"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Qorin Padmi
Setelah api berhasil dipadamkan, salah seorang tetangga Padmi bergegas keluar rumah untuk menaikkan sikring lampu. Sekejap saja suasana rumah yang gelap menjadi terang benderang.
Belum sempat warga bertanya apa yang terjadi, Padmi lebih dulu bangkit lalu melangkah tertatih-tatih menuju ke kamar. Khawatir Padmi jatuh, salah seorang tetangga nampak mengawalnya dari belakang.
Semua orang terdiam sambil menatap iba kearah Padmi yang terlihat mengenaskan itu.
Tak lama kemudian bidan desa yang dihubungi ustadz Firman pun tiba. Ustadz Firman pun mengangguk lalu memberi isyarat agar wanita itu masuk ke dalam kamar. Bidan desa mengangguk lalu dengan cekatan mulai mengecek kondisi Padmi.
Saat bidan desa mengecek kondisi Padmi, tetangga Padmi yang sejak tadi setia menemani tampak keluar dari kamar. Wanita itu menggelengkan kepala sambil meringis. Tentu saja sikap wanita itu memancing keinginan tahuan Rama. Dia berdiri lalu menghampiri wanita itu.
"Kenapa Bu, kok keluar?" tanya Rama penasaran.
"Gapapa Mas. Saya cuma ga tega ngeliat kulit mbak Padmi yang terkelupas dan meradang begitu. Ngeri ...," sahut tetangga Padmi sambil bergidik.
"Mudah-mudahan lukanya masih bisa diobati dan Bu Padmi sembuh seperti semula ya Bu," kata Rama.
"Aamiin ..., iya Mas," sahut tetangga Padmi.
Tak lama kemudian bidan desa keluar dari kamar Padmi. Kali ini terlihat jelas kegelisahan di wajahnya. Sebelum semua orang bertanya, wanita itu lebih dulu bicara.
"Luka bakar Bu Padmi sangat parah, mencapai 70%. Tapi saya kagum, Bu Padmi masih keliatan kuat dan baik-baik aja seolah apa yang dia alami barusan bukan masalah besar," kata bidan desa gusar.
"Apa bu Padmi ga perlu dirujuk ke Rumah Sakit Bu?" tanya Rama.
"Kalo dalam kondisi normal harusnya sih iya ya. Tapi ... " bidan desa menggantung ucapannya sambil melirik kearah kamar dimana Padmi berada. Tatapannya terlihat gelisah seolah menyembunyikan sesuatu.
"Tapi apa Bu Bidan?. Gapapa, Bu bidan bisa jujur sama kami," kata Danu yang diangguki ustadz Firman.
Bidan desa terdiam sambil mengusap peluh di keningnya berkali-kali.
Melihat sikap sang bidan, Danu pun paham. Dia memberi isyarat agar wanita itu memberitahunya dengan cara berbisik. Di luar dugaan, bidan desa setuju lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Danu.
"Saya ... saya tak menemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh Bu Padmi, Mas ...," bisik bidan desa dengan suara bergetar.
"Astaghfirullah aladziim, yang bener Bu?. Apa itu artinya ... " Danu menggantung ucapannya dan tercekat saat bidan desa itu menganggukkan kepala.
"Ada apa Mas Danu?" tanya Sastro tak sabar.
Sebelum Danu menjawab pertanyaan Sastro, bidan desa lebih dulu pamit meninggalkan rumah Padmi. Sebelum pergi, wanita itu sempat menggamit lengan satu-satunya tetangga perempuan yang ada di sana.
"Kenapa Bu Bidan?" tanya tetangga Padmi.
"Ibu ikut saya aja yuk," ajak sang bidan.
"Kemana Bu?" tanya tetangga Padmi.
"Pokoknya ikut aja. Di sini biar bapak-bapak aja yang ngurus," sahut sang bidan setengah memaksa.
Tetangga Padmi mengangguk lalu mengikuti sang bidan keluar dari rumah Padmi.
"Para wanita itu udah pergi Danu. Jadi kamu bisa jelasin semuanya sekarang," kata ustadz Firman tiba-tiba.
Ucapan ustadz Firman tentu saja membuat Sastro, Rama dan semua orang bingung. Mereka saling menatap sambil bertanya-tanya dalam hati.
Sementara itu Danu nampak menghela nafas panjang sebelum mengatakan apa yang dia ketahui.
"Bu bidan bilang, dia ga menemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh Bu Padmi. Itu artinya bu Padmi ... udah meninggal dunia," kata Danu.
"Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun ...," sahut semua orang.
"Sebentar, kalo Padmi udah meninggal, kenapa dia masih duduk di pinggir tempat tidur. Matanya terbuka dan masih bernafas kok," kata Sastro sambil menunjuk ke kamar Padmi.
Semua orang bergegas mendekat ke kamar dan melihat Padmi sedang duduk dengan kedua kaki lurus di atas tempat tidur.
"Dia bukan Padmi, itu hanya qorinnya. Padmi yang sebenarnya masih berbaring di lantai dapur," kata ustadz Firman sambil menatap lurus ke dapur.
Semua orang terkejut lalu serempak menoleh ke dapur. Di sana, di lantai dapur terlihat sesosok tubuh terbaring tertutup sarung. Dari sela sarung menyembul lengan dengan permukaan kulit yang terkelupas.
Sesaat kemudian semua orang kembali menoleh ke kamar dan terkejut saat tak mendapati Padmi di sana.
"Astaghfirullah aladziim ...!" kata semua orang bersamaan.
"Jadi Ustadz tau apa yang terjadi sejak tadi tapi tetap membiarkan semua orang panik ngeliat apa yang terjadi sama Padmi?" tanya Sastro gusar.
"Ga juga. Sebelumnya aku ga tau Padmi udah ga bernyawa. Bahkan aku sempat kagum sama kekuatannya bertahan dalam kobaran api sebesar itu. Aku baru sadar Padmi udah meninggal saat melihatnya jalan ke kamar tadi. Dia terlihat berbeda, pucat dan tatapan matanya kosong. Pas aku amati lebih jelas, ternyata sosoknya melayang ga nyentuh lantai. Aku pikir kalian juga melihat itu, makanya aku diem aja. Aku minta bidan memeriksa Padmi supaya ada team medis yang menguatkan dugaanku," sahut ustadz Firman dengan ringan.
Tentu saja ucapan sang ustadz mengejutkan semua orang. Mereka tak menyangka bisa melihat qorin Padmi dengan jelas di waktu bersamaan.
"Sudah cukup kagetnya. Tugas kita masih banyak. Sekarang kita harus mengurus jenasah Padmi. Lakukan cepat supaya besok pagi sudah bisa dimakamkan," kata ustadz Firman kemudian.
"Baik Ustadz," sahut warga bersamaan.
"Jangan lupa lapor pengurus Rt dulu. Biar beliau menghubungi polisi dan Rumah Sakit nanti," pinta ustadz Firman.
Semua orang mengangguk lalu mulai berbagi tugas.
Kemudian ustadz Firman mengajak Sastro keluar dari rumah Padmi. Dia tahu Sastro masih penasaran siapa pria yang telah membantu Padmi merusak makam istrinya.
"Saya ga mau Pak Sastro ikut terbawa dosa karena memikirkan cara untuk membalas dendam saat tau siapa orangnya. Tunggu saja, semuanya akan terungkap sebentar lagi," kata ustadz Firman.
"Kapan Ustadz?" tanya Sastro.
"In syaa Allah dalam beberapa hari ke depan Pak Sastro akan tau siapa dia," sahut ustadz Firman.
Ucapan ustadz Firman pun terbukti.
Saat semua orang sibuk mengurus jenasah Padmi. Di tempat lain terlihat seorang pria sedang berbaring kesakitan di rumahnya.
Pria itu adalah orang suruhan Padmi yang telah mengotori makam Ginah. Pria yang kemudian diketahui bernama Oji itu terlihat mengenaskan. Dia berbaring di atas dipan kayu beralas tikar lusuh. Mengenakan kaos dan sarung yang nampak lembab karena terkena cairan yang keluar dari organ int*mnya.
Pria pengangguran itu terus merintih kesakitan sambil memegangi organ v*talnya.
Sambil meringis kesakitan berkali-kali Oji menatap ke sudut ruangan. Di sana dia melihat Padmi berdiri sambil menangis.
Oji yakin telah terjadi sesuatu pada Padmi. Selain Padmi tak pernah datang ke rumahnya, saat itu dia juga melihat tubuh Padmi melayang tak menyentuh lantai.
Sadar yang ada di hadapannya bukan Padmi melainkan hanya qorin Padmi, Oji pun panik. Dia yakin sebentar lagi malaikat maut akan datang menjemputnya. Oji merasa dirinya belum siap untuk mati mengingat kejahatan yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya.
Di saat Oji dilanda rasa takut, tiba-tiba sosok pocong hadir dan berdiri di belakang Padmi.
Oji tahu, pocong itu adalah penghuni makam yang dia kotori. Meski mustahil, tapi Oji terus menghiba berharap pocong itu mau mengampuninya.
Tiba-tiba pocong dengan wajah rusak itu melayang mendekati Oji. Sambil menyeringai pocong itu menatap ke bagian bawah tubuh Oji. Entah mengapa saat pocong itu menatap ke area v*talnya, Oji merasa sakit yang dia rasakan berkali-kali lipat lebih hebat dibanding sebelumnya.
Oji juga merasakan cairan di bagian bawah tubuhnya keluar makin deras. Dia menyempatkan diri meraba organ int*mnya dan terkejut menyadari benda kebanggaannya itu telah tanggal dari tempatnya.
Oji pun menjerit sekali lagi dengan suara yang parau. Namun sesaat kemudian suara jeritannya menghilang begitu saja. Bersamaan dengan suara yang menghilang, nyawa Oji ikut pergi meninggalkan raganya. Setelahnya qorin Padmi dan pocong Ginah pun ikut menyusul, lenyap tanpa bekas.
Kini di kamar itu hanya ada jasad Oji yang terbaring dalam kondisi mengenaskan, sendiri dan tanpa teman.
Kelak orang yang menemukan Oji dan mengurus jasadnya akan tahu darimana darah yang menggenang di sekitar tubuhnya itu berasal. Dan bisa dipastikan mereka akan mengerti betapa hebatnya sakit yang Oji alami di detik terakhir menjelang kematiannya.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya