Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pojok Ruang
Teriakan melengking Greta bergema di setiap sudut ruang kelas yang tadinya tenang, menciptakan kekacauan instan. Namun, alih-alih simpati, teriakan itu justru menjadi aba-aba bagi ledakan tawa yang kejam. Hampir seluruh murid di kelas itu tertawa terbahak-bahak melihat Greta yang pucat pasi, merangkak dengan gerakan putus asa menuju pojok belakang lemari, seolah-olah ia sedang mencoba melarikan diri dari mimpi buruk.
Norah berdiri dari bangkunya dengan keanggunan seorang predator. Ia berjalan perlahan, suara langkah sepatunya terdengar jelas di sela-sela tawa yang riuh. Ia berhenti tepat di depan Greta yang sedang meringkuk, lalu ikut berjongkok agar wajah mereka sejajar.
Dengan gerakan yang sangat kontras, Norah mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Greta dengan lembut sebuah belaian yang terasa begitu dingin dan memuakkan. Namun, sedetik kemudian, jemarinya mencengkeram kuat helaian rambut hitam Greta, menjambaknya sedikit ke belakang hingga Greta terpaksa mendongak dengan wajah basah oleh air mata.
Norah menatap dalam-dalam ke mata Greta yang penuh ketakutan, bibirnya melengkung membentuk senyuman manis yang mematikan.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Norah, suaranya kini rendah namun tajam seperti belati. "Jika kamu tidak ingin berakhir seperti makhluk menjijikkan yang ada di dalam kotak makananmu itu, jangan pernah bermimpi untuk duduk di barisan sampingku lagi!"
Greta hanya bisa terisak, tangannya yang gemetar mencoba memegang pergelangan tangan Norah, berusaha melepaskan jambakan yang membuat kulit kepalanya terasa pedih.
Norah mengarahkan telunjuk tangan kirinya ke arah sebuah meja tua yang berdebu di barisan paling belakang, tepat di pojok kanan yang gelap. "Tempatmu di sana. Di tempat yang paling terpencil, agar aku tidak perlu melihat wajahmu lagi. Mengerti?!"
Greta mengangguk tipis dengan gerakan patah-patah, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya ingin rasa sakit ini berakhir.
"Bagus," ucap Norah singkat. Tanpa peringatan, ia menyentakkan tangannya dengan kasar, mendorong kepala Greta hingga terbentur ke sisi lemari kayu di sampingnya. Duk!
Suara benturan itu membuat Greta terpejam menahan sakit yang berdenyut. Norah kemudian berdiri dengan tenang, merapikan lipatan roknya yang sama sekali tidak berantakan, dan berjalan kembali menuju bangkunya dengan langkah santai. Ia disambut oleh Revelyn yang sudah menunggunya dengan tawa yang masih tersisa, seolah-olah mereka baru saja menyelesaikan sebuah adegan komedi yang sangat menghibur.
Greta tetap di sana, tersungkur di lantai yang dingin, menyadari bahwa mulai hari ini, sekolah ini bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan tempat di mana ia harus bertahan hidup setiap detiknya.
Suasana kelas masih dipenuhi sisa-sisa tawa yang mengejek saat seorang petugas kebersihan masuk dengan membawa peralatan lengkap. Ia segera berlutut untuk membersihkan kekacauan menjijikkan dari kotak makanan Greta yang berserakan di lantai—hasil dari panggilan darurat yang dilakukan Clara dengan sigap.
Clara tidak memedulikan petugas itu. Ia berlari secepat kilat menuju pojok belakang, di mana Greta masih tertunduk lemas dengan bahu yang berguncang hebat.
"Greta!" Clara berlutut di sampingnya, jemarinya bergerak lembut mengelus kepala Greta. Ia tersentak saat merasakan sesuatu yang basah dan hangat di sela-sela rambut hitam itu. Di sana, di dekat pelipisnya, ada noda merah yang merembes. "Ya Tuhan, kepalamu berdarah... Kamu tidak apa-apa?"
Suara Clara gemetar karena cemas sekaligus marah. "Ayo, aku antar ke UKS sekarang. Kita harus mengobati ini."
Greta, yang wajahnya masih sembap dan basah oleh air mata, menggeleng perlahan dengan gerakan yang sangat lemah. "Tidak apa-apa, Clara... Aku... aku tidak apa-apa," bisiknya parau, lebih karena rasa malu yang teramat sangat daripada rasa sakit di kepalanya.
Dengan bantuan Clara, Greta perlahan berdiri. Langkahnya limbung saat ia kembali ke bangku lamanya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai memasukkan buku-buku dan tasnya yang berantakan, lalu memeluknya erat-erat sambil berjalan menuju meja tua di pojok kanan paling belakang—wilayah "pembuangan" yang diperintahkan Norah.
"Kenapa kamu pindah ke sini?" tanya Clara heran, namun kalimatnya terputus.
Ia menoleh ke arah depan dan melihat Norah sedang memeragakan gerakan "merangkak ketakutan" dengan tangan yang dibuat gemetar, disambut ledakan tawa dari Revelyn. Clara seketika mengerti. Rahangnya mengeras, kemarahan terpancar jelas di matanya yang biasanya ramah.
Tanpa banyak bicara, Clara menyusul Greta ke meja belakang yang berdebu itu. "Aku pindah ke sini ya? Aku akan menemanimu duduk di sini."
Mendengar itu, Greta tersentak. Dengan gerakan sigap yang tidak terduga, ia menyambar pergelangan tangan Clara, mencengkeramnya dengan tatapan memohon yang hancur.
"Jangan! Tolong... jangan duduk di sini bersamaku," ucap Greta dengan suara tertahan, air matanya kembali luruh. "Tolong, Clara... jangan di sini. Aku tidak ingin mereka melakukan hal yang sama padamu. Biarkan aku sendiri... aku mohon."
Greta tahu, duduk bersama Clara di pojok gelap itu hanya akan membuat Clara menjadi target berikutnya. Ia tidak sanggup jika satu-satunya orang yang baik padanya harus ikut tenggelam dalam neraka yang diciptakan Norah.
"Tapi..." Clara berbisik lirih, matanya berkaca-kaca menatap Greta yang tampak begitu rapuh di pojok gelap itu. Namun, melihat sorot mata Greta yang penuh permohonan, Clara akhirnya mengalah. Ia meremas bahu Greta sekilas untuk memberikan kekuatan, lalu melangkah lunglai kembali ke barisan depan.
Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Seorang wanita dengan pakaian formal yang tajam dan kacamata berbingkai perak masuk ke kelas. Ms. Sterling, guru Kalkulus yang terkenal dingin dan disiplin. Ia menghentikan langkahnya di depan kelas, alisnya bertaut melihat sisa-sisa keriuhan dan tawa yang belum mereda sepenuhnya.
"Ada apa ini? Kenapa kelas ini terdengar seperti taman bermain?" tanya Ms. Sterling, suaranya jernih namun memiliki nada otoritas yang membuat beberapa murid langsung tegak di kursi mereka.
Norah, dengan senyum tak berdosa yang dibuat-buat, langsung menyahut dengan suara lantang. "Greta tadi baru saja memamerkan 'hadiah' spesial di dalam kotak makannya, Bu! Sepertinya dia membawa tikus sebagai teman belajar!"
Norah kembali memeragakan gerakan merangkak dengan jemari gemetar, memicu ledakan tawa singkat dari seisi kelas. Ms. Sterling melirik ke arah meja belakang tempat Greta duduk terisolasi, lalu ke arah lantai yang baru saja dibersihkan oleh petugas. Alih-alih membela, ia hanya mengembuskan napas panjang seolah-olah drama ini hanya membuang waktu mengajarnya.
"Sudah, sudah! Jangan ribut. Saya tidak peduli dengan hewan apa pun yang kalian bawa," ucap Ms. Sterling sambil meletakkan tumpukan modul di atas meja. "Simpan tawa kalian. Kalkulus tidak akan membiarkan kalian tertawa saat ujian nanti."
Ia mengambil kapur dan menuliskan judul besar di papan tulis: Turunan Fungsi Trigonometri.
"Buka buku kalian halaman 85," perintahnya tanpa menoleh lagi ke arah Greta yang sedang terluka.
Pintu kelas berderit terbuka, memutus penjelasan Ms. Sterling tentang variabel fungsi. Seorang pria melangkah masuk dengan gaya santai, seolah waktu bukan masalah baginya. Ms. Sterling menurunkan kacamatanya, menatapnya dengan raut tidak senang yang kental.
"Kenapa kamu baru masuk, Luca? Apa telingamu tidak bisa mendengar suara bel yang sekeras itu?" semprot Ms. Sterling.
Pria yang dipanggil Luca itu hanya tertawa kecil, sebuah tawa ringan yang terdengar sangat santai. "Maaf, Bu. Saya tadi ketiduran di kantin," jawabnya dengan nada bercanda yang sangat berani, seolah ia sama sekali tidak takut pada otoritas guru kalkulus itu.
"Dasar kamu... Sudah, duduk sana cepat! Pelajaran akan dimulai!" Ms. Sterling menggelengkan kepala, tampak sudah menyerah menghadapi kelakuan murid satu ini.
Luca memberikan salam salute dengan dua jari di dahi, lalu melangkah masuk. Alih-alih duduk di bangkunya yang biasa, ia justru menyambar tasnya yang tergeletak di meja tengah dan berjalan lurus menuju pojok paling belakang—meja yang baru saja ditempati oleh Greta.
Greta, yang masih berantakan dengan rambut menutupi wajah dan tangan yang sibuk mencari buku di dalam tas dengan gemetar, tidak menyadari ada seseorang yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Eh... Aku duduk di pojok ya?" suara itu rendah namun jernih.
Greta tersentak. Ia mendongak dengan cepat, wajahnya yang sembap dan ketakutan langsung bertemu dengan sosok pria yang berdiri di depannya.
Luca adalah definisi dari ketampanan yang tidak beraturan. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap sedikit berantakan, seolah-olah ia memang baru saja bangun dari tidurnya di kantin. Ia memiliki rahang yang tegas namun garis wajahnya terlihat lembut karena senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.
Yang paling menonjol adalah matanya; sepasang mata berwarna hazel yang tajam namun memiliki kilat nakal yang hangat. Di atas hidungnya yang mancung, terdapat bekas luka kecil yang justru menambah kesan maskulin. Ia mengenakan seragam sekolah dengan kemeja yang tidak dikancingkan sepenuhnya, menampakkan kaus hitam di dalamnya. Di bawah sinar lampu neon kelas yang redup di bagian belakang, Luca tampak seperti karakter yang keluar dari sketsa artistik sangat tenang, namun kehadirannya terasa mendominasi seluruh ruangan.
Greta masih tampak linglung. Matanya yang sembap bergerak gelisah, menatap ke sekeliling kelas yang mulai senyap oleh suara kapur Ms. Sterling. Ia merasa seolah ada tembok kaca yang memisahkannya dari kenyataan, sampai suara itu kembali memecah lamunannya.
"Hey... aku duduk di pojok ya? Biar bisa senderan, hehehe," ucap Luca lagi, kali ini dengan nada yang lebih santai seolah mereka sudah berteman lama.
"Hah... umm... umm..." Greta hanya bisa mengeluarkan suara gumaman kecil. Otaknya belum sanggup mencerna mengapa pria sepopuler dan setampan Luca memilih duduk di "meja pembuangan" bersamanya.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Luca langsung melangkah masuk ke celah sempit di antara meja dan dinding. Greta yang kaget refleks memundurkan bangkunya sedikit, menciptakan ruang bagi Luca untuk lewat. Dengan gerakan yang sangat santai, Luca meletakkan tasnya di atas meja yang berdebu itu, lalu mengempaskan tubuhnya di kursi pojok.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kelas yang dingin, lalu menoleh ke arah Greta. Dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi, ia memberikan salam salute kecil dengan dua jari.
"Makasih ya. Aku lebih suka di pojok soalnya, hehe," ucapnya dengan nada riang yang terasa sangat asing di telinga Greta.
Greta terdiam kaku, tubuhnya menegang seperti patung. Ia bisa merasakan kehadiran Luca yang begitu kuat di sampingnya aroma samar parfum yang segar bercampur aroma kopi yang entah kenapa terasa menenangkan, kontras dengan bau amis tinta dan tikus yang tadi menghantuinya.
Dari barisan depan, Greta bisa merasakan tatapan tajam Norah yang menoleh ke belakang dengan raut wajah penuh tanya dan kemarahan yang tertahan. Revelyn pun berhenti tertawa, tampak bingung melihat Luca pria yang biasanya mereka incar untuk bergabung dengan kelompok mereka malah memilih duduk di titik paling hina di kelas itu.
Greta menundukkan kepalanya kembali ke buku Kalkulusnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu sekaligus bingung. Namun, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di sekolah ini, hawa dingin di pojok belakang itu terasa sedikit lebih hangat. Ia melirik melalui sudut matanya; Luca sudah mulai memejamkan mata, seolah benar-benar berniat untuk tidur lagi, tanpa memedulikan tatapan menghakimi dari seisi kelas.
Di bawah suara monoton Ms. Sterling yang membacakan rumus, Greta menarik napas panjang. Di meja tua yang terisolasi itu, ia tidak lagi sendirian.
oke lanjut thor.. seru ceita nya