NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh

Suasana di beranda belakang sekolah sangat sunyi, hanya ada suara desir angin yang menggoyang pohon-pohon pinus di kejauhan. Hazel sedang berdiri sendirian saat Zacky muncul dari balik bayang-bayang, menyulut rokoknya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat untuk mengintimidasi.

Zacky melangkah mendekat, mengembuskan asapnya ke udara sebelum menatap Hazel dengan tatapan penuh selidik. "Kau sangat pintar berakting, Hazel. Gadis suci kebanggaan James," ejeknya dengan nada rendah.

"Aku tahu semuanya. Tanda merah itu... tatapan di lorong itu... Kau tidur dengan Kenneth, kan?"

Zacky tertawa pendek, suara yang terdengar parau. "Aku hanya tidak menyangka gadis manis sepertimu yang dipilih Ken untuk pelepasan hasratnya yang sedikit gila. Kau tahu, Ken itu predator yang berbeda dari James yang murahan."

Hazel tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia justru memiringkan kepalanya, memasang wajah polos andalannya yang paling sempurna. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan.

"Apa maksudmu, Zacky? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan," jawab Hazel dengan suara lembut, seolah ia sedang berbicara dengan orang yang sedang berhalusinasi.

Zacky yang melihat ketenangan Hazel justru mulai merasa gila. Ia merasa dipermainkan. Ia mendekat, membisikkan sesuatu yang lebih gelap di telinga Hazel.

"Jangan bermain-main denganku, Hazel. Tidakkah kau tahu?" Zacky berdesis. "Sikap dingin dan tak tersentuh yang ditunjukkan Kenneth itu hanyalah topeng. Dia sengaja membangun dinding es itu untuk meredamkan sisi gelapnya, seksnya yang menyimpang. Dia pria yang haus akan rasa sakit dan kendali mutlak. Jika kau terus bersamanya, kau tidak akan hanya berakhir dengan tanda merah di leher, tapi mungkin sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Hati-hati saja, Hazel... sebelum kau benar-benar hancur di tangannya."

Hazel terdiam sejenak, namun bukan karena takut akan peringatan Zacky. Di dalam kepalanya, ia justru membayangkan malam-malam panasnya dengan Kenneth.

Rasa sakit, dominasi, dan kendali mutlak yang dibicarakan Zacky justru adalah hal yang membuat Hazel merasa hidup setelah enam minggu mati rasa bersama James.

"Terima kasih atas peringatannya, Zacky," ucap Hazel pelan, matanya berkilat menantang. "Tapi bukankah di New Zealand ini... yang paling berbahaya justru adalah mereka yang diam, bukan mereka yang menggonggong sepertimu?"

Hazel berlalu pergi meninggalkan Zacky yang terpaku marah. Namun, jauh di lubuk hatinya, Hazel mulai bertanya-tanya: sejauh mana penyimpangan yang dimaksud Zacky? Dan apakah ia siap untuk menyelam lebih dalam ke dalam kegelapan Kenneth?

Malamnya, saat Hazel bertemu Kenneth di sebuah Apartemen milik keluarga Graciano, ia langsung menatap pria itu dengan penuh selidik.

"Ken," panggil Hazel saat pria itu sedang menuangkan wine merah ke dalam gelas.

"Zacky bilang kau punya sisi menyimpang yang sengaja kau sembunyikan di balik sikap dinginmu. Apa itu benar?"

Kenneth menghentikan gerakannya. Ia meletakkan botol wine itu dengan tenang, lalu berjalan perlahan menghampiri Hazel. Ia mencengkeram rahang Hazel dengan lembut namun kuat, memaksa gadis itu menatap matanya yang kelam.

"Penyimpangan?" Kenneth mengulang kata itu dengan nada rendah yang menggetarkan. "Bagi orang seperti Zacky, menginginkan kepemilikan total atas jiwa dan raga seseorang mungkin disebut menyimpang. Tapi bagiku, itu hanyalah cara untuk mencintai."

Kenneth menyeringai tipis, lalu berbisik, "Kau sudah merasakannya sedikit semalam, Hazel. Apa kau merasa itu menyimpang? Atau kau justru menginginkan yang lebih parah?"

Hazel menatap mata Kenneth, mencoba mencari kegelapan yang dimaksud Zacky. "Zacky bilang sikap dingin mu adalah cara untuk meredam hasrat seks yang menyimpang, Ken. Dia bilang kau haus akan rasa sakit dan kendali."

Kenneth tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun terlihat sangat berbahaya. Ia membelai pipi Hazel dengan punggung jarinya. "Lalu, bagaimana menurutmu? Selama kita melewati malam-malam panas itu, apakah aku melakukan sesuatu yang menurutmu... menyimpang?"

Hazel terdiam, merasakan debaran jantungnya yang menggila. Namun, sebelum ia sempat menjawab, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Nama James berkedip di layar.

Kenneth melirik ponsel itu, lalu seringai liciknya muncul. Ia merampas ponsel itu, tapi bukannya mematikan, ia justru menyerahkannya kembali pada Hazel.

"Angkat," perintah Kenneth rendah.

"Ken, jangan gila—"

"Angkat, Hazel. Biarkan dia mendengar betapa suci gadisnya malam ini," desis Kenneth. Ia menarik Hazel hingga terduduk di tepi meja, lalu ia berlutut di antara kaki Hazel, mulai menyibak rok seragam gadis itu tanpa memutuskan kontak mata.

Hazel gemetar, namun ia menggeser tombol hijau. "H-halo, James?"

"Hazel! Kamu di mana? Aku di depan rumahmu tapi pelayanmu bilang kamu keluar," suara James terdengar frustrasi dan penuh tuntutan di seberang sana.

"Aku... aku sedang di perpustakaan kota, James. Ada tugas sejarah yang harus kuselesaikan," Hazel mencoba menstabilkan suaranya, sementara tangan Kenneth mulai bergerak liar di bawah sana, menyentuh titik paling sensitif Hazel dengan ritme yang sengaja dibuat untuk menyiksa.

"Perpustakaan jam begini? Hazel, lehermu itu benar-benar membuatku gila. Aku ingin menjagamu, tapi kenapa rasanya kamu menjauh?" James terus mengoceh, sama sekali tidak tahu bahwa di saat yang sama, Kenneth mulai menggunakan lidah dan giginya untuk memberikan tanda baru di paha bagian dalam Hazel.

"Ah—" Hazel memekik kecil, refleks menutup mulutnya dengan tangan.

"Hazel? Kamu kenapa? Suaramu aneh," tanya James curiga.

Kenneth mendongak, matanya berkilat menantang Hazel. Ia mempercepat gerakannya, membuat Hazel harus berjuang mati-matian agar tidak mengerang di telepon.

Kenneth membisikkan kata-kata tanpa suara: Katakan padanya kau mencintainya.

"Aku... aku tidak apa-apa, James," Hazel bicara dengan napas yang mulai terputus-putus. "Hanya... kakiku tersandung meja. Aku... aku mencintaimu, James. Sudah ya, aku harus lanjut belajar."

"Oke, oke. I love you too, Sayang. Cepat pulang," ucap James sebelum memutus sambungan.

Begitu telepon mati, Hazel menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia mencengkeram rambut Kenneth saat pria itu memberikan sentakan terakhir yang membuat tubuh Hazel melengkung hebat.

"Kau benar-benar iblis, Ken," rintih Hazel di tengah puncak kenikmatannya.

Kenneth bangkit, mengusap bibirnya yang basah, lalu menatap Hazel dengan tatapan penguasa.

"Jika James tahu apa yang baru saja terjadi saat dia mengucapkan cinta, dia mungkin akan bunuh diri di Danau Wakatipu. Dan soal penyimpangan..." Kenneth berbisik tepat di bibir Hazel. "Malam ini, aku akan menunjukkan padamu kenapa Zacky begitu takut padaku."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading 🥰😍😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!