Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 21
Sa--- Sayang," bisik Arkan parau.
Suaranya terdengar seperti tarikan amplas di atas kayu. Tangannya yang gemetar mencoba meraih udara, tetapi malah mencengkeram lengan baju istrinya.
"Ada apa, Yang?" tanya Mutiara dengan cemas.
"Pa--- panas, tolong aku, Sayang."
Mutiara mendekap wajah suaminya. Kulit Arkan terasa seperti terbakar. Sedih merayap ke dalam relung hatinya, karena pria itu pasti saat ini dalam keadaan tersiksa.
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Maafkan aku karena terlambat."
Arkan menggeleng lemah, keringat bercucuran membasahi bantal sofa. Ia tampak berjuang keras melawan dorongan yang dipicu oleh obat itu. Giginya bergemeletuk menahan erangan yang memalukan.
"Jangan, jangan tinggalkan aku. Jangan percaya dia, aku hanya suka kamu. Aku gak suka dia, aku gak mau dia."
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu kamu tidak akan pernah melakukannya," bisik Mutiara sambil menyeka keringat di dahi Arkan dengan ujung jaket yang dia pakai.
Ia merengkuh kepala Arkan ke dadanya, memberikan pelukan yang menenangkan di tengah badai kimia yang sedang menyerang tubuh suaminya.
"Sayang, aku gak tahan. Aku mau kamu," ujar Arkan yang tak sanggup lagi menahan.
Wajah Mutiara sampai memerah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, tetapi dia pura-pura tak tahu dengan maksud dari suaminya.
"Mau aku? Maksudnya mau itu?" tanya Mutiara.
"Heem," jawab Arkan mencoba untuk duduk.
"Emang bisa?" tanya Mutiara sambil melihat suaminya dengan bingung.
"Bisa, kamu gak liat ini."
Arkan membuka resleting celana bahan yang dia pakai, lalu menurunkannya sampai ke paha. Mutiara mengerjapkan matanya melihat milik suaminya yang berdiri tegak.
"Masukin, Yang. Udah pengen banget kni," bujuk Arkan.
"Tapi kamu lemes, Yang. Gimana masuknya?"
"Kamu yang main, kamu yang goyang."
"Hah?"
Mutiara kebingungan, sedangkan Arkan malah menurunkan celana yang dipakai oleh Mutiara, wanita itu sempat menahan gerakan tangan suaminya, tetapi Arkan yang tak tahan menepis tangan istrinya sampai celana yang dipakai Mutiara terlepas.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Mutiara ketika Arkan mendudukkan dirinya di atas pangkuannya.
"Mau kamu, ayo buruan. Aku gak tahan," ujar Arkan sambil menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.
Awalnya Mutiara merasa enggan dan juga malu, rasanya tak pantas mereka melakukan hal itu di kantor. Namun, melihat wajah suaminya yang begitu memelas, Mutiara tak tega.
Malam ini keduanya begitu bergairah, karena setelah Mutiara memacu permainan di awal, Arkan melanjutkannya sampai tengah malam tiba.
"Yang, maaf."
Permainan panas sudah selesai, Arkan merasa puas. Namun, dia juga merasa kasihan karena istrinya kini sangat lemas. Bahkan Mutiara mengeluh kalau miliknya panas, perih dan juga lecet.
"Nggak apa-apa, yang penting kamu tak melakukannya dengan wanita lain."
Arkan tersenyum penuh kebahagiaan, rasanya dia tak salah memilih Mutiara sebagai istrinya.
***
Sinar matahari terasa panas membakar kulit, tetapi hal itu tak dirasakan Mutiara. Karena wanita itu masih terlelap dalam tidurnya, berbalut selimut karena kedinginan oleh pendingin ruangan.
Berbeda dengan Arkan, pria itu sudah bangun dan kini sedang serius menatap layar ponselnya. Dia sedang memeriksa rekaman CCTV yang diberikan oleh petugas keamanan.
Dari rekaman CCTV itu, Arkan bisa melihat Alice yang mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman miliknya secara sengaja.
Setelah itu, dia tersenyum licik dan masuk ke dalam ruangannya. Arkan ingat betul ketika dia meminum minuman itu dan mulai kehilangan kesadaran.
Dia juga ingat betul bagaimana cara Alice memperlakukan dirinya, rasa mual langsung terasa. Jijik sekali membayangkan wanita itu ada di atasnya dan berusaha untuk memerkosa dirinya.
"Dasar wanita sampah! Kamu akan merasakan akibatnya," ujar Arkan penuh dendam.
Pria itu langsung menghubungi orang kepercayaannya, lalu meminta orang itu untuk memberikan pelajaran sebelum wanita itu dijebloskan ke dalam penjara.
"Siap, Tuan. Anda pasti akan puas dengan hasil kerja saya," ujar Sam.
Sam membeli obat sesuai dengan perintah Arkan, setelah Itu dia mencoba mencari wanita itu ke apartemennya.
Ternyata wanita itu sudah kabur, tahu betul kalau wanita itu akan dicari oleh Arkan. Sam tidak putus asa begitu saja, dia langsung melacak keberadaan wanita itu lewat GPS di ponselnya.
Tak lama kemudian pria itu tersenyum penuh arti, rencana brilian yang sudah dia susun dengan Arkan sebentar lagi akan dia realisasikan.
"Mau kabur ke mana kamu, hem?"
Sam dengan cepat melajukan mobilnya menuju Stasiun Kereta Api, dari kejauhan dia melihat Alice sedang duduk di bangku tunggu.
Walaupun Wanita itu sudah memakai topi, memakai masker dan juga kacamata, tetapi Sam sangat tahu kalau itu Alice.
"Bersiaplah," ujar Sam.
Sam mengganti pakaiannya, lalu dia menggunakan kumis palsu, kacamata dan merias wajahnya. Pria itu sudah tak tampak seperti orang dari kepercayaan Arkan, pria itu memang pandai dalam merubah penampilan.
Setelah itu, dia menggendong tas ransel, mengeluarkan beberapa minuman kemasan dan tentunya memasukkan obat ke salah satu minuman yang dia bawa.
"Waktunya bermain," ujar Sam.
Sam keluar dari mobil, lalu dia menghampiri Alice dan bersikap seperti sales minuman yang begitu ramah.
"Permisi, Kakak. Saya sudah dari pagi mencari pelanggan, tapi belum dpat juga. Padahal saya cuma seles yang mencari nafkah. Mohon dibeli satu aja, biar saya ada pemasukan."
"Maaf."
Hanya kata itu yang keluar dari bibir Alice, Sam yang tak boleh gagal kembali mengeluarkan kata-kata rayuannya. Kata-kata memelas yang mampu membuat hati Alice luruh.
"Ribet!" kesal Alice.
Namun, walaupun seperti itu, dia tetap membeli minuman tersebut. Tentunya Sam tidak pergi sebelum wanita itu meminum minuman itu, setelah memastikan Alice meminumnya, Sam segera kembali ke mobilnya.
Lalu, dia memperhatikan pergerakan dari wanita itu. Awalnya Alice nampak biasa saja, dia duduk sambil menunggu keberangkatan kereta. Namun, tidak lama kemudian dia terlihat gelisah.
Wanita itu bahkan membuka topi yang dikenakan, lalu membuka masker dan juga membuka jaket yang dia pakai. Semakin lama Alice semakin salah tingkah.
"Rasakan sebentar lagi kamu pasti tidak akan tahan,'' ujar Sam.
Tebakan Sam sangat benar, beberapa saat kemudian Alice menitipkan kover miliknya kepada petugas di stasiun kereta. Kemudian dia seperti orang linglung, mencari tempat untuk melampiaskan geloranya yang semakin membara. Sam langsung membuntuti wanita itu.
"Mau ke mana dia?"
Sam melihat wanita itu masuk ke dalam gudang kosong di belakang stasiun, dia terus membuntuti sampai akhirnya dia melihat hal yang tak terduga.
"Ya ampun," ujar Sam sambil tersenyum meledek.