Ia hanya meminta Shuang Shuang mengirim obat luka dengan secarik catatan:

Untuk pemulihan.

Tanpa nama.

Tanpa tuntutan.

Pelayan itu menangis diam-diam malam itu.

Dan namanya diingat.

Sedikit demi sedikit, Paviliun Bai Ruoxue berubah menjadi tempat yang aneh.

Bukan paling mewah.

Bukan paling ramai.

Namun pelayan tidak lagi takut ditempatkan di sana.

“Selir Xue tidak kejam,” bisik mereka.

“Dia tidak berteriak.”

“Dia memperhatikan.”

Perubahan itu terlalu halus untuk diperhatikan para selir.

Namun tidak bagi Permaisuri.

Suatu sore, laporan singkat diletakkan di mejanya.

“Pelayan-pelayan mulai berbicara tentang Selir Xue.”

Permaisuri mengangkat alis. “Dalam konteks apa?”

“Netral,” jawab kepala pelayan wanita. “Tidak memuji. Tidak mengeluh.”

Itu… mencurigakan.

Di istana, netral berarti aman.

Dan aman berarti potensi.

Malam itu, Bai Ruoxue duduk sendiri, menatap hujan yang kembali turun deras.

Shuang Shuang berbisik, “Nona… apa yang kita lakukan ini tidak berbahaya?”

“Berbahaya,” jawab Bai Ruoxue jujur.

“Lalu kenapa—”

“Karena ini satu-satunya kekuasaan yang bisa kugapai tanpa izin siapa pun.”

Ia menatap hujan, matanya tenang.

“Kaisar punya tahta. Permaisuri punya jaringan. Para selir punya keluarga besar.”

Ia mengepalkan tangannya perlahan.

“Aku hanya punya orang-orang kecil yang diabaikan.”

Senyum samar terbit di bibirnya.

“Dan sering kali… istana runtuh bukan karena orang besar.”

“Tapi karena suara kecil yang akhirnya terkumpul.”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke istana—Bai Ruoxue tidak sepenuhnya sendirian.

Dan di istana ini, itu sudah cukup untuk menjadi awal dari kekuasaan.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!