NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 6

Menyadari ke mana arah tatapan Mutiara, cepat-cepat Arkan mengambil bantal dan menutupi inti tubuhnya.

"Aku ini bukan pria yang seperti kamu katakan. Kenapa kamu menendang aku dan berteriak-teriak?"

"Kalau memang kamu bukan pria seperti itu, kenapa kita ada di dalam kamar yang sama? Kenapa kita sama-sama dalam keadaan polos?"

Arkan menatap wajah Mutiara, gurat penyesalan, kekesalan dan juga tak terima terlihat jelas di wajahnya yang cantik itu.

"Aku sudah mencoba menghentikanmu semalam, sampai berkali-kali. Tapi, kamu yang tidak dalam keadaan sadar terus saja merayuku. Aku hanya lelaki biasa, tentu saja aku tergoda."

​Mutiara terdiam, samar-samar bayangan tentang bagaimana ia terus meracau dan menggoda Arkan melintas di benaknya. Dari awal bertemu dengan pria itu, memang dialah yang menggodanya.

Namun, sungguh dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Sungguh dia merasa menyesal sekali, dia lebih menyesal lagi ketika Ia menatap noda merah di atas sprei putih yang kontras. Air matanya jatuh, Arkan ikut menatap noda merah itu.

"Kamu, kamu masih perawan?"

Suara Arkan merendah, penuh rasa bersalah. Pantas saja tadi malam wanita itu berteriak-teriak kesakitan berkali-kali saat dia mencoba untuk memasukkan miliknya, ternyata wanita itu memang masih perawan.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab. Kita akan menikah."

​"Tidak bisa!" potong Mutiara cepat. "Ini hanya kecelakaan. Aku tidak mau menikah karena rasa kasihan atau rasa bersalah. Lupakan saja, Om."

Arkan duduk di tepian tempat tidur, dia menatap Mutiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menghela napas panjang, lalu merapikan rambutnya yang berantakan.

​"Kamu pikir hanya kamu yang merasa dirugikan di sini?"

"Apa maksudnya, Om? Aku yang kehilangan keperawanan, aku yang kehilangan masa depan sebagai perempuan. Aku kehilangan segalanya!"

"Dengar, Nona Cantik. Asal kamu tahu, semalam itu adalah yang pertama bagiku juga. Aku masih perjaka sebelum kamu 'memaksaku' semalam."

​Mutiara terbelalak, hampir ingin tertawa jika situasinya tidak semiris ini. Pria yang ada di hadapannya itu sudah berumur, rasanya tidak mungkin kalau belum pernah menikah atau bahkan belum pernah melakukannya.

"Jangan bercanda. Pria sepertimu? Di usia segini? Masa belum pernah melakukannya sama sekali?"

"Aku serius. Jadi, jika kamu tidak mau aku bertanggung jawab, maka aku yang menuntut pertanggungjawaban darimu. Kamu sudah mengambil milikku yang paling berharga. Kamu itu harus menikahi aku."

"Ini gila! Kita bahkan tidak saling mengenal atau bahkan saling mencintai!"

"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa hidup dengan bayang-bayang hal ini di luar pernikahan. Kita menikah, atau aku akan terus mengejarmu sampai kamu menyerah."

​Mutiara memijat pelipisnya. Pria yang ada di hadapannya sangat menguras emosi, tetapi memang yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya.

Selain itu, dia merasa kalau pria yang ada di hadapannya dirasa lebih baik daripada Fajar. Karena justru orang yang sudah mengenal dirinya sangat dalam malah sengaja dekat dengan dirinya hanya untuk mempermainkan dirinya saja.

" Kamu beneran mau aku menikahi kamu?"

"Iyalah, masa sudah mengambil keperjakaan aku, kamu mau lari begitu saja."

Mutiara memperhatikan penampilan pria yang ada di hadapannya, wajahnya sangat tampan. Hidungnya mancung, bibirnya tebal, garis rahangnya begitu tegas.

Walaupun berumur tetapi otot badannya juga sangat bagus, rasanya tidak ada salahnya menikah dengan pria itu.

Walaupun dia tidak mengenalnya, tetapi baik dirinya ataupun pria itu sama-sama sudah kehilangan hal yang berharga di dalam hidup mereka.

​"Baik," ucap Mutiara dingin. "Kita menikah. Tapi ada syaratnya."

​Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Sebutkan."

​"Nikah kontrak. Hanya satu tahun. Setelah itu, kita urus perceraian dan kembali ke kehidupan masing-masing. Tidak ada cinta, tidak ada tuntutan lebih. Bagaimana?"

​Arkan terdiam sejenak, dia menatap mata Mutiara yang sembab.

"Satu tahun," gumamnya. "Setuju. Setidaknya itu cukup waktu untukku memastikan kamu hamil atau tidak."

"Kalau misalkan aku hamil memangnya kenapa?"

"Jangan cerai, karena itu artinya bukan hanya kamu saja yang menjadi tanggung jawabku, tetapi juga ada anak kita."

Mutiara terharu dengan apa yang dikatakan oleh pria itu, tetapi tetap saja dia tidak mau hidup bersama dengan orang yang tidak dia kenal selamanya.

"Nggak begitu, pokoknya setelah 1 tahun kita menikah mau aku hamil atau tidak tetap kita harus cerai. Untuk urusan anak, aku akan mengurusnya sendiri. Kamu sebagai bapaknya kalau misalkan suatu saat mau ketemu dia, bakal aku izinkan.

"Baiklah," ujar Arkan yang merasa percuma kalau misalkan dia masih bernegosiasi, karena Mutiara dirasa sangat keras kepala.

Keduanya tidak mungkin terus-menerus berbicara dalam keadaan seperti itu, akhirnya keduanya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, setelah mandi dan mengenakan pakaian, barulah mereka kembali berbicara.

"Ya udah, kamu tunggu di sini sebentar. Aku keluar dulu," ujar Arkan.

​Arkan keluar dari dalam kamar hotel. Lalu, dia menghampiri resepsionis dan meminta secarik kertas dan juga bolpoin. Setelah itu, pria itu mulai menuliskan daftar untuk pernikahan kontrak mereka selama 1 tahun.

Pernikahan ini bersifat sementara dengan durasi dua belas bulan sejak tanggal pernikahan dilaksanakan.

​2. ​Tidak ada kewajiban untuk melakukan hubungan suami istri setelah pernikahan sah secara hukum, kecuali atas kesepakatan bersama tanpa paksaan.

​Masing-masing pihak dilarang mencampuri urusan pribadi, termasuk pekerjaan dan lingkaran pertemanan, selama tidak mencemarkan nama baik pasangan.

​4. Di depan keluarga dan publik, keduanya harus berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis. Dilarang membawa orang ketiga ke dalam rumah tangga selama masa kontrak berlaku.

​Arkan akan menanggung seluruh biaya hidup Mutiara selama satu tahun. ​Setelah kontrak berakhir, Arkan akan memberikan sejumlah aset sebagai bentuk ganti rugi atas waktu Mutiara.

Setelah selesai menulis perjanjian kontrak pernikahan, dia langsung masuk kembali ke dalam kamar dan memberikan secarik kertas itu kepada Mutiara.

​Mutiara membaca poin-poin itu dengan saksama. Tangannya sedikit gemetar saat memegang kertas tersebut.

"Untuk poin nomor lima, aku tidak butuh uangmu, Om. Aku bukan wanita bayaran."

​Arkan menatap Mutiara dengan tatapan tajam. "Anggap itu modal untuk masa depanmu setelah kita berpisah. Aku tidak mau mantan istriku hidup susah setelah keluar dari rumahku. Itu prinsipku."

"Lalu, bagaimana jika Om jatuh cinta kepadaku saat kita menikah kontrak?"

​Arkan tertegun sejenak. Ia memalingkan wajah, lalu menatap ke arah jendela hotel.

"Itu tidak akan terjadi. Aku pria yang logis, terus bagaimana dengan kamu? Bagaimana kalau misalkan kamu yang jatuh cinta sama aku?"

"Cih! Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi, masa aku jatuh cinta sama pria tua seperti Om."

"Hey! Walaupun sudah tua, tetapi aku masih sangat hebat di ranjang. Buktinya kamu saja tadi malam berteriak-teriak kesakitan dan keenakan."

"Om!" teriak Mutiara malu dan juga kesal.

"Sudah sudah, jangan dibahas lagi. Sekarang cepat tanda tangani saja surat perjanjian kontrak nikah kita," ujar Arkan.

"Emm."

​Mutiara menarik napas panjang, lalu membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Arkan yang sudah lebih dulu ada di sana.

"Selesai. Satu tahun dari sekarang, kita adalah orang asing lagi."

​"Kita lihat saja nanti. Sekarang, bersiaplah. Kita akan menikah, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!